
Semua orang melongo melihat senjata yang dikatakan oleh Nafita dan kelima kurcaci tadi yang akan dipakai ke kerajaan Laxymuse untuk menyelamatkan Gifyka dari jeratan Ortofus.
"Papa kenapa bengong?" Nafita heran melihat Yudha tidak mengedipkan matanya sama sekali sedari mengetahui senjata yang akan dipakai menyelamatkan Gifyka.
"Benar itu yang akan dijadikan senjata, Ma?"
"Ya, memang itu senjatanya. Memangnya kenapa, Pa?" sekarang gantian Nafita yang heran dengan pertanyaan Yudha.
"Nggak salah Tante? Bukannya kalau senjata itu pistol, tombak, pisau, panah gitu?" Mario pun ikut bertanya kepada Nafita. Dirinya juga tidak kalah herannya dengan Yudha, Yoga dan ketiga team sar yang setia menjaga.
"Benar Mario, memang itu senjatanya."
"Kunyit bubuk, cengkeh dan air semprotan cabai?" Mario mengabsen apa saja yang ada di hadapan mereka.
"Iya, itu senjata ampuh yang akan kita pakai untuk menyelamatkan Gifyka. Dan ya, ada satu lagi senjata yang dipakai untuk memusnahkan kerajaan." Nafita nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam peti.
Terlihatlah rambutan berwarna merah yang sangat banyak di tangan Nafita. Semua orang semakin bingung dengan buah yang diangkat oleh Nafita. Bagaimana mungkin rambutan bisa dipakai untuk menghancurkan kerajaan kayangan?
"Yakin Tante?" Mario menatap ragu ke arah rambutan yang dipegang Nafita.
"Sangat yakin, jika rambutan ini terjatuh di lantai-lantai kerajaan. Maka rambut dari buah rambutan ini akan memancarkan api dan akan menghancurkan kerajaan." jelas Nafita membuat semua orang heran sekaligus kagum.
"Lalu siapa yang akan ke kayangan menyelamatkan Gifyka?" tanya Yudha bingung, pasalnya lelaki paruh baya itu sudah sangat khawatir dengan kondisi putri tunggalnya.
"Papa izinin Mama ke kayangan kan?" Nafita memandang Yudha penuh harap.
"Papa ikut."
"Papa nggak bisa ikut, soalnya kalau Papa ikut nanti yang ada Ayahanda akan marah dan bisa-bisa murka."
"Terus Mama ke kayangan sendirian? Papa nggak izinin."
"Mama akan ditemani Mario dan kelima kurcaci ini." ujar Nafita.
"Bagaimana Mario, kamu bersedia menemani Tante menyelamatkan Gifyka kan?"
Mario mengangguk mendapat pertanyaan dari Nafita. Bahkan lelaki itu sangat percaya.
"Lalu kalian ke kayangan menggunakan alat transportasi apa?" Yoga ikut penasaran.
"Tenang, ada jalan tersendiri untuk menuju Laxymuse."
Nafita mengajak semua orang mengikutinya. Wanita keturunan Raja Laxymuse itu berjalan menuju belakang istana kurcaci. Semua orang lagi-lagi dibuat tak percaya atas apa yang mereka lihat sekarang. Di depan mereka ada sebuah pohon cabai raksasa. Sungguh tak terhingga besar dan kokohnya.
"Kita akan memanjat pohon cabai raksasa ini untuk sampai Laxymuse. Dan ini bukan sembarang pohon, jika mahkluk kerajaan menempelkan anggota tubuhnya ke pohon ini maka otomatis tubuhnya akan terbakar oleh buah cabai yang lebat itu."
Mario sampai melihat ke atas, pohon cabai itu bahkan tidak terlihat di angkasa sana.
"Papa tidak usah khawatir, Mama akan pulang setelah Gifyka berhasil kami selamatkan. Tetap menunggu di sini."
Yudha hanya mengangguk mendengar perintah dari sang istri. Selain menurut, Yudha tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.
"Ayo kita ke Laxymuse sekarang." Nafita memandu di paling depan, diikuti Mario kemudian kelima kurcaci itu. Tak lupa mereka sudah membawa senjata masing-masing.
"Yoga, ikutlah bersama mereka. Jaga istri dan Mario." titah Yudha membuat Yoga mendelik.
Yoga tidak bisa menolak tapi dirinya juga takut jika harus memanjat pohon cabai raksasa itu.
"Cepatlah!"
