
Kedua insan yang menyandang status sebagai sepasang kekasih itu masih asik berdiam diri di sekitar area taman milik kediaman Angkasa. Mario pun seolah enggan untuk pulang meninggalkan Gifyka sendirian.
Gifyka sendiri terasa nyaman berada dalam pelukan Mario. Sedari tadi dia menyandarkan kepalanya ke dada bidang tunangannya, rasanya begitu hangat dan nyaman. Gifyka pastikan, setelah mereka menikah nanti dirinya tidak akan mau lepas dari pelukan Mario sepanjang malam.
"Malam ini penuh dengan bintang-bintang bertaburan di langit bebas, Fy." ujar Mario sambil memandang ke langit gelap.
Gifyka mengikuti arah pandang Mario, benar sekali yang dikatakan tunangannya itu jika di langit terdapat banyak sekali bintang bertaburan. Ingatan Gifyka jadi berputar pada malam dirinya masih bersama keempat temannya yang lain di dekat salah satu pulau yang ada di Bunaken. Saat itu mereka sama-sama meminta harapan agar semuanya selamat sambil menatap langit malam.
"Hey... Kenapa kamu diam?" Mario menyenggol lengan Gifyka dengan tangannya yang dijadikan bantalan oleh Gifyka.
"Aku hanya teringat kenangan kita pas yang lain masih ada. Terakhir kali kita lihat langit itu saat kita masih di Bunaken dan berada dalam kejaran mahkluk kahyangan suruhan Kakek." desah Gifyka, dia tidak tahu bagaimana caranya lupa akan setiap ingatan-ingatan itu dengan teman-temannya.
Mario menarik Gifyka ke dalam pelukannya, dia berusaha bisa memberikan ketenangan untuk sang kekasih hati. Lagi pula Mario tidak tahu harus melakukan apa selain ini untuk Gifyka.
"Syut... Mereka ada di atas sana, di antara banyak bintang bertaburan menghiasi langit malam yang indah nan tenang." Mario hanya mampu mengatakan hal demikian.
Jujur saja, Mario juga ingat kepada keempat temannya jika sedang melakukan aktivitas apa pun yang dulunya berhubungan dengan mereka. Dan hampir semua yang Mario dan Gifyka lakukan, ada hubungannya dengan mereka. Karena mereka sudah berteman sedari lama dan selalu melakukan banyak aktivitas bersama.
"Yah... Mereka ada di antara banyak bintang di atas sana. Mereka tetap memancarkan cahaya paling terang untuk menerangi kita di sini." kepala Gifyka mengangguk mengiyakan.
Udara malam tidak membuat mereka bosan berada di taman karena kedinginan. Bagi Gifyka, dinginnya malam ini belum sedingin dengan malam di mana dirinya, Mario beserta keempat temannya yang sudah meninggal berada di Pulau Bunaken yang ada di Manado.
"Kita hanya terpisah oleh jarak, tapi kita masih bisa bersama meski kita tidak bisa saling berdekatan." Gifyka terkekeh pelan, dia tidak ingin menangis lagi untuk mengenang mereka.
Berulang kali Mario mengusap-usap bahu Gifyka yang sedari tadi bersandar padanya.
"Jangan pergi Mario, jangan pernah tinggalkan aku sendirian di sini." ujar Gifyka tiba-tiba.
Gadis itu bangun dari sandarannya, dia merapikan rambut panjangnya sebentar yang acak-acakan karena tergesek terus-terusan. Mario sendiri heran, kenapa Gifyka tiba-tiba berkata demikian.
Gadis itu membenahi duduknya, membuat ayunan yang mereka duduki jadi bergoyang lebih kencang. Gifyka berhasil duduk menghadap ke arah Mario.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Mario." ujar Gifyka penuh harap.
Mario terkekeh, dia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Gifyka kali ini. Tangan Mario terulur ke wajah Gifyka, dia mengusap anak rambut Gifyka berulang kali sambil tersenyum.
"Memangnya aku akan pergi ke mana? Aku selalu di sini menemanimu." sahut Mario lembut.
