
"Yang benar saja?" Mario menatap Gifyka merasa sedikit tak percaya atas apa yang diceritakan oleh kekasihnya itu.
"Eum... Benar Mario, aku tidak bohong sedikit pun. Mereka ada, dan semalam benar-benar datang ke kamarku." jawab Gifyka antusias.
Mario melihat Gifyka mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali. Lelaki berkulit hitam manis itu menghela napas lalu mendesah dan kemudian terkekeh.
"Ya...! Mario, kenapa kamu tidak percaya padaku?" Gifyka terlihat sedikit kecewa karena Mario terlihat seperti orang tidak percaya padanya.
"Aku bukan tidak percaya, Gifyka. Tapi aku hanya heran saja, benarkah mereka ada?" heran Mario.
"Lalu?"
"Aku percaya sama kamu, tapi aku hanya heran saja." Mario tidak mau jika Gifyka salah paham padanya.
Gifyka mendesah, memang jika dipikir secara logika pun sulit untuk dipercaya. Bagaimana bisa ada seorang manusia yang dapat bertemu dengan Dewa dan iblis secara bersamaan. Bahkan Dewa itu mengatakan jika dirinya adalah Dewa yang diutus untuk menjaga Gifyka selama di Bumi. Ditambah lagi ada kerajaan iblis pula.
Gifyka meraba-raba lehernya, dia seperti mencari sesuatu. Mario pikir jika Gifyka mencari kalung veromonnya. Tapi tak lama, Gifyka mengeluarkan kalung berbandul giok. Gadis itu memakai dua kalung sekaligus.
"Ini, dia memberikan ini untukku. Dewa itu bilang jika giok ini akan melindungiku dari serangan iblis. Karena giok ini, jika aku dalam bahaya maka Dewa itu akan seketika datang menolongku dan jika aku membutuhkannya dengan sekali panggil namanya sambil berkonsentrasi menatap giok ini maka Dewa itu akan datang." Gifyka menjelaskan ulang apa yang dikatakan oleh Dewa Venus semalam pada Mario.
Mario melihat giok yang dipakai Gifyka, dia menyentuh giok berwarna hijau tersebut. Memang terlihat begitu cantik dan berkilau, Mario pun mengakuinya.
"Ya...! Berapa harga batu giok seperti ini?" tanya Mario sambil melepaskan giok tadi dan duduk seperti semula.
"Ya...! Mario...! Batu giok ini ekslusif dibawa dari Surga, Dewa Venus yang membawakannya khusus untukku." kedua mata Gifyka memicing menatap wajah tunangannya dalam beberapa menit.
Mario berdiri dan merapikan hoodie yang dia pakai. Bahkan lelaki itu juga merapikan rambut dan letak jam tangannya yang sedikit tergeser.
"Ayo kita ke toko perhiasan." ajak Mario sambil mengulurkan tangannya kepada Gifyka.
Gifyka tersipu, kedua pipinya merah merona mendengar ajakan Mario barusan. Gadis itu tahu sekarang apa yang dipikirkan oleh Mario.
"Aku tahu, kamu cemburu kan sama Dewa Venus?" goda Gifyka.
"Jika hanya membelikan batu giok saja aku juga mampu." dengus Mario.
Gifyka ikut berdiri, dia menowel-nowel bahu Mario berulang kali. Tunangan tampannya itu hanya melirik sekilas saja.
"Tapi bedanya batu giok ini dari Surga." Gifyka masih gencar menggoda Mario meski dia tahu jika tunangannya itu cemburu.
"Ya...! Gifyka...! Kalau begitu aku akan ke Surga meminta langsung pada Tuhan agar memberikan batu giok cantik untukku dan kembali lagi ke Bumi untuk memberikan giok itu nanti ke kamu." dengus Mario, dia benar-benar kesal dan cemburu pada Dewa Venus yang sudah memberikan giok pada Gifyka.
"Mario bodoh! Kalau kamu ke Surga, kamu tidak akan bisa kembali lagi ke bumi! Kamu akan mati!" kali ini Gifyka yang mendengus kesal mendengar ucapan Mario barusan.
"Bukankah kamu bilang jika hidup ini ada reinkarnasi? Maka dari itu, aku akan bereinkarnasi setelah aku mendapatkan batu giok dari Surga dan memberikannya ke kamu di kehidupan selanjutnya." senyum Mario merekah usai mengungkapkan hal barusan.
"Jika aku ada di Swiss terus kamu di Indonesia, bagaimana caranya kamu menemuiku?" Gifyka kembali memicingkan matanya.
"Aku akan menyusulmu ke sana, akan aku cari kamu ke seluruh dunia." Mario merentangkan kedua tangannya seolah menggambarkan jika dunia itu memang luas.
"Lalu bagaimana kamu meyakinkanku di kehidupan selanjutnya jika kita adalah sepasang kekasih di kehidupan sebelumnya?" Gifyka masih ingin bertanya pada tunangannya itu.
