Future and True Love

Future and True Love
60. Batu Giok



512 Tahun Kemudian...


Di suatu malam yang terang oleh cahaya bintang bertabur di langit luas, lahirlah seorang bayi kecil dari keluarga kaya raya yang mungkin saja hartanya tidak akan habis meski sudah 21 turunan. Layaknya bayi-bayi pada umumnya, dia akan menangis ketika baru melihat dunia.


Brak!


"Apa jenis kelaminnya?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja menerobos masuk ke ruang bersalin.


"Perempuan." sahut sang dokter tanpa mampu melihat lelaki berjas nan rapi tersebut.


"Perempuan lagi?" kagetnya.


"Lagi?" perempuan yang baru saja melahirkan tadi bertanya dengan nada kencang karena lelaki tadi mengatakan kata lagi.


"Hah? Dokter, dia bukan istri saya!" seru lelaki yang menerobos dadakan tadi.


"Anda siapa?" tanya sang ibu bayi.


"Apa? Bukan istri Bapak?"


"Dokter, tolong bantu istri saya! Dia sudah mau melahirkan!" seorang lelaki berpakaian lusuh sambil memegangi bahu perempuan yang tampak susah berjalan karena air ketubannya sudah pecah.


"Sudah saya bilang, saya bukan istrimu!" teriaknya sambil menghidari tangan lelaki tadi yang mencoba memegang bahunya.


"Jangan karena mau melahirkan, kamu jadi lupa sama aku dong."


Mereka sudah berada di depan pintu ruang bersalin. Memang khusus malam ini, satu dokter dan satu ruang bersalin di salah satu rumah sakit sengaja disewa oleh pengusaha kaya raya untuk melahirkan keturunan kesembilannya.


"Mas, kamu ke mana saja sih?" wanita yang berjalan di sebelah lelaki berbaju lusuh tadi menghampiri lelaki yang memakai jas.


"Kamu kenapa masih di sini? Siapa dia?" tanyanya khawatir.


"Pak, jangan pegang-pegang istri saya dong." lelaki berkaos lusuh tadi sedikit marah saat wanita hamil ini dipegang oleh lelaki berjas.


"Dia istri saya, mengaku-ngaku saja kamu."


"Tapi dia istri saya, Pak."


"Aku istrimu Pah, bukan dia!" ujar perempuan yang ada di atas brankar.


Mereka semua bingung, wajah dua perempuan yang ada di dalam ruang bersalin tadi mirip bagai pinang dibelah dua. Mereka seperti saudara kembar yang terpisah.


Usut demi usut, ternyata ketika sang istri dari lelaki kaya tadi belanja sendirian di sebuah mall. Dirinya tiba-tiba mengalami kontraksi di jalan, dia menelepon suaminya agar mengirimkan beberapa bodyguard untuk menjemputnya ke rumah sakit. Ruang bersalin pun sudah dipersiapkan secara cepat. Tapi ternyata, bodyguard yang diperintah tadi salah membawa perempuan. Yang mereka bawa adalah perempuan yang menjadi istri dari lelaki berkaos lusuh tadi.


Ketika itu, mereka sedang jalan-jalan dan saat sang istri kontraksi. Suaminya pergi sebentar untuk mencari kendaraan yang bisa membawa mereka sampai rumah sakit dan dia meninggalkan istrinya sendiri di sisi jalan. Saat lelaki berpakaian lusuh tadi kembali bersama becak, dia melihat istri dari lelaki kaya raya tadi kesakitan. Jadi dia pikir, itu adalah istrinya.


Rupa dua wanita tadi benar-benar mirip, hanya tahi lalat di atas bibir saja yang membedakan. Istri dari lelaki kaya memiliki tahi lalat, sedangkan istri dari lelaki berkaos lusuh tidak memiliki tahi lalat.


"Dokter, cepat bantu istri saya. Siapa tahu kali ini laki-laki."


"Baik, Pak."


***


25 Tahun Usai Kelahiran Bayi...


"Punya anak gadis satu kok mainnya cuma melamun terus. Kamu itu sudah besar, sudah waktunya punya pasangan." gerutu seorang perempuan hampir paruh baya sembari memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci.


