Future and True Love

Future and True Love
20. Menyusul



Langit semakin gelap, sepertinya akan turun hujan di tengah malam seperti ini. Tapi kenapa hujan tak kunjung datang. Hawa dingin semakin menusuk-nusuk tulang belulang. Sungguh, ini sangat mengerikan bagi siapa pun yang ada di posisi ini. Berada di tengah-tengah hutan dalam pulau, harus menaiki sampan untuk sampai ke pulau lain, tidak ada siapa-siapa dan dalam keadaan malam hari.


Mario serta Gifyka seolah sudah lelah melawan Londru dan Irina. Segala jurus sudah dia kerahkan. Sekarang harapan Gifyka hanya satu, turun hujan. Kenapa? Karena jika hujan turun maka Londru tidak memiliki kekuatan lagi. Makhluk astral yang menyerupai laki-laki itu memiliki kekuatan api yang sangat dahsyat. Sekali tembak maka terbakar semua dalam waktu singkat. Jadi jika hujan turun otomatis Londru akan sulit menggunakan kekuatan apinya. Irina memiliki kekuatan angin, dia bisa membuat angin berembus pelan kemudian cepat dan semakin cepat.


Gifyka dan Mario hanya berbekal kekuatan dari mulut Gifyka yang berupa ucapan. Mereka hampir kualahan menghadapi Londru dan Irina. Keringat bercucuran di tubuh mereka. Mario semakin menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa selain memberi arahan kepada Gifyka.


"Rasakan ini!" Irina menancapkan tongkatnya ke tanah.


Mario dan Gifyka merasa bumi berguncang kian hebat. Bahkan sudah berlangsung beberapa detik tapi masih saja bergoyang. Gifyka masih mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya sambil terus berpegangan dengan Mario.


"Fy, lo... Lo tenang." Mario melihat Gifyka sedikit was-was. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya  seperti sedang menetralkan kesadarannya. Tubuh Gifyka bergoyang seiring bumi berguncang.


"Hahaha... Rasakan ini Gifyka!" Londru menghempaskan kekuatannya sekali sentak.


"Stop." ucap Gifyka pelan, bahkan sangat lirih. Hingga tiada siapa pun yang mendengar.


Duar!


"Aarg...!" teriakan Londru dan Irina membuat Mario menoleh ke arah mereka lalu beralih ke Gifyka lagi.


Tongkat Irina yang tadi menancap akhirnya pecah dan potong entah menjadi berapa bagian. Londru terkapar tak berdaya, tubuhnya mengejang hebat. Bola api yang tadi dihempaskan oleh Londru berbalik arah ketika Gifyka mengucapkan kata berhenti dan akhirnya mengenai dada Londru. Irina panik ketika Londru terus mengejang seperti orang yang sedang dicabut nyawanya.


Mario melihat Gifyka terduduk di atas potongan kayu besar. Gadis itu masih mencoba menetralkan kesadarannya. Kedua tangannya memegangi kepala bahkan Gifyka juga muntah karena mual melanda. Mario duduk di samping Gifyka, memeluk tubuh mungil sahabat yang dia cintai secara diam-diam.


"Lo masih pusing?" Mario mengecup ubun-ubun Gifyka lembut. Seolah menyalurkan kekuatan untuk Gifyka.


"Apa mereka masih hidup, Yo?" Gifyka hanya bisa menyandarkan kepalanya ke dada bidang Mario. Rasa peningnya kian menyurut seiring sugestinya yang memasukkan energi-energi positif.


"Londru kejang-kejang."


Keduanya terdiam sejenak untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing. Menghiraukan Londru dan Irina yang berada jauh dari mereka.


~**~


Nafita semakin tak tenang, saat mendengar kabar dari pihak penjaga bungalow bahwa Gifyka dan teman-temannya pergi tanpa jejak dan entah pergi ke mana. Malam ini juga Nafita mengajak Yudha terbang ke bandar udara Sam Ratulangi dan menuju ke Bunaken. Mereka akan menyusul Gifyka serta teman-temannya ke Manado. Tidak bisa menunggu besok-besok lagi, harus malam ini.


