Future and True Love

Future and True Love
56. Dewa Venus



Gifyka bersimpuh di hadapan batu nisan milik suaminya. Ada rasa nyeri ketika mengingat kata suami, karena baru saja mereka menikah sudah ditinggal pergi. Gifyka sengaja meminta jasad Mario dimakamkan di samping makam keempat teman lainnya.


Banyak sekali teman semasa sekolah serta kuliah berdatangan untuk melayat dan mengucapkan turut berduka cita. Banyak yang tidak menyangka jika Mario benar-benar pergi meninggalkan dunia secepat ini. Padahal kemarin lelaki itu masih sehat-sehat saja.


Ingatan Gifyka berputar pada romantisnya Mario semalam saat mengikuti lomba di mall. Lelaki itu sangat romantis ketika mengucapkan kata-kata manis untuknya. Gifyka tidak menyangka jika semalam adalah jalan-jalan terakhirnya bersama Mario.


Para pelayat sudah berhamburan pulang, karena memang prosesi penguburan sudah selesai dan acara berdoa juga sudah usai. Di sana tinggal Gifyka dan keluarganya. Sedari tadi Nafita membujuk putrinya untuk pulang, tapi Gifyka terus menolak.


"Sayang, ayo kita pulang." Nafita mengusap rambut panjang Gifyka.


Semuanya jelas terpukul akan hal ini, apalagi kedua orang tua Mario yang hanya memiliki satu putra. Mario adalah putra semata wayang mereka.


"Fy, ayo pulang nak." mama-Mario ikut membujuk.


"Aku mau di sini nemenin Mario aja, kalau kalian mau pulang bisa pulang sekarang. Biar aku di sini sendirian." tolak Gifyka tanpa berminat meninggalkan tempat.


Tangan gadis itu masih memeluk batu nisan yang baru dipasangkan beberapa saat lalu. Banyak sekali bunga mawar berhamburan di atas gundukan tanah merah yang belum ditanami rumput Jepang.


"Nanti kamu bisa sakit, Fy." ajak Nafita lagi.


Ibu mana yang tidak prihatin melihat anak gadisnya kembali terpuruk seperti ini. Ini lebih parah ketimbang waktu di mana keempat teman dekat Gifyka meninggal dunia. Tentu saja Nafita dan Yudha takut jika Gifyka kembali depresi seperti dulu. Ini bukan masalah Yudha harus membayar psikiater lagi, tapi tentang kejiwaan Gifyka yang entah bisa kembali sehat atau tidak karena mengalami kejadian buruk dalam waktu berdekatan.


"Lebih baik kita pulang, Ma." ajak Yudha.


Orang tua Mario pamit pada Yudha untuk pulang terlebih dahulu. Lagi pula mama-Mario memiliki sakit asma, suaminya takut jika asmanya kambuh di pemakaman. Yudha hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Tapi Gifyka, Pa." Nafita tidak tega meninggalkan Gifyka sendirian di sini.


Yudha sebisa mungkin mengajak Gifyka pulang. Mereka harus memberi waktu pada Gifyka untuk menenangkan hatinya. Jika berada di pemakaman bisa membuat hati Gifyka lebih tenang, maka Yudha akan membiarkan putrinya di sana untuk beberapa saat.


"Kalau kamu masih mau di sini, hati-hati ya sayang. Kalau ada apa-apa telfon Mama." Nafita mengecup kening Gifyka sekilas.


"Mama sama Papa pulang dulu, jangan melakukan hal-hal yang aneh-aneh ya Fy." Nafita kembali mengecup Gifyka, tapi kali ini di pelipisnya.


Nafita berdiri, dadanya pun sesak melihat kenyataan. Yudha mengusap-usap bahu Gifyka pelan sebelum benar-benar pulang.


"Papa pulang dulu, sayang." ucap Yudha di dekat telinga Gifyka.


Tidak ada jawaban dari Gifyka. Yudha langsung merangkul bahu istrinya dan mengajak pulang meninggalkan Gifyka sendirian. Padahal tanpa mereka ketahui, Dewa Venus menjaga Gifyka sedari tadi.


