
Kedua insan yang diketahui adalah sepasang kekasih itu sedang menikmati pemandangan yang tercipta dari anak-anak kecil di panti asuhan. Gifyka mengayunkan kedua kakinya ke depan-belakang berulang kali. Mario selalu setia duduk atau pun berdiri di sampingnya. Sungguh, mereka terlihat sangat serasi dan cocok satu sama lain. Yang perempuannya cantik dan yang laki-lakinya begitu tampan.
"Jadi mereka itu enak ya, gak punya beban sama sekali." Gifyka memandang banyak anak kecil yang sedang bermain di arena bermain panti asuhan.
Setiap kali Mario mengantar Gifyka terapi, dirinya selalu saja mengajak kekasihnya itu berkunjung ke panti asuhan milik kedua orang tuanya. Padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah. Lebih tepatnya sebelum kejadian di Taman Nasional Bunaken itu terjadi. Gifyka sendiri tidak merasa keberatan jika harus berkunjung ke panti asuhan terlebih dahulu sebelum pulang sepulangnya dari psikiater yang menanganinya.
"Mereka punya beban, Fy."
Gifyka memandang Mario, mencari-cari apa beban dari banyak anak kecil itu.
"Beban mereka hanya satu, dan itu sama. Mereka ingin bertemu kedua orang tua dan keluarga mereka."
"Tapi bukannya mereka sudah bahagia di sini? Banyak teman bermain, memiliki ibu panti yang sangat baik hati. Dan mereka juga akan mendapatkan keluarga baru nanti jika ada yang mengadopsi mereka."
"Kamu lihat Tania?" Mario menunjuk seorang gadis kecil yang mendekap boneka panda berukuran kecil sedang duduk di ayunan pojokan. Gadis kecil itu merenung seorang diri, tidak ada senyum di wajahnya.
"Kenapa dengan Tania? Bukankah dia memang selalu menyendiri?"
"Dia dulu pernah diadopsi oleh keluarga berada. Keluarga itu memiliki satu anak laki-laki, dua tahun di atas Tania. Dia sangat suka saat kedua orang tuanya mengadopsi Tania, dia berfikir kalau dia memiliki adik perempuan yang sangat cantik dan periang." Mario menghela napasnya sejenak, melirik ke arah anak laki-laki yang asik memetik bunga anggrek di taman panti.
"Kami pihak panti merasa tenang karena Tania diadopsi oleh keluarga yang lebih dari kata berkecukupan. Tapi setelah tiga bulan Tania diadopsi, tiba-tiba anak laki-laki dari keluarga kaya itu datang ke sini." Mario kembali menjeda ucapannya, menatap ke bawah seolah-olah mengingat apa yang dulu pernah terjadi.
"Untuk apa anak laki-laki itu datang ke sini?" Gifyka semakin penasaran dengan cerita Mario. Selama ini memang semua sahabat Mario jarang datang ke panti dan mendengar cerita tentang anak panti.
"Dia memberitahukan bahwa Tania selalu disiksa dan disuruh untuk mengemis di pinggir jalan. Di situ ibu panti, dibantu oleh Papa langsung melaporkan perbuatan orang tua kejam itu." Mario melihat anak laki-laki kecil itu membawa banyak sekali bunga anggrek di tangannya.
"Lalu apa yang terjadi? Kedua orang tua itu dipenjara?"
Mario menggeleng mendengar pertanyaan Gifyka. Ingatannya mem-flashback kejadian beberapa tahun silam.
"Kedua orang tua itu meninggal dalam kecelakaan saat melarikan diri dari kejaran polisi. Mobilnya menabrak trotoar jalan yang menyebabkan mereka mati di tempat. Anak laki-laki dari mereka sangat terpukul, tapi untung saja dia bisa mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya."
"Sekarang di mana anak laki-laki itu berada?"
Mario menunjuk ke arah Tania yang sedang berbicara dengan anak laki-laki yang memegang sebuket bunga anggrek hasil petikannya di taman panti.
"Fauzi? Anak itu Fauzi?" Gifyka terlihat kaget, mungkin ini jawaban kenapa Tania hanya mau bermain bersama Fauzi. Bukan dengan yang lain.
"Ya, anak laki-laki itu adalah Fauzi. Dia kehilangan kedua orang tuanya. Tapi bisa kamu lihat kan? Mereka mampu melewati kenyataan pahit ini."
