
Mario terpesona akan kecantikan yang ada pada Gifyka. Tidak salah dirinya selama ini menyukai gadis itu. Meski dulu tidak ada yang suka pada Gifyka. Tapi bagi Mario dari awal melihat Gifyka, dia adalah gadis yang spesial.
Rambut panjang Gifyka terus saja bergoyang ke sana kemari mengikuti terpaan angin yang tiada henti. Wajar saja jika di pantai seperti ini angginnya kencang.
Kebetulan hari ini tidak banyak pengunjung berdatangan untuk berfoto ria atau hanya sekedar jalan-jalan. Bisa Gifyka lihat jika hanya ada beberapa saja orang di sana.
Gifyka akui, dia tidak sepenuhnya menikmati jalan-jalannya kali ini bersama Mario. Karena kenangan pahit di masa silam, hal itu membuat Gifyka tidak bisa sepenuhnya merelakan. Tapi demi menghargai dan menyembuhkan traumanya, Gifyka mencoba membawa enjoy saja jalan-jalan mereka.
Mario berjalan mendekati Gifyka, dia memberanikan diri merangkul bahu tunangannya menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan dia masukkan ke dalam saku celana. Rambutnya pun ikut diterpa angin pantai yang tiada henti. Pantas saja jika di pantai pasti ada orang bermain layang-layang, karena anginnya besar dan kencang.
"Aku tahu, kamu masih sedikit takut. Tapi aku tidak mau kamu hidup terus-menerus dalam rasa ketakutan." ujar Mario tiba-tiba.
Kicauan burung bercampur deburan ombak menjadi backsound tersendiri bagi sepasang kekasih remaja yang sedang berdiri di sisi pantai. Berulang kali kaki mereka diterjang deburan ombak yang terus bergerak tiada henti.
"Terima kasih Mario, selama ini kamu selalu mensupport aku agar aku bisa sembuh dari trauma yang aku alami." Gifyka memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya di perut sixpack tunangannya.
Aroma feromon dari tubuh Mario menyapa penciuman Gifyka. Gadis itu akan selalu suka dengan wangi yang keluar dari tubuh kekasihnya. Rasanya begitu memabukkan dan menjadi candu tersendiri bagi Gifyka.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian dalam keterpurukan. Aku tidak sejahat itu, Gifyka." kekeh Mario sambil terus mengusap-usap rambut panjang kekasihnya masih menggunakan tangan kiri.
Gifyka merasa tersanjung akan ucapan Mario. Dia merasa jika dirinya perempuan paling beruntung di dunia ini karena bisa mendapatkan lelaki sebaik dan seperhatian Mario.
"Ada yang ingin aku perlihatkan padamu." Mario melepaskan rangkulannya pada pundak Gifyka.
Kepala Gifyka seketika mendongak, dia menatap rupa tampan di depannya. Keningnya mengerut, seolah menanyakan apa yang ingin diperlihatkan oleh tunangannya itu.
"Apa?" akhirnya Gifyka putuskan untuk bertanya.
"Ayo ikut aku." Mario menautkan jemarinya ke jemari Gifyka.
Gadis ayu itu hanya menurut dan ikut ke mana Mario akan mengajaknya. Gifyka yakin jika Mario tidak akan berbuat hal aneh-aneh padanya.
"Kita mau ke mana?" tanya Gifyka karena Mario terus saja menarik tangannya.
Mario menengok ke belakang sebentar dan tersenyum pada Gifyka. Entah apa maksud dari senyuman itu, tapi Mario tidak menjawab pertanyaan Gifyka kali ini.
Tanpa mau berlama-lama, Gifyka ikut saja terus. Sampai pada saatnya mereka berhenti di depan pohon besar nan rindang. Bisa Gifyka lihat jika daun dan ranting pohon itu dipenuhi oleh lampu tumblr berwarna kuning.
"Bagaimana?" tanya Mario pada salah seorang penjaga di dekat pohon tersebut.
"Sudah selesai, Mas." ujarnya ramah.
Orang itu terlihat seperti pelayan kafe atau restoran karena dia memakai seragam waiters.
"Ayo kita naik." ajak Mario pada Gifyka.
"Naik?" Gifyka bagai orang cengo mendengar ajakan Mario.
"Iya naik." kepala Mario mengangguk berulang kali.
"Ke atas pohon ini?" Gifyka bahkan menunjuk pohon yang ada di belakang Mario.
"Iya Fy, nanti kamu ikutin aku ya." Mario sudah bersiap untuk naik tangga buatan di batang pohon.
Gifyka menurut, dia naik setelah Mario naik. Dia sendiri masih kebingungan, kenapa Mario mengajaknya memanjat pohon sore-sore begini.
Apa enggak ada tempat lain buat santai selain pohon?
Gifyka hanya berani bertanya dalam hati. Dia takut melukai perasaan Mario. Lagi pula siapa tahu di atas pohon itu ada kejutan yang akan diberikan oleh Mario untuknya. Jadi tidak ada salahnya menurut saja ketimbang protes.
