
Seperti yang sudah dilakukan Mario satu minggu lalu di pemakanan, lebih tepatnya di depan batu nisan keempat sahabat mereka. Malam hari ini Mario memberanikan diri datang ke kediaman Yudha untuk melamar Gifyka secara resmi.
Tentu saja Nafita dan Yudha sudah persiapan sebelum keluarga Mark datang. Awalnya Yudha sedikit takut harus melepaskan Gifyka secepat ini, tapi jika melihat pengorbanan Mario di waktu lalu. Hal itu membuat Yudha selangkah lebih percaya jika Mario laki-laki yang tepat untuk anak gadisnya.
"Pa... Sudah waktunya kita turun dan menunggu tamu di bawah." Nafita mengusap bahu suaminya.
"Ya... Papa akan segera turun." Yudha mengangguk.
Nafita menarik napas dan mengembuskan perlahan. Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran suaminya. Tanpa ingin bertanya, Nafita langsung memilih turun terlebih dahulu. Memang, tamu spesial belum datang. Tapi alangkah baiknya jika mereka datang, tidak harus menunggu lama di ruang tamu sampai sang Tuan rumah datang.
Klik!
Nafita membunyikan jemarinya, tak lama kemudian ada kepala maid datang menghadap.
"Iya Nyonya, ada yang bisa kami bantu?"
"Apa semuanya sudah siap?" Nafita memandang maid berusia awal empat puluh tahun yang sudah dari delapan belas tahun lalu bekerja di rumahnya.
"Sudah, Nyonya. Semua yang Nyonya perintahkan sudah siap. Tidak kurang satu pun." maid tadi merasa sedikit lega karena dirinya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat.
Nafita mengangguk mendengar jawaban dari maid. Dia sudah tidak sabar menunggu keluarga Mark datang dan mengajak mereka semua makan malam di meja makannya. Jarang-jarang ada orang luar makan di kediaman mereka.
Tak lama Yudha turun seorang diri, Nafita bisa memahami bagaimana perasaan Yudha. Tangannya terulur meminta agar Yudha berdiri di sebelahnya. Ternyata Gifyka pun menyusul turun bersama Calleys.
"Ma, aku gugup." kata Gifyka saat dirinya baru sampai di sebelah Nafita.
"Semua perempuan akan mengalami fase ini, sayang. Tenang ya, semua akan baik-baik saja." Nafita meyakinkan.
"Pa, apa aku cantik?"
Yudha tersenyum melihat anak gadisnya mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna merah cabai. Terlihat lebih dewasa dari biasanya. Calleys hanya diam berdiri di sebelah Gifyka sambil terus tersenyum tiada henti.
"Anak Papa selalu cantik, Mario pasti suka melihatnya." goda Yudha, dia menarik Gifyka ke dalam rangkulannya.
"Papa bisa aja bikin aku GR." kekeh Gifyka.
Calleys senang melihat putri dan cucunya bahagia. Dia tidak menyesali keputusannya untuk menghancurkan keangkuhan Ortofus bersama kerajaan kayangan waktu itu. Calleys tidak bisa membayangkan jika seandainya Gifyka menjadi pemimpin di Laxymuse, pasti hidupnya tidak akan sebahagia sekarang.
"Bunda kenapa terdiam terus?" Nafita nampak penasaran pada Calleys karena sedari tadi hanya diam memandangi Gifyka.
"Ah... Enggak, Bunda hanya senang melihat kalian bahagia hidup di bumi." Calleys menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia tidak salah merelakan Nafita hidup di bumi bersama manusia.
"Ini semua juga berkat bantuan dari Bunda, terima kasih untuk semuanya." Nafita mendekati Calleys, memeluk Ratu kayangan yang sekian lama menjadi teko kristal.
"Sudah... Ini bukan waktunya bersedih." Calleys mengusap-usap bahu Nafita, dia begitu menyayangi putrinya. Apalagi setelah adik Nafita mati akibat peperangan waktu dulu, kasih sayang Calleys semuanya hanya tercurah untuk Nafita.
