
Gifyka dan Mario memandang boneka stitch hasil dari lomba yang dimenangkan oleh Mario di dalam mall tadi. Boneka itu benar-benar besar sekali. Bahkan lebih besar dari mobil milik Mario.
Tadi saja Mario sampai meminta bantuan beberapa orang yang dia bayar untuk membawakan boneka stitch dari lantai lima sampai lobby mall. Ada sekitar sepuluh orang yang membantu Mario membawa boneka tersebut. Karena tidak mungkin Mario membawanya sendiri.
Gifyka memilih duduk di dekat boneka stitch-nya. Dirinya menyandarkan kepalanya ke pinggang bonekanya tersebut. Boneka itu dibawa pulang tidak dengan kotak kacanya, karena sang MC tadi bilang bahwa hanya boneka yang diberikan.
"Bagaimana cara kita membawa pulang boneka ini?" tanya Gifyka lirih.
Dewa Venus masih saja ada di dekat Gifyka, dia sekarang berjalan menuju boneka stitch milik Gifyka. Mario terlihat sedikit berpikir, dia berniat untuk memesan go-box saja agar bonekanya aman. Lagian tidak akan muat masuk ke dalam mobil Mario.
"Bonekanya lucu sekali, seperti Tuan Putri." ujar Dewa Venus sambil membelai boneka stitch tersebut.
"Yak...! Jangan duduk di atas bonekaku." sentak Gifyka sambil menepuk bagian boneka yang diduduki oleh Dewa Venus.
Mario kaget melihat itu, dia mendekati Gifyka dan duduk di sebelah tunangannya. Kepala Mario melihat ke sana-sini seperti mencari sesuatu. Sedangkan Gifyka belum menyadari kekagetan Mario. Gifyka lebih asik mengusir Dewa Venus agar tidak duduk di atas paha boneka stitch miliknya.
"Fy, kamu bicara sama siapa?" tanya Mario heran sambil terus celingak-celinguk seperti mencari sesuatu yang mungkin ada hal aneh terjadi di sekitar Gifyka hingga membuat gadis itu berteriak.
Gifyka baru sadar dan baru ingat jika Mario tidak bisa melihat Dewa Venus. Dirinya ganti melihat ke sekeliling dan untungnya tidak ada satu orang pun yang memperhatikan dirinya. Kepala Gifyka menoleh ke arah Mario dan tersenyum kikuk.
"Ah... Hehehe..." Gifyka jadi garuk-garuk kepala sendiri.
"Kamu tadi ngomong sama siapa?" Mario menanyakan ulang apa yang dia tanyakan tadi.
"Kamu beneran enggak lihat ada sesuatu di sekitar kita sedari di toko perhiasan tadi?" tanya Gifyka.
"Memang ada apa? Bukannya memang banyak orang di sini?" tanya Mario masih saja bingung.
"Bukan, di sekitar kita berdua itu sedari tadi ada Dewa Venus." ujar Gifyka memberanikan diri.
Mario tidak percaya, dia celingak-celinguk seperti mencari sesuatu di sekitar mereka tapi benar-benar tidak melihat apa pun. Hanya ada orang-orang berlalu-lalang di sekitar lobby saja.
"Aku enggak melihat apa-apa." Mario kembali menatap Gifyka.
"Dia tidak akan bisa melihatku, Tuan Putri." sela Dewa Venus.
"Lalu bagaimana caranya Mario bisa melihatmu." kepala Gifyka ganti menatap Dewa Venus.
"Dia harus mati terlebih dahulu baru bisa melihatku."
Kedua mata Gifyka melotot sempurna mendengar jawaban Dewa Venus tentang mati. Mana mungkin Gifyka akan meminta Mario mati hanya agar bisa melihat Dewa Venus.
"Yak...! Sembarangan saja kalau bicara kamu ini." dengus Gifyka yang jelas merasa kesal.
"Dia bilang apa agar aku bisa melihatnya juga?" Mario ikut penasaran apa yang dikatakan Dewa Venus.
"Dia bilang kalau kamu harus mati dulu baru bisa melihatnya." kesal Gifyka.
