
Mario dan kelima kurcaci berpakaian warna-warni itu masih diam di tempat. Bukan! Lebih tepatnya kelima kurcaci itu yang diam. Sedangkan Mario sudah mondar-mandir ke sana-sini tidak jelas memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Gifyka yang pastinya sudah berada di kerajaan Laxymuse. Banyak yang dipikirkan oleh Mario.
"Aha! Aku tahu bagaimana caranya." seru kurcaci berwarna hijau.
"Apa-apa?" keempat kurcaci lainnya langsung mendekat dan heboh menanyakan cara yang dipikirkan oleh kurcaci hijau.
"Nanti akan aku beritahukan kalau Tuan Putri Nafita sudah datang." jawabnya singkat, membuat raut kekecewaan dari keempat kurcaci dan Mario, mereka sedikit mendesah kecewa.
"Apa mungkin Tante Nafita datang ke sini?" Mario memandang kelima kurcaci di depannya secara bergantian.
"Jangan bersedih manusia hitam. Tuan Putri akan datang ke sini." jawab kurcaci ungu.
"Apa kamu bilang? Manusia hitam? Siapa manusia hitam?" marah Mario tak terima karena dipanggil manusia hitam. Seenaknya saja dia mengganti namanya.
"Iya kamu kan memang hitam, sudah hitam pesek lagi." kurcaci ungu tadi mengangguk.
"Awas kamu, kemarilah." Mario sudah berlari berusaha menangkap kurcaci ungu.
"Tangkap aku kalau kamu bisa manusia hitam dan pesek." ledek kurcaci ungu sambil loncat-loncat menaiki pohon satu ke pohon lain.
"Yak! Awas kamu kalau dapat!" Mario masih berusaha mengejar tapi selalu gagal.
"Kalian diamlah! Seperti anak kecil saja." tegur kurcaci merah dengan wajah yang sengaja dibuat marah.
Mario dan kurcaci hijau langsung diam serta kembali ke tempat semula.
Kresek... Kresek...
"Syut... Itu suara apa?" kurcaci kuning sudah meletakkan jari telunjuknya di depan bibir menginstruksikan supaya mereka diam.
Mereka semua diam, ikut menajamkan telinga masing-masing untuk memastikan sejenis apakah suara yang mereka dengar.
Kresek... Kresek...
Lagi, suara itu kembali terdengar di indera pendengaran mereka. Malah semakin jelas, mereka semakin was-was takut jika yang datang adalah binatang buas.
"Apa hari sudah hampir pagi?" tanya kurcaci biru yang juga takut.
"Seharusnya belum, masih ada beberapa jam lagi."
"Tapi itu ada cahaya." tunjuk jari kecil sang kurcaci biru.
Mereka semua menunggu, cahaya apakah yang datang. Takutnya jika itu dari kerajaan Laxymuse yang ingin menghancurkan mereka. Bagaimana menyelamatkan Gifyka jika Mario dan lima kurcaci itu dimusnahkan?
"Aku takut jika itu Irina dan Londru." ujar Mario jujur, keringat dingin pun sudah membasahi tubuhnya.
~**~
Nafita berusaha membendung air matanya ketika dirinya dan yang lain belum juga menemukan di mana keberadaan Gifyka dan teman-temannya.
"Kami menemukan mayat seorang laki-laki yang terlihat mati mengenaskan." lapor salah seorang anggota team sar kepada komandan yang menemani Yudha dan Nafita.
"Amankan." perintahnya.
"Siap Pak!"
"Apa kami boleh melihatnya untuk memastikan jasad siapa itu yang Bapak temukan?"
"Tentu saja boleh Bu, kebetulan kami memoto jasar korban tadi." anggota sar tadi memperlihatkan foto jasad yang dia temukan di jurang.
"Astaga, itu Afriel Pa." ujar Nafita tak percaya bahwa satu teman putrinya sudah meninggal.
"Iya Ma, Gifyka pasti selamat."
Mereka terus melakukan pencarian ke berbagai tempat. Ada tiga team, dan mereka semua berpencar. Yoga berpisah dari Yudha dan Nafita, lelaki itu memilih ikut bersama anggota sar yang lain. Mereka juga sudah mendapat kabar bahwa Yoga menemukan jasad Alvino dan Viara di sebuah bangunan kosong di pulau lain.
"Ya, ada kabar lain?" tanya komandan itu kepada salah satu anggotanya yang menelfon.
"...."
"Ditemukan mayat lagi? Perempuan atau laki-laki?"
"...."
"...."
"Saya tunggu sekarang. Bawa mayat-mayat itu ke kapal."
Komandan team sar, yang diketahui bernama Taufik itu menutup sambungan telfon dengan salah satu anggotanya.
"Apa kalian kenal korban ini?" Taufik memperlihatkan foto yang dikirimkan oleh anggota sar ke ponselnya.
"Ya kami kenal, itu teman putri saya namanya Azriela." Yudha mengangguk antusias.
