
Yudha dan Nafita sampai di Bunaken tepat pukul dua pagi. Setiap sudut masih sangat sepi dan jarang ada orang di sana. Bahkan hanya ada beberapa sampan yang berjaga, itu pun sampan pengangkut sayuran dan pedagang yang akan dibawa dari pulau kecil lainnya untuk mereka jual di pasar tradisional Bunaken. Pantas mereka pergi pagi-pagi sekali, semua itu karena mereka harus sampai di pasar tradisional sebelum subuh. Di jam segitu malah lebih ramai karena orang-orang belanja untuk mereka jadikan bahan masakan di warung makan atau untuk pedagang yang berjualan keliling menjajakan makanan saat pagi tiba dan untuk dijual lagi ke liling-liling kampung.
Yoga masih berjalan memandu menuju pelabuhan dan mencari-cari seseorang yang kiranya bisa membantu mereka supaya bisa sampai ke salah satu pulau yang ada bungalow milik keluarga Angkasa.
"Naik apa kita ke sana, Ga?" Yudha dan Nafita berjalan di sisi Yoga yang juga terlihat mencari-cari sesuatu yang bisa membawa mereka ke pulau seberang.
"Sebentar Pak, saya cari solusi dulu."
Yoga berjalan menjauh dan menghampiri salah seorang pemilik sampan yang sedang duduk-duduk mengeliling satu sama lain sambil menyesap secangkir kopi hitam mengepulkan asap, ada seputung rokok menyala di antara jari telunjuk dan tengahnya, dan ada sepiring sukun goreng di tengah-tengah mereka. Sungguh suasana asri dari rakyat Indonesia yang sangat melegenda. Seolah tidak afdhol apabila bercengkrama bersama teman sesama jenis tanpa adanya kopi, rokok dan gorengan di antara mereka. Itulah kebiasaan kaum adam di Negeri ini. Sungguh indah dipandang sepasang mata, antara kebersamaan dan keakraban. Bahkan yang tadinya tidak kenal pun akan disambut baik oleh mereka dan ditawari sebatang rokok, kopi serta gorengan yang mereka miliki.
Terdengar gelak tawa di antara mereka yang membicarakan tentang pertandingan bola kemarin yang mereka tonton di rumah masing-masing. Ada yang mendapat omelan dari sang istri karena berisik dan membuat anak mereka menangis. Ada yang bilang kalau mereka ditemani istri menonton bola. Ada yang bilang kalau listrik di kampungnya padam, ada yang bilang remot tv di rumah disembunyikan anaknya dengan alasan sang ayah selalu berisik setiap kali menonton bola dan membuatnya telat bangun sehingga telat berangkat sekolah. Ada yang bilang kalau dia menonton dari awal pertandingan sampai selesai. Banyak macam yang mereka bincangkan. Inilah rakyat Indonesia, bisa satu pendapat karena masalah sepele dan bisa berseteru karena masalah sepele pula. Tapi inilah ragamnya, meski mereka beda tapi mereka tetap sama, satu jiwa dan satu rasa.
Yudha dan Nafita hanya memerhatikan dari kejauhan. Terdengar Yoga sedang berbicara menggunakan bahasa daerah asli yang tidak mereka ketahui sama sekali apa artinya. Untunglah ada Yoga yang mau membantu mereka, jadi sedikit berkurang beban mereka jika ada yang tidak mereka pahami di Bunaken. Sekarang terlihat seorang bapak-bapak sedang menghabiskan rokoknya dan membuang putung rokok itu ke air lalu menghabiskan secangkir kopinya dan berdiri mengikuti Yoga. Sekretarisnya itu sudah berjalan menuju Nafita dan Yudha sambil menganggukkan kepala.
"Bagaimana, Ga?"
"Ada satu nelayan yang akan kembali ke pulau Siladen karena memang sudah tidak ada kegiatan lagi di sini. Tapi kalau Pak Yudha mau menyewanya untuk mencari putri Bapak, nelayan ini sanggup mengantar." jelas Yoga membuat Yudha dan Nafita langsung menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Ya, kami akan menyewanya. Karena kami sangat butuh kendaraan air saat ini."
"Ke pulau Siladen, Pak?" tanya nelayan itu sekali lagi untuk memastikan.
