
Sesampainya di kediaman Angkasa, Mario tidak langsung pulang. Dia ditahan oleh Yudha terlebih dahulu untuk menemaninya bermain catur. Lelaki paruh baya itu memang suka sekali mengajak Mario bermain permainan yang dijalankan di atas papan bercat hitam putih berbentuk kotak-kotak itu. Sebenarnya bukan hanya Mario yang suka diajak main, tapi Alvino dan Afriel pun dulu suka diajak main kalau ke rumah.
"Aku enggak paham cara mainnya." ujar Gifyka yang mulai bosan menemani Mario dan Yudha bermain catur.
Yudha hanya terkekeh, Mario menatap Gifyka sebentar. Mereka berdua tahu jika Gifyka tidak suka catur dan tidak paham cara mainnya.
"Mau aku ajarin?" tawar Mario mencoba berbaik hati.
"Enggak usah tawarin Gifyka, Yo. Dia mana mau belajar main catur." sela Yudha sebelum Gifyka menjawab.
Mario terbahak mendengar perkataan Yudha. Memang, gadis di sebelahnya itu tidak suka bermain catur.
Gifyka hanya mendesis pelan mendengar cibiran dari Yudha. Papanya itu tahu saja apa isi pikirannya. Apa jangan-jangan di keningnya tertulis jika dirinya tidak suka main catur.
"Gifyka tidak suka karena dia enggak paham cara mainnya, Om. Coba kalau dia paham cara mainnya, aku jamin bakalan suka."
Yudha terbahak mendengar ucapan Mario yang sepertinya antusias mengajarkan Gifyka untuk bisa bermain catur.
"Nih, Mama bawakan camilan untuk kalian." Nafita datang dari arah dapur.
Semua orang memandang ke arah Nafita. Wanita paruh baya itu ikut duduk di sebelah Yudha usai meletakkan sepiring kue sus kesukaan Mario. Tentu saja bukan Nafita yang membuat, dia hanya tahu caranya menata di piring dan menyuguhkan untuk suami serta calon menantunya saja.
"Enak nih, Tante." cengir Mario sambil memandang kue sus itu.
"Dimakan saja, Yo. Tante tahu kamu doyan kue sus, makanya tadi Tante minta maid untuk membuatnya. Supaya kamu betah main di sini." Nafita mendekatkan piring tadi pada Mario.
"Beneran Tante? Wah... Jadi terharu begini." Mario langsung mengambil satu kue sus dan memakannya.
"Mama mertuamu mana bisa masak, Yo. Masa mie instan saja dia tidak bisa." desah Yudha.
"Ish... Yang penting bisa masak nasi sama goreng telur." dengus Nafita.
Semua orang tertawa di sana mendengar godaan Yudha untuk Nafita Terlihat begitu romantis mereka meski sudah berumur. Mario melirik Gifyka yang juga tertawa, dia berharap akan bisa bersama gadis itu sampai tua dan sampai maut memisahkan nanti. Terus romantis dan saling menggoda meski usia tak lagi muda seperti apa yang dilakukan oleh Yudha dan Nafita.
***
Mario mengusap perutnya yang terasa kenyang. Lelaki itu benar-benar belum diperbolehkan pulang jika perutnya belum terisi. Keluarga Angkasa baru saja selesai melaksanakan ritual makan malam bersama sang calon menantu.
"Kamu harus jaga stamina, Yo. Tanggal pernikahan kalian sudah semakin dekat." Yudha mengelap mulutnya menggunakan kain lap yang disediakan satu persatu untuk setiap orangnya.
Mario dan yang lain melakukan hal yang sama. Hanya Nafita yang masih asik memakan buah-buahan. Wanita paruh baya itu bilang jika dirinya sedang diet untuk hari pernikahan Gifyka dan Mario nanti. Semua orang heran, Gifyka yang akan menikah tapi Nafita yang ribut mempersiapkan penampilannya. Calleys kadang sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu.
"Iya Om, aku bakal perbanyak istirahat dan makan makanan sehat terus minum vitamin." Mario menganggukkan kepalanya.
"Nenek, enggak nambah makannya?" Gifyka memandang Calleys yang malam ini hanya makan sedikit dari biasanya.
"Sudah kenyang, Fy." Calleys tersenyum memandang cucunya itu sangat perhatian padanya.
"Om tidak mau kamu sampai sakit kalau kurang menjaga kesehatan. Karena acara pernikahan itu melelahkan."
Kepala Mario mengangguk, dia mengerti jika Yudha mengkhawatirkannya. Mario merasa beruntung karena memiliki calon papa mertua perhatian seperti Yudha dan calon mama mertua yang begitu baik padanya. Tak lupa dengan calon nenek mertua yang juga menerima dirinya apa adanya.
