
"Argh...!" teriak Azriela ketika merasakan sesuatu menusuk ke dada bagian kirinya.
Tubuh Azriela ambruk, darah mengalir deras. Tangan Azriela masih memegang bambu yang menancap di dada bagian kirinya. Azriela meregang nyawa di depan Gifyka dan Mario. Gifyka dan Mario panik, siapa yang melakukan ini.
"Zril! Bangun!" Gifyka menepuk-nepuk pipi Azriela. Kedua mata gadis itu melotot, sudah tidak benapas lagi.
"Hahaha... Apa kamu juga mau seperti itu?"
Duar!
Mario dan Gifyka kaget ketika ada bola angin mendarat tepat di samping Mario. Mereka tahu perbuatan siapa sekarang, ternyata Irina yang melakukan ini semua. Irina yang sudah membunuh Azriela menggunakan bambu runcing.
"Lo! Mati lo di tangan gue, Irina!" kedua tangan Gifyka sudah terkepal kuat-kuat. Emosinya memuncak mengetahui ini semua. Makhluk astral itu benar-benar menguras emosi sampai ke ubun-ubun.
"Rasakan ini!" Irina melemparkan bola angin mengarah ke Gifyka. Tapi bukan Gifyka namanya kalau tidak bisa menghindar dan menghentikan menggunakan kekuatan ucapannya.
Pluk!
Gifyka merasa kalungnya terjatuh dari leher. Gadis ini panik seketika, apalagi kondisi gelap.
"Yo, kalung gue Yo. Bantuin nyari, please." Gifyka panik mencari-cari di mana kalungnya terlepas.
"Mati kamu, Gifyka!" Irina kembali melemparkan bola angin.
"Stop!"
"Argh...!" teriak Gifyka merasakan sakit yang begitu dahsyat. Ucapannya tak mempan.
Kenapa dengan dirinya? Ke mana kekuatan ucapannya?
"Fy! Lo nggak papa?" Mario mendekat, mendekap tubuh Gifyka yang lemas.
"Sakit, Yo." lirih Gifyka memegangi bagian dadanya.
"Malam Gifyka! Selamat bertemu denganku." ada sesosok makhluk baru yang datang lagi.
"Siapa kamu?" tanya Mario gemetar.
"Aku adalah Polun, aku datang dari masa depan. Asalku sama dengan Artena, Londru dan Irina, dari kerajaan Laxymuse."
"Masa depan?" tanya Mario tak mengerti.
"Ya, aku yang akan memprediksi kejadian di masa yang akan datang. Aku akan membawamu ke khayangan dan menyerahkanmu kepada Raja Ortofus." Polun mendekati Irina yang nampak emosi.
Gifyka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya masih merasa lemas, bahkan sekarang sekuat tenaga Gifyka mencoba memulihkan kekuatannya.
"Bodoh kamu, Irina! Kamu bisa membunuhnya dan membuat Raja Ortofus murka!" Polun memarahi Irina yang melakukan kesalahan.
Irina hanya diam menerima amarah Polun. Dirinya mengaku salah dan sudah kelewatan. Tapi Irina melakukan itu karena dia kesal, susah sekali menangkap Gifyka dan membawanya pergi ke khayangan. Meski Irina tahu bahwa Gifyka tidak akan bisa mati di tangannya.
"Maaf." hanya itu yang keluar dari bibir Irina.
Gifyka mencari-cari di mana letak kalungnya. Apa karena kalung itu kekuatannya jadi hilang? Tapi apa mungkin?
"Yo, bantuin cari kalung gue." ujar Gifyka lemah.
"Iya, gue bantu cari." Mario mengangguk dan membaringkan Gifyka kemudian mencari kalung milik Gifyka yang terjatuh.
"Ikut denganku ke khayangan Fy, akan aku kenalkan kamu dengan Kakekmu di sana." ujar Polun membuat Gifyka kaget. Bahkan Mario juga kaget, apa maksud Polun tentang kakek?
"Kakek?" Gifyka berusaha bangun meski dirinya masih sangat lemah.
Polun melemparkan bola angin kepada Gifyka, membuat gadis itu pasrah kalau dia akan mati sekarang juga. Tapi tidak, tubuhnya yang tadi lemas berubah sedikit membaik. Hal itu membuat Gifyka mampu untuk duduk meski belum sepenuhnya hilang.
"Lo nggak papa, Fy?" Mario mulai khawatir. Gifyka hanya menggelengkan kepalanya.
"Nafita itu seorang Dewi di khayangan, keturunan Raja Ortofus satu-satunya. Tapi dia memiliki kesalahan karena sudah jatuh cinta kepada manusia dan melanggar peraturan khayangan kalau antara makhluk kami dengan manusia tidak boleh bersatu." jelas Polun membuat Gifyka diam mendengarkan.
