
Sudah dua bulan berlalu, tapi Gifyka belum juga sembuh atau sadar tentang kenyataan yang ada. Gadis berdagu tirus itu masih saja mengatakan tentang Mario dan keempat temannya yang jelas-jelas sudah meninggal.
Nafita sampai bingung harus bagaimana lagi menyembuhkan Gifyka dari kebiasaannya berlucid sehingga Gifyka tidak menyadari dia sedang dalalm lucid dream atau di kehidupan nyata.
"Pa, kita harus bawa Gifyka ke luar negeri." Nafita mencoba membujuk Yudha agar mau menuruti kemauannya dengan harapan Gifyka bisa disembuhkan di luar negeri.
"Tapi kita tidak bisa memaksa Gifyka begitu saja, Ma. Lihat sendiri kan kalau dia sulit sekali dibujuk. Alasannya terus saja Mario, Mario dan Mario." bukan hanya Nafita yang pusing, tapi Yudha pun tak kalah pusingnya.
Rumah tidak lagi dihiasi oleh canda tawa Gifyka setelah Mario meninggal karena sakit sebelum putri mereka menikah dengan lelaki yang selalu diceritakan Gifyka. Ini lebih parah dibandingkan kondisi Gifyka sebelum dia dan teman-temannya berlibur ke Bunaken.
Nafita mau pun Yudha tidak menyalahkan mereka berlibur ke sana waktu dulu. Di mana pun tempatnya, pasti Gifyka akan tetap diincar oleh Raja Ortofus. Hanya saja waktu itu tempatnya bertepatan saat para remaja itu sedang ada di Bunaken.
"Ini salah Ayah." tangan Nafita terkepal kuat-kuat mengingat betapa kejam dan teganya Raja Ortofus karena sudah mengincar Gifyka bahkan sampai membunuh teman-teman Gifyka.
***
Calleys juga sedih melihat cucu satu-satunya berubah drastis. Gifyka tidak mau makan, minum dan melakukan apa-apa selain mandi. Gifyka selalu bilang jika Mario selalu saja meminta Gifyka mandi agar tidak bau badan.
Wanita paruh baya itu menatap Gifyka yang sedang bicara sendirian, tapi Gifyka tidak henti-hentinya mengatakan jika dirinya sedang mengobrol dengan Mario.
Langkah kaki Calleys maju, dia menghampiri Gifyka dan duduk di samping cucunya.
"Sedang apa sayang?" usapan lembut Calleys berikan ke rambut panjang Gifyka yang masih halus dan rapi.
"Ah... Nenek, aku jadi malu. Aku dan Mario sedang membahas anak, dia ingin memiliki lima anak denganku. Tapi aku bilang jika itu terlalu sedikit, aku ingin memiliki tujuh anak agar rumah kami nanti ramai."
Tanpa diminta, air mata Calleys turun dan hatinya serasa tersayat. Separah inikah depresi Gifyka akan kematian Mario.
"Oh... Kenapa banyak sekali sayang? Dua saja cukup." Calleys merasa dirinya sudah seperti orang bodoh, ikut dalam hayalan ciptaan Gifyka.
"Aku dan Mario kan anak tunggal, Nek. Kami merasa kesepian karena tidak memiliki saudara. Maka dari itu, kami tidak mau anak-anak kami nanti juga merasa kesepian seperti apa yang kami rasakan."
Kepala Calleys mengangguk beberapa kali, dia juga berusaha tersenyum sambil menatap Gifyka. Tangan renta itu belum juga berhenti mengusap rambut panjang cantik milik Gifyka.
"Kalau begitu Nenek keluar dulu ya. Bilang sama Mario agar jangan lelah menjaga cucu Nenek yang cantik ini."
"Siap Nenekku sayang."
Tak kuasa melihat kondisi Gifyka lebih jauh, Calleys memutuskan keluar dan menuju lantai dasar. Wanita berusia lebih dari setengah abad itu ingin berdiam di taman agar pikirannya lebih tenang.
"Bunda kenapa?" Nafita melihat Calleys menghapus air matanya.
"Tidak kenapa-napa, hanya tidak kuasa saja melihat kondisi Gifyka."
"Bunda habis dari kamar Gifyka?"
Anggukan dari kepala Calleys dilihat oleh Nafita. Wanita itu juga berniat ingin ke kamar putrinya untuk mengantar makanan. Sudah empat hari lebih Gifyka tidak mau makan atau pun minum. Nafita berharap, kali ini anak gadisnya itu akan mau mengisi perutnya.
