Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 12 MONKSHOOD



“Kenapa kamu sejak kemarin kok jadi pemurung, Azalea?” tanya Aren.


Mereka bertiga tengah berjalan santai menuju ke perpustakaan kota. Poppy tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan. Suasana mengjelang sore hari tampak menyenangkan dengan pohon maple yang berdiri di sepajang jalan. Hembusan angin terkadang menerbangkan lembaran daun maple yang sudah tua.


Azalea tidak mengindahkan pertanyaan Aren dan memandang daun-daun maple yang beterbangan. Sungguh indah. Kalau tidak ke sini, selamanya dia hanya akan melihat daun maple dari foto. Alder dan Aren tersenyum melihat wajah Azalea.


“Kamu senang tinggal di sini, Azalea?” tanya Alder.


“Maple Willow kota yang indah. Banyak sekali tanaman yang baru pertama kali kulihat di sini. Belum lagi semua penduduknya begitu menghargai satu sama lain, semua masalah diselesaikan baik-baik, dan kalian semua juga sangat menghargai alam. Kalau saja kalian melihat tempat tinggalku, sangat jauh berbeda.” Terselip sedikit nada pahit di kalimat terakhir Azalea.


“Walaupun tugasmu nanti berakhir, datanglah ke mari untuk bermain kalau ada waktu. Kami selalu akan


menyambutmu,” sahut Aren.


“Aku akan senang sekali. Tapi mungkin ada beberapa hal yang membuatku baru bisa ke sini beberapa tahun lagi.”


“Tidak masalah. Kami akan menunggumu.”


Sampai di perpustakaan, Madam Elsie menyambut mereka dengan ramah. Bahkan memberikan semua yang diperlukan Azalea. Mereka juga diperbolehkan menggunakan ruangan khusus di bagian belakang agar tidak terganggu suasana perpustakaan yang masih ramai.


Di ruangan itu ada sebuah meja bundar dengan alas duduk berupa bantal-bantal kecil. Aren menggelar peta di atas meja bundar itu. Mereka bertiga duduk tenang memperlajari peta Maple Willow yang diapit oleh kota-kota kecil lain.


Total ada 6, yaitu Kota Auburn, Kota Amaryllis, Kota Dogwood, Kota Fragaria, Kota Pyrus, dan Kota Perchea. Semua kota itu memiliki keunikan dan legendanya masing-masing. Contohnya seperti Kota Auburn yang memiliki api ajaib yang tak pernah padam.


“Sekarang apa, Azalea?” tanya Aren yang merasa sedikit tidak sabar.


“Tunggu sebentar. Biar aku pelajari denah ketujuh kota ini,” sahut Azalea.


Setelah itu, Azalea meletakkan tangannya tepat di atas Maple Willow. Kedua matanya terpejam dan berusaha memfokuskan kekuatannya. Mencari barang jauh lebih susah, apalagi barang itu bukan tanaman. Karena itulah, dia membutuhkan waktu yang cukup lama.


Alder dan Aren duduk diam memperhatikan Azalea. Cukup lama mereka menunggu dengan perasaan khawatir. Hingga akhirnya dari darah di bawah telapak tangan Azalea muncul sulur yang berlahan memutari peta dan berhenti di sebuah kota. Begitu berhenti, sulur itu melingkar membentuk bunga azalea.


“Kota Auburn,” ucap Alder.


“Kota api abadi. Ada apa di sana? Untuk apa orang dari Auburn mengambil buku dari kota bunga?” komentar Aren dengan raut wajah bingung.


“Ada petunjuk lain, Azalea?” tanya Alder.


“Tidak,” jawab Azalea sambil menggeleng lemah.


Tak lama, Azalea langsung ambruk tak sadarkan diri. Alder dan Aren panik melihat hal itu. Alder membopong Azalea lewat pintu belakang perpustakaan. Bersama Aren, dia berjalan dengan cepat kembali ke rumah Azalea. Dengan lembut, dibaringkannya sang florist di atas tempat tidur. Dia kemudian menunggu di sofa ruang santai bersama Aren.


Azalea membuka mata dan menatap tempat asing di sekelilingnya. Sebuah padang luas dengan sungai mengalir di tengahnya. Padang itu sangat indah dengan berbagai macam semak dan perdu yang berbunga warna-warni. Udara terasa segar dengan berbagai macam aroma manis dan harum dari bunga serta buah yang tumbuh.


“Putri Azalea…”


Azalea yang tengah memetik buah blueberry terkejut dan menoleh.


