Future and True Love

Future and True Love
51. Shappire Blue Gems



Gifyka menyiku pinggang Mario dengan tangannya. Berulang kali Gifyka melirik-lirik Mario yang hanya menunduk mendengarkan ceramah Nafita dari lima menit yang lalu.


Mereka baru saja pulang, lebih tepatnya Mario baru saja sampai di kediaman Angkasa untuk mengantar Gifyka pulang. Tapi sesampainya di rumah Yudha, mereka mendapat semprot dari Nafita.


"Fita, kalau kamu terus mengomel maka kapan mereka akan pergi ke toko emas?" sela Calleys sebelum Nafita melanjutkan ocehannya lagi.


Gifyka sedikit bernapas lega, karena Nafita tidak lagi melanjutkan ultimatumnya di malam hari. Calleys mengedipkan sebelah matanya ke arah Gifyka sekilas.


"Iya benar apa kata Nenek, Ma. Mendingan aku sama Mario langsung pergi saja sekarang." Gifyka ikut membuka suara.


Nafita menghela napas, dia mencoba meredam kekesalannya. Wanita paruh baya itu tidak marah pada sepasang kekasih ini, hanya saja Nafita kesal karena Gifyka dan Mario lupa membeli cincin pernikahan sampai sekarang.


"Ya sudah, kalian pergi beli cincin sekarang sana. Jangan malam-malam pulangnya." Nafita melunak.


"Maaf ya Tante, kalau begitu kami pergi dulu." Mario langsung menyalami tangan Nafita sembari nyengir kuda.


Gifyka pun melakukan hal yang sama, tak lupa mereka juga pamitan pada Calleys yang sedari tadi melihat Nafita mengeluarkan segala unek-uneknya.


"Makasih ya Nek, sudah bantuin barusan." bisik Gifyka di dekat telinga Calleys agar Nafita tidak mendengarnya.


Calleys hanya menganggukkan kepalanya sekilas sembari memberi kode dengan ekspresi wajahnya pada Gifyka. Tanpa lama-lama, Gifyka langsung menyusul Mario yang sudah menunggu di depan pintu utama.


"Kalian mau ke mana lagi?" Yudha melihat Gifyka dan Mario yang masih ada di depan rumah.


Nafita menyusul ke depan ketika mendengar suara Yudha menyapa. Benar saja, wanita paruh baya itu melihat suaminya baru pulang kerja. Langsung saja Nafita menyalami Yudha dan mengambil tas kerjanya.


"Mau ke toko perhiasan, Om." jawab Mario usai menyalami tangan Yudha.


"Loh, kalian belum beli cincin buat pernikahan kalian nanti? Papa kira kalian sudah beli." Yudha malah bertanya karena tidak tahu.


Gifyka nyengir kuda ke arah Yudha, dia menaikkan kedua jarinya ke atas membentuk huruf V.


"Lupa Pa, hehehe..." cengirnya.


"Kok bisa lupa, kalian ini bagaimana?"


"Mama juga, kenapa enggak menemani mereka membeli cincinnya?" Yudha ganti menatap Nafita.


"Mama sudah menawarkan untuk menemani dari seminggu yang lalu, Pa. Tapi mereka bilang mau beli berdua saja, tapi pas tadi Mama tanya katanya lupa." Nafita membela dirinya sendiri yang juga tidak mau disalahkan oleh Yudha.


"Kalian ini, ya sudah sana pergi." Yudha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat mereka berdua.


"Ya sudah, kami pergi dulu." pamit keduanya lalu menuju mobil milik Mario.


***


Gifyka jadi sedikit ngeri setiap kali melihat anak kecil berjalan sendiri ketika di eskalator. Bukan trauma, tapi dia takut kejadian siang itu terulang lagi.


"Aw..." ringis seorang anak kecil yang tersenggol oleh bapak-bapak yang berjalan cepat.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya sang ibu.


"Enggak kok, Ma." gadis kecil tadi menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Hati-hati ya." Gifyka refleks memegang tangan sebelah gadis kecil tadi ketika sudah sampai lantai atas.


"Makasih Kakak." ujar ibu dari sang anak tadi.