"Aku akan lakukan segala cara supaya kamu ingat denganku. Semacam bertengkar, menjadi rival dalam kelas, saling meledek, aku akan membawamu ke rumah pohon kita dan masih banyak hal yang akan aku lakukan agar ingatanmu kembali dipenuhi olehku."
"Ya... Jangan cemburu dengan Dewa Venus, dia bahkan tidak lebih tampan darimu." Gifyka mencoba merayu tunangannya.
Mario kembali duduk, dia menyandarkan tubuhnya ke bangku yang ada di sisi jalan sekitar kampus tempat mereka menuntut ilmu. Memang di sisi jalan area luar kampus ada beberapa bangku yang disediakan. Di sana terasa adem dan tidak takut terbakar oleh sinar matahari karena terayomi oleh pepohonan rindang yang sengaja ditanam di sisi jalan.
"Kamu bilang tadi dia sangat tampan, berkulit putih dan bermata bulat serta tajam." Mario masih sangat ingat apa yang diceritakan oleh Gifyka tadi.
Gifyka ikut duduk, dia merangkul lengan Mario dan menyandarkan kepalanya ke bahu tunangannya. Angin terasa sepoi-sepoi menerpa wajah mereka hingga membuat rambut panjang Gifyka bergoyang ke sana-sini mengikuti iringan sang angin.
"Meski ada seribu manusia dan Dewa bahkan iblis sekali pun yang lebih tampan dari kamu, aku tidak akan berpaling. Aku akan tetap setia padamu, aku tidak akan melirik yang lain. Kamu tetap yang menjadi raja di hatiku, Mario." ujar Gifyka manis sambil memandang jalanan yang sedikit terhalangi oleh pepohonan.
Hati Mario merasa tenang mendengar penjelasan Gifyka. Dirinya percaya pada tunangannya jika Gifyka tidak mungkin mengkhianatinya. Bagaimana pun juga, Mario sudah mengenal Gifyka jauh-jauh hari sebelum kejadian di mana Gifyka memiliki kekuatan. Mereka saling tahu baik buruknya masing-masing sedari kecil.
"Aku percaya padamu, Fy. Aku hanya takut saja jika ada yang ingin mengambilmu dariku." Mario mengusap-usap rambut panjang Gifyka.
Mereka berdiam diri sana, menikmati ketenangan yang tercipta. Meski terdengar suara kendaraan berlalu lalang, tapi rasanya di sana begitu nyaman dan tenang.
"Aku ingin tidur sebentar saja di pelukanmu. Bangunkan aku setengah jam lagi karena aku ada kelas." ujar Gifyka sambil memandang wajah Mario dari bawah.
"Baiklah, tidurlah di pelukanku untuk saat ini. Sebelum aku pergi." ujar Mario membalas tatapan Gifyka.
"Ya... Kamu ingin pergi ke mana? Bicaramu seolah-olah ingin pergi jauh dan lama untuk kembali saja." dengus Gifyka.
"Aku kan memang akan pergi ke tempat latihan basket."
Gifyka nyengir, benar juga apa kata Mario. Lelaki itu nanti sore harus melatih basket. Gifyka saja yang berpikir aneh-aneh.
"Baiklah, jangan ganggu tidurku." Gifyka membenahi posisinya.
Kali ini Mario merentangkan tangannya agar Gifyka bisa berbantal pada lengannya. Lelaki itu pun mengusap-usap bahu Gifyka agar gadisnya cepat terlelap dan akan dia bangunkan setengah jam lagi.
Mario menatap wajah ayu milik Gifyka, dia selalu terpesona akan kecantikan gadisnya. Tidak sekali pun Mario melirik pada wanita lain setelah dia menobatkan dirinya menyukai Gifyka dari sewaktu masih sekolah mula.
"Kamu cantik." ujar Mario tulus, dia memberanikan diri mengecup puncak kepala Gifyka sekilas.
Tanpa Mario sadari, Gifyka tidak tidur. Gadis itu hanya ingin memejamkan mata sambil menyandar ke tubuh tunangannya saja. Merasakan hangat yang Mario hantarkan. Ada gelenyar aneh menjalar ke tubuh Gifyka ketika Mario mengecup ubun-ubunnya. Rasanya benar-benar memabukkan. Gifyka suka momen ini.
***
Di lain tempat, Dewa Venus mendengar semua pembicaraan Gifyka dengan Mario. Dia bahkan tahu jika Gifyka membicarakannya pada Mario. Dewa Venus senang jika Gifyka memiliki tunangan sebaik Mario, tapi dia sedikit kesal saat mendengar Gifyka membandingkan dirinya dengan Mario.
"Dia bilang apa? Lelaki itu lebih tampan dariku? Cis... Mana ada yang melebihi ketampanan seorang Dewa, apalagi dia seorang manusia." dengus Dewa Venus yang jelas-jelas sedikit kesal.
"Tapi sayang, nasibnya tidak seberuntung itu." desah Dewa Venus sekarang.
Dewa tampan itu membaringkan tubuhnya di sebuah pohon besar yang tentunya bukan pohon di sisi jalan tempat Gifyka bersama Mario.
***
Next...