Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
[SEASON 1] EPILOG



Azalea membuka kedua matanya dan tersenyum melihat ruangan yang sudah tidak asing baginya. Kamarnya di rumah. Semua barang-barangnya masih tertata rapi dan bersih di tempat masing-masing. Dia menghela napas pelan.


“Kamu sudah kembali, Nak?”


Suara Mama mengejutkannya. Dia menoleh dan tersenyum melihat kedua orang tuanya, Kak Ririe dan Kak Rasya berdiri di pintu kamar. Senyum mereka tampak begitu bahagia dan lega melihatnya kembali dalam kondisi baik-baik saja.


“Iya, Mama. Azalea sudah pulang,” sahut Azalea.


Dia berdiri dan menghampiri keluarganya. Papa, Mama, Kak Ririe, dan Kak Rasya memeluknya erat. Bergantian mereka mengecup pipi dan keningnya. Setelah itu, Mama dan Papa menyuruh agar Azalea bisa istirahat dan pembicaraan dilakukan esok hari. Mama, Papa, Kak Ririe, dan Kak Rasya meninggalkan Azalea agar bisa membersihkan diri dan beristirahat.


Azalea tengah melipat pakaiannya ketika semilir angin dari pintu balkon mengagetkannya. Dia menoleh dan tersenyum melihat sekuntum mawar melayang perlahan ke arahnya. Dia menangkap kuntum mawar itu dan mengelusnya perlahan. Kemudian, dia menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan mata.


Ketika membuka kedua tangannya kembali, kuntum mawar merah itu telah berubah menjadi azalea merah. Dia membiarkan kuntum itu terbang melayang pergi.


“Kapanpun kamu siap, Rosetta,” gumamnya pelan sambil memperhatikan kuntum azalea itu.


Esok harinya, Azalea bangun dalam kondisi segar. Dirinya terbiasa dengan apa yang telah dijalaninya selama 2 tahun di Maple Willow. Begitu bangun, dia membersihkan diri dan memilih pergi ke taman belakang.


Sambil bersenandung kecil, dia menyiram kebun bunga milik Mama. Hari masih remang-remang ketika dia meletakkan kembali selangnya. Dia berdiri di tengah-tengah hamparan bunga dan memejamkan mata.


Perlahan tubuhnya terangkat dan melayang. Saat membuka mata, kedua irisnya berubah menjadi merah darah sempurna. Dia kemudian menggerakkan tangannya. Kuntum-kuntum bunga di sekitarnya memancarkan cahaya lembut dan perlahan terangkat.


“Azalea?”


Sebuah suara mengejutkannya. Tanpa menoleh, dia menggerakkan tangannya dan membentuk semacam anak panah kecil dari cahaya hati bunga. Dengan kecepatan tinggi, anak panah itu melesat.


“Ini aku kakakmu, Lea. Kak Ririe.” Anak panah itu berhenti beberapa cm dari dada Kak Ririe yang masih berjengit ngeri.


Azalea diam dan memejamkan matanya. Perlahan, tubuhnya turun dan menapak di tanah. Begitu membuka kedua matanya, semua tampak kembali normal. Dia kemudian berbalik dan menghampiri Kak Ririe.


“Kakak takut?” tanyanya sambil menggerakkan tangannya.


Kak Ririe terdiam mendengar pertanyaan adiknya. “Kalau kamu meminta kakak jujur, maka kakak akan menjawab iya.”


Azalea tersenyum kecil dan mengembalikan semua dalam keadaan normal. “Maaf ya, Kak,” ucapnya sambil meraih kedua tangan Kak Ririe. “Aku nggak bermaksud buat kakak takut. Ada banyak hal yang terjadi sejak aku menjadi florist. Semua hal itu juga yang membuatku kembali ke sini jadi sosok Azalea yang berbeda.”


“Haaahh…” Kak Ririe menghela napas pelan. “Sewaktu kamu pergi, Mama udah cerita semuanya ke kakak sama Kak Rasya. Buat kakak, kamu tetap Azalea adik kakak.”


