
Tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan membuat kedua pasangan harus mulai mempersiapkan. Setelah mereka selesai dalam urusan undangan, sekarang Mario dan Gifyka berada di sebuah butik ternama untuk fitting gaun pengantin.
Kali ini mereka hanya berdua, tidak bersama Nafita. Ibu dari Gifyka itu tadi bilang jika dia ingin ke tempat catering. Jadi lebih baik Gifyka dan Mario menentukan sendiri bagaimana gaun yang akan dipakai di acara pernikahan mereka nanti. Bukan maksud Nafita lepas tangan, dia hanya memberi kebebasan untuk sepasang kekasih itu memilih dan berpartisipasi dalam acara pernikahan mereka sendiri.
"Tidak ada model lain, Tante?" tanya Gifyka sopan.
Mario memandang Gifyka, dia tahu jika selera Gifyka memang bukan seperti apa yang sedang diperlihatkan oleh sang pemilik butik.
Kiran tersenyum mendengar pertanyaan Gifyka. Sepertinya wanita pemilik usia tiga puluh delapan tahun itu mengerti jika Gifyka tidak suka dengan hal yang berbau terbuka.
"Tentu ada, Fy. Ayo kalian ikut Tante." ajak Kiran.
Gifyka mengangguk sambil tersenyum. Ini yang belum Gifyka dapatkan sedari kecil, yaitu keramahan dari orang lain secara tulus padanya. Tapi setelah kejadian di Bunaken hingga di kahyangan waktu itu, semuanya berubah. Tidak ada lagi orang yang takut padanya. Entah apa bedanya, mungkin kalau kata orang auranya berbeda.
Mario terus saja mengikuti Gifyka, dia ingin menjadi orang pertama yang mengetahui gaun pilihan tunangannya itu seperti apa. Sampailah mereka pada sebuah ruangan yang dipenuhi oleh puluhan gaun pengantin yang memang sengaja dipajang di manekin.
"Kamu bisa pilih mana yang kamu suka, Tante tinggal ke ruangan sebentar." Kiran mengusap bahu Gifyka sekali dan langsung pamit usai mendapat anggukan dari Gifyka.
Tinggal mereka berdua di sana di antara manekin-manekin cantik yang didandani menggunakan gaun pengantin berharga mahal dan tentunya berkelas.
Gifyka jadi bingung ingin memilih yang mana, semuanya cantik dan memikat hati. Gifyka memandang Mario yang juga sedang melihat-lihat ke sekeliling.
"Rio, mana yang menurut kamu paling cocok dipakai sama aku?" Gifyka akhirnya meminta pendapat dari tunangannya.
Mario yang mendengar pertanyaan Gifyka akhirnya menoleh ke arah gadis itu. Dengan gaya cool sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Mario berjalan mendekati Gifyka sambil menampilkan senyuman termanisnya.
"Semuanya cocok kalau kamu yang pakai." bisik Mario di dekat telinga Gifyka sambil tersenyum manis.
Gifyka ikut tersipu akan pujian yang Mario berikan padanya. Lelaki itu sudah berdiri di posisi semula sambil memandang Gifyka yang blushing.
"Aku serius, Mario." desah Gifyka.
"Aku juga serius, sayang." balas Mario.
Senyuman di wajah lelaki itu tidak pernah luntur, membuat Gifyka jadi panas dingin sendiri ditatap terus-menerus oleh Mario. Gifyka jadi merasa berbunga-bunga, malu, senang dan semuanya campur jadi satu. Serasa menatap wajah tampan Mario saja seolah tidak mampu Gifyka lakukan.
"Temani aku memilih gaunnya." Gifyka menarik lengan Mario, mengajak tunangannya melihat satu persatu.
Gifyka terus meminta pendapat tentang gaun yang dia sukai. Mario pun tanpa lelah memberikan pendapatnya tentang gaun yang ditanyakan oleh Gifyka.
Gadis itu semakin bingung saja. Ditambah dirinya pun masih sangat belia untuk urusan pernikahan, jadi dia belum memiliki banyak pengalaman.
"Bagaimana kalau yang ini?" tanya Gifyka untuk kesekian kali.
Mario mengamati gaun itu dari atas sampai bawah lalu mengelilingi gaun tersebut dan menatap Gifyka. Selesai melihat gaun yang ditanyakan oleh Gifyka, Mario kembali berdiri di samping tunangannya sambil kembali menatap gaun berwarna biru langit tersebut dari arah depan.
"Cantik, simple dan tidak terlalu panjang." kepala Mario mengangguk-angguk.
