
Gifyka dan Mario berhasil membawa pergi Azriela. Mereka terus berlari sekencang yang mereka bisa karena mereka tahu bahwa Irina masih mengejar. Irina tidak akan melepaskan mereka kecuali Gifyka mau ikut bersamanya ke khayangan.
"Aw... Sakit, Fy." ringis Azriela sudah tidak tahan akan rasa sakit yang dia alami. Ini sungguh-sungguh sakit, bayangkan saja jika kuku kalian yang dicabut secara paksa dan tubuh penuh akan sayatan dari pisau.
"Lo masih tahan, Zril?" Gifyka mendekati Azriela yang terduduk sambil meringis.
"Sakit Fy, ini sakit banget. Tubuh gue penuh irisan pisau." air mata Azriela kembali mengalir.
"Syut..."
"Stop! Jangan peluk gue, sakit semua Yo." Azriela menghindar ketika Mario ingin memeluknya.
"Oke maaf gue lupa." Mario mundur takut kelupaan.
Gifyka melihat tubuh Azriela penuh luka, darah di mana-mana. Bahkan bau amis menyengat dari badan Azriela. Gadis itu semakin prihatin dengan kondisi sahabatnya.
"Maaf ya Zril, gue nggak bisa jagain lo waktu itu. Kalau gue nggak teledor pasti lo nggak akan kayak gini." tangisan kecil keluar dari bibir Gifyka.
"Jangan minta maaf Fy, ini udah takdir gue." Azriela berusaha tersenyum meski sakit sedang melandanya.
"Gue yang salah, coba kalau gue nggak ngotot pengen liburan ke sini. Pasti mereka masih hidup, dan kalian berdua nggak akan terjebak di sini sama gue." Gifyka menatap Azriela dan Mario secara bergantian. Rasa menyesal menggerogoti jiwanya.
"Nggak usah nangis Fy, bener kata Zril kalau ini udah takdir. Stop nyalahin diri lo sendiri. Lagi pula kita ke sini kan emang kemauan dari individu, bukan lo yang maksa." tak berhasil memeluk Azriela, sekarang Mario sudah memeluk tubuh mungil Gifyka.
"Syut... Kita harus tetap cari cara biar bisa keluar dari situasi ini." Azriela juga ikut menenangkan Gifyka.
"Mending lo bantuin Zril gimana caranya tangannya nggak sakit lagi." usapan Mario di bahu Gifyka mampu menenangkan gadis mungil itu.
Gifyka menurut, tidak seharusnya dia cengeng. Ini sudah takdir, pilihan dan resiko yang harus mereka terima. Yang harus dia lakukan sekarang tetap satu tujuan. Menyelamatkan diri supaya terbebas dari kejaran Irina.
"Yang lain ke mana?" pertanyaan itu terlontar juga dari bibir Azriela. Wajar, gadis itu tidak tahu kejadian selama dia disekap oleh Rahma.
"Afriel jatuh ke jurang dan kita belum bisa nemuin dia di mana dan kondisinya kita belum tahu. Kalau Alvino dan Viara udah meninggal." jelas Mario mewakili Gifyka. Karena sudah pasti gadis itu tidak akan sanggup memberi tahu Azriela.
Azriela membekap mulutnya, kaget mendengar kabar dari Mario tentang kedua sahabat dan kekasihnya. Air mata mengalir dari kedua kelopak mata Azriela. Haruskah dia kehilangan lelaki yang dia cintai selama bertahun-tahun dengan secepat ini. Padahal belum genap seminggu mereka jadian, tapi Tuhan sudah memisahkan mereka.
"Lo yang sabar Zril, mungkin ini yang terbaik supaya mereka nggak terus-terusan tersiksa dalam keadaan ini." Mario mengusap-usap punggung Azriela, tempat yang tidak disayat oleh Rahma.
"Rentangin jari lo coba Zril, biar gue coba sembuhin." titah Gifyka.
Mario dan Azriela hanya melihat saja. Gifyka meringis ketika melihat kondisi tangan Azriela yang penuh luka. Juga pada jari Azriela yang tidak ada kukunya. Pasti sangat sakit.
