Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
[S02] PART 10 THE LAST MESSAGE OF QUEEN ANDARA



Begitu Bibi Lula dan Paman Jake kembali, Azalea meminta izin untuk pergi menemui Asphodella. Memang mendadak, tapi Azalea sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Semua karena gerbang pertama telah terbuka. Gerbang yang tidak pernah diingatnya sama sekali.


“Tapi, gimana cara kita melewati kabut ini?” tanya Rhys.


“Rhys benar,” sahut Briana. “Kabutnya semakin tebal dan kekuatan kita semua akan terkunci kalau sampai menyentuhnya.”


“Aku tahu,” jawab Azalea sambil mengeluarkan setangkai bunga asphodel.


Azalea memejamkan matanya sejenak. Bunga asphodel itu mengeluarkan sinar dan melayang di tengah mereka berempat. Begitu membuka mata, Azalea menggandeng tangan Rosetta dan Briana yang ada di kanan dan kirinya. Jadinya mereka membentuk lingkaran di sekeliling bunga itu. Perlahan, embusan angin terasa di sekitar mereka.


Ketika membuka mata, Rhys, Briana, dan Rosetta terbelalak melihat mereka melayang di atas danau. Mereka bertiga terkejut melihat kilasan sayap cahaya di belakang tubuh Azalea seiring simbol mahkota yang muncul di keningnya. Perlahan, tubuh mereka berempat menapak di atas air.


“Della!” pekik Rosetta senang.


“Rosie!”


Azalea membuka matanya. Sayap dan simbol mahkota di dahinya menghilang. Mereka berempat pergi ke tepi danau mendekati Asphodella. Azalea dan Rosetta hanya bisa memandang Asphodella senang, sementara Briana dan Rhys memeluknya.


“Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu kalian,” ucap Asphodella.


“Aku kangen sama kamu,” ucap Rosetta.


Tiba-tiba, dari tengah danau muncul daun-daun berwarna merah dan pink. Dari balik daun itu, sosok Rhocya dan Cercia tersenyum melihat ketiga putri telah berkumpul. Cahaya bulan jatuh ke tengah danau, membentuk sosok perempuan berambut hitam berwajah lembut.


“Ibunda Andara!” pekik Asphodella.


“Anak-anakku.”


Ratu Andara berjalan mendekati Azalea, Rosetta dan Asphodella diikuti oleh kedua penjaga magical tree. Wajah Ratu Andara tampak lega meliat ketiga putrinya baik-baik saja. Sosoknya yang muncul saat ini terbentuk dari kristal dan cahaya bulan karena raganya telah tiada.


“Briana dan Rhys memberi hormat pada Ratu Andara,” ucap Briana dan Rhys yang berlutut.


“Bangunlah, Rhys, Briana,” sahut Ratu Andara. “Aku senang karena kalian berdua sudah melaksanakan tugas kalian dengan baik.”


“Terima kasih, Ratu,” ucap Briana.


“Ibunda tidak bisa terlalu lama, Sayangku. Ibu ingin kalian bertiga mendengarkan pesan Ibu baik-baik,” ucap Ratu Andara lembut.


Gerbang pertama telah terbuka, kegelapan telah melingkupi dunia.


Ketika gerbang ketiga terbuka, dunia akan menangis karena salah satu putri harus pergi.


Apa yang telah ada tidak bisa dimusnahkan, tapi bisa diubah.


Kematian memang tidak bisa dielakkan, tapi kebangkitan setelahnya adalah pilihan.


Ia adalah pembimbing menuju cahaya.


Di antara ketiga putri, hanya satu yang mampu menghentikan semuanya.


Tapi, pilihan itu ada di tangannya.


Akankah dia membiarkan kegelapan melingkupi dunia atau menjadi terang dan mengusir kegelapan itu.


Jawabannya, hanya bisa diketahui olehnya yang terpilih.


Masa yang telah datang ini akan menjadi penentu dari masa depan yang akan datang.


Berjalanlah ikuti ia menuju cahaya, maka yang terpilih akan mengetahui semuanya.


