
Gifyka melihat Nafita begitu antusias memililh contoh undangan untuk pernikahannya dengan Mario. Saat ini mereka sedang ada di sebuah tempat percetakan yang nantinya akan mencetak undangan pernikahan calon pasangan muda tersebut.
Sudah dari dua puluh menit yang lalu mereka berada di percetakan. Kebetulan hari ini keduanya tidak ada kelas di kampus. Entah kebetulan atau ada yang bolos dari salah satunya. Kalau pun ada yang bolos, itu pasti Rio. Karena Gifyka sangat menyukai pelajaran di semester tiga. Jadi gadis itu enggan untuk absen tidak masuk kelas meski hanya sekali.
Mario melihat ada banyak contok undangan berjajar di atas meja. Dari yang ukuran kecil, sedang dan besar. Dari yang bentuknya biasa, sederhana, mewah dan super mewah pun ada. Mereka bertiga hanya tinggal pilih mau yang mana. Mario tidak didampingi oleh orang tuanya, karena memang kedua orang tuanya sedang sibuk akan urusan bisnis.
Gifyka dan Mario bingung sendiri akan memilih contoh undangan seperti apa dan yang mana. Dia tidak tahu bagusnya yang mana dan baiknya yang mana. Mereka berdua hanya memberikan sedikit komentar atas contoh undangan pilihan Nafita.
Sekarang Nafita sedang memegang contoh undangan super mewah berukuran sedang dan berwarna biru. Mario bisa lihat jika Nafita tertarik pada contoh undangan itu. Terlihat jelas dari sorot matanya yang terus saja berbinar-binar sambil membolak-balikkan contoh undangan tersebut.
"Tante suka yang itu?" Mario menatap Nafita.
"Bagaimana menurut kalian tentang contoh undangan ini?" Nafita tidak menjawab, dirinya malah balik bertanya pada mereka berdua.
Gifyka mengambil contoh undangan tadi dan melihatnya bersama Mario. Gifyka sendiri suka akan pilihan Nafita, tidak terlalu ribet dipandang tapi mewah.
"Bagaimana menurut kamu?" Gifyka ganti bertanya pada tunangannya.
"Kamu suka juga?"
Gifyka menatap Nafita yang nampaknya benar-benar suka akan contoh undangan yang sedang dia pegang sekarang.
"Kita pakai ini saja, aku suka." ujar Gifyka.
Kepala Mario mengangguk, dia menyetujui pilihan Nafita. Gifyka juga tersenyum mendengar Mario menyetujui pilihan mamanya.
"Ya sudah, kita pakai yang ini saja." Nafita akhirnya mengambil contoh undangan itu dan memisahkannya.
Mereka kembali memilih contoh undangan untuk kolega dari pihak keluarga Yudha. Nanti untuk undangan khusus kolega kedua orang tua Mario sendiri pun akan berbeda. Jika yang tadi khusus dipakai untuk keluarga dan teman dekat kedua calon mempelai. Jadi ada tiga undangan yang akan dipakai dalam pernikahan mereka nanti.
Mengingat teman dekat, Gifyka tersenyum miris dalam hati. Siapa lagi teman dekatnya jika bukan Viara, Azriela, Afriel dan Alvino. Tapi ya sudahlah, Gifyka masih memiliki teman sekolah dan teman di kampus meski mereka tidak terlalu dekat.
"Kalau ini bagaimana, Fy?" Nafita kembali memegang contoh undangan pilihannya.
Gifyka mengangguk setuju, dia tidak mau banyak bicara lagi. Suasana hatinya tiba-tiba buruk saat mengingat contoh undangan tadi.
Flashback on.
"Siapa di antara kita yang bakal nikah duluan?" Azriel memandang kelima temannya satu persatu sambil menunjuk dengan telunjuknya.
"Viara sama Alvino tebakan gue." sahut Afriel santai.
"*Vin, kita jangan nikah dulu ya?" Viara menatap Alvino yang juga berperan sebagai kekasihnya.
"*****... Melas gitu wajahnya Viara, kayak yang enggak rela nikah sama Alvino." ledek Mario.
"Sembarangan aja lo." Alvino menendang kaki Mario hingga membuat semua yang di sana terkekeh.
"Atau jangan-jangan nanti Gifyka yang nikah duluan?" tebak Viara.
Gifyka ganti memandang semua teman-temannya satu persatu. Kenapa malah jadi dirinya yang menjadi sasaran.
"Gue nikah duluan? Sama siapa?" dengus Gifyka menyadari jika dirinya tidak dekat dengan lelaki mana pun.
"Ya sama calon laki lo-lah, Fy. Apa maunya sama Mario?" Afriel ikut menggoda Gifyka.