"Baik, baik Pak." Yoga akhirnya langsung memanjat pohon cabai raksasa menyusul Nafita, Mario dan kelima kurcaci yang sudah lebih dulu memanjat pohon raksasa itu.
"Ini benar-benar gila." komentar salah satu team sar yang ikut menyaksikan semua kejadian ini.
"Ba... Baik Pak." keempat lelaki itu memilih duduk-duduk di sekitaran pohon cabai raksasa.
Sudah tidak terlihat siapa-siapa di pohon bagian bawah. Semuanya sudah tertutup oleh awan.
~**~„
"Hua....!"
"Yak.... Manusia bodoh, kenapa kamu ikut?" kurcaci biru berusaha menyelamatkan Yoga yang hampir saja terpeleset.
"Aku disuruh Pak Yudha untuk ikut." jawab Yoga berterus terang.
"Baiklah, jangan merepotkan."
"Apa ini masih jauh?" Yoga berharap sudah hampir sampai. Kakinya sudah sangat lelah memanjat pohon yang sangat tinggi ini.
"Turunlah jika kamu tidak kuat manusia lemah." sinis kurcaci biru lagi.
"Diamlah kalian! Sangat mengganggu konsentrasi saja." tegur kurcaci kuning yang berada di atas kurcaci biru.
"Sebentar lagi kita sampai ke Laxymuse." Nafita memberi aba-aba bahwa sebentar lagi mereka akan menapakkan kakinya ke lantai kerajaan Laxymuse.
Tinggal beberapa meter lagi mereka sampai di lantai kerajaan. Semuanya semakin semangat, terlebih Mario. Lelaki itu tak sabar ingin melihat gadis pujaannya. Dalam hati, Mario selalu berdoa dan berharap Gifyka selamat dan tidak disiksa.
"Ya, akhirnya kita sampai." Nafita orang pertama yang menginjakkan kakinya ke lantai Laxymuse.
Setelah hampir dua puluh tahun Nafita tidak melihat kerajaan sang ayah, akhirnya sekarang kembali melihat. Tapi bedanya, sekarang dengan maksud dan tujuan yang berbeda.
"Aku lelah." Yoga langsung mendudukkan pantatnya ke lantai Laxymuse. Nafasnya pun terdengar tidak beraturan. Keringat mengucur di kedua pelipis dan wajahnya. Bahkan pakaian yang Yoga kenakan semua basah oleh keringat.
"Kenapa kamu mau disuruh oleh suamiku, Yoga?"
"Maaf Bu, saya terpaksa. Saya takut Pak Yudha marah kalau saya tidak menuruti perintahnya dan nanti saya dipecat."
"Kalau begitu, kamu temani Mario dan kelima kurcaci itu."
"Baik, Bu."
"Kalian, jaga Mario dan Yoga. Mengerti?"
"Siap Tuan Putri Nafita. Kami akan menjaga Mario dan Yoga sebisa kami."
"Bagus, aku akan melakukan misiku sekarang juga."
Nafita merubah penampilannya, yang tadinya memakai pakaian manusia bumi. Sekarang Nafita sudah memakai pakaian seperti seorang putri kayangan. Begitu terlihat cantik nan anggun dengan sebuah mahkota emas menempel di atas kepalanya.
Entah sudah keberapa kalinya, Mario dibuat terkagum-kagum oleh Nafita yang ternyata keturunan mahkluk kayangan.
Nafita berjalan begitu anggun menuju gerbang Laxymuse yang dijaga oleh dua orang prajurit. Bukan prajurit baru, hal itu membuat Nafita tidak susah untuk masuk. Ternyata kedua prajurit itu masih mengenali Nafita. Jika kalian membayangkan bahwa kedua prajurit itu memakai pakaian seperti prajurit di televisi itu salah besar. Mereka memakai pakaian serba hitam, rambut panjang sampai pinggang dan mereka menggunakan sepatu boots. Di kedua tangan mereka pun tidak ada tombak atau alat yang mereka gunakan sebagai senjata.
"Selamat datang kembali ke Laxymuse, Tuan Putri Nafita." sambut ramah kedua prajurit tadi.
"Aku ingin bertemu dengan Ayahanda, izinkan aku masuk."
"Baik, Tuan Putri." mereka langsung membukakan gerbang untuk Nafita secara mudah.
Sementara Nafita sedang memerankan lakonnya. Mario dan yang lainnya berusaha masuk dari celah lain yang lebih aman untuk seorang penyusup.
~**~
To Be Continue...