"Nanti Bu, tunggu saja saat ada pangeran tampan nan kaya raya yang melamarku." sahutnya sembari tersenyum memandangi jalanan luar dari jendela dapur.


"Mimpi itu jangan tinggi-tinggi, kalau jatuh tidak tertahan sakitnya tahu rasa kamu nanti."


Suara mesin cuci baru saja mulai terdengar. Gadis tadi beralih memandang sang Ibu yang setiap hari kulitnya semakin keriput.


"Amin begitu kalau anaknya ada keinginan tuh." dengusnya.


"Alyssa... Bantu Bapak kasih makan burung!" kini ganti suara lelaki paruh baya yang memanggil putrinya dari arah luar.


"Ish... Bapak nih, sudah tahu anaknya itu cewek. Masih saja disuruh mengurus burung." meski menggerutu, gadis yang ternyata bernama Alyssa tadi akhirnya berdiri juga dan menghampiri sang Bapak.


"Mana makan burungnya, Pak?"


"Habis, Al..."


"Terus bagaimana? Bapak aneh deh, suruh ngasih makan burung tapi malah habis." dengusnya kesal.


"Ya kamu beli dulu sana ke pasar, ini uangnya." selembar uang berwarna biru diberikan ke tangan Alyssa.


"Buat aku mana?"


"Ya itu kan masih ada lebihnya."


"Goceng? Dikira jalan ke pasar enggak butuh bensin apa ya."


"Kan cukup buat beli es teh satu, kalau belinya di Mang Beni masih kembalian seribu." sahut sang Bapak sambil membersihkan kandang burung.


Alyssa tidak lagi menghiraukan Bapaknya, dia langsung berangkat ke pasar dan membeli pakan burung di tempat biasa dirinya beli.


"Woy...! Ban mobil lo enggak ada akhlaq banget sih!" teriak Alyssa ketika ada sebuah mobil super mewah nan mahal melintas di pinggir jalan yang digenangi air sisa hujan semalam lalu cipratan air tadi mengenai baju Alyssa.


Tanpa disangka-sangka, mobil mewah tadi mundur dan berhenti tepat di samping Alyssa berdiri.


"Tahan-tahan, tenggorokan gatal. Serasa ingin berkata kasar." gumamnya


Alyssa sudah bersungut-sungut dan menyiapkan banyak kata-kata apabila pemilik mobil tadi keluar. Pintu sudah terbuka, ujung kepala sang pengendara sudah menyembul ke atas, dengan gagahnya lelaki tadi berjalan menghampiri Alyssa.


Semua kata-kata yang Alyssa siapkan sirna, kedua matanya tidak mampu berkedip dan nafasnya terasa tercekat di tenggorokan. Lelaki tadi terlalu tampan jika hanya untuk dicaci olehnya. Alyssa menelan kembali semua kata-kata umpatannya.


"Maaf, saya tidak sengaja. Kalau begitu, kamu bisa ikut saya untuk membeli pakaian baru untuk mengganti semua pakaian kotormu itu." ujar lelaki tadi dengan sangat berwibawa.


Sumpah demi apa? Suara dia maco banget, pangeran yang gue impi-impikan sudah datang. Batin Alyssa yang dipenuhi banyak bunga bermekaran.


***


"Batu giok?" Alyssa melihat sebuah perhiasan lengkap yang semua tebuat dari batu giok.


"Hem... Kalau kamu menerima lamaranku, ambilah ini."


Tiba-tiba Alyssa merasa pusing, dia seperti ingat masa lalu. Lebih tepatnya Alyssa ingat lelaki bernama Mario dengan kata-kata jika lelaki itu akan membawakan batu giok dari Surga untuknya.


"Arhk... Kepalaku." Alyssa mengerang pelan sembari memegangi kepalanya.


"Alyssa... Kamu kenapa?" Adit, lelaki yang bertemu dengan Alyssa satu tahun silam ketika dirinya tidak sengaja mencipratkan genangan air di jalan raya ke tubuh Alyssa ketika akan membeli pakan burung.


"Dit, aku seperti ingat sesuatu."


"Jangan bercanda, ingat sesuatu apa?" Adit tampak khawatir akan kondisi Alyssa.


"Aku ingat lelaki bernama Mario, dia berjanji akan membawakan batu giok untukku dari Surga jika dia bereinkarnasi di kehidupan selanjutnya."


