
Kelima kurcaci diikuti oleh Mario dan Yoga yang telah menemukan satu pintu rahasia di Laxymuse. Pintu itu terletak di bagian kanan kerajaan dan sangat sedikit prajurit yang menjaganya. Tentu saja mereka mendapat info asal pintu rahasia itu dari Nafita. Pintu rahasia digunakan oleh penghuni Laxymuse kalau ada serangan dadakan dari kerajaan lain. Jadi supaya tidak terlihat mencurigakan pintu itu dijaga hanya beberapa prajurit saja seperti tempat-tempat lainnya.
"Hei kurcaci, bagaimana caranya kita bisa melawan kedua prajurit itu? Kita manusia sedangkan mereka memiliki kekuatan."
"Kita memiliki ini. Bubuk kunyit untuk membuat mereka gatal-gatal. Cengkih untuk membuat mereka sakit perut, kepala dan membuat pita suara mereka putus. Sedangkan cairan cabai ini akan membuat mereka seperti terbakar. Jika cairan cabai ini kita semprotkan tepat ke kedua matanya, maka mereka akan buta." kurcaci merah menjelaskan kegunaan dari senjata-senjata yang sudah mereka bawa dari kerajaan kurcaci.
"Lalu bagaimana cara memakainya?"
"Tinggal kita lemparkan saja senjata-senjata ini ke tubuh mereka. Tidak usah terlalu banyak, cukup sekali lempar maka langsung bereaksi."
"Baiklah, sekarang kita mulai dari mana?" Mario sudah tidak sabar ingin menyelamatkan Gifyka dari tangan Ortofus.
"Kita masuk saja secara diam-diam."
"Ya iyalah diam-diam, masa iya kita masuk langsung permisi. Dibunuh yang ada." komentar Yoga membuat kelima kurcaci mendengus. Mario sendiri hanya terkikik. Ada benarnya juga apa kata Yoga.
"Diamlah manusia lemah."
"Aku tidak lemah." Yoga tidak terima dibilang lemah.
"Kalian ini berisik, cepat kita masuk dan habisi mereka. Kasihan Gifyka di dalam sendirian. Apakah dia sudah makan atau belum, apa dia disiksa atau tidak."
*Inikah namanya cinta...
Oh inikah cinta...
Cinta pada jumpa pertama...
Inikah rasanya cinta...
Oh inikah cinta...
Terasa bahagia saat jumpa...
Dengan dirinya*...
Plak!
"Aw... Mainnya kasar." ringis Yoga ketika mendapat pukulan panas dari kurcaci ungu di bagian pantatnya.
"Diamlah, jangan membuat keributan."
"Mon maap ya Om Yoga, jangan berisik." Mario ikut menimpali kata-kata kurcaci kuning.
"Ayo kita masuk, mereka sedang lengah." kurcaci biru memberi aba-aba kepada yang lain untuk masuk.
Setelah benar-benar memastikan bahwa kedua prajurit penjaga pintu rahasia itu sedang tertidur, akhirnya mereka langsung masuk dan melemparkan dua cengkih ke tiap-tiap prajurit dan melemparkan sedikit kunyit bubuk ke tubuh mereka.
"Kita tunggu reaksinya sebentar lagi."
"Argh... Sak...!" teriak seorang prajurit yang duduk di bagian kiri tapi hanya sebentar karena tiba-tiba suaranya hilang.
Tak selang lama, seorang prajurit yang satunya pun mengalami hal demikian. Mereka terbaring sambil berguling-guling merasakan perut dan kepala mereka yang sakit begitu pula dengan tubuh mereka yang gatal-gatal.
"Kita biarkan saja mereka, nanti mereka juga akan mati sendiri." kurcaci hijau lebih fokus bagaimana caranya membuka pintu rahasia di depan mereka. Pintu yang akan membantu mereka masuk ke dalam Laxymuse.
"Apa tidak sebaiknya kita menyamar dengan memakai pakaian prajurit itu, Om? Dengan kita menyamar maka tidak akan ada yang curiga bahwa kita manusia bumi." usul Mario membuat kelima kurcaci tadi bersorak atas kecerdasan lelaki hitam manis nan jangkung itu.
~**~
Gifyka merasa tidak percaya bahwa perempuan cantik dengan pakaian seperti putri di depannya itu adalah sang mama. Sungguh berbeda dengan sosok seorang mama di dalam kesehariannya. Nafita memakai pakaian seperti kemben melilit ke tubuhnya dengan aksesoris di sana-sini layaknya putri kerajaan. Tak lupa sebuah mahkota emas menghiasi ujung kepalanya.
"Mama." ujar Gifyka lirih.
Perkataan Gifyka membuat Ortofus langsung membalikkan badan guna memastikan apakah yang dikatakan Gifyka itu benar atau tidak jika Nafita sudah sampai Laxymuse.
"Putriku, Nafita." sapa Ortofus seperti tak percaya bisa melihat putrinya lagi.
"Ya, aku putrimu yang telah kamu buang dan kamu lempar dari Laxymuse tanpa selendang." ucap Nafita penuh akan aura kemarahan.
"Ma... Maafkan aku putriku. Waktu itu aku sedang marah karena kamu tetap saja menjalin hubungan dengan manusia bumi itu." Ortofus berusaha mendekat pada Nafita.
"Berhenti Ayah, aku kecewa sama Ayah karena Ayah benar-benar serius mengambil Gifyka dariku."