Azalea tersenyum dan memeluk Kak Ririe. Ingatan akan masa lalunya membuat dirinya merasa berbeda akan keluarganya sendiri. Seperti mereka semua adalah orang asing. Dalam hati dia justru tidak sabar untuk bertemu dengan Rosetta dan Asphodella.


Sarapan pagi itu diisi dengan cerita dari Azalea. Tanpa menyembunyikan apapun, dia menceritakan semua yang dialaminya selama menjadi florist. Dia bahkan memberitahu masalah Alder, Aren, Rosetta, dan Asphodella. Dia melihat raut sedih di wajah Mama.


“Aku cuma minta tolong, agar Papa dan Mama nggak ngelarang aku untuk melakukan apapun itu. Dan kalau aku bilang mau pergi, tolong ijinkan saja,” sahut Azalea.


“Ada yang belum kamu ceritakan pada kami, Lea?” tanya Kak Rasya.


“Ada beberapa hal yang nggak bisa aku ceritain di sini,” jawab Azalea.


“Kenapa, Sayang? Apakah kamu belum percaya pada keluargamu sendiri?” tanya Mama bingung.


“Bukannya aku nggak percaya pada Mama, Papa, Kak Rie dan Kak Rasya. Hanya saja, aku merasa masalah ini cukup aku sendiri yang tahu karena hanya aku yang bisa menyelesaikannya.”


Semua terdiam mendengar ucapan Azalea. Semua bisa melihat kalau Azalea tengah membawa beban berat. Hal itu terlihat jelas dari kedua mata Azalea yang tampak sendu dan lelah.


“Mama terserah padamu, Nak. Bagaimanapun juga, kelahiranmu itu titipan dari ibumu yang sebenarnya,” ucap Mama lembut.


“Yang penting, kalau memang kamu kesulitan, jangan ragu buat bilang pada Papa, Mama, Kak Ririe, dan Kak Rasya ya?” sambung Papa.


“Benar, Lea. Walaupun kami nggak termasuk dalam hal ini, kami tetap ingin membantumu,” sahut Kak Ririe.


Azalea tersenyum mendengar ucapan keluarganya. Dia kemudian memberi tahu masalah Ratu Mary, Flora, Sophia dan Poppy. Dia meminta tolong agar tidak percaya pada siapapun yang tampak baik.


Selepas sarapan, Azalea pergi ke teras dan meregangkan tubuhnya. Dia diberitahu oleh Papa kalau akan kembali didaftarkan di sekolahnya yang lama. Hal itu karena Azalea belum lulus dan masih kurang satu semester lagi. Azalea mengiyakan saja.


* * *


Kehadirannya pagi itu di sekolah jelas membuat semua heboh. Dia pergi ketika memasuki semester kedua kelas 1 dan kembali begitu masuk di semester kedua 2 kelas 3. Terlebih bagi Gina danLaura yang tidak mengira kalau dirinya akan kembali.


“Aku nggak nyangka kamu balik, Lea!” pekik Gina sambil memeluk erat sahabatnya.


“Tentu aja aku balik. Kan aku di sana cuma dua tahun,” jawab Azalea.


“Udah ah! Jangan sedih lagi. Aku kan udah balik,” ucap Azalea sambil merangkul bahu sahabatnya.


Gina meminta Azalea duduk bersamanya. Dia mengusir teman sebangkunya yang asli. Dia benar-benar bahagia karena sahabatnya kembali ke sini. Diceritakannya semua yang terjadi di sekolah selama dirinya pergi, termasuk soal Laura.


“Laura masih sekolah di sini ‘kan?” tanya Azalea.


“Masih kok. Cuma dia kan masuk IPS,” jawab Gina.


“Nanti sepulang sekolah anterin aku ke supermarket ya? Aku mau mampir ke rumahnya,” pinta Azalea.


“Mau ngapain? Dia udah jahat lho sama kamu, Lea,” protes Gina.


“Aku tau. Tapi aku bukan tipe pendendam. Aku pengen sebelum lulus semua masalahku selesai tanpa musuh.”


