
Menerima hal baru di saat kita sedang tidak ingin menerima itu akan terasa sangat sulit. Bahkan tidak sedikit kata berontak yang akan terlintas dalam benak.
~**~
Jedar!
Ketiga gadis ini terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara yang kembali menggema di gendang telinga mereka. Keringat dingin mengucur di setiap pelipis masing-masing. Deru nafas memburu membuat ketiganya semakin sulit untuk cepat sadar.
"Gifyka!" teriakan seorang lelaki mengagetkan ketiga gadis yang masih terduduk di atas ranjang dengan wajah berantakan serta rambut acak-acakan.
"Kalian gak kenapa-napa kan?" Mario, Alvino serta Afriel mendekati Gifyka, Viara dan Azriela yang masih shock.
"Yang tadi suara apa, Yo?" Gifyka menatap sendu ke arah Mario.
"Gue juga gak tahu, tapi kita harus keluar sekarang juga."
"Ke mana?"
"Kita bisa kumpul di ruang tamu."
"Ya udah ayo kumpul di sana." semuanya bergegas menuju ruang tamu bungalow.
Jdaar!
Keenam remaja ini terhenti tepat di depan pintu luar kamar tempat anak putri istirahat.
"Ka... Ka... Kalian siapah?" napas Mario tersengal-sengal tak karuan melihat ada sesosok tinggi menyerupai manusia berjenis kelamin laki-laki di hadapan mereka. Terlihat seperti laki-laki, namun rambutnya panjang lurus dan terawat.
"Aku dari kerajaan Laxymuse!" Alien aneh tadi menjawab dengan nada seolah membentak.
"Ap... Apa itu... Lax... Laxy... Muse?" bibir Gifyka bergetar seperti sedang senam.
"Selamat berjumpa, Gifyka." ucap alien di depan mereka mengarah ke Gifyka yang sangat shock.
"Ken... Kenapa kam... kamu, bisa ta... tahu nama sayah?" tubuh Gifyka sendiri mendadak panas dingin tak karuan.
"Hahaha..." Alien tadi tertawa begitu kencangnya. Membuat keenam remaja ini semakin takut tak terkendali.
"Siapa kamu sebenarnya?!" pertanyaan Alvino menggema membuat Alien berpakaian serba merah tadi menghentikan tawanya.
"Diam kamu bocah kecil! Urusanku dengan Gifyka, bukan denganmu!" suara itu bagaikan petir menakutkan di tengah malam.
"Ada urusan apa kamu denganku?" sumpah demi apa, Gifyka menahan ketakutannya sekuat tenaga. Dalam hati Gifyka takut akan diapa-apakan oleh Alien tak dia kenal.
"Ikutlah denganku, maka dari itu nanti Nafita akan mencari dan menyusulmu." tajam, bagaikan belati. Ucapannya sangat tajam tak terkendali.
"Mama?" kening Gifyka mengkerut.
Apa hubungannya ini Alien sama Mama?
Gifyka memandang Alien tadi dari atas sampai bawah, begitu terus sampai berulang kali.
"Lo ngapain sih, Fy liatin dia kek gitu?" bisik Viara yang berdiri di sebelah kiri Gifyka.
"Aneh, apa hubungannya sama Mama? Apa dia selingkuhan Mama atau mantan pacarnya Mama ya?" Gifyka menolehkan kepalanya ke arah Viara.
"Lo ngomong dijaga napa Fy, mana mungkin Tante Fita selingkuh sama cowok jadi-jadian kayak gitu?" Afriel ikut berbisik.
"Jadi-jadian?"
"Iyalah jadi-jadian, lihat aja penampilan laki eh pas lihat rambutnya lebih panjang dari rambutnya Viara."
"Bener kata Alvino." bisik-bisik tetangga mereka masih berjalan. Seperti tidak ada dalam keadaan genting.
"Ikut saya, Gifyka!"
"Lepas!" Gifyka menghentakkan tangannya saat Alien tadi menarik paksa tangannya.
Mario, Viara, Alvino, Afriel dan Azriela tambah was-was setelah kejadian barusan. Napas mereka tiba-tiba memburu, aliran darah mereka terasa semakin memanas.
"Ikut saya ke Laxymuse."
"Lari.... " Gifyka menarik pergelangan tangan Mario serta Viara secara bersamaan. Diikuti oleh Alvino yang ditarik oleh Viara kemudian Azriela dan Afriel.
Keenam remaja ini berlari menuruni tangga menuju lantai bawah. Mencoba melarikan diri dari Alien tak mereka kenal. Sekencang mungkin mereka berlari menjauh.
"Mau ke mana kalian?" langkah kaki keenam remaja tadi terhenti tepat di depan Alien yang mereka hindari.
Keringat dingin mengucur ke setiap pelipis masing-masing. Hawa yang begitu dingin tak lagi bisa menembus dinding kulit mereka. Terasa sangat panas nan mencekam.