Dua putri akan menjadi pelindungnya, dia akan menjadi cahayanya.


Ketika sinar bulan purnama biru jatuh ke atas danau, apa yang tertukar akan kembali ke tempatnya semula.


Ketika waktunya tiba, three angel lights tree akan menunjukkannya.


Setelah berkata seperti itu, tubuh Ratu Andara memudar. “Ibu percaya kalian akan melakukan yang terbaik untuk masa depan nanti,” ucap Ratu Andara lembut.


Azalea, Rosetta, dan Asphodella hanya bisa terdiam menahan kesedihan. Melihat sosok sang Ibunda perlahan menghilang. Menyisakan pedang kristal yang melayang di hadapan mereka. Asphodella kemudian meraih pedang itu dan menyimpannya menggunakan kekuatan.


“Seumur-umur, aku selalu berharap bisa bertemu kedua Ratu. Sayangnya, aku hanya bisa bertemu Ratu Andara sekali,” ucap Briana pelan.


“Jangan larut dalam kesedihan,” ucap Azalea lembut. “Kita sudah berjanji akan memperbaiki takdir, maka kita harus menepatinya. Kalian berdua tidak ingin kedua Ibunda kecewa, ‘kan?”


“Tapi, nggak ada Alder dan Aren. Apa kita sanggup melawan mereka semua?”


tanya Rosetta pelan.


“Ingat pesan yang baru saja disampaikan oleh Ibu Andara. Pelan-pelan, kita akan mengungkap satu per satu misterinya. Pertama, kita harus mencari ingatan yang tersembunyi itu,” sahut Azalea lembut.


“Aku akan bawa kita semua ke suatu tempat,” ucap Rosetta.


Mendengar ucapan Rosetta, yang lain berkumpul di sekelilingnya. Tangan mereka menyentuh tubuh Rosetta dan memejamkan mata. Asphodella sendiri kaget karena ternyata dia bisa menyentuh tubuh Rosetta tanpa merasakan sakit. Dia ikut memejamkan mata ketika merasakan embusan angin.


Rosetta membawa mereka ke sebuah tempat yang sudah diketahuinya sejak beberapa minggu yang lalu. Hanya saja, untuk pergi ke tempat itu, dia membutuhkan kekuatan yang besar. Karena itulah, pergi dari padang chrysanthemum adalah hal yang tepat. Dia menyerap kekuatan cahaya dari padang itu.


“Tempat ini 'kan ... padang cahaya.” Briana terkejut melihat ke sekelilingnya.


“Ini tempat dalam ingatan yang dititipkan pada Mama,” sahut Azalea.


“Benar. Butuh waktu lama bagiku untuk menemukan tempat ini. Untung Bibi Lula memberi tahu kalau semua rumah saling terhubung. Rumah ini, terhubung dengan ingatan di rumah Maple Willow,” jelas Rosetta.


“Tapi, untuk pergi ke tempat ini membutuhkan kekuatan yang sangat besar, Rosie,” ucap Rhys. “Lihatlah di tengah danau.”


Semua melihat ke arah tengah danau yang berukuran cukup besar. Di tengah danau, tampak three angel lights melayang. Di sekelilingnya tampak daun-daun merah Rhodocea Tree dan pink Judas Tree bergerak lembut dengan sinarnya masing-masing. Keduanya melindungi three angel lights tree. Selain itu, tampak cahaya-cahaya hati bunga yang melayang melapisi permukaan danau.


“Itu cahaya hati Carissa Blythier, florist yang menghilang dari Maple Willow,” ucap Azalea yang kemudian mengulurkan tangannya.


Cahaya hati bunga primrose melayang pelan ke tangan Azalea. Sampai di atas telapak tangan azalea, cahaya itu melayang kemudian berubah menjadi sekuntum bunga primrose. Azalea memejamkan matanya.


