
Gifyka kaget ketika mendengar jika Mario masuk rumah sakit. Padahal semalam lelaki itu masih baik-baik saja dan tidak terlihat sakit, demam atau pun pucat sedikit pun.
Tanpa pikir panjang lagi, Gifyka langsung menemui Mario di rumah sakit tempatnya dirawat dari subuh tadi. Padahal rencananya hari ini mereka akan melangsungkan foto prewedding untuk pernikahan mereka yang semakin dekat. Tapi jika Mario sakit seperti ini, bagaimana bisa melakukan foto prewedding.
Gifyka tidak bisa membendung kecemasannya sedari tadi. Bahkan gadis itu tidak mengguyur tubuhnya dengan air terlebih dahulu. Langkah kaki Gifyka tidak bisa santai, dirinya sudah berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju di mana ruang rawat tunangannya. Gadis itu benar-benar takut terjadi sesuatu pada sang kekasih hati. Apalagi tadi dirinya sempat tidak sengaja mendengar jika kondisi Mario ternyata parah.
Nafita dan Yudha membuntuti dari belakang. Mereka sudah mencoba menenangkan Gifyka, tapi anak gadisnya itu tetap belum bisa tenang jika belum melihat bagaimana kondisi Mario sekarang.
Calleys pun yang sudah berencana pergi ke Manado dia tunda untun sementara waktu. Wanita paruh baya itu takut terjadi sesuatu pada Mario, maka dari itu dirinya membatalkan keberangkatannya terlebih dahulu. Entah kenapa, tapi Calleys memiliki firasat buruk akan hal ini.
Ruang rawat Mario sudah semakin kelihatan, Gifyka langsung saja masuk ke dalam ruangan. Di sana tentu ada kedua orang tua Mario. Gifyka melihat tunangannya itu sedang terbaring lemah di atas sebuah brankar.
"Mario.... Kamu kenapa?" Gifyka menangis sambil memeluk tubuh Mario.
Lelaki itu sedikit kaget saat Gifyka berani memeluknya di depan kedua orang tuanya. Padahal biasanya gadis itu bersikap malu-malu jika ada para tetua.
"Fy, jangan menangis. Kamu kenapa?" Mario malah jadi bingung pada Gifyka.
"Jangan pergi, Yo. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini." isak Gifyka tepat di dekat telinga Mario.
Mario tersenyum mendengar ucapan Gifyka barusan. Rasanya begitu menyenangkan mengetahui jika perempuan yang dia sayang pun menyayanginya dan mengharapkannya.
"Aku tidak akan pergi, Fy. Andaikan aku pergi, aku akan kembali lagi untukmu." balas Mario.
Gifyka melepaskan pelukannya, dia menghapus air matanya yang mengalir deras tiada mau berhenti.
Gifyka memandangi wajah tampan tunangannya. Dirinya kembali teringat apa kata Dewa Venus semalam saat Gifyka sengaja memanggil Dewa tersebut ke dalam kamarnya.
Kepala Gifyka menggeleng berulang kali saat mendengar ucapan dari Dewa Venus jika usia Mario tidak akan lama lagi. Awalnya Gifyka menganggap semua itu bahan lelucon belaka. Tapi jika melihat Venus adalah sebagai Dewa, sepertinya tidak ada kebohongan. Dewa dilarang berbohong jika tidak ingin dihukum oleh Tuhan.
Kedua orang tua Gifyka sampai di ruang rawat Mario. Mereka melihat di sana juga ada kedua orang tua Mario yang menunggu.
Dengan memantapkan hatinya, Gifyka menghadap kepada para tetua. Dia yakin jika keputusannya ini adalah yang terbaik.
"Ma, Pa... Aku mau menikah dengan Mario sekarang." ujar Gifyka tanpa ada gurat keraguan di dalam wajahnya.
Tentu saja semua orang kaget mendengarnya. Pernikahan mereka baru akan digelar dua minggu lagi, tapi kenapa Gifyka sangat terburu-buru.