“Putri Azalea…”


Suara itu kembali terdengar dari arah hutan. Perlahan dia berjalan mengikuti suaranya. Semakin jauh masuk ke dalam hutan, suasana terasa lebih mencekam. Udara dingin dari kabut membuatnya sedikit menggigil. Pohon-pohon tumbuh menjulang tinggi dan rapat. Membuat sinar matahari sulit masuk.


Azalea berhenti di depan sebuah pohon besar dengan tanaman berbunga ungu tumbuh di sekitarnya. Matanya memicing dan melihat suatu cahaya di dalam rongga pohon itu. Setelah itu, dia membungkuk untuk mengenali bunga ungu di dekatnya.


“Monkshood,” gumamnya pelan.


Sekuntum bunga azalea berwarna merah tampak bercahaya melayang turun ke arahnya.


“Tidak salah sang dewi jatuh hati padamu sejak ratusan tahun yang lalu. Hatimu begitu dipenuhi cahaya. Jaga dirimu baik-baik, Putri Azalea. Kedua adikmu akan membutuhkanmu ketika waktu mereka tiba.”


“Kamu siapa? Keluarlah.”


“Aku adalah penjaga three angel lights, Putri. Aku adalah penjagamu dan Rosetta. Jadi, kalau kamu membutuhkanku, panggil saja aku.”


“Bisakah kamu menjelaskan semuanya padaku? Aku masih belum mengerti semua ini,” pinta Azalea sambil berjalan mendekati pohon besar itu.


“Setiap kamu terlahir kembali menjadi sosok baru, sosok lamamu akan pergi, begitu juga ingatanmu, Putri. Kamu benar-benar akan menjadi orang baru dan ingatanmu akan masa lalu baru akan muncul ketika kamu berumu delapan belas tahu. Walaupun begitu, kamu tetaplah Putri Azalea yang mencintai alam.” Pohon itu tidak menjawab pertanyaan Azalea tentang Flora.


“Monkshood ini…?”


“Mereka datang dan memperingatkanku akan bahaya yang mengintaimu. Karena itulah aku memanggilku kemari, Putri. Kukembalikan cahaya hati yang kamu gunakan untuk melindungi Alder dan Aren. Sekarang kembalilah, Putri. Ingat! Berhati-hatilah dan jangan pernah meremehkan firasatmu.”


Pohon itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Ketika Azalea membuka matanya, dia sudah kembali ke kamar. Di tangannya, ada sekuntum bunga azalea merah masih mengeluarkan cahayanya. Dia duduk dan memejamkan matanya. Perlahan bunga itu mengeluarkan cahaya dan menyelubungi tubuhnya.


Tato berbentuk bunga azalea muncul dan bersinar sejenak di dahinya. Begitu tato itu menghilang, Azalea berjalan keluar dari kamar. Senyumnya mengembang melihat Alder dan Aren duduk bersama di ruang santai.


“Azalea,” ucap Aren dengan raut wajah lega kemudian mececarnya dengan berbagai macam bertanyaan, “Apa yang terjadi padamu, Azalea? Kenapa kamu tiba-tiba pingsan? Kami khawatir sekali padamu.”


“Aku baik-baik saja, Aren. Ada yang memanggilku saat aku menggunakan kekuatanku tadi,” jawab Azalea sambil


duduk di samping Alder.


“Siapa?” tanya Alder.


“Dia bilang kalau dirinya adalah penjagaku. Dia mengembalikan kekuatan yang kugunakan untuk membuatkan kalian pendant pelindung.”


“Lalu kenapa kamu melakukan hal itu?” tanya Alder lagi.


“Melakukan apa?” Azalea menoleh dan menatap bingung pada Alder.


“Kekuatanmu, Azalea. Kamu tidak boleh sampai kehilangan kekuatanmu atau Maple Willow akan hancur,” ucap Alder tegas.


“Aku mengkhawatirkan kalian. Bagiku kalian jauh lebih penting daripada kekuatanku.”


“Sudahlah, Alder. Yang penting sekarang Azalea baik-baik saja,” sela Aren sebelum Alder kembali memarahi Azalea.


Senyum Azalea mengembang melihat bagaimana Alder dan Aren sama-sama mengkhawatirkannya. Saat itu posisi duduknya berada di sebelah kanan Aren. Senyumnya menghilang ketika melihat tato seperti milik Alder di belakang daun telinga Aren. Bagaimana bisa Alder dan Aren memiliki tato yang hampir sama?


“Aku baru ingat,” ucapnya tanpa memikirkan masalah tato lebih lanjut. “Penjagaku itu memperingatkanku kalau aku dalam bahaya. Monkshood, bahaya yang mengintai benar-benar besar.”