"Kita harus ke mana?" tanya Azriela mulai ketakutan.
"Kalian tidak akan pernah bisa lari dariku. Hahaha..." tawa itu, sungguh mengerikan bagi siapa pun yang mendengar.
Langkah mereka mundur secara perlahan seiring majunya sang Alien berambut panjang.
"Siapa kamu?!" bentak Afriel mewakili kelima sahabatnya.
"Saya Artena, wakil Raja Ortofus di kerajaan Laxymuse pada langit ke tujuh." Alien atau yang mengaku bernama Artena tadi semakin berjalan maju mendekat ke arah Gifyka.
"Apa maumu sebenarnya, Artena?!" bentak Mario yang tahu bahwa Gifyka sangat ketakutan.
"Sudah kubilang, aku hanya ingin membawa Gifyka ke Laxymuse supaya Nafita menyusulnya ke sana!" tatapan Artena sangat tidak bersahabat dengan kelima sahabat Gifyka, terutama Mario.
"Gue nggak mau!" teriak Gifyka ketakutan.
"Kita harus gimana dan ke mana?" Viara bingung sendiri. Rasa takutnya sudah sampai di ujung.
Jedar! Jedar! Jedar!
Langit yang tadi diam tidak berontak kini seolah menjadi sangat menyeramkan bagi keenam remaja yang sedang berlibur ke Bunaken. Kilatan cahaya di sana-sini membuat mereka ketakutan akan bencana yang kemungkinan akan terjadi. Angin berembus kian kencang, bahkan paduan suara dari jangkrik dan kodok tidak terdengar ke gendang telinga mereka.
Cucuran keringat terus mengalir di setiap pelipis dan leher masing-masing. Bahkan kedua tangan Azriela sudah gemetar saking takutnya akan keadaan ini. Detak jantung mereka berdetak kian cepat nan memburu.
"One, two, three, go....!" pandu Mario menarik tangan Gifyka serta Viara secara bersamaan seperti apa yang dilakukan oleh Gifyka tadi saat mereka di lantai dua.
"Kita mau ke mana?" bisik Afriel yang berlari di jajaran paling belakang.
"Ada dua pilihan, ke pemukiman penduduk atau ke hutan?" seru Gifyka sedikit kencang dengan napas tersengal. Mengikuti langkah kaki Mario yang seorang lelaki membuatnya kelelahan. Tapi mau bagaimana lagi? Ini genting!
Mario, Gifyka, Afriel, Azriela, Viara serta Alvino terus berlari menyusuri jalan setapak. Mereka sudah berhasil keluar dari bungalow tempat mereka diteror oleh Alien aneh tak mereka kenal. Kanan kiri mereka berdiri kokoh pepohonan besar nan rindang apabila pagi datang. Hawa menakutkan dari malam menelusup ke relung qalbu mereka. Tidak menutup kemungkinan di malam hari seperti ini akan ada hantu berkelebat di mana-mana.
"Kita ke pemukiman salelaki suara Viara terdengar sangat gemetar menahan ketakutan.
Mendengar kekasihnya sangat ketakutan, Alvino semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Viara. Alvino tak ingin melihat gadisnya itu lemah di saat-saat seperti ini.
"Kita belok kanan." pandu Mario yang berada paling depan.
Keenam remaja ini memilih berbelok ke kanan saat mereka menemui perempatan jalan di sebelah pohon mahoni yang sangat besar. Tetap sama, cahaya masih sangat minim.
"Nyalakan flash dong salah satu saja." pinta Mario karena benar-benar pandangannya kurang jelas apabila tidak ada cahaya.
"Punya gue aja." Alvino mengeluarkan ponselnya kemudian menyalakan flash untuk menerangi jalan yang sedang mereka tempuh.
"Arghh...!"
Kelima remaja ini menoleh ke belakang secara bersamaan. Mereka sama-sama shock karena melihat Azriela terduduk di atas semak-semak belukar sambil memegangi lututnya yang memar karena terbentur batu kecil di depannya.
"Zril, lo masih kuat?" Gifyka nampak khawatir akan kondisi Azriela. Rasanya sangat tidak tega melihat sahabatnya kelelahan serta menderita karena dirinya.
"Lutut gue sakit banget, Fy. Hiks ... Hiks ...." Azriela memegangi kedua kakinya. Rasanya benar-benar seperti ingin terlepas dari raganya.
"Sabar Zril, biar gue yang gendong lo." semua orang menatap Afriel karena ucapan lelaki bertubuh tinggi berhati baik nan lembut itu.
"Gue takut ngerepotin lo, Iel biarin gue di sini. Kalian lari aja." Azriela terlihat pasrah akan semuanya.
"Lo ngomong apa sih, Zril? Mana mungkin gue sama yang lainnya tega ninggalin lo sendirian di sini." nada suara Mario meninggi. Sangat tidak suka apabila ada sahabat dekatnya putus asa.