"Permisi Tuan, Nyonya. Tamu sudah datang, sekarang sedang menunggu di ruang tamu. Saya akan membuatkan minuman dan membawakan makanan." sang kepala maid memberi tahu.
"Ya... Terima kasih, silakan kembali bekerja." Yudha menganggukkan kepalanya.
"Baik Tuan, permisi." maid tadi langsung pergi dari hadapan tuannya.
Dengan gagahnya, Yudha mengajak semua yang ada di sana ke ruang tamu untuk menemui keluarga Mark. Tidak baik membuat tamu menunggu lebih lama lagi.
Gifyka merasa hatinya semakin berdesir tak karuan. Jantungnya seolah tak bisa berhenti berdetak kencang dari biasanya. Dia gugup dan semuanya terasa campur aduk. Semoga ini bukan jalan yang salah untuk mengawali kehidupannya bersama lelaki pilihan hati.
>>>**<<<
Rumah bak istana milik keluarga Angkasa itu sedang dilanda kebahagiaan. Kedatangan Mark untuk meminang Gifyka menjadi menantu di keluarganya diterima baik oleh Yudha. Tanggal pertunangan dan pernikahan pun sudah ditetapkan oleh para tetua.
Kali ini Gifyka sedang mengajak Mario ke taman di sekitar rumah. Banyak sekali tumbuhan di sana. Ini bukan kali pertama Mario mengunjungi taman keluarga Yudha di waktu malam hari. Tapi malam ini terasa berbeda. Dia ada di sini sebagai calon pendamping putri pemilik rumah yang dia pijaki.
"Apa kamu senang bisa ada malam ini?" Mario sedikit ragu bertanya hal ini.
"Gak ada alasan buat aku gak merasa bahagia di malam ini. Tidak ada perempuan yang bersedih saat dia dilamar oleh lelaki pilihan hatinya." Gifyka nampak malu-malu mengakui hal ini.
Setelah mendapat keberanian lebih, kini Mario berhasil menggenggam jemari Gifyka. Jantung mereka sama-sama berdebar kencang seperti sebuah perlombaan.
Gifyka mengalihkan pandangannya, dia sedikit menggeser duduknya agar bisa berhadapan dengan Mario. Kedua mata mereka bertemu, senyuman di setiap inci wajah mereka terlihat jelas meski penerangan di sana sangatlah minim.
"Sebagai awal kehidupan kita berdua, aku tidak akan memberimu janji. Semoga aku senantiasa selalu memberimu bukti, Gifyka." entah mendapat kata-kata dari mana dan latihan keberanian dari mana. Tapi Mario ingin sekali berkata demikian.
"Aku percaya apa pun yang kamu katakan, karena aku tahu semua hal dari kedua bola matamu." suara itu terdengar lebih halus dan lembut di pendengaran Mario.
Untungnya malam ini Mario tidak lupa membawa nyalinya. Jika nyalinya tertinggal di kamar, bisa pingsan terlebih dahulu dia melihat betapa manisnya Gifyka malam ini. Dia juga terlihat sangat cantik terbalut dress selutut yang pas body.
"Apa aku boleh berkata sesuatu?" Gifyka menarik napas dalam-dalam, dia seperti sedang mengumpulkan seluruh nyawanya yang masih tercecer entah di mana.
"Katakan saja, aku akan mendengarkan." senyuman manis yang Mario berikan, seolah ingin menghipnotis Gifyka.
"Jujur, aku tidak pernah terpikir jika kita akan menjadi sepasang kekasih. Selama ini aku hanya bisa menyukaimu dari kejauhan. Aku tidak memiliki banyak keberanian untuk mengakui perasaanku padamu." kata-kata yang sudah Gifyka rangkai, sekarang seperti tercekat di dalam kerongkongan.