Nafita tidak bisa membendung air matanya lagi. Semua teman putrinya meninggal, dan dirinya belum bisa menemukan di mana keberadaan Gifyka juga Mario. Hal itu membuat Nafita semakin ketakutan.
"Gimana kalau Gifyka ditemukan tapi dalam kondisi seperti mereka, Pa?" Nafita sudah menangis di pelukan Yudha.
"Syut... Mama jangan berpikir yang enggak-enggak. Kita berdoa saja semoga Tuhan memberi keselamatan untuk Gifyka dan Mario."
~**~
Mario terpekik kaget ketika ada sebuah tangan menepuk pundaknya. Tapi akhirnya dia bisa bernapas lega karena yang dia temui adalah manusia bukan makhluk astral atau hal-hal lain yang membuatnya semakin ketakutan.
"Mario?" tanya Yoga kepada lelaki muda yang nampak masih mengatur deru napasnya.
"Om Yoga, astaga aku kira tadi siapa." balas Mario dengan napas terengah-engah. Mungkin karena sudah terlalu sering tertekan, jadi kali ini Mario merasa sangat ketakutan.
"Kenapa kamu sendirian? Di mana Non Gifyka?" Yoga nampak mencari keberadaan Gifyka. Tapi tak terlihat sama sekali keberadaan putri dari atasannya.
"Gif... Gif... Gif..." sahut Mario terbata.
"Katakan Mario, di mana Gifyka? Biar kami bisa mencarinya."
"Gifyka diculik oleh salah satu utusan dari kerajaan Laxymuse." bukan! Itu bukan suara Mario, melainkan suara salah satu kurcaci biru. Mereka sungguh lucu, karena mereka bersembunyi di belakang tubuh Mario.
"Diculik oleh utusan dari kerajaan Laxymuse?" tanya Yoga sekali lagi untuk memastikan.
Apa dirinya tidak salah dengar bahwa mereka membawa-bawa sebuah kerajaan. Apa di jaman sekarang masih ada kerajaan seperti itu? Apa mereka hanya mengarang belaka?
"Iya diculik Om, aku juga nggak tahu gimana bisa. Tiba-tiba Gifyka menghilang dan kata mereka Gifyka diculik menggunakan jaring-jaring anti kalung veromon." jelas Mario yang membuat Yoga semakin bingung.
"Bagaimana kalau kita memberi kabar ke Pak Yudha dan Bu Nafita terlebih dahulu, Pak?" ujar salah seorang anggota sar.
Yoga mengangguk mendengar usul dari petugas sar. Tangannya langsung merogoh ponsel di saku celananya, mendial nomor yang sudah tertera di jajaran paling atas di log panggilan.
Mario hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh Yoga. Harapannya semoga Gifyka bisa diselamatkan entah bagaimana pun caranya. Bahkan jika bisa, Mario yang akan menyelamatkannya sendiri menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya. Tapi semua keputusan ada di Nafita. Seseorang yang pasti lebih tahu dari ini semua.
"Mereka siapa? Apa mereka orang baik?" tanya kurcaci kuning. Kurcaci itu terlihat takut kepada Yoga dan tiga anggota sar yang ada di belakang Yoga.
"Ya, mereka orang baik. Mereka yang akan membawaku pergi dari pulau ini." Mario memandang kelima kurcaci itu satu persatu.
"Siapa mereka anak muda?" tanya salah satu anggota sar memandang Mario penuh tanya. Ini pertama kalinya mereka melihat kurcaci, ditambah ini di tempat wisata wilayah mereka. Sangat tidak menyangka.
"Mereka kurcaci yang akan membantu menyelamatkan Gifyka." jawab Mario mantab.
"Kenapa harus kurcaci? Kami bisa membantu." ujar anggota sar yang berbadan jangkung dan krempeng.
"Biar nanti Tante Nafita yang menjelaskan." hanya itu balasan dari Mario. Terlalu malas untuk menjelaskan hal yang tidak semua dia ketahui.
"Mereka akan menuju ke sini." Yoga menatap satu persatu di antara mereka.
"Baiklah, kita tunggu saja di sini."
Mario yang merasa lelah, akhirnya dia memutuskan untuk duduk kembali. Diikuti kelima kurcaci yang masih saja asik memakan buah-buahan dalam keranjang mereka.
"Bagaimana kejadian awalnya, Mario?" tanya Yoga layaknya seorang sahabat. Bahkan tak segan-segan Yoga ikut duduk di bawah beralaskan dedaunan kering yang berjatuhan.
"Semua ini serangan dari kerajaan Laxymuse, Om. Mereka mengincar Gifyka dan kita diteror terus-menerus sampai terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan." cerita Mario singkat.
Rasanya terlalu berat jika harus menceritakan semuanya dari awal. Sedangkan mengingat saja sebenarnya Mario sangat enggan. Banyak yang dia rasakan, bersalah, takut, trauma, dan shock.
~**~
To Be Continue...