Rosetta mengulurkan tangan ke atas bunga itu. Dia mencari tahu keberadaan Carissa melalui ingatan cahaya hati bunga itu. Keningnya berkerut melihat sebuah padang di hutan dekat tepi jurang. Di sekeliling padang itu tampak quacking grass, seolah-olah memenjarakan siapa pun yang ada di situ.


“Aku merasa kenal dengan tempat itu,” ucap Azalea sambil membuka mata.


“Di mana memangnya?” tanya Rhys yang melihat dari pantulan.


“Aku pernah diculik sepasang suami istri yang putrinya juga jadi florist, namanya Stacey. Dia menggunakan feverfew untuk berkomunikasi dan melindungiku. Mereka hendak membunuhku karena mengira Stacey bisa kembali kalau aku mati. Jurang itu ada di hutan sebelah Barat Maple Willow,” jelas Azalea.


“Haruskah kita ke sana sekarang?” tanya Asphodella.


“Tidak. Terlalu berbahaya dengan kabut hitam yang melingkupinya. Belum lagi, di sana ada Flora yang menyamar menjadi Briana,” jawab Azalea. “Aku butuh bittersweet.”


“Akan kucarikan,” sahut Asphodella. “Sepertinya, di sekitar padang ini ada.”


“Akan kutemani,” ucap Rosetta langsung menggandeng sang kakak.


Rosetta tidak menyadari keterkejutan di wajah kedua kakaknya, Rhys, dan Briana. Dia menarik Asphodella dengan sikap ceria. Hal itu tak urung membuang hati Asphodella ikut menjadi ceria. Mereka tampak sesekali berlari kecil.


Azalea kemudian berbalik memandang three angel lights yang ada di atas danau. Matanya mengamati rupanya yang tampak berbeda. Bunga asphodel tampak berwarna putih bersih, bunga azalea berwarna merah sempurna, sementara bunga mawar tampak berubah warna antara merah dan putih, tapi bukan pink.


“Ketika cahaya bulan purnama biru jatuh ke atas danau,” ucap Azalea.


“Bulan purnama biru itu tepat tanggal 24 Desember nanti. Kita punya waktu tiga bulan,” ucap Rhys. “Apa yang akan terjadi sebelum itu? Lalu, masalah gerbang itu … “


“Gerbang kedua akan terbuka ketika Della membuka sihir gelapnya yang paling kuat,” sahut Azalea.


“Apakah itu artinya kamu telah membuka kekuatanmu, Azalea?” tanya Briana.


“Aku telah memakai kekuatanku jauh melebihi batas yang ada,” jawab Azalea. “Aku bahkan pernah menggunakan kekuatanku hingga nyari memunuh orang di tempat asalku.”


Rhys dan Briana terdiam mendengar nada pahit dalam suara Azalea. Mereka bisa tahu kalau Azalea takut karena sebelumnya tidak pernah melukai orang lain. Semua sesuai dengan pesan yang mereka dapatkan dari Ratu Aleena. Ketiga Putri telah menggunakan kekuatan mereka melampaui batasnya.


Azalea menyentuh pendant dari Alder. “Rhys … Briana .... “


“Iya? Ada apa, Azalea?” jawab Rhys.


“Aku minta kalian berdua berjanji padaku. Apa pun yang terjadi, kalian akan melindungi Rosetta.” Azalea menatap kedua guardian itu tegas sambil menyodorkan kedua tangannya.


Rhys dan Briana mengeluarkan cahaya hati mereka kemudian menggoreskannya. Tampak darah mengalir keluar dari luka itu. Mereka menggenggam kedua tangan Azalea. Sinar muncul dari tangan mereka bertiga.


“Kami berjanji akan melindungi Putri Rosetta apa pun yang terjadi,” ucap Briana.


Briana dan Rhys mengangkat tangan mereka. Tampak mereka melayang kemudian berubah menjadi dua kuntum bunga sakura. Azalea menangkup kedua bunga itu dan memejamkan matanya. Perlahan, bunga itu menjadi kerlap-kerlip cahaya yang melingkari kedua pergelangan tangannya membentuk tato gelang.