
Langit-langit kamar Gifyka terlihat sangat menarik untuk dilihat. Rasa lelah melandanya, apalagi sekarang sedang persiapan kenaikan ke semester tiga. Banyak sekali tugas dan ujian kenaikan baru dilaksanakan minggu depan. Kedua matanya terpejam, deru napasnya tidak lagi memburu seperti tadi. Gifyka baru saja pulang kuliah, tentunya dia pulang diantar oleh Mario.
*Hahaha... Kejar gue, Fy!
Awas lo jangan lari!
Tangkap kalau bisa...
Wlee... Gak bisa nangkep gue*...
Gifyka membuka kedua matanya, ingatan bersama keempat temannya kembali menyapa. Dia mendengus lalu memejamkan mata lagi berharap bisa tidur.
Eh tahu gak? Kemarin gue lihat cowok cakep banget asli.
*Emang ada cowok yang mau ngelirik lo, Zril?
Bener tuh, gue gak yakin tuh cowok balik suka sama Aziela*.
*Gue sependapat sama Iel.
Ih... Kalian, gak bisa lihat gue seneng dikit aja*.
Embusan napas kasar kembali terdengar dari Gifyka. Gadis cantik itu bangun dari baringannya. Dia meremas rambutnya sendiri, rasa bersalahnya kembali menyeruak.
"Fy... Gifyka!" suara Nafita menyeru di depan pintu kamar Gifyka.
"Iya Ma, masuk aja!"
Terlihat Nafita memasuki kamar Gifyka. Wanita paruh baya itu nampak cantik mengenakan long dress berwarna hitam. Gifyka tahu, pasti Nafita akan pergi.
"Mama mau ke mana?" Gifyka mengerutkan keningnya.
"Mama mau ke acara ulang tahun koleganya Papa, kamu di rumah sama Nenek ya. Kayaknya Mama sama Papa bakal pulang malam, jangan lupa makan." Nafita mendekatkan bibirnya, dikecupnya kening sang anak gadis.
Gifyka selalu nyaman setiap kali Nafita mencium dahinya atau memeluknya. Dirinya merasa jika masih ada orang lain yang juga mau ikut membantu memikul bebannya.
"Iya Ma, hati-hati ya." Gifyka menganggukkan kepala.
Nafita mengusap pelan pipi kanan Gifyka usai dia mencium kening putrinya. Melihat Gifyka sudah jauh lebih tenang, hal itu membuat Nafita sedikit lega. Dulu putrinya itu setiap malam selalu dihantui oleh mimpi buruk. Meski sekarang juga kadang masih, tapi tidak sehisteris dulu.
"Ya sudah, Mama pergi dulu." Nafita keluar dari kamar putrinya.
Seperginya Nafita dari kamar, Gifyka mencari obat di dalam lacinya. Dia selalu meminum obat itu jika dia merasa cemas atau tidak tenang. Bukan obat terlarang, itu obat yang diresepkan oleh Misya untuknya. Gifyka tidak tergantung pada obat-obatan itu, tapi dia akan meminumnya jika perasaan gelisah melandanya.
"Astaga, sampai kapan gue seperti ini." Gifyka melihat tangannya, sudah tidak bergetar seperti tadi.
Wanita itu memilih berbaring lagi, semoga dengan tidur bisa membuatnya lebih tenang. Kapan perasaan cemas, takut dan rasa bersalah itu akan sepenuhnya sirna. Gifyka ingat apa kata Misya, jika penderita PTSD tidak bisa sepenuhnya sembuh. Jika sembuh itu pun tidak seratus persen dan ada kemungkinan akan hadir lagi setelah beberapa tahun ke depan dan entah itu kapan.
*Kita sahabat sampai nanti kan?
Pasti dong, kita udah sahabatan dari kecil masa putus gitu aja sih*.
Gue seneng bisa punya sahabat kayak kalian.
*Pokoknya gak ada yang boleh rese dalam persahabatan kita.
Soalnya sahabat itu di atas segalanya.
Gue setuju.
Apa pun yang terjadi kita harus tetap sama-sama*.
Gifyka terus memejamkan matanya meski semua kelebatan-kelebatan kenangannya bersama keempat temannya terus menyapa. Dia tidak boleh kalah dengan alam bawah sadarnya sendiri. Gifyka yakin jika dirinya pasti bisa melawan.
*Harus ya kita ke Bunaken?
Gak ada yang mengharuskan kok, kalau lo gak mau ikut juga gue gak papa.
Bukan gitu, gue takut aja kangen sama nyokap.
Gue juga ngerasa ada yang gak enak.
Di sini bebas, kalau kalian mau ikut ya silakan. Gak ada paksaan*.
>>>**<<<
Mario menunggu di depan gerbang, Gifyka memintanya agar tidak turun dari mobil supaya bisa lebih cepat berangkat. Terlihat dari kejauhan Gifyka sedang berjalan ke arah mobilnya. Masih seperti hari-hari sebelumnya, Gifyka terlihat cantik di mata Mario. Tanpa sadar, senyuman tercetak di wajah Mario.