"Terbalut." ujar Gifyka sambil melihat jari-jari Azriela yang tidak ada kukunya. Tanpa menunggu lama, kedua jari Azriela sudah terbalut kasa.
"Aw... Sakit, Fy." ringis Azriela ketika jarinya sudah terbalut.
"Hilang rasa sakitnya." ucap Gifyka lagi.
"Gimana? Masih sakit, Zril?" Mario menatap Azriela.
"Udah enggak, thank Fy." senyuman tulus terukir dari wajah Azriela kepada Gifyka.
"Nggak bisa kalau tanpa jalan, terbang dan lari gitu Yo. Kita nggak bisa ngilang gitu aja."
"Gimana kalau kita lari lagi? Gue takut Irina makin dekat aja."
"Gue setuju."
Mereka lanjut berlari mencari di mana adanya pelabuhan. Pulau yang satu ini lebih luas ketimbang pulau yang lainnya. Bahkan ada tiga kali lipatnya. Sebenarnya mereka sudah lelah.
~**~
Setelah sekitar beberapa jam Yudha dan Nafita duduk di pesawat dari Jakarta menuju Manado, akhirnya mereka sampai di bandar udara Sam Ratulangi. Hari sudah sangat gelap, jarang ada yang mau diajak nyebrang untuk sampai ke salah satu pulau kecil yang ada bungalow milik keluarga Yudha. Andaikan ada pasti hanya satu atau dua, mengingat kondisi malam dan minim pencahayaan.
"Kita ke pulau itu sekarang juga, Pa." rengek Nafita di dalam mobil menuju Bunaken.
Untuk sampai ke Bunaken masih menunggu beberapa jam lagi. Untung saja Yudha memiliki pegawai asli sini yang sedang cuti nikah. Jadi Yudha bisa minta tolong kepadanya untuk menjemput di bandara meski dengan berat hati.
"Maaf Pak, kalau boleh tahu sudah berapa hari?" tanya Yoga yang duduk di depan dekat sopir.
"Sudah sekitar enam harian Ga, dan pihak bungalow baru memberi kabar tadi sore." geram Yudha, merasa kecewa kepada pegawai yang dia percayai mengurus bungalow.
"Saya dan teman-teman saya akan coba bantu mencari, Pak." sanggup Yoga merasa kasihan kepada atasannya. Bukan untuk pencitraan, tapi Yoga memang orang baik. Apalagi dia tahu bahwa orang yang kesusahan itu orang yang sudah memberinya gaji selama kurang lebih lima tahun.
"Maaf sudah mengganggu waktumu, Ga. Harusnya kamu kan di rumah menemani istrimu. Kalian pengantin baru."
"Tidak apa-apa, Pak. Bersama istri bisa setiap hari, masa saya tega membiarkan Bapak dan Ibu kesusahan sendiri."
Yudha hanya mengangguk, beruntung memiliki sekretaris seperti Yoga. Memang, Yoga cuti pulang untuk menikah dengan gadis pujaannya kemarin.
"Maaf, saya kemarin tidak bisa datang karena istri saya sakit."
"Tidak apa-apa Pak, saya mengerti."
Yudha beserta istri juga Yoga masih ada di dalam mobil yang dikendarai oleh sopir bayaran yang Yoga sewa tadi saat akan berangkat menjemput keluarga atasannya.
Mama sama Papa sudah sampai di Manado, Fy. Semoga saat nanti sampai di bungalow, kalian masih baik-baik saja. Mama harap kamu tidak pergi jauh dari area bungalow.
Nafita meremas-remas jemarinya sendiri merasa cemas. Dia tidak bisa membayangkan jika yang ada dalam situasi seperti ini adalah dirinya, pasti akan sangat ketakutan.
Demi apa pun jika Nafita tidak bisa menyelamatkan Gifyka, dirinya akan memaki dirinya sendiri karena pernah melakukan perjanjian konyol dengan Ortofus-Sang Raja langit ketujuh.
"Sebentar lagi kita sampai di Taman Nasional Bunaken, Pak." Yoga tetap memberi tahu.
Nafita yang paling tidak sabar di antara mereka, dia berharap ada seseorang yang lagi-lagi baik mau menolongnya dengan bersedia membawa mereka bersama perahu. menuju bungalow.
~**~
To Be Continue...