Future and True Love

Future and True Love
17. Sampan Yang Bocor



Keempat remaja yang sedang ditempa masalah itu terus berlari. Seperti tujuan awal mereka, mencari pelabuhan terdekat dan membawa sampan yang ada untuk bisa ke Bunaken. Mereka akan meminta bantuan team sar. Lelah sudah tidak lagi dirasakan. Mereka lari dan terus berlari menyusuri semak-semak belukar. Ancaman yang mungkin terjadi sudah mereka lupakan. Di pikiran mereka hanya ada kata selamat dan menyelamatkan. Selamat dari keadaan ini dan menyelamatkan Azriela dan Afriel.


"Argh...!" tubuh Viara terjatuh saat tidak sengaja tersandung oleh tanah.


Kecepatan lari merekalah yang membuat Viara sedikit keteteran. Daya tahan tubuhnya baru saja pulih dari sakit dan sekarang sudah diajak berlari-larian jauh di malam yang bisa dibilang sangat dingin. Bahkan rasa dingin itu sampai menusuk tulang belulang.


"Via!" pekik Gifyka dan yang lainnya saat melihat tubuh Viara terjatuh. Tidak ada yang tega melihat Viara meringis kesakitan seperti itu.


Alvino sudah berjongkok di depan Viara yang masih meringis memegangi pergelangan kakinya yang keseleo. Terlihat jelas dari raut wajah Viara bahwa gadis ini kesakitan.


"Kamu masih kuat, Vi?" suara lembut Alvino memecahkan gendang telinga Viara.


Gifyka dan Mario ikut berjongkok di sisi Viara. Sekalian beristirahat sebentar dari lelahnya berlari.


Tempat ini sangat gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan dan bintang yang seolah mengerti bahwa keempat insan manusia ini sedang di dalam bahaya. Hawa dingin sudah tidak mereka hiraukan. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya selamat.


"Lo harus kuat Vi, bentar lagi sampai ke pelabuhan. Kita bakalan nyari bantuan." Gifyka mengusap rambut Viara sayang. Berusaha mencurahkan rasa sayangnya sebagai sahabat.


"Thank karena kalian selalu ada di samping gue." air mata Viara kembali jatuh. Sangat tidak menyangka bahwa dirinya memiliki sahabat yang sangat perhatian dan peduli kepadanya selama ini.


"Syut... Udah Vi, nggak usah ngomong gitu. Kita kan sahabat." Mario ikut mengusap-usap bahu Viara.


"Gue gendong ya." Alvino sudah mengambil ancang-ancang untuk menggendong Viara.


"Gue berat Vin, gue ngerepotin lo terus." Viara masih setia dengan tangisannya.


Tidak ada yang tidak takut di sini. Mereka semua was-was jika Irina dan Londru tiba-tiba datang menyerang. Karena bagaimana pun mereka berdua memiliki kekuatan, yang pastinya bisa menghilangkan sihir dari Gifyka yang diberikan kepada Irina tadi.


"Sekarang bukan tentang berat atau gimana. Kita harus cepat keluar dari sini." Mario sudah panik sendiri. Takut terjadi apa-apa.


Gifyka mengangguk kepada Viara, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Alvino sudah membalikkan badannya menunggu Viara naik ke atas punggungnya. Dibantu oleh Mario, akhirnya sekarang Viara sudah naik ke atas punggung Alvino.


"Go...!" Gifyka memandu di depan. Mario paling balakang untuk berjaga-jaga. Sedangkan Alvino berada di tengah-tengah sambil menggendong Viara.


Pakaian sudah sangat lengket, kaos kaki rasanya sudah menyatu dengan telapak kaki. Bau dari badan masing-masing sudah tidak dipedulikan lagi. Rasa lelah terkalahkan oleh keinginan ingin selamat. Mereka terus menerjang rerumputan yang bisa dikatakan tingginya hampir sama dengan tubuh Gifyka yang mungil.


**Jjdaarrr...!


Jjddaarrr...!


Duaarrr**!


Siapa yang tidak kaget mendengar petir yang menyambar sangat kencang. Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Mereka sangat berharap bahwa hujan tidak jadi membasahi bumi. Karena jika hujan turun, sangat menghambat usaha mereka untuk keluar dari hutan ini.


"Itu ada sampan!" Gifyka menunjuk sebuah sampan yang ditalikan di sebuah kayu penyangga jembatan dari kayu sebagai sarana menuju pulau kecil ini.


