
Gifyka keluar dari toilet, dia akan segera ke kelas karena sebentar lagi masuk jam pertemuan dengan dosen yang beberapa hari lalu memberi penjelasan tentang lucid dream. Dosen itu bernama Andre, para mahasiswa sering memanggilnya Mr. Andre. Beliau belum terlalu tua, tapi tidak juga muda. Mungkin sekitar usia empat puluh lima tahun.
Setiap ada pertemuan dengan Mr. Andre, maka mahasiswa psikologi merasa senang. Pasalnya dosen satu itu benar-benar asik jika sedang berada di kelas. Meski tidak ada candaan, setiap materi yang disampaikan oleh Mr. Andre bisa membuat mahasiswanya suka dan merasa tidak jenuh berada di dalam ruangan selama beberapa jam.
Selain sebagai dosen, Mr. Andre juga menjadi seorang psikiater di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Bahkan namanya sudah dikenal sebagai psikolog terkenal dan terbaik dalam menangani pasien yang sedang depresi.
Gifyka sendiri tidak memilih Mr. Andre sebagai psikolognya kemarin karena dia merasa malu jika ketahuan memiliki gangguan PTSD. Lagi pula Meisya tidak kalah tanggapnya dengan Mr. Andre dalam menangani pasien. Gifyka juga bisa sekalian belajar bagaimana caranya menjadi psikolog dari Meisya.
Gadis cantik berdagu tirus itu baru saja memasuki kelas, sudah banyak mahasiswa yang menunggu ternyata. Langsung saja Gifyka mengambil duduk di tempat yang masih kosong.
Kedua mata Gifyka melihat jam, mungkin sekitar lima menit lagi Mr. Andre sampai. Gifyka mulai mengeluarkan buku binder dan bolpoinnya. Tak lupa, buku setebal lima jari pun Gifyka keluarkan sebagai pelengkap di atas meja.
"Eh Fy, lo ada bolpoin dua enggak? Gue pinjam satu dong kalau ada, bolpoin gue enggak tahu jatuh di mana." ujar teman sekelas Gifyka yang duduk di depan Gifyka.
Tentu saja hal itu membuat Gifyka senang, setidaknya ada orang yang mau bertanya padanya. Dulu boro-boro ada yang mau bertanya padanya, melihatnya saja pada takut.
"Ada, ini pakai saja Va." Gifyka memberikan satu bolpoinnya pada Irva.
"Thank ya, nanti selesai kelas gue kembalikan." Irva terlihat begitu senang mendapatkan pinjaman bolpoin.
"Santai saja."
Irva adalah teman sekelas Gifyka, dia gadis yang jarang sekali mengobrol dengan teman sekelasnya. Irva lebih banyak sendiri dan sulit untuk berinteraksi dengan teman lainnya. Setahu Gifyka, orang seperti itu adalah tipe orang introvert seperti dirinya. Jadi Gifyka paham betul bagaimana perasaan Irva dan sendiri itu memang lebih nyaman jika dia bisa melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Semua mahasiswa langsung diam saat Mr. Andre baru saja memasuki kelas sambil membawa satu buku tebal dan sebuah laptop juga beberapa perintilan lainnya.
"Selamat siang." sapa Mr. Andre sambil berdiri di tengah-tengah menatap semua mahasiswanya usai meletakkan barang bawaannya ke meja.
"Bertemu lagi dengan saya, Mr. Andre. Pertemuan kali ini saya masih akan membahas tentang lucid dream, melanjutkan pembahasan kita pada beberapa hari sebelumnya." ujar Mr. Andre tegas sambil tersenyum.
"Sebelum saya lanjutkan, ada yang keberatan dengan pembahasan saya kali ini?" itu adalah pertanyaan mutlak yang selalu Mr. Andre berikan sebelum memulai pembahasan.