"Cocok ya sama dress code pernikahan kita?"
Kepala Mario mengangguk beberapa kali. Memang benar, Mario dan Gifyka mengambil tema pernikahan mereka warna biru langit. Jadi kalau Gifyka memakai gaun itu, maka akan sesuai tema yang sudah mereka tentukan sendiri.
"Kamu bukan orang yang suka akan hal rumit, jadi menurutku ini cocok kalau kamu pakai. Meminimalisir supaya tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan."
Gifyka mengerutkan keningnya, yang dibilang Mario itu ada benarnya juga. Tapi Gifyka tidak paham akan arti dari kata hal-hal tidak diinginkan itu seperti apa.
"Maksud kamu itu bagaimana?"
Gifyka terkekeh, benar juga apa kata tunangannya itu. Apalagi nanti pasti dirinya memakai high heels. Jadi lebih baik cari aman dengan menggunakan gaun yang simple.
"Bagaimana, sudah menemukan yang pas?" Kiran kembali menemui Gifyka dan Mario.
Sepasang kekasih itu menoleh ke arah Kiran. Gifyka mengangguk menjawab pertanyaan sang pemilik butik.
"Aku mau lihat yang ini, Tante." tunjuk Gifyka pada gaun warna biru langit pilihannya barusan.
Kiran mengangguk, dia memanggil beberapa pegawainya untuk melepas gaun itu dari manekin. Gifyka pun menurut untuk mencoba gaun tersebut. Sedangkan Mario sendiri sedang diukur untuk seperangkat jas dan celana pernikahan nanti.
***
Gifyka terkikik melihat wajah kesal Mario. Dia yakin kalau Mario masih kesal karena tadi dirinya ingin melihat Gifyka mencoba gaun pengantinnya tapi Gifyka menolak.
"Jangan marah dong, kamu nanti akan melihat aku memakai gaun itu di hari pernikahan kita." Gifyka mencoba merayu tunangannya.
Mario berdesis, padahal dia penasaran sekali ingin melihat gaun tadi dipakai oleh gadis yang dia cintai. Tapi Gifyka benar-benar tidak memperbolehkan dirinya melihat sebentar saja.
"Hanya ingin melihatnya sebentar, Fy." dengus Mario.
Gifyka melihat Mario yang kesal padanya. Dirinya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja sambil terus memakan es krim dalam genggamannya.
Kali ini mereka sedang berada di pinggir jalan sambil menikmati es krim. Kebetulan di sepanjang jalan ada bangku-bangku yang memang disediakan untuk para pejalan kaki jika mereka lelah berjalan dan bisa istirahat di sana.
"Maling! Maling!" seru seorang pemilik warung mie pinggir jalan.
Karena suaranya yang sangat kencang, hingga membuat Gifyka dan Mario menoleh ke arah sang pemilik warung mie tersebut. Mereka juga melihat ada seorang lelaki berlari begitu kencang menghindari masa yang mengejarnya.
Mario melihat Gifyka sedang menatap sang maling dan seolah sedang berkonsentrasi penuh. Dia tidak mau mengganggu Gifyka.
"Argh...!" teriak sang maling tersebut.
Mario melihat maling itu tiba-tiba tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali. Hingga petugas keamanan bisa menangkapnya bersama masa yang juga ikut mengejar. Sudah jelas Mario tahu jika ini perbuatan Gifyka.
"Ayo kita pulang." ajak Mario sambil merangkul bahu Gifyka.
Gifyka menoleh ke arah Mario, dia ikut tersenyum saat melihat Mario mengacungkan kedua jempolnya ke arah Gifyka. Mereka akhirnya pergi dari sana dan menuju mobil Mario yang diparkir di ujung jalan.
Memang awalnya tadi sepulang dari butik, sepasang kekasih itu memilih berjalan-jalan dulu dan memilih membeli es krim.
"Aku kasihan sama ibu pemilik warung mie tadi, makanya aku membantunya." ucap Gifyka di sela-sela perjalanan mereka menuju mobil.
"Kamu hebat." puji Mario tulus.
Gifyka memegang lengan Mario, dia senang berjalan sambil bergelayut manja pada kekasihnya seperti ini. Hal yang belum dia lakukan saat mereka masih menjadi teman seperti dulu.
Wajah lelaki pemilik kulit hitam manis itu tersenyum melihat Gifyka yang nampak bahagia sambil menikmati es krimnya.
Apa pun yang membuat kamu bahagia, aku akan mencoba mewujudkannya. Batin Mario sambil melihat puncak kepala Gifyka.
***
Next...