"Fy, aku cuma sakit biasa. Besok juga sembuh, kita akan menikah di tanggal yang sudah ditentukan. Kamu akan memakai gaun yang kamu inginkan." Mario berusaha meyakinkan Gifyka jika dirinya akan sembuh.
"Aku maunya sekarang, Yo. Aku enggak mau menunggu sampai dua minggu lagi. Aku mau menjadi istri kamu hari ini juga." Gifyka masih menangis sesenggukan.
Nafita mendekati putri semata wayangnya, dia mengusap punggung Gifyka berulang kali. Nafita harap Gifyka bisa lebih tenang lagi.
"Ma, aku mau menikah sekarang sama Mario." ujar Gifyka memohon.
"Tapi Fy, rencana pernikahan kalian itu sudah matang. Tinggal menunggu dua minggu lagi kok, kamu sabar ya."
"Aku enggak bisa sabar Ma, aku maunya sekarang." kekeuh Gifyka.
Kedua orang tua Mario juga tidak habis pikir, semua sudah direncanakan matang-matang. Tapi kenapa Gifyka ingin menikah sekarang.
"Begini saja, kalian boleh menikah sekarang. Tapi nanti resepsi tetap diadakan di tanggal yang sudah ditentukan." ujar papa dari Mario.
Kepala Gifyka mengangguk berulang kali, tangannya menghapus sisa-sisa air matanya. Gifyka ingin menjadi istri Mario sebelum lelaki itu pergi.
Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tua Mario, acara pernikahan sederhana pun disiapkan. Gifyka juga dirias seadanya oleh Nafita. Bahkan wanita itu memakai baju pengantin milik mama-Mario.
***
Buket bunga kapas hasil buruan Yudha masih berada di genggaman Gifyka. Jari manis gadis itu sudah dilingkari cincin pernikahannya dengan Mario yang dia beli semalam. Gaun pengantin sederhana masih melekat di tubuh mungilnya. Hanya saja, riasan di wajah Gifyka luntur karena tangisannya.
Nafita memeluk putrinya yang berjongkok di depan ruang rawat Mario sambil bersandar pada tembok. Baru saja anak gadisnya itu melepas masa lajangnya dengan seorang lelaki yang dia cintai dan mencintainya. Lelaki yang sudah menemani keseharian Gifyka sedari kecil.
Sudah dari lima belas menit yang lalu Nafita resmi memiliki seorang menantu. Tapi keadaannya benar-benar menyedihkan. Kondisi Mario semakin parah, padahal tadi sebelum menikah dia masih terlihat baik-baik saja.
Calleys pun sudah datang sedari tadi, dia jelas menyaksikan pernikahan cucunya dengan Mario. Wanita paruh baya itu melihat ke sebelah Gifyka. Di sana ada Dewa Venus yang setia di samping cucunya. Tapi Calleys heran, kenapa Nafita tidak bisa melihat keberadaan Dewa Venus.
"Waktunya tinggal sebentar lagi, Tuan Putri." ujar Dewa Venus memberi tahu.
"Diam!" sentak Gifyka pada Dewa Venus.
Sontak hal itu membuat semua yang menunggu Mario sedang diperiksa kaget tiba-tiba. Mereka tidak tahu siapa yang dibentak oleh Gifyka. Gadis itu mengarah ke sebelah kanan sedangkan Nafita berada di sebelah kiri.
"Kamu diam, jangan pernah bilang yang enggak-enggak." ujar Gifyka sambil terisak.
Cklek!
Belum sampai semua orang bertanya pada Gifyka, mereka sudah dialihkan oleh terbukanya pintu ruang rawat Mario. Gifyka langsung saja berdiri dan menghampiri sang dokter yang sepertinya akan membawa kabar buruk.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Gifyka langsung.
"Fy, dengarkan penjelasan dokter dulu." tegur Yudha.
"Maaf, ini sudah kehendak Tuhan. Mario tidak selamat, saya harap pihak keluarga bisa tabah menerima kabar yang saya bawa." ujar sang dokter tersebut.
