Future and True Love

Future and True Love
28. Kerajaan Kurcaci



Nafita dan Yudha sampai di pulau yang sudah disebutkan oleh Yoga dalam telfon. Mereka harus berjalan lumayan jauh untuk sampai ke tempat di mana Yoga menemukan Mario.


"Kenapa Yoga cuma bilang kalau dia menemukan Mario, Pa? Kenapa dia tidak bilang menemukan Gifyka juga?"


"Mama tenang dulu, kita harus tetap berpikir positif tentang Gifyka." apa yang bisa Yudha lakukan selain menenangkan Nafita.


Dipandu oleh team sar, Nafita dan Yudha terus berjalan menyusuri hutan yang lumayan luas. Meski ini pulau paling kecil, tapi di sini sungguh tidak ada bangunan sama sekali. Hal itu membuat pulau ini terlihat jadi lebih besar. Hanya ada satu bangunan yang membuat Mario ingat bahwa mereka berada di pulau paling jauh dari Taman Nasional Bunaken.


"Apa masih jauh, Pak?" tanya Nafita sudah sangat tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan Mario.


"Sebentar lagi, Bu." hanya itu jawaban dari team sar.


~**~


"Kenapa Tuan Putri Nafita sangat lama? Kita harus cepat-cepat menyelamatkan Tuan Putri Gifyka." celetuk salah satu kurcaci hijau.


"Sabarlah, mereka sedang menuju ke sini." Yoga mencoba menjelaskan meski dirinya belum terlalu akrab dengan kelima kurcaci itu.


"Tuan Putri Nafita datang!" seru kurcaci merah dengan gembira.


"Mana?" Mario ikut menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Nafita dan Yudha.


"Mereka masih berjarak beberapa ratus meter dari sini. Tapi aku sudah bisa mencium aromanya." jelas sang kurcaci merah.


"Mereka semakin dekat." lagi, kurcaci kuning menyahut.


Kelima kurcaci itu membenahi pakaian serta aksesoris yang mereka pakai. Bahkan mereka juga membereskan keranjang makanan dengan serapi mungkin. Tak selang lama, mereka berdiri saling berhadapan, tapi kurcaci merah berdiri di tengah-tengah dan sedikit maju dari keempat kurcaci yang berdiri berhadapan.


"Kalian mau apa?" tanya Mario heran.


"Kami akan menyambut kedatangan Tuan Putri Nafita." jawab kurcaci ungu.


Benar, tak selang lama datanglah beberapa team sar diikuti Yudha dan Nafita.


"Selamat datang dan selamat berjumpa lagi dengan kami, Tuan Putri Nafita." sambut kelima kurcaci tadi dipandu oleh kurcaci merah.


Nafita merasa haru mendapat sambutan dari kelima kurcaci yang dulu pernah menolongnya ketika dilempar oleh Ortofus dari kerajaan kayangan.


"Kalian ternyata ada di sini?" Nafita mendekat dan mensejajarkan tubuhnya setinggi tubuh para kurcaci itu.


Tak kuasa menahan haru, Nafita merentangkan kedua tangannya supaya kelima kurcaci yang lucu-lucu itu datang dan menghambur ke pelukannya.


Mario, Yudha, Yoga dan para team sar seperti sedang menonton acara teletubbies reunian. Mereka saling berpelukan dan saling menyalurkan rasa rindu. Di tengah-tengah keharuan mereka, tiba-tiba kurcaci hijau lebih dulu melepaskan pelukan di antara mereka.


"Kita harus ke kerajaan kurcaci sekarang juga Tuan Putri. Harus secepatnya kita menyelamatkan Tuan Putri Gifyka sebelum Raja Ortofus murka karena Tuan Putri Gifyka tidak mau menuruti kemauannya." ujar kurcaci hijau menggebu-gebu.


"Ya, kita harus segera menyelesaikan masalah ini." kurcaci biru pun menjadi sangat semangat untuk menyelamatkan Gifyka.


Para team sar hampir tidak percaya bahwa mereka benar-benar melihat kurcaci menggunakan mata kepala mereka sendiri secara live. Bahkan yang membuat mereka tambah tidak percaya, keluarga yang meminta pertolongan kepada team sar adalah keluarga keturunan seorang Raja kayangan. Ini terasa mustahil tapi nyata.