"Sama-sama, Bu." balas Gifyka.


Mario sedari tadi jelas berada di samping Gifyka. Mereka berdua kini berjalan menuju toko perhiasan yang ada di lantai lima. Tempatnya memang lumayan jauh dari eskalator tadi.


"Mau cincin yang kayak gimana, Yo?" Gifyka jadi bingung sendiri.


Mario mengedarkan pandangannya mencari toko perhiasan. Tak jauh dari tempat mereka, ada beberapa toko perhiasan yang berderet-deret. Langsung saja Mario menarik tangan Gifyka ke arah sana.


"Aku juga enggak tahu, kita lihat saja nanti pas sudah sampai sana."


"Toko perhiasan Venus." Gifyka membaca nama toko yang Mario pilih.


Mereka berjalan masuk ke dalam toko tersebut. Beberapa pelayan langsung menyambut ramah sepasang kekasih ini.


"Astaga!" Gifyka kaget ketika ada Dewa Venus yang berdiri di depannya.


"Fy, kamu kenapa?" Mario jadi heran sendiri melihat reaksi Gifyka barusan.


"Tuan Putri ada apa memanggilku?" tanya Dewa Venus pada Gifyka.


Gifyka jadi bingung sendiri, dia tidak tahu kenapa Dewa Venus bisa ada di sana tiba-tiba.


"Gifyka, kamu kenapa?" tanya Mario lagi.


"Ah... Enggak, aku enggak kenapa-napa." sahut Gifyka sedikit terbata sambil menatap Dewa Venus.


"Kamu lihat apa sih, Fy?" Mario memegang wajah Gifyka agar menatapnya.


Gifyka masih saja gugup, dia tahu sekarang kalau Mario tidak bisa melihat Dewa Venus. Nyatanya lelaki itu bertanya dia kenapa.


"Kamu lihat ada sesuatu enggak di depan aku?" tanya Gifyka sambil tertawa sumbang.


Kening Mario mengerut, dia melihat ke sekitar dan tidak ada yang dia lihat selain penjaga toko perhiasan dan para pembeli yang ada.


"Aku enggak lihat apa-apa, kenapa memangnya?" Mario jadi penasaran sendiri.


"Tuan Putri dalam masalah?" Dewa Venus kembali bertanya.


Gifyka melirik-lirik Dewa Venus dan mengucapkan agar Dewa itu segera pergi. Tapi tentunya tidak dengan suara.


"Ayo lanjut milih cincin." Mario kembali menarik pergelangan tangan Gifyka menuju toko perhiasan dan ke bagian cincin pernikahan.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak, Mas?" tanya sang pelayan dengan ramahnya.


"Kami mau menikah Mbak, cincin untuk pernikahan yang mana ya?" tanya Mario.


"Oh... Ini semua cincin pernikahan Mas, bisa dipilih sendiri mau yang mana." pelayan tadi menunjukkan cincin khusus untuk pernikahan.


"Kamu pergi sekarang, aku tadi hanya membaca nama toko perhiasan saja." bisik Gifyka pada Dewa Venus yang berdiri di sebelahnya.


Jika ada yang melihat, maka sekarang Gifyka berada di tengah-tengah laki-laki. Di sebelah kirinya ada Mario dan sebelah kanannya ada Dewa Venus. Tapi karena mereka tidak bisa melihat Dewa Venus, maka mereka tahunya hanya Mario saja yang berdiri di sebelah Gifyka.


"Yakin tidak ada masalah?" tanya Dewa Venus lagi.


"Tidak ada, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bisa datang? Aku tidak melihat batu giok itu." tanya Gifyka penasaran.


"Aku tidak tahu, aku sedang tidur dan tiba-tiba mendengar Tuan Putri memanggilku maka aku langsung datang saja." ujar Dewa Venus.


"Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang. Maaf sudah mengganggu tidurmu."


Mario melihat Gifyka melihat ke arah kanan terus, dia heran dan penasaran.


"Fy, kamu lagi ngapain sih?" Mario menarik lengan Gifyka.


Gifyka kaget mendengar pertanyaan Mario, dia nyengir kuda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menghadap Mario.


"Enggak kok, tadi ada nyamuk aja di sebelah." cengir Gifyka.


