Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
[S02] PART 1 FRENEMY



“Kamu bisa nggak sih, nggak usah deket-deket sama adikku?” tanya Laura dengan nada ketus.


“Emangnya kenapa? Salah ya? Orang adikmu sendiri emang mau deket sama aku kok,” sahut Azalea cuek.


“Tapi aku nggak suka!” sentak Laura kesal. “Rosetta itu adikku! Sekarang dia justru nganggep kamu kakaknya.”


“Aku nggak tahu sih ya Rosetta udah cerita apa aja sama kamu,” ucap Azalea sambil berdiri dan menyilangkan kedua tangannya. “Tapi, dia juga adikku. Kami memiliki hubungan saudara yang kamu nggak bakal bisa ngerti.”


Azalea memandang Laura angkuh, sementara Laura balik memandang kesal. Pertengkaran Azalea dan Laura yang terjadi di kantin cukup menarik perhatian. Well, semua tahu kalau Azalea dan Laura sudah menjadi musuh sejak SMP. Ada saja hal yang menjadi bahan pertengkaran mereka.


Semua sudah paham dan memaklumi sifat Laura yang tidak mau menjadi nomor 2. Masalahnya sekarang adalah Azalea dan Laura memperebutkan Rosetta, yang notabene adik kandung Laura. Jelas saja hal itu menarik perhatian semua yang ada di kantin.


Gina menghela napas pelan melihat pertengkaran Azalea dan Laura. Azalea sudah menceritakan semua padanya dan dia mempercayai semua ucapan sahabatnya itu. Baginya, Azalea memang sosok remaja ajaib. Sekarang dia bingung harus membenarkan siapa. Mereka berhak menganggap Rosetta sebagai adik.


“C’mon guys!” ucapnya menengahi pertengkaran itu. “Kenapa kalian nggak berteman aja sih? Kan kalo gitu bisa main bareng-bareng bertiga.” Dia berusaha memberikan solusi.


“Hell, no!/No way!” sahut Azalea dan Laura tidak setuju dengan usul Gina.


“Terus, kalian mau berantem sampai kapan?” Gina menghela napas pelan melihat kekeras kepalaan Azalea dan Laura. “Aku nggak bela salah satu dari kalian, tapi yang Azalea bilang itu bener, Lau. Kamu sebagai kakak kandung punya hak atas Rosetta. Tapi, ada sesuatu yang membuat Azalea juga berhak atas Rosetta.”


“Pokoknya lihat aja! Aku nggak bakal diem aja!” ucap Laura sebelum mengajak Isabel dan Nindya pergi.


Azalea menjulurkan lidahnya di belakang Laura. Setelah itu, dia kembali duduk di kursinya dan menikmati makanannya. Semua yang ada di kantin juga kembali fokus dengan kegiatan masing-masing.


“Aku nggak minta kamu percaya sama semua ceritaku, Gina. Lagi pula, aku belum nunjukin apa-apa sama kamu,” ucap Azalea pelan.


“Kamu nggak perlu buktiin apa-apa, Lea. Selama kita sahabatan, kamu selalu jujur kok sama aku,” sahut Gina lembut.


“Ikut aku ke taman belakang yuk! Habis ini jam kosong ‘kan?”


“Ngapain ke taman belakang?”


“Udahlah. Yuk, ikut aja.”


Gina menyambar minumannya dan mengikuti Azalea ke taman belakang sekolah. Entah kenapa, dia merasa suasana di sekolah sedikit lebih kelam dari biasanya. Lebih tepatnya, suasana itu sudah berlangsung sejak dua minggu sebelum Azalea kembali. Semakin hari, semakin terasa berat dan gelap. Dia takut untuk mengatakan apa yang dirasakannya pada Azalea.


Di taman belakang, ada beberapa murid yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang duduk membaca buku sambil mendengarkan musik. Ada yang asik berfoto, sepertinya murid-murid kelas satu. Selebihnya ada yang sekadar menikmati suasana sejuk taman belakang.


Azalea berhenti di bangku favoritnya sejak dulu. Dia menunggu sampai Gina duduk tenang di sebelahnya. Setelah itu, dia memejamkan matanya sejenak. Begitu membuka mata, kedua irisnya berwarna merah keemasan. Dia menggerakkan tangannya.


Gina takjub melihat sekuntum bunga matahari bersinar beberapa saat dan melayang ke arah mereka duduk. Dalam hati dia bersyukur semua yang ada di situ sibuk sendiri-sendiri sehingga tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Azalea. Dia membuka telapak tangannya menangkap kuntum bunga matahari itu. Perlahan, kuntum itu bersinar dan berubah menjadi liontin kaca yang cantik.


“Wow! It’s beautiful!” ucap Gina sambil mengelus liontin itu.


“Kamu suka?” tanya Azalea. Kedua matanya telah kembali seperti biasa.


“Suka. Bunga matahari kan emang favoritku,” sahut Gina.


“Pasang di kalungmu gih!”


Gina melepas kalung yang dipakainya kemudian memasangkan liontin itu. Dia membuang liontin berbentu lebah yang selama ini dikenakannya. Dia diam ketika Azalea menyentuh liontin yang bertengger manis di dadanya. Seberkas cahaya muncul dan masuk ke dalam tubuhnya.


“Kalau kamu berada dalam bahaya, kamu cukup sentuh liontin itu dan sebut namaku,” ucap Azalea.


“Makasih ya, Lea. Sejak pertama kali kenal, kamu udah berbuat banyak banget demi ngelindungin aku.”


“Sama-sama, Gina. Aku udah anggap kamu kayak kakakku sendiri kok.”


