Future and True Love

Future and True Love
48. Dewa dan Iblis



Gifyka sedikit ketakutan usai kejadian di mall tadi yang melibatkan seorang anak kecil dan sepertinya perempuan tadi ada kaitannya dengan kejadian yang tadi Gifyka lihat.


Gadis itu terus saja mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa gelisah dan takut. Kepalanya menengok jam dinding, ternyata sudah pukul delapan malam.


Niat Gifyka tadi ingin mencoba lucid dream lagi, tapi pikirannya sedang kacau dan tidak bisa dikendalikan. Jadi mana mungkin Gifyka berhasil dalam mencoba lucid dream.


"Sudah kubilang jangan ikut campur dengan urusanku." suara seorang perempuan menggema di dalam kamar Gifyka tiba-tiba.


Tentu saja, hal itu membuat sang pemilik ruangan kaget tiada tara. Gifyka membalikkan badan, ternyata ada seorang perempuan yang duduk di atas ranjangnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Gifyka heran, dari mana perempuan itu masuk ke dalam kamarnya? Padahal Gifyka ingat betul jika pintu kamarnya tadi dia kunci rapat-rapat agar tidak ada yang masuk. Perempuan yang ada di dalam kamar Gifyka itu sama dengan perempuan yang mendatangi Gifyka di toilet mall tadi.


"Siapa kamu?" tanya Gifyka tidak takut.


Gifyka tahu jika perempuan yang ada di dalam kamarnya itu bukan manusia biasa. Entah dia siluman, atau mahkluk astral lainnya.


Perempuan itu berdiri, masih dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada. Terlihat jelas jika di wajahnya memancarkan aura kemarahan.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah ganggu urusanku." ujarnya ketika sudah sampai di depan wajah Gifyka.


"Aku tidak pernah ikut campur dalam urusanmu." tantang Gifyka merasa dirinya tidak salah.


"Lancang kamu sudah ikut campur!" perempuan tadi mencekik leher Gifyka.


"Lep-as..." Gifyka berusaha mendorong perempuan itu tapi tenaganya benar-benar kuat sekali.


Gifyka sudah kesulitan bernapas, jika diteruskan maka lama-lama nyawanya bisa menghilang. Berulang kali Gifyka memukul tangan perempuan itu sekuat mungkin tapi tetap saja tidak terlepas.


Tubuh Gifyka tersurung ke belakang hingga menempel pada tembok. Gadis itu sampai terbatuk-batuk karena cekikan di lehernya tak kunjung mengendur.


"Lepaskan!" sentak seorang laki-laki yang baru datang.


Gifyka bernapas lega ketika tangan perempuan tadi terlepas dari lehernya. Sebisa mungkin Gifyka mengatur napasnya, dia juga masih terbatuk-batuk karena cekikan tadi.


"Jangan ikut campur urusanku!" seru sang perempuan jahat yang mencekik Gifyka.


Gifyka melihat ada satu perempuan dan satu orang laki-laki asing di kamarnya. Perempuan memakai baju kotak-kotak seperti catur dan laki-laki yang baru datang memakai pakaian serba putih. Gifyka tidak tahu dari mana mereka datangnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Tuan Putri Gifyka." ujar sang laki-laki yang memakai pakaian serba putih.


Gifyka masih menetralkan kesadarannya, perlahan napasnya mulai membaik dan dia bisa mengontrol rasa sakit di lehernya akibat cekikan tadi.


"Kalian siapa?" tanya Gifyka sambil memandang dua mahkluk asing di depannya.


"Aku tidak akan tinggal diam jika dia ikut campur dengan urusanku lagi." si perempuan baju kotak-kotak langsung menghilang begitu saja.


Sekarang tinggallah laki-laki yang serba putih. Laki-laki itu memandang Gifyka dengan penuh senyuman manis.


"Hallo Tuan Putri, kita akhirnya bertemu juga." ujar laki-laki tampan itu penuh hormat.


"Kamu siapa?" tanya Gifyka heran.


"Tuan Putri bisa memanggilku Venus. Aku adalah Dewa yang diutus oleh Tuhan untuk menjagamu selama di Bumi." ujarnya ramah.


"Dewa? Lalu jika kamu diutus oleh Tuhan untuk menjagaku, kenapa kamu baru muncul sekarang?" Gifyka memilih berjalan ke arah kulkas dalam kamarnya dan mengambil minuman agar tenggorokannya terasa dingin.