Gifyka tidak menyangka, apa yang dikatakan Dewa Venus benar terjadi. Mario benar-benar pergi meninggalkannya hari ini. Tepat di waktu mereka baru saja menikah.
Jelas saja mama Mario syok dan sampai pingsan. Nafita pun hampir tidak percaya, lelaki yang dia ceramahi kemarin sore meninggalkan putrinya yang baru saja menyandang status sebagai istrinya.
"Tuan Putri, Mario menunggu di dalam." ucap Dewa Venus lirih.
"Saya mau menemui Mario sebentar, tapi saya tidak mau diganggu." pinta Gifyka.
Dokter tadi menyetujui dan memberi akses jalan agar Gifyka bisa masuk ke ruang rawat Mario. Pintu ditutup oleh Gifyka agar tidak ada yang mengikutinya. Hanya Dewa Venus yang menemani Gifyka dan Malaikat berbaju serba putih di dalam sana.
Gifyka menangis melihat roh Mario, lelaki itu berdiri menatapnya dengan seulas senyuman. Tanpa pikir panjang, Gifyka langsung menghambur ke pelukan Mario. Dia menangis sejadi-jadinya karena ditinggal lelaki yang baru saja dia nikahi.
"Kamu bohong Mario, kamu bilang bahwa kamu tidak akan meninggalkanku. Tapi kamu pergi menyusul mereka dan meninggalkanku sendirian di sini." isak tangis Gifyka tak terkendali.
Mario mengusap-usap rambut panjang istrinya. Istri yang belum genap satu jam dia nikahi tadi. Tapi sudah harus dia tinggal ke Surga.
"Syut... Jangan menangis Gifyka, aku sudah janji jika aku mati maka aku akan bereinkarnasi untukmu. Aku juga akan membawakan batu giok yang cantik dari Surga untukmu seperti janjiku waktu itu." Mario berusaha menenangkan Gifyka.
"Aku tidak butuh batu giok dari Surga, aku hanya butuh kamu ada di sampingku." rengek Gifyka tak terkendali.
"Di Surga nanti aku akan meminta pada Tuhan, agar aku bisa bereinkarnasi dan menjadi pendampingmu lagi." bibir Mario turun di kening Gifyka lama.
Dada Mario basah oleh air mata Gifyka, dia tidak tahu lagi bagaimana hidupnya jika ditinggal oleh Mario. Gifyka sudah begitu depresi ditinggal mati empat sahabatnya saat tragedi di Pulau Bunaken oleh serangan para penghuni kerajaan Laxymuse yang ada di khayangan. Lalu sekarang dirinya juga kehilangan Mario, entah bagaimana kejiwaannya nanti jika semua yang dia sayangi meninggalkannya ke Surga. Besar kemungkinan PTSD-nya akan semakin parah.
"Sampaikan salamku pada Tuhan, ambil aku juga agar bisa bersama kalian di Surga. Titi salam juga untuk sahabat kita, sampaikan pada mereka jika aku merindukan mereka. Aku kesepian di sini sendirian." pinta Gifyka berusaha mengembangkan senyumnya sambil mengusap pipi Mario.
Mario mengangguk, dia pun membalas usapan tangan Gifyka di pipinya. Mario melihat ke arah jendela kamar.
"Aku harus pergi sekarang, perjalananku ke Surga lumayan panjang."
"Mario, jangan pergi." isakan Gifyka semakin menjadi.
Mario melepaskan pelukannya dari Gifyka, dia ikut bersama Malaikat berbaju putih yang menjemputnya. Gifyka menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. Tubuhnya ambruk dan terduduk menatap kepergian Mario.
"Jangan pergi...!" teriak Gifyka tak karuan.
Pintu ruang rawat terbuka, Yudha memeluk putrinya yang pasti rapuh karena ditinggal Mario. Tangisan Gifyka semakin tak terkendali, dia sampai sesenggukan seperti orang hampir kehabisan nafas. Hati Gifyka benar-benar sakit kali ini. Semuanya pergi, tinggal dirinya sendiri.
***
Next...