**Cklek!
Brak**!
Gifyka sudah duduk di jok kemudi sebelah Mario. Dia meletakkan buku-bukunya di atas pangkuannya dan memakai seatbelt.
"Anak psikologi bukunya tebel-tebel ya." goda Mario.
Benar sekali, Gifyka mengambil jurusan psikologi saat masuk universitas. Dia bilang jika dia ingin membantu orang-orang yang memiliki keluhan sepertinya. Dan yang paling utama, agar Gifyka bisa berusaha mengontrol dirinya sendiri.
Gifyka hanya tersenyum manis menatap Mario mendengar godaan kekasihnya. Usai ujian kenaikan semester, pertunangan mereka baru akan digelar. Gifyka maupun Mario tidak ada yang keberatan. Toh ujian tidak lama lagi.
"Cepetan jalan, gue ada kelas pagi." Gifyka selesai memakai seatbelt-nya.
Mario menurut, dia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Angkasa. Dirinya tidak ada kelas pagi hari ini, tapi dia rela berangkat pagi hanya demi Gifyka. Mario tidak mau Gifyka kenapa-napa di jalan.
"Gimana tidurnya? Nyenyak?" Mario selalu menanyakan hal ini setiap kali bertemu Gifyka di pagi hari.
"Yah... Lumayan nyenyak." kepala Gifyka mengangguk-angguk mantap.
"Lumayan? Apa perlu kita ke psikiater lagi?" terdengar jelas nada cemas dari Mario.
"Hahaha... Gak perlu Mario, aku baik-baik saja. Kamu gak usah khawatir." kekeh Gifyka lirih.
Mario mengangguk-anggukkan kepalanya, dia fokus pada jalan raya. Jarak dari rumah Gifyka dengan kampus tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit jika menggunakan kendaraan pribadi roda empat. Jika memakai kendaraan roda dua, bisa lebih cepat lagi.
"Yo, kamu ada kelas sampai jam berapa?"
"Sampai siang sih, jam satu selesai. Kenapa emangnya?"
Mobil yang dikendarai Mario sudah masuk ke area kampus, dia sedang mencari parkir yang kosong. Gifyka masih terdiam, dia bingung harus memulainya dari mana.
"Kenapa Fy, bilang aja. Mau minta temenin beli buku atau ke mana?" Mario sudah berhasil mendapatkan parkir yang kosong.
"Eum... Aku ragu mau bilang." bibir bawah Gifyka kini menjadi sasaran gigitan giginya sendiri.
"Bilang aja, katanya kamu ada kelas pagi kan. Keburu telat kalau kamu kelamaan." mesin mobil sudah dimatikan. Mario masih menunggu apa yang akan dikatakan Gifyka.
"Kamu mau gak nemenin aku ke tempat sepi? Ke mana aja gitu terserah, tapi sepi. Aku mau nyoba kekuatanku lagi. Apa aku masih bisa memakai kekuatanku ini apa enggak." Gifyka takut-takut ingin menatap Mario.
"Emang harus ya kekuatan itu kamu pakai lagi?" Mario terlihat tidak setuju.
"Aku gak mau pakai kekuatan ini lagi, aku cuma penasaran doang apa kekuatanku masih berlaku apa enggak. Secara kan Laxymuse udah hancur." susah payah Gifyka merangkai kata seperti sekarang.
Mario mengembuskan napasnya, Gifyka tahu jika Mario sensitif dengan obrolan seperti ini. Tapi dirinya juga penasaran, hanya Mario yang percaya padanya dan bisa menemaninya.
"Kalau kamu gak mau juga gak papa sih, nanti aku pergi sendiri aja." Gifyka tidak marah, dia hanya mencoba mengerti kondisi Mario.
Tangan mungilnya sekarang sudah membuka seatbelt, dia mengambil buku-bukunya lagi dan keluar mobil. Gifyka berjalan cepat menuju ke arah gedung departemen psikologi. Mario mendengus melihat Gifyka, dia ikut keluar.
"Fy, tunggu." Mario berlari menyusul Gifyka, dia tidak mau Gifyka salah paham padanya.
Sekencang mungkin Mario berusaha menyusul Gifyka, sampai sekarang dia berhasil menyamai langkah kekasihnya.
"Please, jangan marah. Nanti sore aku temenin kamu ke tempat sepi."
Gifyka hanya tersenyum menanggapi kesanggupan Mario yang akan mengantarnya ke tempat sepi. Gifyka tidak mau marah-marah, ini masih pagi. Ditambah dirinya ada kelas pagi, mood belajarnya tidak mau sirna begitu saja hanya karena bertengkar dengan Mario masalah hal sepele.
"Fy, jangan marah dong."
"Aku gak marah, Yo. Udah sana pergi, dosenku bentar lagi sampai." Gifyka memperingati, dia langsung masuk ke dalam kelas.
Mario mendesah, benar apa kata Gifyka. Dosen yang akan mengisi kelas Gifyka sudah datang, terlihat dari kejauhan.
>>>**<<<
To Be Continue...