Gifyka menarik tangan Mario yang sibuk mengusap rambutnya sedari beberapa menit yang lalu. Tangan kekar itu kini sudah digenggam oleh Gifyka, terasa begitu hangat.
"Aku hanya takut saja jika nanti tiba-tiba kamu pergi meninggalkan aku di sini sendirian. Aku enggak mau kehilangan kamu, cukup mereka yang meninggalkanku." tatapan kedua mata Gifyka terlihat begitu sendu.
"Jangan takut Gifyka, aku selalu di sampingmu. Aku selalu di sisimu dan aku selalu di hatimu. Selamanya akan tetap begitu, Mario hanya milik Gifyka." kali ini Mario memegang kedua bahu Gifyka dan memandang wajah ayu milik tunangannya lekat-lekat.
"Kita buat perjanjian." usul Gifyka tiba-tiba.
"Perjanjian apa?" Mario jadi bingung sendiri, tapi sepertinya Gifyka benar-benar takut kehilangannya.
"Di bawah langit berbintang ini, aku janji akan hidup untuk Mario dan jika aku mati maka akan hidup kembali untuk Mario meski nanti kita terlahir sebagai orang lain." ujar Gifyka sambil memandang langit lepas.
Mario tertawa mendengar apa yang diikatkan oleh Gifyka barusan. Apa hal kekanak-kanakan begini bisa dibilang sebuah janji? Mario hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah Gifyka yang begitu percaya akan adanya reinkarnasi dan mereka akan dipertemukan jika mereka membuat janji di masa hidup sebelumnya.
"Fy, kita hidup sekali dan mati sekali. Tidak ada reinkarnasi, Gifyka." Mario masih berusaha meyakinkan tunangannya.
"Tapi aku percaya, Mario. Aku salah satu orang yang percaya jika reinkarnasi itu memang benar-benar ada." kekeuh Gifyka tidak ingin kalah.
Mario mendengus, kenapa Gifyka malah berpikiran seperti anak kecil begini.
"Ayo ucapkan janjinya, biar nanti kalau kita hidup di kehidupan selanjutnya kita bisa dipertemukan lagi." titah Gifyka.
"Bagaimana janjinya?" tanya Mario mencoba menuruti saja apa mau Gifyka agar gadisnya itu tidak terus-menerus merengek padanya.
"Seperti yang aku ucapkan tadi, Mario." greget Gifyka.
Mario menarik napas dalam-dalam sebelum mengikuti Gifyka mengucap janji di bawah malam bertabur bintang.
"Di bawah langit berbintang ini, aku janji akan hidup untuk Gifyka dan jika aku mati maka akan hidup kembali untuk Gifyka meski nanti kita terlahir sebagai orang lain." akhirnya Mario mengucapkan janji seperti yang Gifyka ucapkan tadi.
Gifyka tersenyum senang, dia menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Mario. Lelaki itu mendesah, tapi dia menakutkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Gifyka seperti apa yang diharapkan oleh gadis cantik itu.
"Kita sudah berjanji di sini, di bawah malam penuh taburan bintang. Bahkan seluruh bunga yang ada di taman pun ikut mendengar dan merekam. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita bisa kembali dipertemukan." Gifyka merangkul lengan Mario, dia teramat senang janji yang sudah mereka ucapkan.
Tidak ada suara lagi dari mereka, keduanya saling diam. Hanya terdengar suara malam yang begitu khas. Kadang terdengar suara bunga-bunga berbisik ketika angin menerpa mereka.
Gifyka tidak tahu kenapa, tiba-tiba perasaannya tidak enak pada Mario. Gadis itu merasa sangat takut ditinggal oleh sang kekasih. Gifyka sendiri juga tidak mengerti kenapa bisa merasakan hal seperti itu.
Semoga semuanya baik-baik saja, aku tidak akan sanggup jika tiba-tiba Mario pun ikut pergi meninggalkanku begitu saja tanpa kembali lagi ke pelukanku. ~Gifyka.
***
Next...