"Hem..." Gifyka menundukkan kepalanya, dia tahu ke mana arah ucapan Mario sekarang.
Pandangan Gifyka lurus pada ujung sepatunya sekarang. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya yang berada dalam posisi Tania. Apalagi posisinya usia Tania jauh lebih muda darinya, bahkan masih anak-anak. Begitu pun Fauzi, pasti sangat terpukul harus kehilangan kedua orang tuanya secepat itu.
"Aku yakin, kalau kamu pasti juga bisa melewati semua ini. Kamu gak sendiri, ada aku, Om, Tante, Nenek, dan Mrs. Qaila."
Gifyka tersenyum ke arah Mario, dirinya bersyukur karena sudah memiliki kekasih juga keluarga yang sangat menyayanginya.
"Thank, Yo."
"Kalau kamu mampu melewati trauma yang kamu alami sekarang, aku bakal kasih hadiah buat kamu yang spesial."
"Hadiah?"
"Hem..."
"Harus bisa melewati rasa trauma kamu dulu baru kamu tahu."
"Aku pasti bisa melewatinya."
"Seperti yang aku bilang, kamu gak sendirian."
"Hem..." Gifyka mengangguk yakin, jika dia bisa melewati traumanya lebih cepat.
~**~
5 Bulan berlalu...
Gifyka memandang semua nisan keempat temannya yang berjajar. Senyuman merekah di wajahnya, tujuh bulan dia berjuang melewati traumatis dalam dirinya sampai pada akhirnya Gifyka mampu tidur dengan tenang. Meski peringatan dari Mrs. Qaila tidak bisa disepelekan, tapi Gifyka sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa bulan lalu.
"Terima kasih kalian semua udah mau jadi sahabat terbaik gue. Beruntung banget gue punya sahabat macam kalian. Gue janji, gue bakal terus bahagia meski sekarang kita terpisah oleh jarak, waktu dan raga." Gifyka memandang Mario yang juga berjongkok di sampingnya.
"Ada yang mau gue sampein ke kalian." ucap Mario membuat Gifyka memasang telinganya lebar-lebar.
"Fy..."
Gifyka memandang ke arah Mario. Senyuman terlukis di wajah kekasih tampannya itu. Gifyka semakin bingung, ada apa dengan lelaki hitam manis di dekatnya itu?
"Fy, will you marry me?" Mario mengeluarkan sebuah kotak berlapis kain beludru warna biru berisi cincin bertahta mutiara merah muda.
Gifyka merasa tak percaya atas lamaran dadakan dari Mario sore ini. Bahkan Mario melamar Gifyka di depan nisan keempat sahabat mereka.
"Fy, mau kan?" tanya Mario lagi memastikan, gadisnya itu hanya diam sambil menutupi mulutnya yang menganga lebar.
"Hem... Aku mau Yo, jadi istri kamu." beberapa kali Gifyka menganggukkan kepalanya antusias. Siapa yang tidak bahagia jika dilamar oleh lelaki yang dia idam-idamkan.
Mario memakaikan cincin bertahta mutiara merah muda itu ke jari manis Gifyka. Seolah tak bisa luntur senyuman yang tercetak di wajah mereka.
"Mutiara yang indah tidak berada di laut yang dangkal, bahkan mendapatkannya saja butuh sebuah perjuangan yang mempertaruhkan nyawa. Itulah lambang dirimu Fy di sini." Mario menuntun tangan Gifyka supaya menyentuh dada bidangnya.
"Terima kasih sayang, love you more..." pelukan hangat dapat Mario rasakan dari tubuh Gifyka. Gadisnya itu menghambur ke pelukannya.
"Hem... Love you too, Fy."
"Aku merasa menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini karena bisa dapetin cowok secakep dan sesabar kamu."
"Kalian juga pasti merestui." Mario menatap keempat nisan di depannya.
Mereka merasa, Azriela, Afriel, Alvino dan Viara pun ada di sekeliling mereka untuk menyaksikan acara lamaran secara dadakan di sebuah pemakaman keluarga Angkasa.
~Setiap kisah yang berakhir indah tak mungkin lepas dari sebuah hal yang membuat sedikit memori menjadi kelam~
~**~
To Be Continue...