“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Aren.


“Pertama, kita harus menyatukan kepingan petunjuk yang telah kita dapatkan,” jawab Azalea. Dia bergerak turun dan duduk di karpet.


Alder dan Aren mengikuti hal itu. Mereka berdua duduk di sebelah kanan dan kiri Azalea, kemudian memperhatikan Azalea yang menggunakan kekuatannya. Tampak beberapa macam benda melayang beberapa saat hingga kemudian terjatuh di atas meja.


Rupanya Azalea membuat semua bentuk dari petunjuk-petunjuk itu. Ada satu boneka kecil perempuan, bunga lobelia, bunga monkshood, judas tree, simbol musik, bintang sebagai lambang cahaya, dan sebuah buku. Sepertinya itu adalah buku yang hilang dicuri.


Aren bergerak menyusun semua benda-benda itu. Dia mengikuti urutan sejak peristiwa pertama. Susunannya adalah buku, boneka kecil perempuan, simbol musik dan bintang, judas tree, bunga lobelia, dan terakhir bunga monkshood.


“Urutannya sudah benar kan, Azalea?” tanyanya.


“Menurutku sudah,” jawab Azalea. “Yang pertama adalah peristiwa buku yang dicuri, kemudian hilangnya florist. Lalu musik dan bintang ini jadi satu, judas tree, bunga lobelia, dan terakhir monkshood.”


“Lalu sekarang apa?” tanya Alder.


“Entahlah, aku masih bingung. Apalagi memikirkan ucapan Flora semalam,” ucapnya pelan.


“Kenapa dengan ucapan Flora?” tanya Aren


“Ada yang janggal. Kata ‘seorang florist’ membuatku ragu. Apalagi kenapa dari awal Flora tidak langsung mengatakan kalau seorang florist telah berkhianat. Hm… entahlah.”


Sejenak hanya ada keheningan. Azalea sibuk memikirkan cara menyusun semua kepingan petunjuk itu. Alder dan Aren memilih mencari tahu apakah ada bagain yang kurang atau tidak. Menurut mereka berdua kalau semua sudah lengkap, seharusnya mereka bisa menyatukan petunjuknya dengan mudah. Itu artinya, masih ada yang kurang.


“Apakah semua florist itu baik, Azalea?” tanya Alder tiba-tiba.


“Segala sesuatu pasti ada sisi gelapnya. Semua yang berlebihan itu pasti tidak akan pernah berakhir baik,” jawab Azalea sambil tersenyum. “Semua harus seimbang, bahkan alam pun juga harus memiliki sesuatu untuk menyeimbangkannya.”


Alder dan Aren terdiam mendengar ucapan sang florist. Terdengar tenang, tapi juga misterius. Alder hanya merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan Azalea darinya. Namun dia tidak akan memaksa Azalea untuk mengatakannya. Dia tahu kalau Azalea pasti memerlukan waktu untuk memikirkannya dengan matang sebelum memberitahunya.


“Sebenarnya… Ada yang ingin kukatakan padamu, Azalea,” ucap Aren memecah keheningan.


“Soal apa?” tanya Azalea.


“Tentang Poppy,” jawab Aren sambil memandang Azalea dengan sorot mata ragu. “Secara jujur di sini aku akan mengatakan kalau aku tidak benar-benar mencintai Poppy. Aku hanya membuatnya seperti itu agar kamu tidak curiga. Aku mau saja menjadi kekasih Poppy agar aku bisa mengenalnya lebih jauh.”


“Kenapa kamu melakukan hal itu, Aren? Kenapa juga kamu tidak memberitahukannya padaku?” tanya Alder dengan nada tegas.


“Karena Poppy sahabatmu sejak kecil, Alder. Aku takut kamu akan marah kalau aku mengatakan yang sejujurnya. Maafkan aku,” jawab Aren dengan suara semakin pelan.


Azalea menghela napas mendengar cerita Aren tentang Poppy. Gadis cantik yang selama ini terlihat ceria ternyata menyimpan sisi kelam. Poppy benar-benar sosok yang cerdik karena mampu menipu semua orang. Bahkan hingga semua percaya kalau dirinya benar-benar gadis yang baik dan polos.


“Ternyata, ini maksud ucapan guardian tree,” ucap Azalea sambil menghela napas.


“Apa itu?” tanya Aren.


“Jangan pernah meremehkan kata hati,” jawab Azalea.


Dia menyampaikan semuanya pada Alder dan Aren. Termasuk memperingatkan keduanya agar tetap bersikap biasa pada Poppy. Juga agar mereka bersikap waspada pada apapun dan siapapun itu.