Semua memandang ke arah Mario dan Gifyka secara bergantian. Tak beda jauh, Gifyka pun memandangai Mario yang juga memandang ke arahnya. Gifyka dan Mario sama-sama bergidik ngeri mendengar candaan temannya dan membayangkan jika mereka menikah*.
"Gue nikah sama Mario? Ogah!" Gifyka acuh tak acuh.
*Gadis itu lanjut meminum es tehnya. Mereka sekarang sedang berada di lapak pedagang kaki lima yang menjual bakso. Usai pulang sekolah, mereka memilih jalan-jalan sebentar sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
*Semua tertawa mendengar godaan Alvino untuk Gifyka barusan. Mario hanya diam digoda atau dijodoh-jodohkan dengan Gifyka. Seolah lelaki itu memang menerima dari awal.
Gifyka melirik-lirik ke arah Mario. Sepertinya lelaki itu memang tidak masalah jika dijodoh-jodohkan dengannya oleh para sahabat mereka sendiri. Nyatanya Mario malah asik memakan baksonya tanpa terganggu sedikit pun.
Flashback off*.
"Fy, Ify..." Nafita memandang Gifyka yang hanya melamun saat Nafita dan Mario sibuk memilih contoh undangan untuk kolega keluarga mereka.
"Fy, kamu kenapa?" Mario mengguncang bahu Gifyka pelan.
Gifyka tersadar, dirinya terkesiap akan guncangan tangan dari Mario. Dia jadi menatap Mario seolah bertanya ada apa sebenarnya.
Nafita mendengus saat mengetahui memang Gifyka sedari tadi malah melamun. Entah apa yang dilamunkan oleh anak gadisnya itu, Nafita juga tidak tahu.
"Tadi Tante Fita tanya, contoh undangan ini bagus apa enggak?" Mario mengulangi pertanyaan Nafita sambil memperlihatkan contoh undangan yang dipilih Nafita.
Gifyka melihat contoh undangan itu, dia mengecek keseluruhannya. Terlihat jauh lebih elegan ketimbang contoh undangan super mewah yang lain dengan warna abu-abu.
"Bagus kok Ma, aku juga suka." jawab Gifyka sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.
Nafita tersenyum karena lagi dan lagi Gifyka menyetujui pilihan contoh undangannya. Sekarang tinggal memilih contoh undangan untuk kolega keluarga dari orang tua Mario.
Kali ini Nafita memberikan kebebasan pada Mario, ingin memilih yang mana. Nafita hanya akan membantu untuk mengatakan kekurangan dan kelebihan contoh undangan yang nanti akan dipilih Mario.
Kali ini Gifyka membantu Mario memilih, dia yakin jika tunangannya itu juga kebingungan ingin memilih contoh undangan mana yang akan dipakai nanti.
"Papa suka warna coklat dan orang yang simple. Bagaimana kalau ini?" Mario mengangkat contoh undangan warna coklat tua dan memperlihatkan pada Nafita.
"Bagus, Tante suka kalau memang suka hal-hal yang simple." kepala Nafita mengangguk, menyetujui pilihan Mario.
"Menurut kamu bagaimana, Fy?"
Kepala Gifyka kembali mengangguk, dia setuju akan pilihan dari Mario. Contoh undangan itu pun tidak terlalu buruk.
"cocok, aku suka juga."
"Kalau begitu, biar Mama akan panggilkan Bi Rena."
Nafita berdiri dan memanggil teman dari Yudha. Dua orang wanita berjalan mendekati Gifyka dan Mario yang sedari tadi duduk di sofa ruang tunggu.
"Bagaimana? Ada yang disuka?" tanya Rena yang sudah ikut duduk.
"Ya, kami pilih tiga contoh undangan ini." Nafita memberikan tiga contoh undangan pada Renata.
Kepala Renata mengangguk, dia juga menerima kertas dengan tulisan jumlah undangan yang harus dicetak dan nama sang calon mempelai.
Nafita juga membayar DP saat itu juga, yang artinya sisanya akan dibayar nanti saat undangan pesanan mereka sudah selesai dibuat.
"Kalau begitu kami permisi dulu, terima kasih sudah meluangkan waktunya dengan kami. Aku tahu, kamu perempuan yang super sibuk." Nafita berdiri, dia memeluk Renata layaknya seorang sahabat.
"Sama-sama Naf, karena memang ini sudah tanggung jawabku." Renata membalas pelukan dari Nafita.
Mereka semua akhirnya berpamitan dan keluar dari gedung percetakan. Masalah undangan sudah selesai, mereka akan lanjut untuk masalah gaun pernikahan nanti.
***
Next...