“Okay. Tapi aku nggak bisa ikut soalnya harus bantu Mama buat pesenan kue.”


"Nggak apa-apa. Aku bisa sendiri kok."


Sepulang sekolah, Azalea diantar Gina ke supermarket membeli buah. Azalea tidak enak kalau datang dalam keadaan kosong tampak membawa buah tangan. Cukup lama dia menunggu sampai pintu dibukakan oleh Bu Sita, pembantu rumah tangga di situ.


“Bu, saya teman sekolahnya Laura, tapi beda jurusan. Apa dia udah pulang?” tanya Azalea sopan.


“Wah… Kebetulan sekali, Non. Baru saja Non Laura pulang. Mari masuk,” ucap Bu Sita.


Azalea mengikuti Bu Sita masuk dan menunggu di ruang tamu. Ternyata, Laura datang bersama kedua orang tuanya. Walaupun terkejut, raut wajah Laura tetap terlihat ketus ketika menatap Azalea.


“Jadi kamu ini yang namanya Azalea?” tanya Tante Ilka.


“Iya, Tante. Maaf dulu saya sering bertengkar dengan Laura,” jawab Azalea.


“Nggak apa-apa kok. Kami sempat kaget waktu Laura bilang dia udah buat teman satu sekolahnya pindah.”


“Saya pindah bukan karena masalah dengan Laura. Tante saya di London meminta bantuan karena harus menjaga anaknya yang sakit."


Saat tengah bercakap-cakap, sosok cewek berparas cantik berambut panjang datang. Dia terlihat lelah dalam balutan seragam sekolahnya. Matanya memandang Azalea lekat-lekat. Sedetik kemudian langsung menubruk dan memeluk Azalea erat-erat.


“Rosetta?” ucap Azalea terkejut.


“Aku nggak tahu kalo Azalea temen Kak Laura yang sering diceritain cewek jahat itu kamu,” ucap Rosetta sambil melepas pelukannya.


“Aku bahkan nggak tahu kalau Laura punya adik,” sahut Azalea.


“Kalian saling kenal?” tanya Tante Ilka dengan raut wajah bingung.


“Dia ini Azalea, kakak angkatku dari masa lalu,” jawab Rosetta dengan senyum misterius. Dia mengacuhkan pandangan kebingungan dari kedua orang tua dan kakaknya. “Aku ganti baju dulu terus jalan-jalan ke taman ya?”


“Boleh,” sahut Azalea.


Begitu Rosetta pergi, Azalea terpaksa membuat cerita bohong perihal dirinya yang mengenal Rosetta. Gaya bicaranya yang mantap membuat Tante Ilka dan Om Ridwan percaya begitu saja. Dia mengacuhkan tatapan tidak suka dari Laura.


Azalea dan Rosetta pergi ke taman setelah pamit dengan orang tua Rosetta. Di situ, mereka berdua saling bercerita banyak hal. Rosetta menceritakan waktu dimana kekuatannya kembali dan ingatannya mulai muncul.


Tiba-tiba biji ray floret melayang turun dan berhenti di hadapan mereka. Biji itu bersinar dan terdengar suara yang cukup dikenal oleh Azalea.


Aku baik-baik saja di sini, Azalea. Sepi tanpa dirimu. Kamu benar, kemarin malam, sosok berjubah datang dan hendak masuk ke dalam area toko. Tapi untungnya tidak berhasil karena pelindung yang kamu pasang. Kukirimkan apa yang kuambil dari sosok itu.


“Briana ya?” tanya Rosetta.


“Benar. Aku memberitahunya agar mengirimkan pesan padaku lewat ray floret,” jawab Azalea.


Di hadapan mereka sekuntum cahaya bunga peony melayang. Cahaya itu kemudian berubah warna menjadi merah dan meneteskan darah.


“Perang baru saja dimulai,” ucap Rosetta.


“Kita harus pergi mencari Asphodella,” sahut Azalea.


“Kapapun itu, aku siap!” sahut Rosetta dengan nada bersemangat.