"Gue udah nggak kuat jalan." Azriela benar-benar terlihat pasrah.
"Tunggu bentar." Viara menarik tangan Alvino untuk mengikutinya.
"Lo mau ngajak Alvino ke mana, Vi?" Mario terlihat panik karena Viara mengajak Alvino semakin menjauh dari jangkauan mereka.
"Gue haus, dari tadi lari terus." suara Azriela terdengar semakin lirih.
"Maafin gue ya, Zril ini semua karena gue. Coba kalau gue nggak ngajak kalian liburan ke sini. Kita nggak akan seperti ini." Gifyka merasa sangat bersalah. Andaikan waktu bisa diputar, Gifyka tidak akan mengajak kelima sahabatnya berlibur ke tempat ini.
"Udah Fy, jangan nyalahin diri lo sendiri. Ini kemauan kita sendiri buat liburan ke sini. Jangan nyalahin diri lo sendiri." Mario mendekap tubuh Gifyka. Mencoba menenangkan sahabat yang dia cintai.
Malam menjadi semakin sunyi dan sepi. Bahkan rumah-rumah penduduk pun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Jedar! Jedar!
Tubuh keempat remaja ini kembali menegang saat mendengar suara petir lagi-lagi ada di sekitar mereka. Mata Gifyka melanglang buana ke sana ke mari mencari titik sumber suara. Kilatan cahaya merah menyala tak Gifyka temukan sama sekali.
"Pakai ini saja, Zril." Viara datang bersama Alvino sembari membawa beberapa helai pucuk daun petai cina.
"Buat?" Afriel tak mengerti akan maksud Viara.
"Ini daun petai cina bisa menyembuhkan luka baru. Dulu gue pas masih kecil setiap luka pasti dikasih ini sama Nenek," Viara meremas-remas daun petai cina sampai sedikit hancur dan berlendir.
Azriela hanya bisa diam saat Viara meniup-niup luka pada lututnya. Gadis cantik ini sangat bersyukur karena memiliki sahabat yang sangat peduli kepadanya seperti mereka berlima. Azriela tidak pernah menyesal bisa bersahabat dengan Gifyka, Mario, Viara, Alvino serta Afriel dari mereka baru mengenakan seragam junior high school.
"Lebih bagus lagi kalau dikunyah sih sebenarnya. Tapi gue takut lo jijik sama kunyahan gue, Zril. Terus lo sendiri pasti geli kan? Lo pasti gak mau kan buat ngunyahnya?" Viara menempelkan daun petai cina yang berhasil dia lembutkan menggunakan tangan secara perlahan ke permukaan kulit Azriela yang memar dan merah.
"Ini aja gue udah makasih banget Via, thank ya. Makasih kalian udah baik banget sama gue."
"Udah kan? Kita nggak ada banyak waktu lagi. Kita harus segera lari." suara Mario memecah rasa hati mereka yang sedikit melega.
"Apa Artena masih ngejar kita?" kedua tangan Viara kembali bergetar ketakutan.
"Artena mengejar atau tidak, kita harus cepat-cepat bisa keluar dari pulau ini. Kita harus balik ke Jakarta dengan selamat dan bersama-sama. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama kita." Gifyka menitikkan air matanya merasa sangat bersalah kepada kelima sahabatnya.
"Kita perlu perahu Fy, kita nggak mungkin renang sampai taman nasional Bunaken."
"Pokoknya gue pengen kita keluar dari sini. Keluar dari keadaan ini. Gue nggak mau dibawa sama Artena ke Laxymuse." Gifyka menjambak rambutnya sendiri seperti orang frustasi. Tangisnya pecah mengingat bahwa Artena mengincar dirinya.
"Udah Fy, jangan nangis. Kita lari lagi aja. Kita cob ..."
Jedar!
Keenam remaja ini kaget akan suara petir barusan. Suara yang sama dengan apa yang mereka dengar dari beberapa jam lalu.
"Gue gendong lo, Zril." Afriel sudah bersiap-siap akan menggendong Azriela.
"Gue udah lumayan mendingan kok, biar gue lari sendiri aja."
Afriel membantu Azriela berdiri, bahkan Viara dan Alvino sudah berdiri. Mario dan Gifyka pun ikut berdiri. Keenam remaja ini sudah bersiap-siap akan kembali lari.
**Jedar!
Krek Krek Krek!
Brak**!
"Lari!" jika tadi Mario yang memandu, kini berganti Alvino yang memandu.
Beberapa pohon akhirnya tumbang karena kilatan keras dari cahaya Artena.
Gerombolan remaja itu berlari sekencang yang mereka bisa. Tujuan awal mereka ke pemukiman warga gagal karena hadangan dari Artena secara langsung. Bahkan Artena tak main-main akan penyerangannya.
Apa gue harus menggunakan kekuatan gue saat ini juga?
Hati Gifyka bimbang akan kekuatan yang dia punya secara tiba-tiba dan mendadak.
~**~
To Be Continue...