
Sudah empat hari ini Alder tidak menemuinya. Jujur saja Azalea merindukan sosok pemuda yang selalu membantunya itu. Selama tiga bulan di kota itu, dia sudah terbiasa dengan kehadiran Alder di dekatnya. Walaupun begitu, dia sedikit terhibur dengan kehadiran Aren dan Poppy. Masalahnya adalah energi gelap samar yang terus dirasakannya sepanjang hari bersama mereka membuat hatinya gelisah.
Suatu sore, dia berada di halaman belakang untuk memeriksa bunga lotus. Dia tengah berjongkok di tepi kolam ketika pantulan wajah seseorang muncul mengejutkannya. Refleks dia berbalik dan nyaris tercebur ke kolam karena mendadak mengambil langkah mundur.
“Alder…” gumamnya sambil membiarkan tubuhnya ditarik menjauh dari tepi kolam.
“Sepertinya aku kehadiranku benar-benar mengagetkanmu,” ucap Alder sambil tersenyum. “Apa yang akan kamu lakukan dengan bunga lotus itu?”
“Aku sedang memeriksanya. Nyonya May berniat membelinya sebagai hadiah pernikahan putri temannya.”
Setelah itu, Azalea kembali memeriksa bunga lotus itu dibantu oleh Alder. Hari itu, dia benar-benar sangat sibuk karena harus menyelesaikan pesanan untuk besok. Belum lagi, orang-orang datang silih berganti mengambil pesanan mereka. Ini memang hari Sabtu, tapi khusus untuk tiga minggu ke depan toko tidak tutup karena mendekati perayaan ulang tahun Kota Maple Willow.
“Jumlah bungamu terbatas, Azalea. Bagaimana caramu memenuhi pesanan istri wali kota?”
Azalea ikut memandang ke luar. Hampir separuh bunga jualannya telah terpotong untuk memenuhi berbagai macam pesanan. Belum lagi istri wali kota, Madam Annura, memesan untuk menghias pusat kota. Hal itu sebenarnya tidak jadi masalah untuknya, seorang florist dengan kekuatan sihir.
“Aku tahu,” jawabnya pendek.
“Apa maksudmu dengan ‘aku tahu’ itu?” tanya Alder dengan nada agak keras. “Apakah dua penjual bunga yang lain tidak bisa memenuhi pesanan juga?”
“Masalahnya adalah mereka hanya mau membeli di sini, Alder,” sahut Azalea dengan lembut. “Aku tidak bisa menolaknya, apalagi banyak di antara mereka yang menjadi pelanggan tetap di sini.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan ribuan pesanan yang harus dipenuhi dalam waktu tiga minggu ini?” Alder menunjuk kertas di atas meja rangkai.
Azalea mengerjapkan matanya beberapa kali. Ada keterkejutan dalam kedua matanya melihat Alder membentaknya seperti itu. Dia tidak tahu kenapa Alder bisa sampai semarah itu padanya. Dirinya bahkan tidak melakukan kesalahan apapun. Apakah dia salah karena berusaha memenuhi semua pesanan itu?
“Apakah kalian sedang bertengkar?” tanya Poppy yang tiba-tiba masuk bersama Aren. Matanya memandang tumpukan buket bunga di salah satu pojok toko.
“Kamu pasti lelah, Azalea. Biarkan kami membantu,” sahut Aren sambil tersenyum.
“Terima kasih kalian bersedia membantu,” sahut Azalea. “Aku memerlukan bunga matahari. Bisakah kamu memotongnya, Aren?”
“Tentu saja.” Aren mengambil gunting pemotong kemudian menatap Alder, “Bantu aku, Alder.”
Kedua pemuda itu berjalan keluar dari toko dan menuju ke rumpun bunga matahari. Azalea menghela napas lega Alder terlihat jauh lebih tenang dengan kehadiran Aren. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya merangkai buket bunga lavender. Dia tidak mempedulikan Poppy yang duduk sambil memainkan setangkai bunga.
Azalea duduk termenung di belakang meja rangkai begitu Poppy dan Aren sudah pulang. Kini tokonya dipenuhi oleh buket berbagai macam bunga yang tersusun rapi sesuai jenis dan warnanya. Walaupun lelah, hatinya puas karena semua pesanan berhasil dipenuhi. Tinggal menunggu para pelanggannya datang untuk mengambil pesanan mereka. Selebihnya, dia harus mempersiapkan guna memenuhi pesanan istri wali kota untuk perayaan ulang tahun kota.