"Iya Pak, bisa kan?" Nafita sungguh sangat berharap bahwa nelayan itu mau membantunya.
"Bisa Bu, tapi untuk ong..."
"Tidak usah khawatir Pak, berapa pun akan saya bayar." sela Yudha melihat raut wajah sang nelayan yang pastinya memikirkan ongkos jalan.
"Kalau begitu baik Pak, mari ke sampan saya yang ada di ujung." nelayan tadi berjalan memandu sambil membawa satu jaringnya yang tadi tergeletak di atas papan.
"Kamu ikut kan, Ga?"
"Saya ikut Pak, siap menemani."
Mereka berjalan mengikuti sang nelayan yang sudah menyiapkan sampan di ujung. Terlihat sampan nelayan itu yang paling besar dan paling bagus dari yang lain.
"Mari, Pak." pamit Yoga kepada nelayan lain yang tadi ngobrol bersama nelayan yang akan membawa keluarga Angkasa ke pulau Siladen.
"Mari, mari." sahut mereka tak kalah sopannya.
~**~
"Shit! Pantas saja di sini sepi. Kita terjebak di pulau tak berpenghuni Fy." umpat Mario menyadari bahwa ternyata mereka berada di pulau tak berpenghuni.
Gifyka pun sama, baru menyadari hal ini. Pantas saja kosong melompong tidak ada apa-apa. Tidak ada yang bisa mereka mintai tolong sama sekali. Dan ini bukan pulau terdekat dari Taman Nasional Bunaken. Tapi ini pulau terjauh dari Bunaken. Butuh waktu tiga jam perjalanan air supaya bisa sampai di Taman Nasional Bunaken. Mereka salah arah, mereka pikir arah yang mereka ambil adalah arah terdekat supaya sampai di Bunaken. Tapi nyatanya tidak, salah besar!
"Kok lo bisa tahu sih, Yo?" Gifyka merasa heran. Dari mana Mario tahu akan hal ini? Dan kenapa baru sekarang dia menyadarinya.
"Ini namanya pulau Nein Kecil. Pas gue kecil dulu gue pernah ke sini sama bonyok buat menjelajah karena saking penasarannya sama pulau tak berpenghuni ini. Dan gue bisa inget karena gue lihat bangunan tua pas jaman penjajahan Belanda itu." Mario menunjuk sebuah bangunan tua yang ada di ujung. Terlihat bangunan berlumut di berbagai tempat tapi masih berdiri kokoh.
Mario ingat, dulu dirinya pernah berfoto di sana dengan kedua orang tuanya. Itu saat dirinya masih sangat kecil sekali. Saat itu Mario ogah-ogahan diajak foto karena dirinya mengantuk dan ingin segera pulang. Tapi kedua orang tuanya tetep keukeuh ingin berfoto di sana baru pulang.
"Gue inget Yo, itu tempat lo foto sama Om sama Tante yang fotonya dipajang di rumah kan?"
"Ya, benar." Mario hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terus gimana caranya kita balik ke Bunaken? Gue udah capek." Gifyka tiba-tiba terduduk dan menangis tersedu-sedu. Harapannya untuk selamat semakin kecil saja.
Mario ikut duduk dan mendekap tubuh Gifyka. Dirinya merasa prihatin dengan keadaan Gifyka, kasihan juga. Mereka sungguh terjebak di tempat yang paling jauh dari Taman Nasional Bunaken. Yang bisa Mario lakukan hanyalah menenangkan dan memberi semangat pada Gifyka.
"Tapi rasanya sangat mustahil Yo, kita jauh dari mana-mana. Di sini nggak ada kendaraan buat sampai ke Bunaken. Sedangkan Irina dan Polun bakalan terus ngejar kita sebelum mereka bisa nangkap gue." tubuh Gifyka benar-benar rapuh. Dirinya merindukan sosok Nafita. Belum pernah dirinya melakukan perjalanan semelelahkan ini. Terlebih dirinya adalah putri yang dimanjakan oleh kedua orang tuanya dari kecil. Jadi pantas saja Gifyka merasa ini sangat dan sangat lelah sekali.
"Nggak ada yang nggak mungkin kalo kita mau berusaha, Fy. Gue yakin kita bakalan bisa lolos."