"Tenang Ma, Ify pasti baik-baik saja." tangan Yudha tak lepas dari bahu Nafita. Lelaki sebagai ayah dari Gifyka itu pun sama, panik. Tapi dirinya tidak boleh memperlihatkan kepanikannya kepada sang istri.


"Mama khawatir, Pa. Takut terjadi apa-apa sama mereka. Papa tadi dengar kan kalau mereka sudah tidak pulang selama kurang lebih tiga hari empat malam. Itu waktu yang cukup lama, Pa." Nafita berusaha menahan isak tangisnya. Tidak mungkin jika Nafita harus menangis di depan umum seperti sekarang. Apa kata orang-orang apabila mereka melihat Nafita dalam keadaan menangis di tempat umum.


"Sebentar lagi pesawat take-off." Yudha memilih mengalah saja. Dirinya tidak mau berdebat dengan sang istri saat keadaan sangat tidak memungkinkan.


Nafita hanya mengangguk dan lebih memilih menyandarkan kepalanya ke dada Yudha. Rasanya sangat berat, ditambah mengingat anak gadisnya tidak diketahui di mana keberadaannya selama berhari-hari.


Aku pastikan, jika sampai Ayah benar-benar melakukan perjanjian konyol itu. Maka aku tidak akan pernah memaafkannya sedikit pun. Tidak peduli bahwa dia adalah Ayah kandungku sendiri.


Tekad Nafita sudah bulat, apa pun akan dia lakukan untuk melindungi Gifyka. Meski harus melawan ayahnya sendiri.


"Ayo, Ma." Yudha mengajak Nafita berdiri, menyusul beberapa penumpang lain yang sudah lebih dulu mengantre.


Keduanya berjalan beriringan ikut baris bersama penumpang lain dengan tujuan sama. Semua data diperiksa satu persatu, tidak beda jauh dengan kedua orang tua Gifyka.


Tidak harus menunggu lama, sepasang suami istri itu sudah menaiki tangga pesawat. Terdengar deru napas yang sedikit tersengal dari Nafita. Mereka memasuki pintu dan sekarang saatnya mencari tempat duduk sesuai tiket.


Mama akan selamatkan kamu, Fy. Entah bagaimana caranya nanti, tapi Mama pastikan kamu akan kembali dengan selamat. Semoga semua teman-temanmu di sana juga selamat.


"Ma, tenang ya." Yudha meremas jemari Nafita agar lebih tenang.


Senyuman manis terukir di wajah paruh baya Nafita. Dia percaya jika suaminya pun tidak akan membiarkan Gifyka berada dalam masalah besar. mereka sudah berjanji akan saling melindungi dan menjaga dari dulu mereka belum menikah.


"Makasih ya, Pa." Nafita menyandarkan kepalanya ke bahu Yudha.


"Papa sudah meminta bantuan Yoga, dia bilang bahwa dia siap membantu kita saat di Bunaken nanti."


Penjelasan Yudha sedikit membuat Nafita tenang, setidaknya masih ada orang baik yang mau membantunya saat sedang kesusahan seperti sekarang. Benar adanya, jika kita menanam kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita terima. Begitu pula dengan sebaliknya.


"Apa kita tidak merepotkan, Pa?" Nafita jadi tak enak sendiri pada Yoga.


"Sudah, Mama tenang saja. Orangnya sendiri sudah bilang jika dia bersedia untuk membantu."


Suara dari seorang pramugara dari speaker yang memberitahukan bahwa pesawat akan segera terbang. Nafita terus berdoa agar dirinya dan sang suami selamat sampai tujuan sehingga bisa mencari dan menolong putri semata wayangnya.


"Syukurlah Pa, masih ada orang baik yang mau menolong kita."


Tak lama, ada dua pramugari menawarkan minuman. Yudha mengambil dua cup kopi agar mata mereka tetap terjaga dan tidak mengantuk. Bagaimana pun juga keadaannya sekarang masih malam hari. Mereka butuh pendukung agar tidak mengantuk, salah satunya dengan cara meminum kopi seperti sekarang ini.


"Yang penting kita harus yakin kalau Gifyka dan yang lainnya bisa selamat."


Nafita memilih diam, dia tidak menyahuti ucapan Yudha. Wanita paruh baya itu cukup lelah mendengar kabar demikian.


~**~


To Be Continue...