"Bodoh sekali Dewa ini, mana mungkin aku mau mati hanya untuk melihat Dewa kejam seperti dia." Mario ikut kesal mendengarnya.
Dewa Venus mengusap dadanya, dia tidak boleh balik mengumpati atau melakukan kekerasan pada Mario jika tidak mau diberi hukuman oleh Tuhan.
"Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa lelaki bernama Mario ini." doa sang Dewa pada Tuhan.
Gifyka hanya menahan tawanya ketika melihat Dewa Venus berusaha sabar hanya dengan cara mengusap dadanya berulang kali.
"Nah... Itu go-box pesanannya sudah datang, Fy." Mario berdiri, dia akan berbicara pada sopir go-box agar mau membantu mengangkat boneka stitch tadi sampai masuk ke dalam mobil box.
Gifyka merapikan tasnya, mengecek segala yang dia bawa agar tidak ada yang tertinggal. Terutama paper bag berisi cincin pernikahannya nanti dengan Mario.
Mario kembali datang bersama sopir mobil box dan beberapa petugas mall yang akan membantu menggotong sang boneka raksasa. Bahkan Gifyka pun ikut membantu meski dia tidak mengeluarkan banyak tenaga.
Banyak sekali orang melihat sekilas ke arah boneka stitch yang sedang digotong banyak orang. Tak sedikit dari mereka yang bisik-bisik iri pada Gifyka karena memiliki kekasih seromantis Mario yang mau mengikuti lomba merayu pasangan hingga memenangkan lomba tersebut.
"Hah... Akhirnya masuk juga." desah Gifyka sedikit merasa kelelahan.
Mario mengucapkan terima kasih pada semua orang yang membantu menggotong boneka milik Gifyka tadi. Sang sopir pun sudah masuk ke bagian kemudi dan meninggalkan lobby mall menuju rumah Gifyka.
"Fy, aku mau ambil mobil dulu sebentar ya. Kamu tunggu saja di sini." pamit Mario.
"Hati-hati ya." Gifyka menganggukan kepalanya.
Mario langsung pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan bergegas pulang. Gifyka menunggu di lobby mall bersama Dewa Venus.
"Tuan Putri, apa istimewanya lelaki itu?" tanya Dewa Venus merasa sedikit heran.
"Bagaimana kalau semisal Tuan Putri hidup tanpa dia?"
"Aku tidak akan bisa hidup tanpa dia."
"Tuan Putri masih memiliki Tuhan kalau dia tidak ada." Dewa Venus mencoba sedikit menghibur.
Gifyka menatap Dewa Venus sangar, dia tidak nyaman dan tidak suka dengan pembahasan ini. Kenapa ada pembahasan tentang kepergian Mario segala.
"Sudahlah, aku mau menunggu Mario saja di sana." Gifyka berdiri lagi dan berjalan menuju sisi jalan untuk menunggu Mario.
Dewa Venus mengikuti saja ke mana Gifyka berjalan dengan langsung seperti keong. Dirinya tidak tahu kenapa malam ini ingin bersama Gifyka terus. Padahal tadi Gifyka hanya tidak sengaja menyebut nama toko perhiasan yang kebetulan namanya sama dengan nama sang Dewa.
Dewa Venus melihat ada sebuah mobil hitam yang begitu kencang menuju ke arah Gifyka. Merasa akan terjadi sesuatu yang tidak beres, Dewa Venus mempercepat langkahnya.
"Awas...!" seru seorang ibu-ibu yang menggendong anak kecil.
"Awas, Mbak!" seorang laki-laki juga menyerukan kata awas pada Gifyka.
Tapi Gifyka belum paham apa yang dimaksud oleh mereka dan dia belum melihat ada mobil yang melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
"Tuan Putri...!" seru Dewa Venus sambil berlari.
Gifyka menoleh ke arah kanan, dia kaget ketika melihat sebuah mobil sedan melaju kencang ke arahnya dan sepertinya tidak ada niat sedikit pun dari sang pengendara untuk menginjak pedal rem. Gifyka bingung, tubuhnya terasa kaku. Dirinya ingin pergi tapi seolah terkunci di sana.