Adit kaget, dia terasa lemas usai mendengar apa yang dikatakan oleh Alyssa barusan. Tangannya terlepas dari bahu Alyssa.


"Reinkarnasi yang kamu bicarakan dulu ternyata ada, kita bertemu lagi di kehidupan sekarang setelah sekian lama kita berpisah." ujar Adit lirih.


"Maksudnya?"


"Akulah lelaki bernama Mario yang kamu maksud itu, dan janjiku untuk membawakan baru giok dari Surga benar-benar aku wujudkan. Aku meminta langsung batu giok ini dari Tuhan untuk melamarmu di kehidupan berikutnya. Ternyata Tuhan mempertemukan kita lagi, Gifyka."


Tubuh Alyssa membeku, dia merinding ketika Adit memanggilnya Gifyka. Ingatan masa lalu terus berkelebat masuk satu persatu. Gifyka adalah namanya di kehidupan lalu, dan Alyssa ingat semuanya. Lelaki di hadapannya ini adalah Mario yang sekarang bernama Adit.


"Mario... Aku merindukanmu, jangan pergi lagi." tanpa aba-aba, Alyssa langsung menubruk tubuh lelaki tampan di depannya.


"Andaikan aku pergi lagi, kita akan kembali bertemu di kehidupan selanjutnya." Adit balas merengkuh gadis mungil berdagu tirus yang kini membenamkan kepalanya di dada bidangnya.


"Tapi kenapa aku tidak melihatmu ketika di Surga?"


"Kata malaikat, jika kita bertemu di Surga maka kita tidak akan bereinkarnasi lagi. Itu yang aku tahu."


"Lalu bagaimana caranya kamu membawa batu giok itu dari Surga ke dunia?" kali ini Alyssa melepaskan pelukannya, dirinya memilih mengamati rupa Adit yang tidak berubah.


"Kata Mama, saat aku lahir, di kamarku sudah ada sekotak batu giok ini tanpa ada yang tahu siapa yang memberikannya dan dari mana asalnya. Tapi aku langsung tahu, kalau batu giok ini diberikan Tuhan padaku."


Sulit dipercaya, tapi Alyssa meyakini semua yang dikatakan Adit. Mereka jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan orang yang sama di beda generasi.


***


Orang tua Adit tidak menyangka, jika besannya adalah pasangan suami-istri yang dulu terlibat dalam acara bersalin saat Andin atau Ibu-Adit melahirkan Adit di malam itu. Benar, orang tua Adit adalah pengusaha kaya raya yang hartanya tidak akan habis meski sudah 21 turunan sekali pun. Dan orang tua Alyssa adalah sepasang suami-istri sederhana yang juga melahirkan di malam yang sama. Malah bodyguard Thomas salah membawa wanita hamil yang ternyata bukan nyonya mereka.


Acara pernikahan telah selesai, kini Adit dan Alyssa sedang berdiam di salah satu kamar hotel untuk pengantin. Mereka tampak kaku dan bingung harus apa.


"Alyssa, aku mencintaimu." ujar Adit tiba-tiba.


"Hem? Hahaha... Aku pun begitu."


"Kenapa jadi kaku begini? Aku ingin bercanda sama kamu seperti dulu." Adit merangkul bahu Alyssa.


"Aku masih belum menyangka, aku sangat bahagia karena akhirnya pernikahan kali ini tidak terjadi di rumah sakit dan aku tidak memakamkanmu seperti di kehidupan dulu."


Suasana begitu romantis, mereka masih bercerita apa yang mereka alami setelah mereka terpisah antara dunia dan Surga.


"Tapi Adit, apa teman-teman kita tidak bereinkarnasi juga?" Alyssa tiba-tiba teringat keempat teman baik mereka yang meninggal di pulau Bunaken.


"Kalau mereka juga bereinkarnasi seperti kita, aku harap hidup mereka jauh lebih baik dari kehidupan lalu meski tidak bertemu dengan kita." ujarnya bijak.


"Hem... Aku pun berpikir begitu."


Mereka masih asik berpelukan sembari bercerita banyak. Tidak ada yang mereka lupakan satu pun. Semua yang telah mereka lewati dulu terekam jelas dalam ingatan.


***


___ENDING___