Semua mahasiswa menjawab tidak, karena hampir semua mahasiswa di kampus tempat Gifyka kuliah itu tidak ada yang tidak menyukai Mr. Andre. Jika ada mahasiswa yang menjawab keberatan maka dengan senang hati Mr. Andre akan mempersilakan mahasiswa itu keluar ruangan.
Gifyka selalu suka dengan pembahasan apa pun yang dibawakan Mr. Andre. Dirinya memperhatikan saja dosennya itu menjelaskan di depan. Gadis ini merasa tidak salah masuk ke fakultas psikologi karena hampir semua materinya Gifyka suka.
Selain karena Gifyka ingin berusaha mengatasi PTSD-nya sendiri, dia juga memiliki impian untuk membantu orang-orang yang menderita seperti dirinya. Ternyata mempelajari tentang kejiwaan orang lain itu menarik baginya.
Sampai semester tiga ini belum ada keluhan dari Gifyka. Dia suka-suka saja dan malahan Gifyka tidak mau jika tidak masuk kelas meski hanya sekali.
"Fenomena lucid dream itu sangat umum terjadi dan orang pada usia rata-rata dua puluh lima tahun itu setidaknya pernah mengalami lucid dalam hidupnya meski hanya sekali."
"Namun jarang ada orang yang sering mengalami mimpi tersebut. Hanya sekitar dua puluh tiga persen orang yang dapat mengalami setidaknya sebulan sekali." Mr. Andre mulai menjelaskan.
"Kemampuan seseorang dalam mengendalikan mimpinya ketika mengalami lucid juga bervariasi. Ada yang mampu memanipulasi cerita dalam mimpi untuk menciptakan hal menyenangkan. Ada pula yang mungkin langsung terbangun ketika menyadari bahwa dirinya sedang lucid."
"Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti Dr. Denholm Aspy dari University of Adelaide, Australia. Beliau mengungkapkan bahwa lucid dream bisa menjadi terapi untuk mengatasi mimpi buruk yang berulang kali. Hal itu dinamakan sebagai terapi lucid dream."
"Lucid dream juga bisa membantu penderita fobia, yang takut ketinggian, air, atau takut pada sesuatu hal tertentu karena mereka sadar jika itu hanyalah mimpi."
Gifyka menunggu pertanyaan yang Irva tanyakan pada pertemuan selanjutnya tentang dampak sering melakukan lucid dream. Tapi sepertinya Mr. Andre belum ingin menjawab.
"Lucid dream juga memiliki beberapa dampak positif jika dilakukan. Untuk membantu meredakan kecemasan, meningkatkan keterampilan motorik, dan meningkatkan kreativitas. Mayoritasnya para penulis dan seniman lainnya akan menjadikan lucid dream sebagai sarana untuk meningkatkan kreativitas mereka dalam berkhayal dan berimajinasi."
"Kali ini saya akan menjawab apa yang ditanyakan oleh Irva pada pertemuan sebelumnya. Apa bisa diulangi pertanyaannya, Irva?" Mr. Andre menatap satu mahasiswinya yang kali ini duduk di depan Gifyka.
"Apa terlalu sering melakukan lucid itu akan membuat bahaya?" Irva masih mengingat pertanyaannya waktu itu.
"Melakukan lucid tentunya tidak berbahaya, jika hal itu dilakukan oleh mereka yang memiliki kejiwaan normal. Atau dalam kata lain untuk orang-orang yang tidak memiliki gangguan jiwa." Mr. Andre sengaja menjeda penjelasannya seperti biasa.
"Sedangkan dampak negatif dari lucid sendiri, itu adalah saat seseorang tidak bisa membedakan dunia nyata dan dunia mimpi. Mereka merasa seperti sedang berhalusinasi entah di dunia nyata atau ketika sedang ber-lucid. Jadi hal itu akan otomatis mengganggu kejiwaan seseorang yang sering melakukan lucid tersebut jika dia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri."
Gifyka mencatat semua apa yang dikatakan oleh Mr. Andre, dia tidak mau ada yang tertinggal satu pun.
