Future and True Love

Future and True Love
58. Dreaming



Yudha dan Nafita kini mereka sedang berada di sebuah mobil menuju pantai di mana Gifyka memiliki rumah pohon yang diberikan Mario sebelum lelaki itu meninggal. Tentu saja Nafita cemas akan keadaan putrinya satu itu. Dia takut Gifyka akan melakukan hal-hal aneh di rumah pohon. Karena di atas dia sendirian tanpa sepengawasan.


Gifyka akan marah dan menangis jika ada orang lain berdiam di rumah pohonnya. Terkecuali orang itu adalah mereka yang mengantar makanan. Itu pun terkadang Gifyka tidak mau membukakan pintu yang ada di lantai agar petugas bisa naik jika Gifyka tidak merasa lapar.


Nafita sudah mewanti-wanti agar dua bodyguard yang Yudha bayar untuk mengawasi Gifyka selalu memeriksa rumah pohon. Mereka harus memastikan tidak ada benda tajam di sana. Tentu saja pemeriksaan itu dilakukan saat Gifyka tidak ada di rumah pohon.


"Mama tenang sedikit coba, Papa jadi ikut gelisah ini sambil nyetir." Yudha bersuara akhirnya.


"Bagaimana mau tenang Pa, Gifyka sudah tidak mau pulang selama satu minggu. Mama khawatir sama keadaannya." Nafita tidak bisa membohongi apa yang dia rasakan.


Yudha hanya diam, dia tahu bagaimana perasaan istrinya sekarang. Siapa yang tidak khawatir jika mengingat putrinya mengalami depresi berat.


Sekarang tidak ada lagi suara di antara mereka. Nafita sibuk berdoa untuk kesehatan dan keselamatan putrinya. Sedangkan Yudha lebih memilih fokus pada jalanan agar mereka selamat sampai tujuan.


***


Gifyka terbangun dari tidurnya, dia tersenyum mengingat kejadian semalam bersama Mario. Tangannya meraba dada bagian kirinya, kata-kata Mario sungguh membuatnya mabuk kepayang.


Gadis itu mengganti posisi menjadi duduk, kenangan manis semalam terus mengisi rongga otaknya. Hatinya sedang berbunga-bunga. Dia melihat jam beker, ternyata sudah pukul delapan dini hari. Gifyka berdiri dan berniat mengganti pakaian dengan yang bersih.


"Aw..." ringis Gifyka seketika.


Wajah gadis itu berubah menjadi senang dan tersenyum sangat lebar. Perlakuan manis Mario di atas ranjang sempit itu semalam membuatnya bahagia. Gifyka tidak marah atau kesal atas nyeri yang dia dapatkan dari permainan sentuh menyentuh yang Mario tawarkan.


"Akhirnya aku menjadi seorang istri untuk Mario. Cepat tumbuh di rahim Mama ya, biar Papa semakin sayang sama Mama." secara sadar, Gifyka mengusap perut bagian bawahnya yang semalam terasa menghangat berulang kali oleh cairan lengket yang keluar dari tubuh Mario.


Perasaan senangnya semakin saja membuncah tiada tara jika Gifyka kembali teringat bahwa dirinya sudah berhasil memberikan hal paling berharganya untuk sang suami tercinta. Kejadian semalam lah yang sangat Gifyka nantikan selama ini. Memainkan sebuah permainan menyenangkan sekaligus berusaha menjadi wanita yang akan mengandung darah daging Mario.


Tok! Tok! Tok!


Gifyka mendengar ada suara pintu diketuk dari bawah. Dia pikir itu adalah petugas pengantar makanan. Karena merasa lapar, akhirnya Gifyka membukakan pintunya.


Dari atas bisa Gifyka lihat jika yang datang bukanlah petugas pengantar makanan, tapi Nafita. Senyuman merekah di wajah keduanya. Cepat-cepat Nafita melanjutkan memanjat tangga pohon dan masuk ke rumah pohon putrinya.


Gifyka kembali menutup pintu itu saat beberapa menit menunggu Yudha tapi tak kunjung menyusul juga. Dilihatnya sang Mama sudah duduk di atas ranjang sempit tempat Gifyka pertama kali melayani Mario semalam.


"Mama kenapa ke sini?" tanya Gifyka lirih, dia duduk di samping Nafita sekarang.


Tangan lembut Nafita membelai rambut panjang anak gadisnya. Dia tidak boleh menangis di depan Gifyka. Sebisa mungkin wanita paruh baya itu mengembangkan senyuman termanisnya sekarang.


"Kamu baik-baik saja sayang?"