Dewa Venus mencibir saat mendengar Gifyka menjawab jika dirinya dianggap nyamuk oleh Tuan Putrinya. Karena merasa sudah dipanggil, jadilah Dewa Venus tidak pergi. Dewa itu tetap berada di sebelah Gifyka.


"Ayo pilih cincinnya mau yang mana?" titah Mario.


Gifyka melihat cincin yang terpajang begitu cantik. Banyak sekali model-modelnya yang membuat Gifyka kebingungan.


"Ini keluaran terbarunya dari toko kami, Mbak." seorang pelayan lain datang dan menawarkan barang baru pada Gifyka.


Gifyka melihat cincin itu, terlihat sangat cantik dengan desain klasik serta diberi satu diamond di tengah-tengahnya.


"Bagaimana?" Gifyka mencoba cincin tadi di jarinya lalu memperlihatkan pada Mario.


"Cantik." kepala Mario mengangguk berulang kali mengakui jika cincin itu cantik melingkar di jari manis Gifyka.


Gifyka kembali melihat-lihat cincin itu di jari manisnya. Dia selalu saja teliti dalam segala hal yang ingin dia beli.


"Yang pojokan itu cantik, Tuan Putri." usul Dewa Venus sambil menunjuk pilihannya.


Kepala Gifyka menggeleng, tidak suka pada pilihan Dewa Venus. Menurut Gifyka itu terlalu kuno dan kolot.


"Tapi kalau dilihat-lihat, kebesaran di jari aku." Gifyka melepas cincin tadi dan mengembalikan kepada pelayan.


"Sebentar ya Mbak, saya pilih dulu." ujar Gifyka lanjut memilih.


"Boleh, Mbak."


Gifyka melihat-lihat, dirinya pusing karena banyak sekali pilihan di sana. Apalagi yang namanya emas putih lebih menggoda di mata Gifyka.


"Coba saya lihat yang di bawah nomor tiga sebelah sini, Mbak." Gifyka menunjuk cincin yang menurutnya bagus.


Pelayan tadi mengambilkannya, memberikan pada Gifyka dan membiarkan untuk mencobanya.


"Kalau Mbak-nya memilih cincin yang itu, kebetulan sekali itu adalah cincin limited edition yang hanya diproduksi dua seri dan dijual di Indonesia dan Swiss. Itu adalah cincin yang dirancang langsung oleh putra pemilik perusahaan diamond terbesar di Eropa dan Asia." sang pelayan tadi menjelaskan.


Gifyka terkagum-kagum akan penjelasan pelayan tadi. Dirinya tidak menyangka jika cincin pilihannya hanya ada dua seri saja. Jadi dia hanya memiliki satu kembaran dan itu di Swiss.


"Kamu suka enggak kalau aku pakai yang ini?" Gifyka kembali menunjukkan jari manisnya pada Mario.


"Pilihan kamu enggak pernah gagal, Fy. Aku suka, cantik." kepala Mario mengangguk berulang kali.


Gifyka suka cincin pilihannya, cincin itu tidak berbentuk seperti cincin. Tapi berbentuk seperti kue untir-untir yang melingkar dan dihiasi permata berwarna shappire.


Pandangan mata Gifyka tertuju pada bandrol yang tergantung pada cincin tersebut. Tertulis di sana harga cincin itu senilai 1,2 M. Gifyka menunjukkan harga itu pada Mario terlebih dahulu. Karena bagaimana pun juga Mario yang akan membelikannya.


"Ok, kami ambil cincin yang ini Mbak." Mario menganggukkan kepalanya lalu mengeluarkan dompet dan mengambil debit card-nya yang tanpa limit.


Gifyka benar-benar senang, karena Mario menuruti kemauannya untuk memilih cincin itu.


"Kamu ikhlas kan?" pandangan mata Gifyka mengarah pada Mario.


"Asal kamu senang, pasti aku lakukan sayang." Mario merangkul bahu Gifyka.


Dewa Venus hanya mencibir di sebelah Gifyka melihat kemesraan mereka berdua. Dia bahkan sampai tidak percaya kenapa manusia mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi cincin permata.


***


Next...