Mario sudah sampai di atas, dia menunggu Gifyka sampai. Tinggal dua tangga lagi, gadis itu sampai.
"Hati-hati, Fy. Sini aku bantu." Mario mengulurkan tangannya, dia akan membantu kekasihnya pada tangga terakhir.
"Hah... Sampai juga." desah Gifyka karena dirinya sedikit lelah.
"Bagaimana? Kamu suka?" Mario berdiri di dekat Gifyka.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Mereka yang berselancar itu tidak lama, sekarang semuanya pun sudah bubar. Karena memang namanya di air pasti tidak bisa terlalu lama.
"Dari mana kamu punya ide seperti ini, Yo?" gadis itu ganti menatap Mario.
"Aku memiliki banyak cara untuk membuat kekasih cantikku ini terus tersenyum." Mario menarik bahu Gifyka dari samping hingga gadis itu menempel pada tubuhnya.
"Rumah pohon ini sengaja aku buat untuk kamu. Aku pun membeli pohon ini untuk kamu, Fy." ujar Mario semakin membuat Gifyka tidak menyangka.
"Aku sendiri yang mendesain rumah pohon ini untuk kamu. Aku harap, kamu suka."
Gifyka jelas suka, rumah pohon ini benar-benar seperti rumah layak huni. Ada satu jendela yang bisa dibuka tutup. Di depan jendela itulah Gifyka dan Mario berdiri sekarang.
"Aku sudah siapkan makan malam untuk kita." Mario mengajak Gifyka duduk di kursi yang disediakan.
Gifyka semakin tidak menyangka, di sana sudah ada satu meja berisi makanan, lilin dan bunga. Tangannya membuka tudung saji bagiannya, ternyata ada seporsi steak daging sapi di sana.
"Aku tidak memiliki banyak kata untuk aku ucapkan buat kamu, Fy. Tapi aku harap, dengan semua ini maka kamu akan mengerti apa makna dari semua yang aku lakukan padamu." Mario mulai mengiris dagingnya.
Gifyka mengangguk, dia mengikuti apa yang Mario lakukan. Jujur saja, perutnya juga lapar dan ingin segera diisi. Jangan sampai perutnya bunyi terlebih dahulu baru diisi. Bisa malu dirinya jika memang hal itu terjadi sekarang.
"Tidak perlu kamu ungkapkan pun, aku mengerti semua apa yang sudah kamu lakukan untukku Mario." Gifyka memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
Mario tersenyum memandang Gifyka sambil makan. Di dalam rumah pohon itu bisa dibilang sangat terang karena dipenuhi cahaya lampu tumblr. Bahkan di sana juga ada beberapa foto mereka berdua yang sengaja dipajang.
"Mario, kenapa di sini pun ada ranjang?" Gifyka baru melihat jika di sana ada ranjang ukuran kecil yang hanya muat dipakai tidur untuk satu orang.
Mario tersenyum mendengar pertanyaan Gifyka. Dia melihat ranjang itu sekilas.
"Aku ingin honeymoon kita nanti di sini, kamu mau?" tanya Mario.
Gifyka tersipu mendengar pertanyaan Mario tentang honeymoon. Mengingat tanggal pernikahan mereka semakin dekat membuat jantung Gifyka berdetak lebih kencang.
"Aku mau, asal sama kamu."
"Jelas dong."
"Tapi kenapa ranjangnya kecil sekali?"
Mario menyuapkan daging ke dalam mulutnya. Dia tersenyum menatap Gifyka yang sepertinya begitu penasaran.
"Ranjang yang kecil itu lebih membuat kita semakin dekat." Mario melirik Gifyka yang tersipu malu.
Gifyka sampai menundukkan kepalanya mendengar jawaban Mario. Dia sudah sangat salah tingkah. Apalagi jika nanti dirinya sudah resmi menjadi istri dari Mario, pasti akan lebih salah tingkah.
"Eh Fy, lihat ada sunset." Mario berdiri dan mendekat jendela.
Gifyka ikut berdiri, dia mendekati Mario sambil menikmati sunset yang sedang berlangsung.
Mario menarik Gifyka agar berdiri di depannya. Tanpa disangka, Mario memeluk Gifyka dari belakang. Dagunya dia rebahkan ke pundak Gifyka serta tangannya melingkari perut kekasihnya.
Jantung mereka sama-sama berpacu kian cepat. Gifyka rasa, selain malam pertunangan. Ini juga termasuk dalam momen paling romantis yang Gifyka rasakan bersama Mario. Melihat sunset di rumah pohon sambil dipeluk oleh lelaki kesayangannya selain Yudha.
"I love you, Gifyka." ujar Mario lirih di dekat telinga Gifyka.
"Too..." hanya itu balasan dari Gifyka.
Meski singkat, tapi mampu membuat Mario senang. Hati keduanya sama-sama banyak bunga bermekaran sekarang. Momen romantis seperti ini kadang tidak bisa didapatkan dua kali.
***
Next...