"Dia sedang apa?"
"Masih seperti hari-hari sebelumnya, dia menceritakan tentang Mario."
Miris, hati Nafita kembali terasa nyeri mendengar jawaban dari Calleys. Begitu menyedihkan nasib Gifyka.
"Kalau begitu, aku ke kamarnya dulu Bun."
Hanya anggukan kepala yang Nafita berikan pada Calleys. Langkah kakinya pun kembali maju menuju kamar Gifyka.
Callesy juga lanjut berjalan menuju taman. Semoga aroma wangi dari bunga yang bermekaran akan mampu menenangkan hatinya.
Prang!
Tubuh Calleys berjingkat kaget saat mendengar ada sebuah nampan jatuh di lantai atas. Pikirannya langsung tertuju ke Nafita, karena tadi yang membawa nampan adalah dia.
"Nafita, Gifyka." gumam Calleys lirih.
Dengan kedua kaki rentanya, Calleys tergopoh-gopoh berbalik arah menaiki tangga. Dia takut terjadi sesuatu pada putri dan cucunya. Karena sudah sepuh, jadi Calleys juga tidak bisa berjalan telalu cepat. Baginya, begini saja sudah membuatnya lelah.
"Gifyka!" suara Nafita baju saja terdengar.
Mendengar istrinya menyerukan nama Gifyka, membuat Yudha yang baru saja keluar dari ruang perpustakaannya langsung berjalan menuju kamar putri tunggalnya. Bersamaan dengan Calleys, mereka datang silih berganti.
"Ada apa, Yudha?"
"Aku juga belum tahu, Bun."
"Fy bangun, Gifyka bangun." isak tangis dari bibir Nafita mulai terdengar.
Pintu kamar terbuka, masuklah Yudha dan Calleys satu persatu. Mereka berdua melihat Nafita menangis sambil merengkuh tubuh Gifyka yang lemas tidak berdaya.
Di dalam kamar itu pun juga ada Dewa Venus. Tapi sang Dewa tidak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah kehendak Tuhan-nya. Jadi mana mungkin Dewa Venus berani membantah.
"Gifyka kenapa, Ma?" Yudha ikut panik.
"Ada apa ini?" Calleys sudah melihat ini dari awal masuk, tapi dia belum paham apa yang telah terjadi sekarang.
"Saat Mama masuk kamar, tubuh Gifyka sudah tergelak di lantai. Dan saat Mama mengecek denyut nadinya, jantungnya sudah tidak berdetak Pa." Nafita menatap nanar ke arah suaminya.
Jelas Yudha terpukul mendengar penjelasan Nafita barusan. Tidak mungkin putri mereka meninggal secara tiba-tiba begini.
***
Pemakaman jenazah Gifyka sudah dilaksanakan. Gadis itu akhirnya menyusul Mario dan keempat teman baiknya yang sudah lebih dulu meninggal.
Nafita belum ingin mempercayai ini semua. Padahal tadi pagi dirinya juga masih melihat Gifyka bernyanyi sendiri di kamarnya. Saat siang tadi pun Calleys bilang jika dirinya baru keluar dari kamar Gifyka. Tapi kenapa saat Nafita masuk, tubuh putri kecilnya itu sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai.
Gifyka tadi sempat dibawa ke rumah sakit, tapi memang nyawanya sudah tidak ada. Yudha pikir, putrinya itu bunuh diri. Tapi ternyata tidak, dokter memberi penjelasan jika kematian Gifyka ini murni karena asam lambungnya yang tidak dirasa dan tidak diobati kemudian lari ke jantung dan menyebabkan serangan jantung mendadak di saat Gifyka sendirian.
Calleys beberapa kali masih menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dirinya tadi tidak berada di samping Gifyka saja. Kenapa Calleys harus meninggalkan Gifyka sendirian. Kalau andaikan Calleys tahu Gifyka akan mengalami serangan jantung dadakan, dirinya akan berada di kamar cucunya itu terus-menerus tanpa mengenal lelah.
Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdir dari Sang Maha Kuasa. Jadi mau tidak mau dan siap tidak siap, jika sudah waktunya tejadi maka akan terjadi tanpa bisa dihindari.
Tentu saja tangisan Nafita masih pecah. Apalagi saat melihat jasad putrinya akan dikebumikan. Nafita sempat pingsan beberapa kali di pemakaman.
***
Next...