Tak lupa, Gifyka juga menawarkan pada Dewa Venus. Barangkali Dewa itu juga ingin minuman yang ada di Bumi.


"Aku akan muncul setelah Tuan Putri melakukan tiga kebaikan menggunakan kekuatan yang sudah diberikan oleh Raja Ortofus dari kerajaan Laxymuse yang ada di khayangan. Kejadian di mall tadi adalah kebaikan Tuan Putri yang ketiga, maka aku otomatis datang di saat Tuan Putri dalam bahaya." ujar Dewa Venus detail.


"Lalu siapa perempuan tadi?" tanya Gifyka penasaran pada perempuan yang tadi mencekiknya.


"Dia adalah iblis yang sering diperintahkan oleh Raja iblis untuk mencari darah anak kecil."


"Untuk apa?"


"Untuk persembahan kepada Rajanya, seluruh iblis memiliki pekerjaannya masing-masing yang diperintahkan Raja. Salah satunya adalah membuat manusia mati dalam kecelakaan. Darahnya akan diminum untuk keabadian iblis dan rohnya akan diperbudak oleh Raja iblis nantinya."


Gifyka sudah mulai paham sekarang kenapa perempuan yang mencekiknya tadi marah padanya.


"Aku mengerti, perempuan tadi mencekikku karena dia kesal aku menolong anak yang terjebak di eskalator mall tadi siang bukan?" tebak Gifyka.


Dewa Venus mengangguk, dia masih berdiri berhadapan dengan Gifyka. Hanya bedanya, Gifyka sekarang duduk di atas ranjang.


"Tanggal kematian anak tadi belum sampai, jika dia mati dalam eskalator tadi yang ada dia akan terjebak di kerajaan iblis."


"Lalu tindakanku tadi itu artinya benar?"


"Tepat sekali Tuan Putri, tindakan yang Tuan Putri lakukan tadi itu adalah bagian dari kebaikan."


Gifyka kembali meminum air mineral dari botol di tangannya. Dia masih tebayang kejadian tadi siang saat di eskalator.


"Lalu, bagaimana caramu menjagaku? Apa kamu akan bersamaku terus?" tanya Gifyka sedikit aneh.


Dewa Venus menggelengkan kepalanya. Dia terkekeh melihat Gifyka seperti geli padanya jika memikirkan Dewa Venus akan mengikuti Gifyka setiap hari. Mahkluk itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Ambil ini, jika kamu ingin memanggilku cukup panggil namaku sekali saja sambil memandangi batu giok itu dengan serius. Tapi jika kamu dalam bahaya, aku akan datang tanpa dipanggil." Dewa Venus memberikan satu kalung berbandul giok berkilau nan cantik.


"Kenapa giok ini sangat cantik?" tanya Gifyka sambil memandangi giok di tangannya.


"Itu giok yang aku bawa langsung dari Surga, tentunya tidak ada di Bumi."


"Terima kasih."


Kepala Dewa Venus mengangguk sambil tersenyum manis memandang Gifyka.


"Aku harus pergi sekarang." ujar Dewa Venus sudah akan bersiap pergi.


"Tunggu!" pekik Gifyka membuat Dewa Venus menghentikan niatnya.


"Ada apa lagi, Tuan Putri?"


"Apa iblis itu tidak akan datang lagi ke sini, aku takut dia mencekikku saat aku tidur." ujar Gifyka yang benar-benar takut.


"Iblis itu tidak akan datang dalam waktu dekat. Aku yakin jika dia sedang dihukum oleh Raja iblis karena misinya yang gagal tadi siang."


Kepala Gifyka mengangguk-angguk mengerti. Dia merasa sedikit tenang mendengarnya.


"Lagi pula kalung giok itu akan melindungimu dari serangan iblis, jangan hilangkan kalung itu."


"Ya, terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang." ujar Gifyka.


Dewa Venus langsung menghilang. Gifyka memakai kalung itu lalu membaringkan badannya. Tangannya tidak berhenti memainkan giok tersebut. Dirinya berpikir besok akan bercerita pada Mario karena dia tidak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka. Gifyka tidak mau jika Mario menganggapnya selingkuh.


***


Next...