"Tanpa kamu tahu, bahwa sebelum kamu menyukaiku. Aku dulu yang sudah menyukaimu." Mario mengecup singkat punggung tangan Gifyka.
Rasa gugup menyergap Gifyka sekarang. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini. Yang jelas, Gifyka sedang bahagia menerima semua ini.
Tapi senyuman itu perlahan memudar, Gifyka teringat akan keempat temannya yang sudah tiada. Andai mereka ada di antara kebahagiannya dengan Mario, pasti akan terasa lebih menyenangkan ketimbang seperti ini. Tapi Gifyka tidak boleh terus berlarut-larut dalam kesedihan. Semua ini sudah diatur oleh Tuhan. Manusia hanya bisa menjalankannya saja.
"Hey... Kamu kenapa?" Mario terlihat mengetahui perubahan raut wajah Gifyka.
"Aku hanya sedang berpikir, andai mereka ada di sini. Kita tidak akan menanggung kebahagiaan ini berdua saja." Gifyka menundukkan kepala, dia sedang manahan agar tidak meneteskan air mata di hari bahagianya.
"Syut... Mereka sudah bahagia di alam sana, kita tidak sepantasnya menangisi mereka yang sudah bahagia di sisi Tuhan." Mario menarik Gifyka ke dalam pelukannya.
"Ya... Pasti Dewa menunjukkan jalan terbaik untuk mereka hingga sampai di sisi Tuhan dan mendapat terbaik pula." Gifyka mencoba tersenyum.
"Ya... Mereka orang baik, pasti Dewa akan menempatkan di tempat terbaik juga."
Gifyka merasa nyaman berada dalam pelukan Mario. Ini pelukan ternyaman yang Gifyka rasakan setelah pelukan yang diberikan Nafita dan Yudha setiap dia merasa gelisah.
"Hah... Aku gak boleh nangis kayak gini." Gifyka menarik dirinya, dia melepaskan pelukan Mario secara paksa.
"Kamu gak pantes nangis Fy, kamu pantesnya bahagia." Mario menghapus sisa air mata di kedua pipi Gifyka dengan ibu jarinya.
"Ya... Aku harus bahagia, mereka sudah memberikan nyawa mereka buat aku. Jadi gak seharusnya aku larut dalam kesedihan." wajah cantiknya berusaha memberikan senyuman manis.
"Ini baru Gifyka, aku gak mau kamu nangis lagi. Tebus pengorbanan mereka dengan kebahagiaan dan senyuman kamu."
Kepala Gifyka mengangguk berulang kali, dia akan berjanji akan terus bahagia. Apalagi di sampingnya ada Mario, lelaki yang bersedia menyayanginya setiap hari.
"Tapi Yo, apa salah kalau aku masih berharap bahwa di kehidupan ini benar-benar ada reinkarnasi?"
Kening Mario mengerut menatap Gifyka. Apa dirinya tidak salah dengar tadi? Kekasihnya mengatakan kata reinkarnasi. Bukankah itu hanya di dalam sebuah dongeng belaka.
"Jangan tertipu dengan cerita dongeng, Gifyka." tangan Mario kembali mengambil gelas yang dia letakkan di sebelahnya. Dia meneguk beberapa jus hingga tenggorokannya terasa dingin.
"Aku gak minta kamu buat percaya penuh Yo, tapi aku pribadi percaya tentang reinkarnasi." ujar Gifyka lirih tanpa ada emosi sama sekali.
Mario meletakkan gelas jus di tangannya ke tempat semula, dia menatap Gifyka lekat-lekat.
"Kita hanya hidup sekali, Gifyka. Tidak ada reinkarnasi." Mario berusaha meyakinkan.
"Tapi aku tipe orang yang percaya dengan reinkarnasi, Mario."
Mario diam, dia menarik napas dan tersenyum pada Gifyka.
>>>**<<<
To Be Continue...