“Tanganmu terluka,” ucap Azalea. Matanya memandang goresan berwarna merah di lengan kanan Azalea yang cukup panjang.
“Hm? Ah ini… Tadi kena duri mawar,” jawab Alder yang kemudian duduk santai di depan Azalea. Sikapnya sudah kembali seperti biasanya.
“Akan kuambilkan antiseptik agar tidak infeksi.”
Sepeninggalan Azalea, Alder memandang rumpun bunga iris yang masih utuh. Azalea tidak mengijinkan siapa pun menyentuh bunga itu, bahkan menolak menerima pesanan bunga iris sampai hari Senin. Dia tidak begitu peduli akan hal itu, hingga dia ingat kalau ibunya sangat menyukai bunga iris. Apakah buket bunga iris yang ditata di vas khusus oleh ibunya dari toko ini?
“Akan kamu apakan bunga iris itu?” tanyanya ketika Azalea tengah mengobati lukanya.
“Tidak akan aku apa-apakan. Aku hanya perlu menunggu sesuatu sebentar.”
“Apakah karena ada pembeli istimewa?”
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa?” Alder sedikit mendesak Azalea kali ini.
“Aku… Ada beberapa hal yang tidak bisa kujelaskan padamu untuk saat ini, Alder.”
Alder diam, tidak mendesak lebih lanjut. Dia bisa menangkap kesedihan dalam suara Azalea. Bahkan raut wajah Azalea yang tiba-tiba jadi murung membuat hatinya sedikit tidak tenang. Perasaan bersalah karena sudah memarahinya tadi siang, tanpa sadar masuk ke dalam dirinya. Dia ingin sekali menebus perasaan bersalah itu. Tapi bagaimana caranya?
“Apakah kamu sibuk setelah ini?” tanyanya.
“Ikutlah makan malam bersama di rumahku. Kamu juga belum makan malam ‘kan?”
Azalea terkejut mendengar ucapan Alder. Tapi dia tidak menolak dan pergi bersiap-siap dulu. Dia memakai dress floral selutut. Rambutnya yang biasanya terikat dibiarkan tergerai bebas. Pada dasarnya, dirinya tidak begitu suka memakai make up yang menurutnya hanya akan merusak kulit. Jadi dia hanya memoleskan pelembab dan bedak, kemudian lip balm pink untuk bibirnya.
Dirinya berjalan santai di samping Alder. Sampai di rumah, mereka disambut oleh orang tua Alder. Ayahnya, Paman Charles, dan ibunya, Bibi Brenda, tampak ramah menyambut kedatangan mereka. Azalea sedikit terkejut mengetahui wanita yang membeli bunga iris tempo hari adalah ibu Alder.
Sambil menunggu Alder selesai mandi, Azalea memutuskan membantu Bibi Brenda untuk menyiapkan makan malam. Dia tidak sadar kalau Bibi Brenda tersenyum memperhatikannya yang serius menata piring.
“Kamu tahu arti bunga iris, Azalea?”
“Artinya harapan, keberanian dan kekuatan,” jawab Azalea sambil tersenyum.
“Benar, Sayang. Bunga itu kubeli darimu, untukmu sendiri.”
“Maksud bibi bagaimana?”
“Kuberi tahu kamu sebuah rahasia. Alder selalu menceritakan segala hal pada bibi, apa pun itu, termasuk tentang dirimu. Apa yang menjadi rahasiamu memang privasimu, dan hal-hal lain menyangkut hatinya.”
Azalea terdiam mendengar ucapan Bibi Brenda yang mengelus lembut rambutnya. Saat hendak menanyakan maksud ucapan Bibi Brenda, tiba-tiba kepalanya bagaikan dihantam palu. Membuatnya mengernyit kesakitan dan jatuh terduduk. Hal itu jelas saja membuat Bibi Brenda panik. Beruntung hal itu hanya terjadi sesaat dan perlahan sakit di kepalanya mereda.
“Aku tidak apa-apa, Bi. Tolong jangan katakan apapun pada Alder, Bi,” pintanya.
“Tenang saja. Bibi akan menjaga hal ini.”
