Future and True Love

Future and True Love
52. Lomba Dalam Mall



Sepulang dari toko perhiasan dan mendapatkan cincin sesuai keinginan Gifyka, mereka tidak langsung pulang. Kebetulan karena sekarang adalah malam minggu, Gifyka ingin jalan-jalan terlebih dahulu. Ingatan gadis itu langsung menuju pada peraturan rumah ketika menyadari bahwa sekarang adalah malam minggu. Yudha membuat peraturan bahwa di malam minggu, Gifyka boleh pulang paling malam jam sebelas, sedangkan untuk hari-hari biasa wajib pulang jam sepuluh.


"Mau ke mana?" tanya Mario sambil mengedarkan pandangannya.


Gifyka melihat jam di tangannya, masih jam tujuh dan waktu ke jam sebelas masih jauh. Gifyka berniat ingin berkeliling saja di mall ini.


"Kita keliling saja, cari camilan atau apa entar." Gifyka menggamit lengan Mario mesra.


Dewa Venus masih berjalan di belakang Gifyka, dirinya ingin sekaligus menjaga Tuan Putrinya malam ini. Lagi pula Dewa Venus juga penasaran, apa yang dilakukan manusia di Bumi jika malam minggu tiba.


Dewa Venus pernah mendengar dari salah seorang Dewa yang dulunya juga mendapat tugas dari Tuhan untuk menjaga manusia. Dewa itu bilang jika di Bumi itu ketika malam minggu banyak orang keluar rumah bersama pasangan, keluarga atau teman. Banyak dari mereka yang hanya sekedar jalan-jalan, makan di luar, nongkrong bersama teman atau datang ke wahana anak jika mereka sudah memiliki keturunan. Ternyata apa yang dikatakan oleh Dewa itu tidak salah, Dewa itu tidak membohongi Dewa Venus.


"Eh... Tapi kan Dewa tidak boleh berbohong." Dewa Venus mengingat larangan dari Tuhan jika Dewa dilarang berbohong. Jika berbohong, nanti akan mendapatkan hukuman langsung dari Tuhan.


Mario merangkul bahu Gifyka, mereka berjalan berdua saling bermesraan tanpa malu pada yang lain. Lagi pula, banyak juga pasangan yang seperti itu.


"Bagaimana kalau kita membeli es krim?" tawar Mario sambil menatap Gifyka.


Gifyka tampak berpikir sejenak, tapi tiba-tiba kepalanya menggeleng berulang kali. Mario hanya mengangguk mengiyakan. Dirinya sedikit beruntung karena tadi langsung mandi usai melatih basket dan kebetulan Mario membawa baju ganti, jadi dirinya tidak perlu merasa tidak nyaman saat jalan malam minggu bersama Gifyka seperti ini.


"Yo, lihat deh itu ada lomba gitu. Kita ke sana yuk." Gifyka langsung saja menarik tangan Mario mendekat ke lomba tersebut.


Gifyka dan Mario mendengarkan seorang perempuan yang menjadi MC dalam lomba tersebut. Ada beberapa pasangan yang juga ikut di sana.


"Ok, saya akan menjelaskan bagaimana cara lombanya. Pasangan yang cowok nih, kalian harus melakukan sesuatu yang romantis untuk pasangan kalian di depan semua orang yang ada di sini."


Banyak sorak sorai yang terdengar usai sang MC mengatakan cara permainan lombanya. Mario melihat Gifyka seperti tertarik pada lomba tersebut.


"Sesuatu hal itu terserah kalian mau apa. Mau merayu, menggombal, memberikan bunga, memberi puisi atau apa pun itu terserah pasangan laki-lakinya. Yang jelas intinya kalian melakukan hal yang romantis untuk pasangan kalian." lanjut sang MC.


Gifyka benar-benar tertarik, jika dia meminta Mario melakukannya pasti lelaki itu mau menurutinya.


"Fy, aku ke tempat lain sebentar ya." pamit Mario.


"Kamu mau ke mana?" Gifyka jadi bingung sendiri, padahal dia ingin Mario melakukannya.


"Ke toilet sebentar, nih bawa. Aku enggak akan lama kok." Mario memberikan paper bag berisi cincin pernikahan mereka.


"Tapi aku mau nonton ini, Yo." rengek Gifyka.


"Sebentar doang sayang, aku enggak akan lama. Kamu boleh nonton ini, nanti aku ke sini lagi yah." Mario langsung saja pergi meninggalkan Gifyka sendirian di sana bersama dengan pasangan lain.


"Yah, padahal kan gue maunya dia ikutan lomba ini." Gifyka sedikit mellow melihat Mario pergi.