Dua minggu sebelum kepulangan Azalea, sebuah peristiwa aneh terjadi. Di seluruh kaca apa pun itu, mulai dari kaca rumah, kantor, mobil, ada simbol terukir. Sebuah simbol berbentuk sebuah pohon dengan tiga kuntum bunga berbeda berwarna hitam pekat. Di belakang simbol itu ada semacam pohon.


Azalea duduk diam mendengarkan cerita Gina dengan serius. Keningnya berkerut mendengar penuturan Gina. Sebuah perasaan was-was merasuki dirinya. Semak aneh itu jelas merupakan wujud dari three angel lights tree, simbol dirinya, Asphodella dan Rosetta. Yang jadi masalah adalah pohon yang menjadi background.


“Sejak setelah itu, aku ngerasa suasana jadi sedikit berbeda. Kamu tahu sendiri kan aku tipe orang yang peka sama perubahan, sekecil apapun itu,” ucap Gina menutup ceritanya.


“Semak aneh yang memiliki tiga jenis bunga itu bernama three angel light tree. Simbolku, Asphodella, dan Rosetta. Masalahnya, pohon apa yang kamu lihat itu? Di dunia florist, ada tiga jenis pohon yang menjadi sumber kekuatan sihir para florist. Blood tree, judas tree, dan rhodocea tree.”


“Aku juga nggak tahu. Soalnya pohon itu cuma muncul sekilas terus ilang.”


“Hm…”


Azalea tampak berpikir sejenak. Kemudian menggerakkan tangannya mengambil sekuntum azalea putih yang ada di sebelah bangkunya. Dia menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan mata. Perlahan, azalea itu bersinar dan menghilang menjadi kerlap-kerlip cahaya yang terbang ke langit.


“Aku mengirim pesan pada Briana dan Asphodella. Aku harap hal ini tidak terjadi di tempat lain.”


“Aku juga berharap demikian.”


Setelah itu, keduanya bercakap-cakap hingga bel masuk berbunyi. Walaupun berusaha bersikap tenang, tidak bisa dipungkiri kalau hati Azalea gelisah. Apakah firasatnya yang mengatakan akan ada sesuatu yang berbahaya terjadi itu benar? Dia takut kalau sampai Asphodella dan Rosetta terluka.


Sepulang sekolah, Azalea dan Gina tersneyum melihat Rosetta sudah menunggu di gerbang. Rosetta berlari mendekat dan memeluk Azalea penuh sayang. Rosetta bahkan mengacuhkan keberadaan Laura yang menatap kesal pada Azalea.


"Beli es krim yuk!" ajak Gina.


"Boleh, tapi aku bilang sama Kak Laura dulu ya," ucap Rosetta.


Rosetta berlari mendekati Laura yang tengah berdiri mengobrol bersama Isabel dan Nindya. Diacuhkannya omelan beberapa teman yang ditabraknya dengan sengaja. Namanya memang sudah terkenal di sekolah sejak pertama kali masuk. Julukannya adalah Rosetta si Pembuat Onar. Walaupun begitu, semua senang dengannya karena sikapnya yang supel, ramah, dan terbuka pada semua orang.


“Kak, aku sama Azalea dan Kak Gina mau makan es krim. Kakak mau ikut?” tanya Rosetta pada Laura.


“Nggak ah. Kakak mau pergi ke mall cari make up sama Kak Isabel dan Kak Nindya. Kamu jangan pulang sore-sore ya,” sahut Laura.


“Iya, Kak. Daa…”


Rosetta kemudian kembali ke tempat Azalea dan Gina berada. Dia mengajak Azalea dan Gina bergegas ke toko es krim yang terkenal enak walaupun mahal, Toko Oen. Mereka masuk ke dalam mobil Gina yang memang diperbolehkan membawa mobil sejak tahun lalu. Di sepanjang jalan, mereka bertiga bercerita dan tertawa bersama.


Rosetta senang karena bisa bertemu lagi dengan Azalea. Walaupun ingatannya belum kembali sepenuhnya, dia benar-benar menyayangi Azalea. Bahkan melebihi rasa sayangnya ke Laura, kakak kandungnya. Sepertinya pepatah yang mengatakan bahwa kenangan masa lalu terkubur di alam bawah sadar itu benar. Walaupun kita telah melupakan seseorang di masa lalu, kenangan tentangnya akan tetap tersimpan rapi di dalam hati.


“Firasatnya Kak Gina bener kok,” ucap Rosetta mendengar penuturan Gina soal perubahan suasana. “Soalnya aku juga ngerasain hal itu. Cuma kalo masalah simbol itu, aku nggak lihat.”


“Aku takut simbol itu pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi,” sahut Gina.


“Sama. Cuma aku harus nyari tahun pohon yang muncul itu pohon apa,” ucap Azalea.


“Mungkin kita bisa menelaah ingatan Kak Gina.”


“Kamu tahu caranya?” tanya Azalea.


“Aku bisa kok yang kayak gitu,” jawab Rosetta.


“Aku nggak heran sih,” sahut Gina. “Kamu, Rosetta, dan Asphodella pasti memiliki keistimewaan masing-masing, Lea. Kayak kamu bisa lihat dan ngambil cahaya hati manusia, Rosetta bisa melihat ngelihat ingatan masa lalu dan ngelihat melalui bunga.”


‘Tunggu dulu. Melihat ingatan masa lalu? Mungkinkah Rosetta bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Carissa? Apa ini maksud dari bunga mawar yang ditunjukkan oleh guardian tree?’ Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran Azalea.


Satu-satunya cara untuk membuktikan semuanya hanyalah meminta Rosetta melakukannya secara langsung. Tapi, dia harus menunggu jawaban dari Briana dan Asphodella dulu. Barulah setelah itu dia bisa mencari tahu masalah Carissa.