Future and True Love

Future and True Love
43. Ladang Alang-Alang



Mario terus menjalankan mobilnya menuju tempat yang ingin dia tunjukkan ke Gifyka. Sudah sekitar dua puluh menit Mario berada di jalan raya. Kekasihnya itu sudah terlelap sedari lima belas menit yang lalu. Mario sendiri asik dengan lagu-lagu lawas di tahun 2000-an. Dia tidak mau mengganggu istirahat Gifyka, Mario tahu jika Gifyka pasti lelah.


Sesekali bibir tebal Mario mengikuti lirik musik yang mengalun. Kepalanya kadang mengangguk-angguk dan tangannya kadang memukul-mukul pahanya sendiri menikmati musik yang dibawakan oleh beberapa band lawas Indonesia, seperti Dewa 19, Ungu, Lyla, Vagetos, Sheila On7, Coklat dan Peterpan atau yang sekarang dikenal Noah.


Kebetulan sekarang jalanan tidak sedang macet, jadi Mario bisa selip sana selip sini agar lebih cepat sampai. Dia sudah meminta beberapa orang suruhannya untuk mempersiapkan sesuatu di sana. Harapannya tetap satu, semoga Gifyka suka dengan kejutan yang dia berikan.


***


Gifyka berjalan di sebuah ladang bebas yang ditumbuhi bunga alang-alang. Kebetulan alang-alang itu sedang bermekaran sehingga membuat ladang bebas itu terlihat lebih cantik dari biasanya.


Gadis cantik berdagu tirus itu tidak tahu di mana dia sekarang dan tidak mengerti kenapa dirinya bisa ada di sini. Tidak ada orang lain di sana, hanya ada dirinya sendiri. Gifyka bingung, kenapa tidak ada Mario di dekatnya. Ke mana perginya lelaki itu?


"Mario..." panggil Gifyka berharap Mario sedang mengerjainya saja dengan cara ngumpet di suatu tempat.


Kepala Gifyka menoleh ke kanan dan kiri mencari lelaki yang berstatus sebagai tunangannya. Tapi tidak juga terlihat.


"Mario... Kamu di mana?" Gifyka meninggikan suaranya.


Sedari tadi Gifyka tidak berhenti, dia terus berjalan tak tentu arah dan tak tahu tujuan akan ke mana. Dalam benaknya hanya ada nama Mario, dia takut ditinggal sendirian. Rasa traumanya akan ditinggalkan oleh orang yang dia sayang mencuat ke dasar hati.


"Yo... Jangan bercanda, kamu di mana?" Gifyka terus membuka alang-alang tadi yang tingginya sampai sebahu.


Samar-samar, Gifyka mendengar suara kikikan dari arah lain. Tapi dia tidak tahu di mana pastinya arah suara itu. Karena alang-alang tadi begitu tinggi sehingga menghalangi pandangan Gifyka.


Tangan mungilnya terus membuka alang-alang yang dia terjang. Gifyka akan mencari di mana suara tersebut dengan harapan jika itu bukan suara dari hal-hal aneh.


"Tenang Fy, Laxymuse sudah musnah. Sudah tidak ada Kakek dan prajuritnya." Gifyka menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.


Tidak mau menyerah, Gifyka terus mencari di mana suara itu. Langkah kakinya pun semakin cepat. Suara itu semakin dekat dan semakin terdengar jelas.


"Jangan curang, Adit."


Gifyka mendengar ada suara anak kecil perempuan bicara dengan nada melas. Saking penasarannya, Gifyka tidak lagi berjalan tapi berlari.


"Mario... Kamu di mana? Kenapa kamu meninggalkan aku sendirian di sini?" Gifyka kembali memanggil Mario.


Seingatnya, dia tadi berangkat bersama Mario. Tapi entah kenapa dan entah bagaimana caranya, Gifyka sudah ada di ladang alang-alang sedemikian luas sendirian tanpa Mario. Bahkan Gifyka ingat betul jika pakaian yang dia kenakan itu pakaian yang sama dengan yang Gifyka pakai saat kuliah tadi. Tidak ada yang berubah sedikit pun, selain Mario yang menghilang entah ke mana.


"Enggak mungkin Mario meninggalkan gue sendirian di sini. Tapi kenapa gue bisa sendirian di sini?" tanya Gifyka pada dirinya sendiri sambil terus berlari mencari suara anak kecil tadi.


"Adit, aku juga mau."


Gifyka kembali mendengar suara anak kecil tadi. Kali ini Gifyka menghentikan larinya, dia mengatur napasnya yang ngos-ngosan dan dadanya terasa panas karena dirinya lari lumayan jauh.


"Ini untuk Alyssa cantik."


Gifyka mendongak, kali ini dia mendengar suara anak kecil laki-laki dari arah yang sama. Dia semakin yakin kalau anak kecil itu tidak sendiri.


"Terima kasih, Adit. Aku suka, ini rasanya enak."


