Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 13 NIGHTSHADE



“Azalea minta tolong pada Bibi untuk menjaga toko hari ini ya?” pinta Azalea sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada pada ibu Alder.


“Apakah kamu benar-benar harus pergi ke Auburn, Azalea?” tanya Bibi Brenda sambil menghela napas. “Bibi bukannya tidak mengijinkan. Bibi hanya takut kalau kamu terluka.”


Bibi Brenda menatap putranya dan Aren yang hanya bisa diam menunduk. Mereka tahu, ijin yang paling susah adalah dari orang tua Alder karena ayahnya merupakan ajudan kepercayaan wali kota. Apapun yang menyangkut Azalea sudah pasti menjadi hal yang harus mereka jaga. Setiap saat mereka harus melaporkan kondisi Azalea yang mereka tahu dari Alder.


“Entahlah, Bibi. Aku hanya merasa ini adalah panggilan untukku,” jawab Azalea dengan nada menggantung.


“Bibi tahu, Sayang. Lakukan apapun yang memang harus kamu lakukan. Bibi percaya sepenuhnya padamu.”


“Terima kasih, Bibi,” ucap Azalea sambil tersenyum senang. “Semua pesanan bunga sudah selesai dikerjakan. Jadi, bibi hanya tinggal menyerahkannya saja.”


“Baiklah. Hati-hati ya kalian semua.”


Bibi Brenda tersenyum melepas kepergian sang florist. Matanya menengadah menatap langit yang tampak kelabu. Dalam hati dia berharap kalau itu bukanlah tanda akan adanya kejadian buruk. Sudah cukup Maple Willow dalam kemuraman karena kelalaian menjaga florist sebelum Azaela. Hatinya lega karena sang Ratu telah menyudahi hukuman mereka dengan mendatangkan Azalea.


“Siapa yang nyetir?” tanya Azalea menatap mobil yang mereka pinjam dari kakak Aren.


“Aku dan Alder sudah dapat ijin kok,” sahut Aren.


Azalea duduk di belakang, sementara Aren menemani Alder yang menjadi supir. Hujan turun bersamaan dengan kabut yang mulai menyelimuti hutan di sekitar Maple Willow. Suasana sedikit terasa dingin dan mencekam. Jarang sekali saat musim panas akan turun hujan seperti ini di Maple Willow. Kabut menutup jalan mereka.


“Gerbang keluar kota tertutup kabut,” ucap Aren.


“Tunggu sebentar,” ucap Azalea sambil keluar dari mobil. Dia berdiri di depan kabut itu dan tampak tengah berbicara. Tak lama, kabut terbuka. “Ayo, jalan.”


Alder segera melajukan mobil itu. Begitu mereka semua keluar dari Maple Willow, kabut kembali menutup jalan. Seolah-olah menjaga agar jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam kota tanpa ijin. Kening Alder dan Aren sama-sama berkerut melihat hal itu.


“Kenapa?” tanya Azalea.


“Kenapa kabut itu seolah tengah menutupi jalan dari dan keluar  Maple Willow?” tanya Alder.


“Sebenarnya dulu sang Ratu memang marah pada penduduk Maple Willow, tapi dia tidak sampai hati menghukum kota kecil nan indah kesayangannya. Namun karena tidak sembarangan orang bisa menjadi florist dan aturannya, maka alam memutuskan mengisolasi Maple Willow.”


“Dan begitu kamu datang, semua kembali seperti semula,” sambung Aren yang kemudian melanjutkan ucapannya, “Tidak sembarang orang bisa membaca ketiga buku yang dikunci di ruangan khusus. Bahkan florist pun tidak bisa. Tidak ada yang tahu apa isinya sampai sekarang.”


Mereka melewati hutan yang berkelok-kelok selama hampir dua jam. Hingga di kejauhan tampak gerbang masuk kota yang berdiri megah. Azalea senang karena ini pertama kalinya bisa jalan-jalan mengetahui kota lain. Suasana alamnya benar-benar asri dan terjaga. Dia kaget masih ada kota yang begitu hijau di daerah perbatasan New York yang terkenal sebagai kota yang sangat sibuk.


Kota Auburn tak kalah indah dengan Maple Willow. Banyak semak dan perdu yang dibiarkan tumbuh di trotoar jalan. Bahkan buah-buahnya bisa diambil dan dimakan dengan bebas. Walaupun penuh dengan tumbuhan hijau, entah kenapa Azalea merasakan udara panas yang aneh. Membuatnya yang terbiasa dengan udara sejuk sedikit mengernyit.


“Ada apa, Azalea?” tanya Aren yang melihat wajah Azalea sedikit pucat.


“Panas,” jawab Azalea.


Alder mengintip dari kaca belakang mobil. Wajah Azalea memang tampak sedikit memerah dan berkeringat. Sikap Azalea mengingatkannya akan florist yang datang ketika dirinya masih kecil. Florist itu pergi ke Kota Auburn untuk mengantarkan bunga sendiri dan merasakan hal yang sama. Atau bisa dibilang semua florist seperti Azalea akan merasakan panas itu.


“Kita mau kemana sekarang?” tanya Aren. “Kita tahu buku itu ada di Auburn, tapi letak pastinya tidak.”