"Kita harus sampai ke Bunaken malam ini." Mario berjalan mendahului Alvino. Mereka kini berjalan di atas jembatan kayu menuju sampan itu ditalikan. Sedikit heran, kenapa hanya ada satu sampan?


Brak!


"Aaa...!"


"Mario!" Gifyka berlari menuju ke arah Mario yang terjatuh karena kayu yang dia injak ternyata rapuh. Mario jatuh di antara jembatan. Untung saja tangan lelaki itu sempat memegang tiang penyangga kayu yang ada di sebelah kanan.


Alvino menurunkan Viara sebentar. Dirinya akan membantu Gifyka menarik Mario ke atas. Tidak mungkin kan Gifyka menarik Mario sendirian. Mana ada tenaganya, terlebih Gifyka adalah seorang perempuan.


"Dalam hitungan tiga, lo pijak kayu di bawah lo, Yo." pandu Alvino sambil memegang tangan kiri Mario. Tangan Gifyka memegang tangan kanan Mario.


"Oke, tolong bantuin gue." Mario pun ikut berusaha bangun dari tempat itu.


"Satu, dua, tiga..." pandu Alvino.


"Aarrghh...!" semuanya berteriak saat menarik Mario. Untung saja sekali tarik bisa naik.


"Hah... Hah..." Alvino terduduk lemas usai menarik Mario. Begitu pula dengan Gifyka dan Mario sendiri.


Keempat remaja ini memilih beristirahat sebentar. Kaki mereka benar-benar akan lepas rasanya. Bukan pegal lagi, tapi sakit. Napas mereka sudah sedikit teratur meski belum sepenuhnya pulih.


**Jdaarr!


Dduaarrr**!


Di tengah keheningan, kembali terdengar suara petir yang menyambar. Tapi ini tidak dengan kilatan berwarna merah. Mereka bisa pastikan jika petir itu bersamaan dengan kilatan merah pasti itu salah satu dari Londru atau Irina yang datang.


"Bantu gue jalan aja, Vin. Lo pasti capek."Viara tidak tega jika Alvin kembali menggendongnya. Lagi pula jarak dari tempat mereka ke sampan tidak terlalu jauh.


"Kita harus segera pergi secepat mungkin." Mario pun ikut berdiri. Berjalan menjauh dri lubang yang tercipta karena tubuhnya.


Gifyka mengekor di belakang Mario usai melambaikan tangannya ke Viara dan Alvino.


"Jalannya berlubang Via, gue gendong aja." keukeuh Alvino, memang benar jembatan di depan mereka berlubang karena tubuh Mario yang terjatuh barusan.


Viara hanya menurut saja, meski susah payah dirinya berhasil naik ke punggung Alvino. Mereka menyusul Mario dan Gifyka yang sudah lebih dulu jalan di depan. Bahkan Mario sudah turun ke sampan yang tersedia.


"Lo mau dayung atau jalanin mesin, Vin?"


"Gue terserah aja sih, Yo. Yang penting sampai." Alvino ikut turun menyusul Mario dan Gifyka. Lelaki berwajah chinese ini turun sambil menggendong Viara. Sekarang Viara sudah duduk di dekat Gifyka.


Mario sudah menghidupkan mesin diesel pada sampan. Otomatis Alvino mengambil dayung yang tersedia. Sampan kecil itu mulai berjalan membelah pulau kecil yang akan membawa mereka ke Bunaken. Meski mereka nanti akan melewati satu pulau lagi.


"Lo kedinginan, Vin?" Viara melihat Alvino yang sedikit menggigil saat mendayung.


"Ah... Enggak, gue cuma senam otot aja." cengir Alvino. Tidak ada yang menyaut candaan Alvino. Kenapa lelaki itu masih saja bisa bercanda di waktu yang tidak tepat seperti sekarang ini?


"Pakai jaketnya, Vin. Gue nggak mau lo kenapa-napa." Viara sudah melepas jaket milik Alvino yang dia pakai.


"Pakai aja Via, gue nggak papa kok." seulas senyuman manis terukir di wajah Alvino. Hasratnya sebagai lelaki untuk melindungi dan menjaga perempuan terlebih itu Viara membuatnya melupakan segala rasa dingin yang menyerang.