Mereka hanya tinggal berdua, siapa yang bisa menguatkan jika bukan satu sama lain? Mario sangat berharap ada nelayan yang lewat di pulau Nein Kecil. Tapi harapan itu seketika musnah ketika mengingat bahwa pulau ini sangatlah jarang didatangi pengunjung. Karena memang pulau yang tidak berpenghuni juga pulau yang sangat jauh. Biasanya yang ingin ke pulau ini adalah turis, sedangkan yang dari dalam negri sendiri sangat jarang. Mereka lebih fokus ke Taman Nasional Bunaken ketimbang pulau-pulau lain.
"Kita akan tetap berusaha bagaimana caranya keluar dari situasi ini."
Gifyka masih setia menangis di pelukan Mario. Hanya ini yang bisa dia lakukan sekarang. Dirinya sudah sangat lelah dengan keadaan ini.
~**~
Yudha dan Nafita berjalan menuju bungalow tempat Gifyka dan teman-temannya menginap selama liburan di sini. Bungalow itu nampak gelap tidak ada pencahayaan sama sekali. Yoga mengikuti dari belakang, sedangkan sang nelayan tadi menunggu di sampannya seorang diri. Kedua orang tua Gifyka sudah sampai di depan pintu bungalow yang sedikit terbuka. Mereka masuk, berantakan di mana-mana. Tidak ada siapa-siapa alias kosong. Bahkan penjaga bungalow pun tidak ada di sana. Nafita mencengkram kuat-kuat lengan Yudha, merasa takut ketika memasuki bungalow miliknya sendiri.
"Kenapa berantakan dan sepi, Pa?" Nafita melihat ke sekeliling, frame foto berserakan, guci-guci pecah, meja dan kursi tidak pada tempatnya. Dan masih banyak lagi kekacauan yang tercipta.
Tujuan mereka ke sini untuk menemui orang yang ditugaskan mengurus bungalow. Tapi ke mana orang itu? Kenapa tidak terlihat? Malah bungalow ini kosong melompong tidak ada penghuninya. Sia-sia dan membuang-buang waktu saja karena tidak mendapatkan hasil.
"Bagaimana, Pak? Di sini tidak ada apa-apa."
"Ke mana kita harus mencari mereka, Ga?" Yudha malah balik bertanya.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan team sar aja, Pa? Ini luas, waktu kita keburu habis kalau kita cuma bergerak sendiri. Kalau ada team sar setidaknya mereka berpencar di setiap pulau."
"Benar apa kata Bu Nafita, Pak. Saya akan hubungi team sar supaya bergerak sekarang juga. Kebetulan team sar di sini melayani dua puluh empat jam." Yoga mengeluarkan ponselnya dan menghubungi team sar supaya membantu mereka dalam pencarian.
Yudha memutuskan untuk menunggu sebentar akan kabar dari Yoga. Semoga team sar mau membantu saat ini juga.
"Mereka sedang berjalan ke sini Pak, bagaimana kalau kita tunggu di sini saja sampai pihak team sar datang. Setelah mereka datang baru kita berpencar dan melakukan pencarian lagi."
"Berapa lama perjalanan mereka ke sini, Ga?"
"Kurang lebih setengah jam dari kantor sampai sini, Pak."
"Baik, kita tunggu di sini."
Yudha dan Nafita memilih duduk di bangku yang ada di teras bungalow bagian depan. Yoga memilih kembali ke nelayan yang menunggu mereka. Berjaga-jaga apabila nanti team sar datang.
"Mama yakin, ini ada hubungannya sama Laxymuse, Pa. Papa ingat kan perjanjian Mama sama Laxymuse?"
"Tapi kan ini sudah berlangsung sangat lama, Ma."
"Perjanjian tetap perjanjian."
"Apa tidak ada cara untuk menghapus syarat itu?"
"Ada."
"Apa?"
"Pak, team sar sudah datang!" seru Yoga memberi tahu dari kejauhan.
Yudha langsung saja berdiri dan mempersiapkan diri menuju sampan sambil menggandeng Nafita. Mereka akan berusaha semampu mereka supaya bisa menemukan Gifyka dan yang lainnya.
~**~
To Be Continue...