"Baik kok Ma, apalagi selama ini Mario selalu menjaga aku dengan baik." wajah Gifyka berbinar-binar ketika membicarakan Mario.


"Lalu mana Mario sekarang sayang?" jari-jari Nafita tidak bisa behenti merapikan rambut panjang putrinya.


"Aku baru saja bangun Ma, jelas Mario sudah berangkat ke kantor. Sekarang sudah jam setengah sembilan." Gifyka menunjuk jam beker di atas meja kecil dekat ranjang.


"Kamu pasti belum makan kan, sekarang kamu ganti baju lalu ikut Mama makan ya. Kita pulang ke rumah sayang." Nafita berusaha membujuk secara perlahan.


"Tapi kalau aku pulang, nanti teman-temanku bagaimana? Mereka bilang kalau hari ini mereka akan bermain lagi ke sini." desah Gifyka sedih.


"Teman-teman yang mana? Kalau mereka mau main, kamu kan bisa kasih alamat rumah."


"Kok Mama malah nanya teman-temanku yang mana sih, mereka kan sudah sering ka rumah."


"Siapa sayang?" Nafita was-was menunggu jawaban Gifyka.


"Ish... Mama ini bagaimana, ya Alvino, Afriel, Viara sama Azriela teman-temanku." Gifyka mendengus, dia sedikit kesal pada sang Mama.


Dada Nafita sesak seketika, dia sudah menduga jika nama itu yang akan disebutkan oleh Gifyka. Nafita sudah berkonsultasi dengan psikiater yang dulu menangani Gifyka saat gadis itu depresi usai kematian keempat temannya.


Hal yang didapatkan oleh Nafita adalah, Gifyka itu memang kembali depresi. Malah kali ini bisa dikatakan depresi sangat berat.


Meisya sampai pernah memeriksa kamar Gifyka. Psikolog itu menemukan banyak sekali buku tentang lucid dream. Meisya juga menemukan catatan Gifyka saat pertemuan dengan dosen di kampus yang membahas lucid dream.


Selesai menggeledah kamar Gifyka, Meisya simpulkan jika Gifyka mengalami lucid dream yang berulang kali. Karena tertindih oleh Depresi, akhirnya Gifyka tidak bisa membedakan antara halusinasi dan realita.


Gifyka akan terus berlucid kapan pun dia mau. Merancang mimpi-mimpi indah yang dia inginkan. Menghadirkan seseorang atau tempat yang tidak ada menjadi ada. Dan kebanyakan orang, pasti menginginkan sebuah mimpi yang menyenangkan. Jadi ketika Gifyka terbangun dari tidurnya, maka dia tidak akan bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan. Hal itu dinamaman halusinasi yang berkelanjutan dan sudah bisa dibilang sulit untuk disembuhkan.


"Ya biarkan saja mereka main ke rumah sayang. Hari ini kamu tidur di rumah ya."


"Tapi Mario, Ma. Aku takut pas dia pulang kerja nanti, aku enggak ada di sini."


"Biarkan Mario juga pulang ke rumah." Nafita sudah menahan emosinya sekarang.


"Tapi Mario bilang, dia ingin di sini saja bersama aku. Mama kan tahu kalau kami pengantin baru." tetap saja Gifyka masih berusaha agar tidak diajak pulang.


"Mama sama Papa tidak akan mengganggu waktu kalian sayang, Mama hanya ingin bertemu Mario yang kamu ceritakan saja. Mama juga kangen sama dia. Masa Mama enggak boleh sih bertemu menantu Mama sendiri."


Gifyka diam, dia seperti menimbang-nimbang permintaan Nafita. Tapi sedetik kemudian, kepala Gifyka menggeleng berulang kali.


"Mario tetap saja tidak ingin kita berdua diganggu dulu. Dia masih ingin honeymoon sama aku di sini." cengir Gifyka, dia memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Nafita menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. Sebisa mungkin Nafita menahan agar tidak meledak di rumah pohon ini. Bisa bahaya kalau sampai dirinya membentak atau marah pada Gifyka di sini. Dia harus mencari cara lain agar Gifyka mau turun dari rumah pohon.


Beda jauh dengan Gifyka, dia kembali mengingat sentuhan lembut nan menggelikan yang Mario berikan semalam di setiap inci tubuhnya. Gifyka ingin merasakannya lagi malam ini dan malam-malam seterusnya. Membuka lebar-lebar kedua kakinya untuk sang suami tercinta dan menjadi penampung muntahan cairan yang bakal menjadi benih di dalam rahimnya. Gifyka menyukai permainan baru itu, begitu menyenangkan.


***


Next...