Gifyka mulai berjalan usai mendengar suara barusan. Dia membuka alang-alang dan kaget saat melihat ada dua orang anak kecil beda jenis kelamin sedang duduk berdua sambil makan sebatang cokelat.


Kedua anak kecil itu terlihat sangat bahagia, saling tertawa dan bercanda. Jantung Gifyka serasa akan copot ketika melihat wajah kedua bocah tadi saat mereka menoleh ke arah Gifyka. Sepertinya mereka sadar akan kehadiran Gifyka di sana.


Tapi kenapa dua anak kecil itu nampaknya acuh tak acuh akan kehadiran Gifyka. Mereka berdua hanya menoleh sebentar tanpa menyapa lalu kembali asik bercanda berdua.


Jantung Gifyka serasa berdetak dua kali lipat dari tadi. Bahkan dadanya tiba-tiba saja sesak usai melihat wajah mereka yang diketahui bernama Adit dan Alyssa.


"Kenapa wajah mereka mirip sama wajah gue dan wajah Mario saat kecil?" tanya Gifyka pada dirinya sendiri.


Adit dan Alyssa berjalan gandengan menuju ke arah Gifyka. Gadis cantik tunangan Mario itu jadi was-was, kenapa mereka berdua mendekatinya.


"Adit, kita mau ke mana?" tanya Alyssa polos.


"Kalau aku mau ngajak kamu menjadi pengantin cilik, apa kamu mau?" nada suara Adit benar-benar mirip dengan Mario.


"Mau, aku mau jadi pengantin ciliknya Adit." kepala Alyssa mengangguk-angguk berulang kali.


Gifyka masih berdiri di tempatnya. Dia sama sekali tidak berminat untuk menyingkir sedikit pun. Kedua anak kecil itu semakin mendekat, tapi anehnya mereka hanya melewati Gifyka begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.


"Apa mereka enggak lihat gue?" Gifyka bingung sendiri.


Adit dan Alyssa semakin jauh. Gifyka tidak lepas memandang mereka. Rasa bingung melandanya sekarang, dia tidak mengerti apa maksud semua ini.


"Gifyka!"


Gifyka kaget saat dirinya merasa ada yang menepuk bahunya cukup keras.


"Mario!" ujar Gifyka saat dia menyadari jika lelaki yang menepuk bahunya tadi adalah lelaki yang dia cari-cari.


***


"Mario!"


Mario lega karena Gifyka sadar dari tidurnya. Dia sempat kaget saat tadi Gifyka mengigau memanggil namanya berulang kali dan menanyakan di mana dirinya.


Gifyka seperti orang linglung sekarang sambil terus mengecek tubuhnya. Dia memandang Mario bingung.


"Aku di mobil?" tanya Gifyka heran.


"Sedari tadi kamu memang tidur di mobil, Fy." Mario memberikan botol air mineral agar Gifyka lebih tenang lagi.


"Kita masih di mobil? Kita belum ke mana-mana?" tanya Gifyka setelah dirinya berhasil meminum beberapa teguk air mineral dari botol yang tadi dibeli oleh Mario di kantin.


"Kamu itu tidur Fy, dan kita baru saja sampai di tempat yang aku janjikan ke kamu." Mario mengambil beberapa helai tisue dan mengelap keringat Gifyka yang mengucur di pelipisnya.


Gifyka melihat ke arah luar, ini bukan ladang alang-alang seperti apa yang dia lihat tadi. Atau lebih tepatnya seperti apa yang masuk ke dalam mimpi siangnya.


"Kamu kenapa? Mimpi aneh lagi?" Mario merapikan anak rambut Gifyka yang berantakan.


"Aku tadi mimpi, dan aku melihat kamu dan aku sewaktu kecil. Tapi anehnya, nama kamu jadi Adit dan namaku sendiri jadi Alyssa." adu Gifyka pada Mario.


"Syut... Tenang Fy, aku ada di sini sama kamu. Jangan takut ya." sebuah pelukan Mario berikan untuk Gifyka agar tunangannya itu lebih tenang.


"Dua kali aku mimpi seperti ini, yang pertama itu aku ketemu Viara di sekolahan TK. Tapi di sana nama Viara itu jadi Aziz, dan namaku Alyssa." Gifyka bercerita.


Mario terus saja menenangkan Gifyka. Dia tahu bagaimana menderitanya sebagian batin Gifyka usai kejadian itu.


"Syut... Sudah ya, jangan dipikirin lagi. Aku ajak kamu ke sini untuk mengajak kamu bersenang-senang. Jangan sedih, sekarang kita turun." Mario melepaskan pelukannya dari Gifyka dan merapikan rambut kekasihnya.


Gifyka sudah jauh lebih tenang, dirinya mengangguk dan mengatur napasnya. Gifyka akan ikut Mario turun dari mobil. Dia juga penasaran kenapa Mario mengajaknya ke pantai. Meski Gifyka masih sedikit trauma dengan pantai atau air lainnya. Tapi gadis itu akan berusaha melawan. Karena Meisya bilang juga sedikit demi sedikit Gifyka harus bisa melawannya.


***


Next...