"Tuan Putri, awas...!"
Gifyka memejamkan kedua matanya saat melihat mobil tadi sudah begitu dekat dengannya. Jantung Gifyka berpacu sangat cepat dan dirinya berpikir sebentar lagi akan mati.
Citt...!
Gifyka kaget ketika merasakan sebuah pelukan. Ini bukan Mario, tapi orang lain. Wanginya benar-benar harum dan Gifyka belum pernah mencium aroma parfum sewangi ini.
"Tuan Putri aman." bisik Dewa Venus.
Kedua mata Gifyka perlahan terbuka, dia melihat Dewa Venus memeluknya dan mobil itu masih ditahan oleh tangan kirinya. Pantas saja mobil itu berhenti, ternyata karena ditahan oleh Dewa Venus. Dan aroma wangi yang dia cium tadi adalah aroma surga.
Satu mobil ferrari datang di belakang mobil sedan yang ditahan oleh Dewa Venus. Mario keluar dari mobil itu, dia kaget saat mendapati ada keributan di sana.
"Gifyka! Kamu kenapa?" Mario lebih kaget lagi saat melihat Gifyka seperti orang ketakutan yang berdiri di depan mobil.
Dewa Venus melepaskan pelukannya. Dia menatap ke arah mobil tersebut, ada seorang perempuan berbaju kotak-kotak menyeringai yang keluar dari mobil tanpa membuka pintunya terlebih dahulu.
"Aku enggak tahu Yo, tadi aku jalan dan tiba-tiba ada mobil yang mau menabrak aku." kedua tangan Gifyka bergetar hebat merasakan takut.
Mario langsung saja memeluk kekasihnya. Seorang petugas keamanan mendekati mereka dan mengetuk kaca jendela mobil sedan tadi.
"Syut... Jangan takut lagi ya, kamu sudah selamat." Mario berusaha menenangkan Gifyka dan berulang kali mengecup ubun-ubun Gifyka.
Mario mengajak Gifyka menepi, ada seorang ibu-ibu menggendong anak kecil mendekati Gifyka. Ternyata itu adalah ibu-ibu yang putri kecilnya tadi digenggam tangannya saat turun dari eskalator oleh Gifyka.
"Ini minum dulu, Neng." ibu-ibu tadi memberikan botol air mineral yang masih utuh pada Gifyka.
"Terima kasih, Bu." ujar Mario sopan sambil menerima botol tersebut.
"Maaf Mas, tapi mobilnya tidak ada pengendaranya." ucap petugas keamanan mall yang baru saja mengecek mobil sedan tersebut.
Ada seorang laki-laki paruh baya berlari sekencang mungkin dari arah mobil sedan tadi datang. Lelaki itu bersyukur karena menemukan mobilnya berhenti di sana.
"Maaf Pak, kenapa mobil saya bisa ada di sini ya?" tanya laki-laki tersebut.
"Jadi Bapak yang punya mobil sedan itu?" tanya sang petugas.
"Benar Pak, mobil sedan saya tadi jalan sendiri. Makanya saya mengejarnya dan ternyata berhenti di sini." jelas lelaki tadi.
Gifyka hanya diam, dia masih syok. Kedua matanya tadi sempat melihat ada perempuan berbaju kotak-kotak yang ada di dalam mobil sedan tadi. Apa itu artinya yang ingin mencelakainya adalah iblis itu. Gifyka mengedarkan pandangannya, Dewa Venus juga tidak ada di sekitar sana usai menolongnya.
"Kita pulang sekarang ya." Mario mengajak Gifyka berdiri dan membawanya ke mobil usai mengucapkan terima kasih ke semua orang.
Gifyka yakin, jika ini adalah ulah sang iblis yang datang ke kamarnya itu. Tapi bukankah Dewa Venus bilang jika iblis itu tidak akan menemui Gifyka dalam waktu dekat karena dia pasti sedang dihukum oleh Raja iblis.
***
Next...