
Mario, besok aku ingin ke toko buku. Kamu mau menemaniku? -Gifyka.
Gifyka mengirimkan pesan chat pada Mario. Dirinya tadi lupa bilang jika besok dirinya ingin pergi ke toko buku. Tak lama, ponsel Gifyka berdering.
*Boleh, besok sore aku bisa menemanimu. -Mario.
Thank you 😘 -Gifyka.
Ur welcome baby 😘-Mario*.
***
Mario tersenyum melihat chat antara dirinya dengan Gifyka. Rasanya menggelikan jika dia ingat dulu sering meledek Alvino dan Viara yang sering berbalas chat dengan kata-kata sayang. Tapi ternyata sekarang dirinya sendiri pun mengalami bersama Gifyka.
Malam sudah lumayan larut, sekarang sekitar jam sepuluh malam. Mario tidak tahu harus melakukan apa selain tidur di saat sudah masuk jam segitu. Kehidupannya benar-benar berubah, dulu dirinya sering begadang bersama dua teman laki-lakinya. Tapi setelah mereka tiada, tidak ada lagi teman begadang.
"Gue males tidur gini, takut mimpi yang sama lagi." desah Mario tiba-tiba.
Mario mendudukkan tubuhnya, dia meremas rambutnya sendiri. Sudah tiga hari kemarin Mario mimpi yang sama.
"Kenapa dua anak kecil itu terus hadir dalam mimpi gue?" tanya Mario yang benar-benar merasa bingung.
"Siapa Stevent dan Nathan? Kenapa wajah mereka mirip banget sama Afriel dan Alvino?"
Berulang kali Mario mendesah memikirkan dua bocah yang masuk ke dalam mimpinya. Mario merasa jika mereka berdua sangat dekat dengan dirinya. Di dalam mimpi Mario itu, dua anak kecil tadi mengajak Mario ke suatu tempat yang Mario sendiri tidak tahu ke mana. Yang Mario tahu, tempat itu terlalu jauh untuk dijangkau dan penuh akan cahaya terang.
"Gue jadi dilema, kalau enggak tidur gue bingung mau ngapain. Kalau tidur entar gue mimpi gitu lagi yang ada." Mario menjambak rambutnya sendiri berulang kali.
Tapi tiba-tiba, Mario tak sengaja melihat teropong yang ada di kamarnya. Teropong itu jelas mengarah ke jendela langsung. Mario rasa, jika dirinya menonton bintang pun tidak ada buruknya. Siapa tahu ketika dia mengantuk dan tidur nanti, mimpi baik menghampirinya usai melihat bintang bertaburan di atas sana.
***
Gifyka terbaring di atas ranjangnya. Dia terpikirkan oleh penjelasan dosen yang mengajar tadi siang tentang pembahasan *lucid dream.
Flashback On*.
"Lucid dream itu adalah sebuah mimpi ketika seseorang sadar bahwa ia sedang bermimpi."
"Mimpi yang benar-benar terasa begitu nyata. Semua bagian tubuh kita berfungsi secara baik ketika bermimpi dan kalian sadar kalau kalian sedang bermimpi. Apa pun yang kalian jumpai dalam mimpi itu bisa kalian sentuh, rasakan. Dan bahkan kalau kalian bertemu dengan mantan yang dirindukan, kalian bisa mencium mereka."
"*Kalian bisa mengatur mimpi kalian sesuka hati. Kalian ingin melayang di udara pun bisa. Unik bukan?"
"Cara agar bisa melakukan lucid dream. Cara pertama yang paling mudah itu dengan metode mnemonically induced lucid dreaming. Tapi meski cara ini mudah dan dapat dicoba oleh semua orang, tingkat keberhasilannya pun rendah*."
"Saat memulai cara pertama ini, kalian harus bersugesti mengenai mimpi yang kalian inginkan dan apa saja yang bisa kalian lakukan dalam mimpi tersebut. Semisal terbang atau menembus tembok. Saat akan tidur, kalian harus menjejali pikiran kalian dengan skenario mimpi yang kalian buat secara berulang-ulang sampai kalian terlelap."
"*Tadi adalah cara pertama."
"Sekarang cara kedua yang dinamakan wake back to bed. Tentu saja jika cara pertama mudah, maka cara kedua ini lebih sulit lagi. Tapi meski sulit, persentase keberhasilannya pun jelas lebih tinggi dari yang pertama*."
"Jika kalian ingin mencoba, kalian harus tidur lalu pasang alarm yang akan bunyi sekitar lima sampai enam jam setelah kalian tidur. Saat kalian terbangun, rilekskan tubuh serta pikiran. Jangan lupa untuk mengatur napas agar cepat tenang. Waktu untuk menenangkan diri itu maksimal hanya dua puluh menit saja. Jika lebih dari waktu yang sudah ditentukan maka kemungkinan terjadinya lucid akan gagal."