"Aku bisa melakukannya untuk Tuan Putri." Dewa Venus mendekatkan dirinya pada Gifyka.


"Percuma, mereka enggak bakal bisa melihat kamu. Lagi pula aku maunya Mario, bukan kamu." dengus Gifyka.


Gadis itu kembali memperhatikan sang MC. Perempuan itu belum juga berhenti bicara sedari tadi. Tapi sayangnya tadi Gifyka tidak terlalu memperhatikan.


"Jadi, untuk laki-laki yang menang nanti akan mendapatkan hadiah boneka stitch yang besar ini."


Pandangan Gifyka mengikuti arah telunjuk sang MC. Di dalam sebuah kotak kaca itu ada boneka stitch berwarna biru yang ukurannya benar-benar besar. Bahkan lebih besar dari tubuh Gifyka sendiri.


Gadis itu sampai membekap mulutnya saking tidak percayanya jika hadiahnya akan sebegitu menggiurkan. Apalagi Gifyka begitu menyukai boneka stitch.


"Ih... Mario mana sih? Enggak peka banget kalau gue ingin boneka itu." gerutu Gifyka yang begitu kesal karena Mario tak kunjung datang.


"Baik, itu dia tadi hadiahnya untuk yang menang. Sekarang saya akan menawarkan pada kalian, siapa yang ingin mengikuti lomba ini?" sang MC melihat ke sekitar.


Gifyka pun melihat ke sekitar, ternyata tidak banyak yang ikut. Mungkin jika dihitung hanya sekitar sepuluh orang saja. Padahal di sana banyak sekali pasangan muda. Bisa Gifyka dengar jika banyak perempuan yang meminta pasangannya agar ikut tapi laki-lakinya banyak juga yang tidak mau.


"Yang ikut lomba langsung ke depan sini." titah sang MC.


Benar saja, laki-laki yang maju hanya sekitar sembilan orang saja. Memang, jika dilihat mereka seperti orang yang percaya diri.


"Ok, saya hitung sampai lima ya. Kalau tidak ada yang nambah berati fix yang ikut lomba hanya sembilan orang saja."


"Ih... Si upil ke mana sih? Ngeselin banget." Gifyka sampai menghentakkan kakinya sendiri karena saking kesalnya.


"Satu, dua, tiga, empat..., lim..."


"Saya ikutan."


MC tadi menoleh ke arah laki-laki jangkung yang membawa gitar. Gifyka tersenyum melihat Mario kembali dan tanpa dia minta pun ternyata memang Mario sudah memiliki niat untuk ikut lomba.


"Ok, silakan ke depan sini."


Mario tersenyum pada Gifyka sambil mengatur deru napasnya. Gifyka tahu sekarang, ternyata lelaki itu bukan ke toilet. Tapi Mario mengambil gitarnya yang ada di mobil.


"Aku akan berusaha demi kamu, Fy." ujar Mario ketika lelaki jangkung itu berjalan di dekat Gifyka.


Mario sudah berdiri di depan bersama peserta lainnya. Jadi pesertanya sekarang ada sepuluh orang. Gifyka tentu saja mendukung penuh Mario.


"Untuk pasangan perempuannya bisa memisahkan diri juga di bagian kiri. Sedangkan yang menonton bisa di bagian kanan."


Para penonton pun beralih haluan, mereka hanya bertukar tempat saja. Gifyka terus saja tersenyum untuk Mario.


"Lihat saja nanti." sahut Gifyka tidak bisa berhenti tersenyum.


"Nah, saya meminta bantuan kepada kalian yang menonton untuk memberikan vote-nya nanti saat semua penampilan sudah selesai." pinta sang MC.


Semuanya setuju, lomba pun dimulai. Ada yang memberikan rayuan gombal, ada yang membuat puisi abal-abal. Ada yang bernyanyi tanpa iringan musik, ada yang membuat pantun bahkan ada yang sampai membuka kemejanya dan meminta pasangannya untuk membelah dadanya.


Bagi Gifyka sendiri, hal itu bukan romantis tapi malah terkesan lawak. Banyak juga yang menertawakannya dan menyorakinya. Tapi mau bagaimana juga, itu usaha sang pria menyenangkan hati kekasihnya. Dari pada mereka yang tidak mau berusaha sama sekali.


"Ok, sekarang giliran ke peserta terakhir. Bawa-bawa gitar segala Mas-nya mau bernyanyi nih pasti. Mau menyanyi untuk pacarnya, Mas?" tanya sang MC.


"Iya. Selain untuk lomba, di malam ini saya juga ingin menyatakan seluruh perasaan saya selama ini untuk tunangan saya yang berdiri di sana." Mario menunjuk Gifyka menggunakan tangannya.