Sepeninggalan Yudha dan Nafita, gadis cantik itu kembali menangis sesenggukan. Berulang kali Gifyka mencium batu nisan Mario. Baru juga ditinggal, rasanya sudah sangat rindu.


"Bagaimana caraku menjalani hidup hingga tahun-tahun berikutnya, Yo?" tanya Gifyka lirih.


"Aku enggak kuat hidup tanpa kamu di sisiku." isak tangis dari bibir Gifyka sangat terdengar jelas dan memilukan.


"Kenapa kamu lebih memilih menyusul teman-teman kita dari pada menemaniku di sini? Aku yang sendirian Yo, bukan mereka."


Dewa Venus hanya diam melihat Tuan Putrinya menangis sesenggukan seperti ini. Ternyata menjadi manusia itu sakit saat merasakan hal paling dia sayangi diambil.


"Kenapa kamu enggak mengajak aku sekalian, Yo?" Gifyka menarik napas dalam-dalam untuk mengisi oksigennya yang terasa sesak.


***


Gifyka tidak pulang ke rumah, melainkan pergi ke rumah pohon yang dijanjikan Mario akan menjadi tempat bulan madu mereka usai menikah. Gadis itu masih saja menangis tiada henti, seolah tak pernah kering air matanya. Kedua pipinya bahkan sampai terasa perih karena seringnya diusap sedari tadi.


Tubuh Gifyka berbaring di atas ranjang sempit yang sengaja disediakan. Kilasan-kilasan masa lalu menggerogoti memori Gifyka. Obrolan mereka tentang rencana bulan madu, rencana memiliki keturunan, rumah megah dan rencana berlibur ke sana sini hanya berdua.


"Sekarang malam pertama kita, Yo. Apa kamu enggak mau menemani aku di sini?"


Suasana rumah pohon masih sama dengan pertama kali Gifyka diajak ke sini oleh Mario. Banyak lampu tumblr di sana-sini. Backsound pun masih ombak pantai yang ada di di sisi rumah pohon.


"Apa kamu tega membiarkan aku sendirian di sini?" tangan Gifyka meremas baju bagian dadanya.


Gifyka sama sekali tidak merasa lapar meski dari pagi dirinya tidak makan sama sekali. Jangankan makan, minum saja Gifyka tidak bernafsu.


"Kamu bilang kalau kamu ingin memiliki lima anak dariku, Mario. Lalu bagaimana kita akan memiliki lima anak jika kamu pergi seperti ini?" tangan mungilnya kembali mengusap air mata yang terus berjatuhan.


Dewa Venus mendekati Gifyka, dia semakin tidak tega melihat Tuan Putrinya terus menerus terpuruk seperti ini.


"Tuan Putri harus pulang, orang tua Tuan Putri pasti mencari ke mana-mana. Ini sudah malam, pasti mereka cemas sekali." ujar Dewa Venus pelan.


Gifyka tidak memandang ke arah Dewa Venus sama sekali. Gadis itu sekarang diam, hanya terdengar suara isak tangisnya saja.


"Tuan Putri boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut. Kesedihan yang berlarut-larut itu tidak baik." sang Dewa tidak tahu betul bagaiamana caranya menghibur Gifyka.


"Kenaps Tuhan kejam, Dewa?" tanya Gifyka lirih.


"Tuhan tidak kejam, Tuan Putri. Tanggal kematian Mario memang masih sudah tiba." Dewa Venus duduk di bawah, menghadap Gifyka yang masih dalam posisi berbaring di atas ranjang.


"Tapi kenapa Tuhan memanggil mereka semua? Kenapa Tuhan membiarkan aku sendirian di sini?"


"Tuan Putri tidak sendirian, masih ada orang tua Tuan Putri di sini. Dan tentunya aku akan menemani Tuan Putri setiap hari." Dewa Venus masih berusaha menghibur Gifyka.


Gifyka terdiam, yang dikatakan Dewa Venus memang betul. Dirinya tidak sepenuhnya sendirian di sini. Masih ada Nafita, Yudha dan Calleys yang menemaninya. Tapi tetap saja, Gifyka membutuhkan seorang sahabat yang bisa diajak berbagi cerita.


***


Next...