Viara kembali memakai jaket Alvino, memaksa lelaki itu memakai jaketnya pun tidak mungkin. Alvino salah satu spesies yang keras kepala jika sudah berkeinginan. Seribu kali Viara membujuk pun tidak akan pernah dia dengar. Hati Viara tidak menentu melihat senyuman Alvino yang begitu bahagia. Kenapa rasanya takut akan kehilangan lelaki itu. Cepat-cepat Viara menghilangkan pikiran aneh yang merasuk ke pikirannya. Berpositif itu lebih baik ketimbang berpikiran negatif.


"Tenang Via, nggak akan terjadi apa-apa." remasan tangan Gifyka menyadarkan Viara ke alam nyata. Gadis berpipi chubby itu tersenyum ke arah Viara.


"Bentar lagi kita sampai, kurang lebih sepuluh menit lagi." ujar Mario yang ada di depan karena menjaga mesin diesel sampan.


"Eh... Eh... Kok... Airnya merembes sih?" Gifyka panik saat ada air merembes dari bawah naik ke sampan.


"Iya, kaki gue udah hampir  erendem." Viara pun ikut panik.


"Tambah kecepatannya, Yo." seru Alvino dari belakang.


Mario menurut untuk menambah kecepatan mesin diesel yang dia kendalikan. Alvino pun sama, menambah kecepatan mendayungnya.


Viara dan Gifyka mencoba tenang meski panik. Pasalnya jika sampan ini tenggelam, mereka otomatis akan berenang supaya bisa sampai ke pelabuhan selanjutnya. Bukan masalah berenang yang membuat pikiran mereka kacau. Tapi masalah tingkat kedinginan air pulau yang tak terhingga dinginnya. Cuacanya saja sangat dingin, apalagi jika terkena air.  Bisa-bisa membeku darah mereka jika benar harus berenang.


"Yo, air semakin naik. Gue yakin sebentar lagi sampan ini bakalan terendam." wajah Gifyka sudah pias. Tidak sanggup membayangkan jika tubuh mungilnya harus berenang di dalam air sedingin air es ini.


"Kaki gue masih sakit, mana mungkin gue bisa berenang?" tatapan sendu Viara lebih memilukan ketimbang melihat kondisi Gifyka yang sudah pasti bisa berenang sendiri.


"Kita terpaksa harus berenang buat sampai ke darat." Mario sudah nyebur ke dalam air dingin yang tak terkira dinginnya itu. Bibirnya menggigil merasakan air yang seperti air dalam lemari es.


"Kita harus renang." Alvino pun ikut nyebur sebelum mereka terguling dari sampan yang sudah bergoyang ke kanan dan ke kiri.


"Tapi kaki gue sakit, Vin." Viara sudah meneteskan air mata. Baru kakinya yang terkena air saja tubuhnya sudah menggigil. Bagaimana jika seluruh tubuhnya yang terkena air sedingin ini.


"Ada gue, Via yang bakal bawa lo sampai ke tepi." senyuman manis masih tersungging di wajah Alvino.


"Fy, kita harus cepat. Sebelum kita terkena hipotermia." Mario menyadarkan Gifyka dari lamunannya.


Tanpa pikir panjang, Gifyka mengangguk dan ikut nyebur. Luar biasa dinginnya tidak bisa dijabarkan seperti ini. Kalian pernah merasakan menggenggam botol berisi air dingin yang baru saja dikeluarkan dari freezer tapi masih berbentuk air bukan es batu. Itu sangat dingin, tangan saja tidak kuat merasakan dinginnya. Apalagi ini seluruh tubuhnya yang merasakan.


Viara juga sudah nyebur dibantu oleh Alvino. Mario berenang memandu di depan sambil menggenggam jemari Gifyka. Sedangkan Alvino menarik tubuh Viara yang tidak mungkin berenang dengan satu kaki. Mereka saling membantu satu sama lain. Lebih tepatnya para lelakilah yang membantu kaum wanita.


"Gue nggak kuat. Hiks... Hiks..." suara tangisan Gifyka menggema di tengah-tengah usaha mereka untuk menepi.


"Lo harus kuat, Fy. Kita harus selamat sampai kota." Viara menggenggam jemari Gifyka yang kebetulan berada di sampingnya. Memang bakat renang Alvino tidak diragukan. Secara Alvino itu lelaki yang hobby berenang dari kecil.


"Syut... Bentar lagi kita sampai." Mario berusaha menenangkan. Dirinya merasa seperti membawa anak kecil. Padahal mereka seumuran.


Benar saja, daratan sudah semakin dekat. Mereka semakin semangat untuk sampai ke darat secepatnya. Ingin segera mereka akhiri semua ini.


~**~


To Be Continue...