
Gifyka terus meronta ketika ada dua makhluk astral berjenis kelamin perempuan memegang kedua lengannya, menyeret Gifyka ke tempat yang gadis itu tidak kenal.
"Lepasin gue!" sentak Gifyka masih berusaha melepaskan diri.
Tidak ada jawaban atau balasan dari kedua petugas yang menyeret Gifyka secara paksa.
"Kalian berdua budek apa gimana sih?! Lepasin gue ****!" teriak Gifyka brutal.
Kedua petugas itu berhenti kemudian menatap Gifyka garang. Kedua sorot mata mereka tidak membuat nyali Gifyka menciut.
"Lepasin gue ****!" lagi, Gifyka masih berontak. Bahkan bukan hanya teriakan tapi Gifyka juga menginjak kaki mereka secara bergantian.
"Hahaha... Terus saja injak, kami tidak merasakan apa pun." gema tawa di antara dua petugas itu membuat Gifyka jengkel.
Memang dari pihak kerajaan tidak ada yang mampu memegang Gifyka kecuali Ostofus, Ratu yang sudah menjadi teko kristal dan Nafita. Mereka bisa memegang Gifyka karena gadis itu masih terbalut jaring-jaring anti kalung veromon. Bayangkan saja, Gifyka masih berada di dalam jaring-jaring kemudian dipaksa berdiri dan berjalan menuju tempat yang menurutnya lumayan jauh. Hal itu membuat Gifyka terus-terusan meringis kesakitan ketika tidak sengaja terserimpat dan jatuh.
"Gue mau pulang! Gue nggak mau di sini!" sekuat tenaga Gifyka berusaha lepas dari cengkraman tangan kedua petugas yang membuat emosinya memuncak.
"Ikut kami!" bentak petugas di bagian kiri. Mereka kembali menyeret Gifyka ke tempat tujuan mereka. Yaitu ke hadapan Ortofus.
Gifyka diam, rasanya percuma berontak. Mereka tidak akan mendengarkannya. Yang ada Gifyka malah akan kehilangan tenaganya secara sia-sia.
Kedua mata Gifyka terus menatap ke depan tanpa mau melirik ke kanan dan ke kiri. Bisa Gifyka lihat bahwa kerajaan Laxymuse itu didominasi dengan warna kuning emas dan putih. Banyak sekali ornamen-ornamen yang tidak Gifyka ketahui. Mungkin karena ini khayangan, bukan bumi jadi Gifyka tidak tahu apa ini apa itu. Yang jelas banyak sekali penjaga di sini. Bahkan batu saja dijadikan hiasan di sini.
Tubuh Gifyka sudah sangat lelah, rasa takut sangat menggerogoti hati Gifyka kali ini. Kata Polun, ini adalah kerajaan milik kakeknya. Tapi tetap saja Gifyka takut. Sedari kecil memang Gifyka tidak pernah kenal dengan keluarga dari pihak Nafita. Apa ini jawaban dari setiap pertanyaannya semasa kecil yang menanyakan di mana kakek dan neneknya dari pihak mama.
"Buka pintunya." titah salah satu petugas yang menyeret Gifyka. Pintu pun terbuka lebar.
Gifyka memicingkan mata, sejauh dirinya berjalan ternyata itu masih di bagian luar. Luas, sangat luas lebih tepatnya. Gifyka memilih diam, tenaganya sudah sangat terkuras karena dirinya terus berlari ketika dikejar oleh Irina dan Polun atau yang lainnya seperti Londru dan Artena.
"Hahaha... Tertangkap juga kamu akhirnya Gifyka." suara tawa sinis terdengar ke telinga Gifyka. Gadis berparas ayu itu masih hapal bahwa yang menertawakannya adalah Irina.
Gifyka hanya diam tanpa ingin membalas. Rasanya Gifyka sudah tidak memilik tenaga sama sekali selain bernapas.
"Kenapa kamu diam?" Irina mendekat ke arah Gifyka dan kedua petugas yang membawa Gifyka.