"Ya sudah, kalau begitu Om mau ke ruang kerja dulu." pamit Yudha.
"Baik Om, terima kasih." Mario berdiri dan mengangguk hormat pada Yudha.
"Nenek mau ke mana?" tanya Gifyka saat gadis itu melihat Calleys juga berdiri.
"Nenek mau ke kamar, istirahat."
Gifyka tersenyum pada sang nenek, dia menganggukkan kepalanya berulang kali dan membiarkan Calleys untuk pergi ke kamar. Sekarang tinggal mereka berdua di meja makan. Suasana tiba-tiba terasa canggung di antara mereka.
Trik!
Gifyka menjentikkan jarinya, tak lama beberapa maid berdatangan dan berbaris rapi di sisi kanan dan kiri meja makan.
"Bereskan semuanya." perintah Gifyka.
"Baik, Non." jawab mereka serempak.
Gifyka langsung mengajak Mario pergi dari sana. Mario menurut saja ke mana Gifyka mengajaknya. Lagi pula, jarang-jarang mereka berduaan di malam hari seperti ini sebagai kekasih.
Mario melihat Gifyka mengajaknya ke sekitar taman. Semerbak aroma wangi yang menguar dari bunga-bunga bermekaran mulai memenuhi indera penciuman mereka. Aromanya begitu menenangkan dan membuat siapa pun betah berada di sana. Beruntung sekali Gifyka tinggal di rumah ini, sehingga bisa setiap hari nongkrong di sini sambil menikmati indahnya bunga bermekaran dan wanginya mawar serta bunga-bunga lainnya.
"Kita duduk di sini saja." ajak Gifyka.
Mario menurut, mereka akhirnya duduk di sebuah gazebo yang ada di sekitar taman. Di sana ada sekitar dua gazebo yang sengaja disediakan oleh Yudha. Tapi sedetik kemudian, lelaki itu kembali berdiri.
"Di sini lebih asik, Fy." ujar Mario sambil mengajak Gifyka duduk di sebuah ayunan yang juga disediakan.
Gifyka tersenyum, dia tidak masalah mau duduk di mana saja. Mau di gazebo atau di ayunan pun dia tidak menolak asal bersama Mario. Semilir angin malam tidak menyurutkan mereka untuk tetap duduk di sana. Tempat ini pula yang dijadikan mereka untuk mengobrol berdua saat acara lamaran Mario pada Gifyka beberapa hari lalu. Hanya bedanya, waktu itu mereka duduk di gazebo sedangkan sekarang di ayunan.
"Sebulan lagi kita akan menikah, Fy." Mario memberanikan diri mengecup punggung tangan Gifyka.
Senyum di wajah Gifyka tercetak mendengar perkataan Mario barusan. Dirinya juga tidak menyangka akan melepas masa lajang secepat ini.
"Yo, kamu kan tahu kalau aku dari lahir sudah hidup enak." Gifyka menyandarkan kepalanya ke pundak Mario.
"Eum... Terus bagaimana?" Mario tahu, pasti ada yang ingin dikatakan oleh Gifyka padanya.
"Sampai aku berumur segini, aku belum tahu bagaimana caranya memasak nasi. Apa kamu masih akan sayang sama aku kalau aku enggak bisa masak?" tanya Gifyka mulai serius.
Mario terkekeh mendengar ucapan Gifyka barusan. Dia tidak menyangka kenapa tunangannya itu tiba-tiba bertanya demikian padanya. Padahal tidak ada angin, tidak ada hujan apalagi petir.
"Rio, aku serius." kesal Gifyka saat pertanyaannya dianggap remeh oleh Mario.
"Aku kan menikahi kamu untuk dijadikan istri, bukan untuk dijadikan tukang masak." jawab Mario ikut serius.
"Yakin kamu enggak masalah kalau aku belum bisa masak? Masak air aja enggak tahu bagaimana caranya."
Mario mengusap-usap kepala kekasihnya, dia masih saja tersenyum dengan pertanyaan Gifyka.
"Enggak masalah, Fy. Aku yakin meski pun kamu belum bisa, suatu saat nanti kamu akan mau belajar untuk bisa buat aku dan keluarga kita. Tapi kalau pun kamu enggak mau berlajar pun, aku tidak akan kecewa."
Gifyka tersanjung akan jawaban dari Mario. Dia terlalu paham bagaimana Mario karena mereka sudah bersama sedari kecil. Beruntung sekali Gifyka bisa mendapatkan lelaki sebaik Mario dan semengerti Mario padanya.
***
Next...