Makan malam itu terasa menyenangkan. Azalea yang selama ini makan sendiri merasa nyaman dan senang. Seolah-olah dia tengah makan bersama keluarganya sendiri. Hal itu membuatnya semakin rindu pada mereka. Tapi masih lama waktu yang harus di tempuhnya. Dia akan menjalani semuanya dengan sabar hingga waktunya selesai.
Setelah makan malam, Alder mengajak Azalea pergi ke gazebo belakang rumah. Mereka duduk mengobrol sambil menikmati kue buatan Bibi Brenda. Azalea melihat banyaknya bunga iris yang mekar tampak bersinar lembut di bawah cahaya bulan. Dia yakin kalau Alder juga melihat hal itu, hanya saja pemuda itu tak membicarakan apapun tentangnya.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Alder,” ucapnya setelah membulatkan tekad.
“Apa itu?” Alder memandangnya dengan raut wajah penasaran.
Azalea tersenyum sejenak kemudian mengangkat tangannya perlahan. Tampak dari kuntum bunga iris seolah-olah jiwanya terbang dengan sinar lembut. Setelah semua melayang tenang, Azalea menutup telapak tangannya. Kuntum iris cahaya itu pecah menghasilkan ribuan kuntum-kuntum kecil yang terbang di sekitar mereka. Azalea tersenyum memandang semua itu.
“Indah sekali,” ucap Alder sambil menengadahkan tangan ketika satu kuntum melayang perlahan dan jatuh di dalam telapak tangannya.
“Ini adalah cahaya hati yang dimiliki setiap bunga yang melambangnya hati pemiliknya. Aku tidak tahu siapa yang memilikinya. Tapi kalau cahayanya berkilauan indah, artinya hati orang itu baik. Orang yang memiliki hati jahat, kilauannya akan tekesan redup dan di kelilingi warna hitam. Hati bunga bisa digunakan untuk membersihkan orang yang hatinya jahat. Khusus bagi orang yang memang dekat dengan orang itu.”
Alder terdiam takjub dengan ucapan Azalea. Dia tahu kalau Azalea memang memiliki kekuatan dan bunga-bunganya juga istimewa. Tapi melihatnya langsung dari dekat seperti ini, membuat hatinya senang. Dia tahu kalau Azalea telah memercayainya secara penuh. Membuatnya tahu kalau Azalea telah mempersilakan dirinya untuk masuk.
“Apakah kekuatan florist terbatas dalam hal ini saja?”
“Tidak. Kekuatanku tidak terbatas dalam hanya ini saja. Kekuatan yang kumiliki sangat besar dan semua berkaitan dengan tanaman. Aku hanya belum menjelajah lebih jauh karena sibuk dengan kegiatan sebagai florist.”
“Ini pertama kalinya seorang florist yang datang memiliki kekuatan sebesar ini.”
“Apa maksudmu, Alder?”
Alder memandang Azalea dengan senyum misterius, “Dulu pernah ada seorang gadis sepertimu. Dia mencintai semua yang berhubungan dengan bunga.”
“Kemana perginya dia sekarang?”
“Entahlah.” Azalea mendengar kesedihan dan luka dalam suara Alder ketika melanjutkan ucapannya, “Dia menghilang saat malam purnama.”
Azalea diam mendengar cerita Alder. Sejak awal dirinya sudah mencari tahu lebih jauh tentang dunia florist. Tapi sejak awal juga dia sedikit terganggu dengan energi gelap yang datang. Belum lagi bunga petunia di dekat pintu tokonya. Sampai sekarang dia masih belum berhasil menemukan penanam bunga itu.
“Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi padamu, Azalea,” ucap Alder saat melihat kegelisahan di wajah cantik Azalea. “Aku akan menjaga, melindungi, dan membantumu selama kamu menjalani tugasmu. Oleh karena itu, biarkan aku mengenalmu lebih jauh.”
Hati Azalea menghangat mendengar ucapan Alder. Dia menatap Alder dan perlahan membulatkan tekad. Diceritakannya semua yang telah terjadi selama 3 bulan ini pada Alder. Tak sedikipun ada yang ditutup-tutupi olehnya. Dia memerlukan orang yang tepat untuk bisa diandalkan ketika dia butuh bantuan, dan orang itu adalah Alder.