"Sudahlah Irina, ini bukan lagi urusan kita. Kamu mau dibunuh oleh Raja Ortofus?" Polun mendekat dan menarik pergelangan tangan Irina menjauh dari Gifyka. Mereka memilih menghadap kepada Ortofus terlebih dahulu.
Kedua petugas itu masih berjalan menyeret Gifyka menghadap ke depan raja. Dalam hatinya berdoa semoga ada yang menyelamatkannya di sini. Terutama mamanya, Gifyka merindukan sang mama. Satu sisi Gifyka menyesali keinginannya untuk berlibur di salah satu pulau kecil yang ada di sekitar Taman Nasional Pulau Bunaken.
"Kami membawa Gifyka ke hadapan Raja." ujar Polun di depan semua petinggi kerajaan yang duduk berjajar di tempat yang sudah disediakan di seberang kursi Ortofus.
Gue udah nggak kuat, laper, lemes dan gue rasa udah pengen muntah. Batin Gifyka merasakan tubuhnya tak karu-karuan.
Tidak bisa dipungkiri, sebagai manusia pasti Gifyka merasakan yang namanya lapar dan haus. Begitu pula dengan saat ini, sudah berhari-hari Gifyka tidak makan, otomatis perutnya berontak ingin diisi makanan.
"Makanlah semua itu." ujar Ortofus sambil memandang Gifyka kasihan.
Di depan Gifyka sudah terhidang banyak sekali makanan dalam sekejap mata. Bahkan Gifyka tidak yakin kalau perutnya akan mampu menampung banyak makanan yang sudah dihidangkan. Dari buah-buahan, daging ayam, dan bahkan nasi pun ada.
"Aku tahu, seperti itulah makananmu di bumi. Maka makanlah sebelum kamu mati sia-sia dalam kondisi kelaparan." ucap Ortofus lagi.
Tanpa pikir panjang dan karena perutnya sudah berdendang ria sedari tadi ingin segera diisi ulang, akhirnya Gifyka mengesampingkan rasa takut dan gengsinya terlebih dahulu. Gadis cantik itu memilih makan makanan yang dia inginkan usai mencuci tangan di tempat yang sudah di sediakan di depannya.
Semua penghuni kerajaan Laxymuse memandang Gifyka heran. Pasalnya gadis itu meskipun mencuci tangan tapi tetap memakan menggunakan sendok dan garpu. Bahkan tangannya tidak dipakai sedikit pun untuk menyentuh seujung makanan di atas piringnya. Hal itu membuat mereka terkagum-kagum, bagaimana bisa? Sedangkan mereka selama ini berusaha memakai sendok dan garpu saja selalu tidak bisa.
"Habiskan kalau kamu mau menghabiskannya Gifyka." ujar Ortofus lagi.
Gifyka tidak mempedulikan, yang ada di dalam benaknya hanyalah perutnya yang berkoar-koar karena lapar. Bahkan dirinya acuh tak acuh ketika menyadari semua pasang mata tertuju ke arahnya.
Entah kapan terakhir Gifyka makan, tapi yang pasti semua makanan ini rasanya lezat. Tidak kalah dengan makanan di restoran mahal yang ada di bumi.
Apa yang memasak semua ini cheff dari bumi? Ah... Nikmat sekali rasanya.
Gifyka tidak bisa berhenti makan, perlahan-lahan perutnya stabil karena terisi oleh makanan sedikit demi sedikit. Sesekali Gifyka juga minum jika dirinya merasa susah menelan.
Makanan seenak ini tidak boleh disia-siakan begitu saja.
Ortofus dan para penghuni khayangan masih saja setia memperhatikan Gifyka makan. Ada beberapa yang sampai menelan ludah sendiri karena merasa ikut terhanyut dalam kenikmatan yang Gifyka dapatkan sekarang.
"Apa makanan itu enak?" bisik Irina pada Polun.
"Diamlah, jangan sampai Raja Ortofus melihat kita membicarakan cucunya." Polun memalingkan wajahnya dari Irin.
Gifyka masih fokus makan tanpa rasa takut, lagi pula jika dirinya tidak memiliki kekuatan maka dari mana dirinya bisa melawan orang-orang di sekitarnya. Jadi mumpung ada kesempatan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
~**~
To Be Continue...