"Bukankah Ayah sudah bilang kalau Gifyka itu benih titipan dari kerajaan Laxymuse yang nantinya akan memimpin kerajaan ini di masa depan." balas Ortofus.
"Mama... Lepaskan aku." lirih Gifyka memohon.
"Tidak, kamu akan tetap tinggal di sini sampai nanti. Karena kamu yang akan memimpin kerajaan ini cucuku."
"Mama akan membawamu kembali ke bumi bersama dengan Papa. Mama tidak akan membiarkanmu hidup di sini, hidup di tempat yang diperbudak oleh kekuasaan dan lelaki tak tahu malu itu."
"Kamu tidak bisa sembarangan membawa Gifyka kembali ke bumi. Aku sudah susah payah menyuruh beberapa orang kepercayaanku ke bumi untuk membawanya."
"Sampai prajurit-prajurit Ayah tega membunuh teman-teman Gifyka yang tidak bersalah. Padahal mereka tidak tahu apa-apa." tatapan sengit terpancar di wajah Nafita kepada Ortofus.
~**~
Sudah banyak prajurit yang tumbang sekaligus mati karena ulah dari para kurcaci, Mario dan Yoga. Mereka menggunakan senjata mereka untuk menghabisi semua penghuni Laxymuse.
"Kira-kira di mana Gifyka disembunyikan?" Mario masih saja cemas karena belum juga menemukan tempat penyekapan Gifyka.
Ada dua prajurit kerajaan yang lewat. Mereka sama sekali tidak curiga karena Yoga dan Mario memakai seragam prajurit hasil curiannya seperti mereka. Kalau untuk kelima kurcaci lainnya mereka bersembunyi.
"Kalian, disuruh patih untuk berjaga-jaga. Tuan Putri Nafita datang dari bumi, ditakutkan kalau ada manusia bumi yang bersama dengan Tuan Putri. Apa kalian mengerti?" ujar kedua prajurit tadi memberi tahu Mario dan Yoga.
"Ya kami paham." Mario dan Yoga hanya mengangguk supaya prajurit tadi tidak semakin curiga.
Usai memberitahu Mario dan Yoga yang mereka anggap sebagai prajurit kerajaan, mereka langsung kembali ke tempat mereka bertugas.
"Argh..." ringis kedua prajurit tadi kemudian tergeletak tak berdaya. Sudah dapat dipastikan bahwa prajurit itu mati seketika habis dilempari cengkih oleh kurcaci-kurcaci yang bersembunyi.
"Ayo kita lebih dalam lagi." Mario memimpin di depan mencari di mana keberadaan Gifyka.
"Siapa kalian?" hadang seorang patih yang datang dari arah berlawanan. Lelaki tadi terlihat curiga dengan Mario dan Yoga. Sedangkan kelima kurcaci tadi masih bersembunyi.
"Kami prajurit kerajaan." jawab Mario tegas dan menyembunyikan rasa takutnya.
"Londru! Kemarilah!" teriak lelaki di depan Mario dan Yoga.
Mario memejamkan matanya, tamat sudah riwayatnya kalau sampai Londru benar-benar datang dan mengenalinya.
"Kami prajurit kerajaan, apa kamu tidak percaya?" Yoga ikut bersuara. Lelaki itu tahu kalau mereka sekarang berada dalam bahaya.
"Londru! Kemarilah!" panggil patih itu lagi.
Tak selang lama, seorang lelaki yang sudah dipastikan akan mengenali Mario akhirnya datang. Nampak wajah kelelahannya.
"Siap patih, ada apa?" Londru menghadap sang patih sambil hormat.
"Siapa kedua prajurit ini? Apa kamu mengenal mereka berdua? Sepertinya saya belum pernah melihat mereka."
Sontak Londru menolehkan kepalanya dan melihat siapa prajurit yang dimaksud oleh sang patih.
"Argh... Ini jebakan!" jerit Londru ketika semua badannya tiba-tiba panas seperti terbakar.
"Siapa kalian?!" teriak patih tadi tak kalah dengan Londru yang menahan sakit serta panas.
"Rasakan! Sebentar lagi kalian akan mati." Mario ganti melemparkan cengkih ke tubuh sang patih dan Londru.
"Siapa kalian?!" prajurit-prajurit lainnya berdatangan silih berganti bersama petinggi-petinggi kerajaan yang Mario sendiri tidak tahu siapa mereka. Tapi kalau dilihat dari cara mereka berpakaian mereka lebih tinggi dari prajurit.
"Serang!" pandu ketua prajurit sambil mengeluarkan pedang andalan Laxymuse ketika berperang.
Sedangkan Mario dan Yoga tidak membawa senjata lainnya selain rempah-rempah yang mereka bawa dari bumi dan sudah lulus uji tes.
Mereka saling baku hantam, mengeluarkan semua kemampuan yang mereka miliki. Sudah beberapa prajurit yang tumbang. Di sela-sela pertarungan Yoga dan Mario melawan prajurit kerajaan, kelima kurcaci yang bersembunyi menyelinap masuk mencari di mana keberadaan Gifyka.
"Mati kau!" teriak ketua prajurit sambil mengeluarkan pedangnya.
"Rasakan ini!" Mario melemparkan cengkih kepada ketua prajurit itu.
Tak harus menunggu lama, semua prajurit yang bertarung dengan Mario dan Yoga langsung tumbang tanpa terkecuali.
~**~
To Be Continue...