"Kecuali kalau orang itu mampu mengendalikan diri. Maka sesering apa pun kalian mengalami lucid, kalian akan tetap bisa membedakan antara dunia nyata dan dunia mimpi."
"Jika seseorang yang sudah terlalu sering mengalami lucid lalu dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri atau kejiwaannya memang terganggu, maka bisa-bisa terjadi hal buruk pada orang tersebut."
"Ketika kita tidur di waktu malam, tubuh kita itu mengalami lumpuh sementara. Seperti yang sudah pernah saya bilang, hal itu terjadi ketika kira berada di siklus REM atau rapid eye movement yang menjadi kita dari gerak menuruti adegan dalam mimpi."
"REM itu terjadi pada kita sekitar satu sampai dua jam terakhir saat tidur. Ketika itu tubuh mengalami peningkatan detak jantung, tekanan darah tanpa ada gerakan dari otot yang mendorong untuk mulai bekerja dengan keras."
Mr. Andre berdiri tepat di depan meja Irva. Gifyka semaki jelas saja mendengar apa yang akan dikatakan oleh Mr. Andre.
"Nah, ketika itulah beberapa orang yang berusaha mengontrol mimpi tersebut justru malah terjebak dalam situasi setengah sadar. Jika kita berada di antara mimpi dan sadar, kita akan mengalami halusinasi hebat di saat tubuh tidak bergerak." ujar Mr. Andre sambil memanggut-manggutkan kepalanya.
"Ini dampak yang paling parah dari mengalaminya lucid jika tidak mampu mengendalikan diri sendiri. Yaitu jika dream claustrophobia terjadi. Dalam kondisi ini maka kita selamanya terjebak dalam mimpi dan tidak dapat bangun dari mimpi tersebut."
Gifyka kaget mendengar penjelasan Mr. Andre. Separah itukah dampak dari orang yang mengalami lucid tapi tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Menakutkan memang, tapi dirinya ingin mencoba.
"Risiko sudden arrhythmic death syndrome atau yang sering kita bilang kematian dalam tidur, bisa saja terjadi. Meski pun kematian tersebut dapat dipicu dari gangguan internal lainnya seperti sesak nafas, keram perut hingga serangan jantung." Mr. Andre kembali berjalan ke arah lain.
Gifyka melihat jam tangannya lagi, ternyata sudah hampir dua jam Mr. Andre berada di dalam kelas bersama mahasiswanya membahas tentang lucid dream.
"Namun, hingga saat ini, belum ada ditemukan kasus seseorang meninggal karena terlalu jauh bermimpi saat tidur atau dalam mengalami lucid dream."
"Kalau kalian tertarik tentang lucid dream lebih lanjut, kalian bisa membeli beberapa buku tentang lucid dream. Saya sarankan masukkan karya Stephen LaBerge yang berjudul Exploring The World Of Lucid Dreaming ke dalam list buku yang akan kalian beli nanti."
"Buku itu bisa mengasah tentang kemampuan lucid kalian."
"Oh ya, orang yang sering melakukan lucid dream itu sering mengalami de javu." Mr. Andre menutup bukunya.
Gifyka tahu, pertemuan ini akan segera berakhir. Dia puas dengan segala penjelasan yang diberikan oleh dosennya kali ini.
"Baik, pertemuan kali ini selesai. Selamat siang." Mr. Andre langsung saja keluar usai mengucapkan salam.
"Fy, ini bolpoin lo. Gue kembalikan, makasih ya." Irva mengembalikan bolpoin yang dia pinjam dari Gifyka.
"Sama-sama, Va." Gifyka menerima bolpoinnya.
Gadis cantik keturunan Raja khayangan Laxymuse itu mengemasi semua barang-barangnya dan dia akan menemui Mario. Gifyka berniat untuk ikut Mario ke tempat dia melatih basket.
***
Next...