Kepala Gifyka menunduk seketika, dia merasa sedikit malu mendapat sorak sorai dari banyak orang yang ikut bahagia atas hubungannya.


"Gifyka, bertahun-tahun aku mencintaimu. Bertahun-tahun kita bersama, bahkan dari kita masih kecil pun kita memang sudah ditakdirkan bersama. Terima kasih untuk segalanya, untuk semua yang sudah kamu berikan padaku. Kepercayaan, kasih sayang, perhatian, kesetiaan, pertemanan, dan cinta." Mario sengaja menjeda kata-katanya.


Dewa Venus hanya melihat saja apa yang akan dilakukan Mario sambil mencibirnya sedikit.


"Aku tidak akan pernah mengerti apa artinya sayang dan pengorbanan jika aku tidak bertemu denganmu. Jika orang-orang bilang bahwa aku adalah hal terindah yang bisa kamu miliki, itu salah. Yang benar itu kamu hal paling terindah yang bisa aku miliki dari seluruh isi bumi dan langit."


Kedua pipi Gifyka merona, wajahnya sudah memerah dan panas mendengar semua apa yang diungkapkan oleh Mario. Apalagi ini di depan banyak orang.


"Terima kasih karena kamu selalu menggenggam jemariku di saat kamu senang mau sedih. Di saat kamu terluka atau pun bahagia, kamu selalu menjadikan aku orang pertama yang mengetahuinya. Aku harap kisah kita akan selalu seperti ini, Gifyka."


Sang MC benar-benar sampai terpesona akan keberanian Mario dalam mengungkapkan segala perasaannya pada Gifyka.


"Selamanya saling menggenggam, saling percaya, saling perhatian, saling ada, saling setia, saling mengerti, saling kasih dan sayang, saling menghargai dan saling melengkapi. Aku tidak akan berguna tanpamu, dan kamu tidak akan berguna tanpaku." Mario benar-benar tidak merasa gugup ketika melakukan semua ini.


"Maka dari itu, dengarkanlah petikan gitar yang aku persembahkan khusus untukmu."


Mario mulai memetik gitarnya, Gifyka dan semua orang memperhatikan Mario yang siap untuk bernyanyi.


Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu...


Sorak sorai terdengar begitu keras saat Mario mulai membuka suaranya. Lelaki itu menyanyikan lagu milik Virgoun berjudul Surat Cinta Untuk Starla.


Tak kan habis sejuta lagu...


Untuk menceritakan cantikmu...


Hati Gifyka berdesir saat Mario menatapnya begitu dalam. Gifyka sedikit tidak menyangka jika Mario berani melakukan ini di depan umum. Mendengar suara Mario bukanlah yang pertama kali, tapi malam ini terasa berbeda euforianya.


Semua orang bahkan ikut bernyanyi saat sampai pada reff. Termasuk Gifyka dan MC pun ikut mengerakkan bibir mereka.


Aku pernah berfikir tentang hidupku tanpa ada dirimu...


Dapatkah lebih indah dari yang kujalani sampai ini...


Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu...


Tetap cantik rambut panjangmu meski nanti tak hitam lagi...


"Suaranya benar-benar bagus." bisik Dewa Venus di dekat telinga Gifyka.


Gifyka hanya meminta Dewa Venus diam saja dan menikmati lagunya.


Bila musim berganti, sampai waktu terhenti...


Walau dunia membenci, ku kan tetap di sini...


Mario memajukan langkahnya, dia mendekat pada Gifyka tapi hanya sedikit. Lelaki itu berdiri di depan Gifyka dan hanya berjarak sekitar tiga puluh meter saja.


Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia...


Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu...


Bila habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia...


Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu...


Sorak sorai dari para gadis semakin menggemparkan mall. Bahkan penonton baru pun banyak berdatangan hanya untuk melihat ada keramaian apa.


Mario menyudahi nyanyian dan petikan gitarnya, lelaki itu mengeser tali gitar hingga ke belakang. Gifyka tidak menyangka jika Mario akan memberikannya setangkai mawar merah. Lelaki itu mengambil bunga dari dalam jaketnya. Benar, Gifyka baru sadar kalau tadi Mario tidak memakai jaket tapi sekarang lelaki itu memakainya.


"Aku mencintaimu, Gifyka." Mario masih menunggu Gifyka menerima bunga dari tangannya.


Tanpa ragu, Gifyka langsung mengambil bunga mawar itu dan memeluk Mario.


"Terima kasih Mario, aku juga mencintaimu." balas Gifyka tanpa malu sama sekali.


Banyak sekali tepuk tangan dari para penonton yang menyaksikan dari awal. Bahkan banyak sekali perempuan ikut melting melihat penampilan Mario untuk Gifyka.


***


Next...