
Nafita, Yudha dan Calleys melongo ketika melihat boneka stitch yang begitu besar baru saja dimasukkan ke dalam rumah oleh para pekerja yang ada di rumah. Mereka hampir tidak percaya jika boneka itu milik Gifyka. Bahkan para maid pun sampai melongo menatapnya.
"Tante, tadi ada sedikit kejadian di lobby mall. Sepertinya Gifyka masih syok." Mario sedikit merasa bersalah pada keluarga Angkasa karena tidak bisa menjaga Gifyka dengan baik.
Sontak semua orang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Mario. Mereka langsung membawa Mario dan Gifyka ke ruang keluarga serta memberikan minum juga makanan ringan.
Mario menceritakan apa yang dia ketahui. Begitu pun Gifyka yang bercerita tentang apa yang dia alami tadi di lobby mall.
Keluarga Angkasa tidak menyalahkan Mario, karena itu memang sebuah kecelakaan. Lagi pula Gifyka juga selamat dan tidak terluka sedikit pun.
"Kalau begitu aku pulang dulu Om, Tante, Nek." Mario menyalami semua tangan para tetua sambil berpamitan.
Mario rasa ini juga sudah malam, sudah jam sepuluh teng dan dirinya harus segera pulang.
"Hati-hati ya di jalannya, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Yudha menepuk bahu Mario beberapa kali.
"Siap Om, permisi." Mario menatap Gifyka sebentar lalu pergi meninggalkan kediaman Angkasa.
Nafita mengusap-usap bahu Gifyka lalu mengajaknya ke kamar supaya anak gadisnya itu bisa langsung istirahat.
***
Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Gifyka masih kepikiran dengan perempuan berbaju kotak-kotak yang ada di dalam mobil sedan yang tadi berusaha menabraknya. Terlihat mirip dengan iblis yang menemuinya di toilet mall dan datang ke kamarnya kemarin malam.
Gifyka duduk di atas ranjangnya, tangannya meraba kalung yang dia pakai. Ada dua kalung di lehernya, kalung veromon dan kalung giok. Selama ini Gifyka tidak pernah sekali pun melepas kalung veromon pemberian dari Nafita.
Kepala Gifyka mengangguk, dia menjemur handuknya ke tempat biasa di dalam kamarnya lalu keluar kamar. Tujuan gadis itu sekarang adalah kamar Calleys. Gifyka harap neneknya itu belum terlelap.
Tok...! Tok...! Tok...!
"Nenek..." panggil Gifyka lirih.
Tidak ada sahutan dari dalam, Gifyka jadi ragu ingin mengganggu Calleys malam ini. Tangannya kembali mengetuk pintu kamar Calleys, tapi tidak ada sahutan juga.
"Nek, sudah tidur?" tanya Gifyka pelan.
Merasa tidak ada respon dari Calleys, akhirnya Gifyka putuskan untuk balik kanan menuju kamarnya lagi. Mungkin besok dirinya bisa meminta waktu Calleys sebentar.
"Fy, ada apa?" suara Calleys terdengar.
Gifyka menghentikan langkahnya ketika mendengar suara sang nenek. Wajahnya mengukir sebuah senyum. Cepat-cepat Gifyka membalikkan badan dan berjalan menuju Calleys.
"Nenek belum tidur?" tanya Gifyka basa-basi.
Calleys mengusap rambut panjang Gifyka, wanita paruh baya itu tersenyum menatap sang cucu. Satu-satunya cucu yang dia miliki dan dia sayang.
"Kamu kenapa enggak langsung masuk saja tadi?" Calleys mengajak Gifyka masuk ke kamarnya.
"Hehehe... Aku pikir, Nenek sudah tidur."
"Nenek habis dari kamar mandi, makanya lama jawabnya."
Kedua wanita beda generasi itu sudah duduk di atas ranjang dan saling berdekatan. Sedari tadi Calleys tidak berhenti mengusap rambut panjang Gifyka. Dia tahu jika ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan oleh Gifyka padanya. Kalau tidak, mana mungkin cucunya itu menghampinya hampir tengah malam seperti ini.
Calleys berdiri, dia mengambil handuk dan mengeringkan rambut cucunya yang masih basah. Gifyka jadi merasa tidak enak harus merepotkan Calleys malam-malam begini. Padahal harusnya wanita paruh baya itu sudah tidur dan beristirahat.
"Aku ke kamar saja Nek, besok saja aku ceritanya." Gifyka memegang tangan Calleys, menghentikan pergerakan tangan wanita paruh baya itu.
"Sekarang saja, mumpung Nenek ada waktu. Besok Nenek mau pergi, menjenguk Kakek." ujar Calleys.