"Tapi kalau kalian berhasil menenangkan diri dalam waktu dua puluh menit, kalian bisa coba mengimajinasikan mimpi yang kalian inginkan secara jelas. Kalian harus konsentrasi tinggi dan emosi wajib stabil hingga kalian berhasil."
"Cara yang ketiga, atau cara terakhir. Cara ini dinamakan wake induced lucid dreaming atau WILD. Cara ketiga ini yang paling sulit di antara kedua cara di atas. Bahkan metode ini pun beresiko memicu sleep paralysis atau jika masyarakat Indonesia menyebutnya dengan ketindihan."
"Untuk kalian yang belum mengerti, ketindihan itu adalah sebuah posisi tidur di mana kita sadar tapi tidak mampu melakukan apa-apa. Bahkan tidak bisa bernafas dan tidak mampu menggerakkan anggota tubuh kita sendiri."
"Tapi yang pasti, meski cara ketiga ini yang paling sulit dan beresiko. Tentu saja banyak sekali orang berhasil mencoba lucid dream dengan cara ini. Bahkan banyak orang mengatakan jika mayoritas mereka berhasil ketika mencoba cara ketiga."
"Prosesnya itu pada detik-detik di saat kalian benar-benar mengantuk, pikiran kalian harus fokus pada skenario mimpi yang kalian inginkan. Kalian bisa membayangkan sedang berjalan-jalan di taman atau di tempat lain yang kalian inginkan."
"Kalian harus berkonsentrasi tinggi agar apa yang kalian imajinasikan tidak mudah goyah. Di tengah-tengah proses ini biasanya kalian akan merasa gelisah dan bahkan tidak jarang mengalami halusinasi jika berpikir yang macam-macam."
"Ketika nanti kalian merasakan hal itu, kalian usahakan untuk tetap tenang. Sebab jika kalian berhasil melewatinya, kalian akan berhasil masuk ke tahap lucid dream. Dan konon kata teman-teman saya yang sudah pernah mencoba cara ketiga ini, tingkat keberhasilannya meningkat di saat tidur siang."
"**Kalau kalian penasaran, coba saja di rumah."
"Berhubung waktu pertemuan kita sudah selesai, untuk pertanyaan kedua akan saya jawab di pertemuan berikutnya. Selamat siang."
Flashback Off.
Gifyka diam mulai memejamkan mata, dia akan mencoba semua cara yang sudah dijelaskan oleh sang dosen. Dia berharap salah satu dari ketiganya bisa berhasil.
"Gue harus mencoba, siapa tahu gue bisa." Gifyka memantapkan hati untuk belajar bagaimana caranya melakukan lucid.
Bukan apa-apa, Gifyka hanya penasaran saja bagaimana rasanya ber-lucid. Meski dirinya sendiri bisa jika hanya untuk melayang.
Gifyka kembali memejamkan mata, berkonsentrasi. Gadis itu membayangkan sedang jalan-jalan bersama teman-temannya seperti waktu sekolah dulu. Siapa tahu Gifyka berhasil mencobanya.
Sudah beberapa menit Gifyka mencoba, tapi belum juga berhasil. Pikirannya masih terpecah dengan hiruk pikuk jalanan yang ada di depan rumah. Kadang-kadang memang suka ada yang melewat menggunakan kendaraan di malam hari. Gifyka tahu, mayoritas mereka itu para pekerja yang pulang malam.
Dalam imajinasi Gifyka sekarang, mereka sedang jalan-jalan di sebuah tempat wisata yang ada di Yogyakarta. Mereka dulu pernah ke sana saat awal masuk SMA. Canda tawa teman-teman Gifyka terlihat jelas di pelupuk matanya.
"Aish... Susah banget sih." dengus Gifyka, dia terbangun dan langsung duduk.
Sedari tadi Gifyka sudah mencoba beberapa kali, bahkan sebelum dia kembali mengingat rincian percobaan yang dosennya berikan pun Gifyka sudah mencoba. Lebih tepatnya saat Gifyka selesai chatting dengan Mario dan sekarang sudah jam setengah dua belas malam. Tapi hasilnya tetap sama, masih gagal.
"Ok tenang, Fy. Coba lagi, gue yakin kalau gue bakalan bisa." Gifyka mengatur napasnya agar normal kembali.
Setelah merasa kembali normal, Gifyka kembali berbaring dan mencoba dengan cara yang pertama. Gifyka belum ada keberanian untuk mencoba di cara kedua atau ketiga.
***
Next...