Tanpa mau berlama-lama lagi, akhirnya Mario, Nafita dan Yudha ikut menjadi satu perahu bersama kelima kurcaci tadi. Sedangkan Yoga tetap ikut tapi bersama dengan para team sar yang tersisa. Karena beberapa team sar lainnya sudah kembali ke darat untuk membawa keempat mayat yang tadi mereka temukan di beberapa tempat.


~**~


Mario, Yudha, Yoga dan ketiga team sar yang tersisa merasa terkagum-kagum ketika mereka memasuki kerajaan kurcaci. Mereka pikir kerajaan kurcaci itu akan berbentuk kecil dan sempit karena ukuran tubuh mereka yang kecil. Tapi nyatanya tidak, cukup untuk dimasuki oleh manusia seukuran mereka. Banyak sekali hiasan di sana-sini. Tumbuh-tumbuhan dari bunga, buah-buahan, rempah-rempah dan sayuran pun ada semua. Dan lebih menakjubkannya lagi, semua buah-buahan itu boleh dimakan oleh setiap pengunjung yang datang ke kerajaan kurcaci.


"Hey kurcaci, apa aku boleh memakan ini? Percayalah, aku sangat lapar." Mario memegangi buah apel berwarna merah yang menggantung di sebuah pohon bagian kiri berdampingan dengan pohon per.


"Makanlah manusia hitam, apa pun yang kamu inginkan makanlah." jawab salah seorang kurcaci yang membuat Mario sedikit kesal karena dipanggil hitam. Tapi kekesalannya tak berlangsung lama.


Mendengar semua buah itu boleh dia makan sampai sepuasnya membuat Mario senang. Tak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk berfikir, Mario langsung memetik buah-buahan yang dia inginkan dan memakannya secara lahap.


Tidak ada yang mau menegur atau mengejek, mereka tahu bahwa Mario sangat kelaparan. Berhari-hari berada di dalam hutan tanpa makanan dan tenaganya pasti habis dia pakai untuk berlari menghindari serangan dari kerajaan Laxymuse.


"Apa senjata yang kita siapkan sejak dulu sudah bisa digunakan?" suara Nafita memecah keheningan.


"Ya, semua sudah siap untuk digunakan Tuan Putri. Kita tinggal mempersiapkannya saja." kelima kurcaci itu menganggukkan kepalanya secara serempak.


"Baik kalau begitu, mari kita siapkan semua senjatanya."


~**~


"Argh... Lepaskan aku tua bangka!" teriak Gifyka tak terima jika dirinya harus diikat di sebuah kursi empuk oleh prajurit kerajaan Laxymuse.


"Tenang cucuku, aku tidak akan menyakitimu. Kamu akan mewarisi seluruh kerajaanku, kamu itu pemimpin masa depan yang sudah aku siapkan sejak dulu." Ortofus berusaha menenangkan Gifyka.


Sebenarnya Ortofus memang tidak ingin membuat cucunya ketakutan atas kenyataan yang dia terima kali ini. Sang Raja berusaha memperlakukan Gifyka sebaik mungkin. Memberikan makanan layaknya manusia bumi. Memberikan pakaian ganti seperti apa yang sering Gifyka pakai. Tapi entah kenapa cucunya itu masih merasa takut dan tidak mau menerimanya sebagai kakek.


"Aku bukan cucumu!" Gifyka berusaha keras melepaskan ikatan pada tangannya, tapi gagal. Tenaganya tak sekuat ikatan tali di kerajaan ini.


"Tenanglah, aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya terbang, menghilang, berlari di atas air dan udara, berubah menjadi sebuah bola. Aku akan memberikan teknik perang melawan musuh, mempertahankan diri ketika berada di sebuah keadaan berbahaya." Ortofus berusaha menjelaskan.


"Aku tak butuh itu semua! Aku ingin pulang!"


"Aku yakin, Mamamu akan datang ke sini untuk berusaha menjemputmu." memang itu yang Ortofus inginkan. Nafita kembali ke kerajaan dan meninggalkan bumi. Sedangkan Gifyka menjadi pemimpin bagi kerajaan Ortofus untuk menggantikan posisinya.


Dada Gifyka naik turun sendiri melihat tingkah laku Ortofus. Gifyka sangat berharap bahwa apa yang dikatakan oleh Ortofus barusan itu benar. Nafita akan datang ke kerajaan dan menyelamatkannya. Berada di tempat seperti ini membuat Gifyka bosan dan sangat tidak nyaman.


~**~


To Be Continue...