Gifyka sedikit bingung akan perkataan Calleys. Bukankah Raja Ortofus sudah musnah, tapi kenapa Calleys ingin menjenguk Raja Ortofus.
"Ke mana Nenek akan menjenguk Kakek?" tanya Gifyka penasaran.
Gifyka mengerti, mungkin kerajaan Laxymuse itu tepat berada di langit atas Pulau Bunaken. Semua kejadian berada di sana, jadi mungkin memang benar.
"Nenek dengan siapa?"
"Sendiri saja. Nenek tidak akan lama, hanya tiga hari di sana. Karena Nenek juga ingin segera pulang dan melihat cucu Nenek yang satu ini menikah dengan Mario."
Gifyka tersipu mendengar jika dirinya sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Hanya tinggal dua minggu lagi, besok akan dilakukan foto prewedding.
"Nenek harus ada di hari pernikahanku nanti, jangan sampai Nenek belum pulang. Aku bisa marah besar ke Nenek."
"Tentu saja."
Mereka kembali terdiam untuk waktu lumayan lama. Gifyka bingung untuk memulainya dari mana.
"Apa yang mau kamu bicarakan ke Nenek, Fy?" akhirnya Calleys memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu.
***
"Aku tidak ada urusan denganmu!" marah sang iblis sambil menatap Dewa Venus tajam.
Di kedua mata iblis itu terpancar sebuah kemarahan. Matanya memerah menyalakan api membara yang seolah siap membakar siapa saja.
Dewa Venus tidak terima jika Gifyka diganggu oleh iblis itu. Apa pun dan siapa pun yang mengganggu Gifyka, maka Dewa Venus tidak bisa diam saja.
"Jangan ganggu Tuan Putriku." balas Dewa Venus tanpa membentak balik.
Seorang Dewa tentunya harus menjaga emosinya jika tidak ingin dihukum oleh Tuhan. Lagi pula semua Dewa pastilah memiliki hati yang baik, kecuali jika dia mengingkari Tuhannya dan siap diusir dari Surga.
"Hahaha... Bilang pada Tuhanmu, jika tugasku memang untuk mengganggu manusia bumi." kekeh sang iblis.
"Tapi orang yang kamu ganggu itu tidak memiliki salah apa pun. Dia hanya berusaha menyelamatkan nyawa anak kecil yang hari kematiannya belum sampai. Lagi pula, aku tidak tega melihat para anak kecil diperbudak di kerajaan iblis." Dewa Venus membalas tatapan iblis yang begitu tajam.
"Tentu dia mengganggu tugasku! Harusnya anak kecil itu akan aku persembahkan ke Raja iblis di hari kemarin agar aku tetap bisa abadi, tapi gadis itu mengacaukan segalanya dan membuatku dihukum oleh Raja iblis!" ujarnya penuh emosi.
Dewa Venus dan iblis tadi sekarang sedang berada di sebuah tempat sepi tengah hutan. Tidak ada siapa-siapa di sana kecuali para binatang dan tumbuhan yang mulai berisik ketakutan karena melihat Dewa dan iblis bertengkar.
"Lalu apa maumu?"
"Nyawa harus dibayar nyawa! Dia sudah menyelamatkan mangsaku, jadi dia harus menggantikannya!" ujar iblis menggebu-gebu.
"Jangan pernah sentuh Tuan Putriku, kalau kamu tidak mau Tuhan marah." Dewa Venus hanya memperingati iblis tersebut.
"Persetan dengan hal itu! Aku tidak akan memaafkan gadis itu!"
Wusss...!
Dewa Venus kaget saat melihat iblis menyerbunya dengan semburan api dari mulutnya. Untung saja Dewa Venus bisa menghindar, tapi kalau tidak pun Dewa Venus tidak akan kenapa-napa karena Tuhan selalu melindunginya.
"Aku tidak mau bertengkar atau bahkan berkelahi denganmu. Yang jelas, aku tidak mau lagi melihatmu mengganggu Tuan Putriku."
Dewa Venus langsung pergi begitu saja, dia memilih terbang menggunakan sayapnya. Ini bukan tindakan melarikan diri seperti seorang pengecut, tapi ini cara agar tidak semakin memperkeruh keadaan. Lagi pula mana mungkin Dewa berkelahi. Tugasnya dari Tuhan adalah dalam segi kebaikan, dan berkelahi itu bukan bagian dari kebaikan karena bisa melukai orang lain.
"Ya...! Dewa pengecut! Bisanya hanya lari saja!" seru iblis merasa kesal karena Dewa Venus langsung saja pergi.
Inilah sifat iblis, penuh akan emosi dan tidak bisa berdamai. Iblis itu masih kesal karena gagal mencelakai Gifyka.
"Argh...!" teriak iblis untuk meluapkan kekesalannya.
***
Next...