Gifyka tidak melihat adanya aura menakutkan di diri Polun, berbeda ketika dia melihat Artena, Londru dan Irina. Polun lebih halus dan dia memberikan alasan kenapa Gifyka harus ikut ke khayangan.
Gadis itu semakin histeris, takut jika benar-benar akan dibawa oleh Polun ke khayangan. Dirinya tidak mau tinggal di sana, dirinya ingin terus di sini bersama keluarga dan terutama bersama Mario. Dia lelaki yang Gifyka cintai selama ini.
"Yo... Cepet cariin kalung gue." Gifyka sudah sangat panik karena Polun semakin dekat. Gifyka sendiri pun mencari kalungnya yang terjatuh entah ke mana.
Mata Gifyka melihat ada sedikit cahaya di bawah daun jati kering. Mungkinkah itu kalungnya yang terjatuh? Tanpa pikir panjang lagi, Gifyka langsung mendekat dan membuka daun jati kering itu. Benar sekali! Itu adalah kalungnya yang jatuh. Cepat-cepat Gifyka memakainya erat-erat supaya tidak terjatuh lagi. Karena kalau jatuh kekuatannya hilang.
"Hahaha... Kalung veromon itu ternyata sudah berpindah tangan kepadamu, Fy?" tawa sumbang Polun menggema memenuhi kegelapan malam.
Gifyka terdiam ketika mendengar Polun mengatakan bahwa itu kalung bernama kalung veromon.
"Ikut aku ke khayangan dan kamu akan dilatih menjadi Dewi sebagai penerus Raja Ortofus." suara Polun berubah menjadi tegas. Gifyka merinding mendengarnya.
"Argh...!" teriak Polun merasakan tubuhnya bagai tersengat listrik ketika akan menyentuh tubuh Gifyka.
"Fy, menjauh Fy." Mario membantu Gifyka bangun supaya menjauh dari jangkauan Polun.
"Stop!" larang Polun ketika Irina maju akan menyerang Gifyka dan Mario.
"Tapi dia sangat susah untuk diajak kompromi." Irina marah karena Polun melarangnya.
"Tapi kamu bisa membunuhnya! Dan Raja Ortofus akan membunuhmu!" Polun menatap tajam ke arah Irina.
Irina hanya mendengus mendengar larangan Polun. Waktu mereka sebentar lagi untuk membawa Gifyka ke khayangan. Rencana terbaik memancing Nafita supaya mau ke khayangan hanyalah membawa Gifyka ke hadapan Ortofus. Tidak ada cara lain lagi selain itu.
"Lepaskan kalung itu, Gifyka!"
"Enggak, gue nggak akan lepasin kalung ini. Gue nggak mau ikut sama kalian!" Gifyka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bersandar ke dada Mario. Meski tadi Polun memulihkan sedikit tenaganya, tapi tetap saja masih lemas.
"Lepaskan atau aku akan lepas paksa kalung veromon itu!" gertak Irina geram. Sangat susah membawa Gifyka.
"Enggak!"
"Rasakan ini!" Irina melemparkan bola angin mengarah ke Gifyka dan Mario.
"Awas." Gifyka mengajak Mario menunduk karena bola angin itu mengarah ke atas.
"Lo harus kuat Fy, ada gue yang jagain lo." sekuat mungkin Mario memberikan motivasi untuk Gifyka supaya tidak menyerah.
"Kita harus lari." ujar Gifyka lirih.
"Tapi kondisi lo masih lemah."
"Mereka bakal nyerang kita, Yo."
"Tap..."
"Terbang!" seru Gifyka saat Irina kembali melemparkan bola angin mengarah ke bawah.
Gifyka dan Mario otomatis terbang dan berhasil menghindari bola angin itu.
"Kita lari terus pakai kekuatan tak terlihat." bisik Gifyka ketika mereka masih berada di awang-awang.
"Lo kuat?"
"Gue masih kuat kok." Gifyka mengangguk meyakinkan.
Irina sudah memutar-mutar bola angin yang akan dia layangkan ke arah Gifyka dan Mario lagi. Sedangkan Polun masih berusaha memulihkan dirinya yang tadi serasa kesetrum saat akan menyentuh tubuh Gifyka.
"Satu, dua, tiga, lari." ujar Gifyka pelan.
Mereka berdua lari di udara meninggalkan Irina dan Polun. Irina mengumpat kesal ketika melihat ke atas ternyata Gifyka dan Mario sudah tidak ada. Bibirnya sudah mengumpat tak karuan.
"Semua ini karena kalung veromon itu masih menempel di tubuhnya." gerutu Polun.
~**~
To Be Continue...