“Bagaimana menurutmu, Azalea?” tanya Alder.


Azalea diam dan memperhatikan sekitarnya hingga pandanganya tertarik pada sebuah rumah. Di halaman depannya banyak bunga dan buah serta dihiasi sebuah gazebo kecil. Entah kenapa seolah dia ditarik untuk pergi ke sana. Walaupun samar-samar dia merasakan suatu energi gelap.


“Kita berhenti di rumah itu saja dulu,” jawab Azalea.


Alder memarkir mobilnya tepat di depan rumah sederhana tapi tampak indah. Halaman depannya tertata rapi. Selain itu juga bersih tanpa ada dedaunan yang mengotori. Azalea keluar dari mobil dan mendekati salah satu semak blueberry. Dia mengambil sedikit energi untuk memberikannya kesejukan.


“Apa yang kamu lakukan di sini, nona florist?” tanya seorang perempuan cantik dengan nada tajam. “Kalian semua masuklah ke dalam!”


Walaupun terkejut, mereka mengikuti perempuan itu masuk ke dalam rumah. Azalea duduk dengan tenang merasakan tidak ada energi panas dalam rumah. Dia memperhatikan dalam rumah yang banyak dihiasi kuntum-kuntum bunga. Pantas saja udara terasa nyaman dan sejuk, walaupun di luar sangat panas.


“Minumlah dulu. Aku hanya ada sedikit kue karena belum belanja,” ucap perempuan itu sambil menghidangkan baki berisi satu teko teh dengan empat gelas dan sepiring penuh kue. “Namaku Romeylda. Siapa nama kalian?”


“Namaku Alder, lalu ini Azalea dan Aren,” jawab Alder dengan nada sopan.


“Tidak seharusnya seorang florist datang ke kota ini tanpa penjagaan,” ucap Romeyla sambil menghela napas pelan. Matanya memandang Azalea lembut. “Apa yang kalian lakukan di Auburn?”


Alder dan Aren serentak memandang Azalea. Mereka ingin tahu pendapat Azalea soal Romeylda. Bisakah mereka mempercayainya? Tapi melihat bagaimana sikap Romeylda melihat Azalea di halaman rumahnya dan dengan tegas menyuruh mereka semua masuk, jelas kalau Romeylda mengkhawatirkan Azalea.


“Bagaimana kamu tahu buku itu berada di Auburn?”


Azalea tidak menjawab dan menyerahkan peta yang tadi dibawa olehnya. Romeylda menerima peta itu dan membukanya di atas meja setelah menyingkirkan baki dan piring. Dengan teliti disusurinya sulur-sulur yang menjadi petunjuk di dalam peta. Semua memang mengarah ke Auburn, tapi ada dua kota lain yang dilalui, yaitu Kota Dogwood dan Kota Perchea.


“Kemarikan tanganmu, nona florist,” ucap Romeylda. “Pejamkan matamu dan pikirkan three angel lights.”


Azalea mengikuti perintah Romeylda. Tampak sulur-sulur itu kembali bergerak. Sulur lain keluar dari bawah tangan Azalea, melintasi kota Pyrus dan ikut membentuk gulungan di kota Auburn.


Tanpa disadari oleh Alder, Aren, dan Azalea, Romeylda tersenyum dingin. Petunjuk yang diterimanya tentang kelahirang sang putri pertama memang benar. Putri itu bahkan kini tengah duduk di dekatnya. Penantiannya selama 250 akan segera berakhir.


“Flora bilang kalau ada seorang florist yang terpaksa berkhianat. Florist juga tidak boleh sampai meminum dari bunga judas tree, yang akan mekar besok, atau semua tentangnya akan hancur. Ada cahaya di balik lagi, sangat kecil sehingga membutuhkan hati malaikat untuk melihatnya,” ucap Azalea memecah lamunan Romeylda.


“Kamu bertemu dengan Flora?” tanya Romeylda dengan raut wajah terkejut.


“Iya, beberapa kali. Apakah Nona Romeylda mengenal Flora?”


“Dia salah satu seseorang yang berharga untukku,” jawab Romeylda sambil tersenyum kecil. “Aku akan menceritakanmu sebuah kisah dari masa lalu, nona florist. Dengarkan dan pahamilah baik-baik.”


“Baiklah, Nona Romeylda,” jawab Azalea.


“Lima tahun yang lalu, ada seorang florist baru di kota Maple Willow. Parasnya yang cantik membuatnya bersikap sedikit sombong. Hal itu membuat semua warga Maple Willow tidak menyukainya. Namun mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena bisa saja sang Ratu marah. Florist itu sering menggunakan kekuatannya untuk hal-hal yang tidak baik. Dan yang buruknya lagi, berhasil menarik perhatian cahaya gelap dari blood tree. Kamu pasti tahu pohon apa itu.” Romeylda berhenti sejenak dan menghela napas pelan.


“One of the most powerful trees in the world,” jawab Azalea.


“Benar. Hingga suatu saat, sang florist bertemu dengan sosok misterius. Ternyata, florist itu sangat ingin menjadi lebih kuat dan terbebas dari ikatan dengan sang Ratu. Dia dibantu sosok itu masuk ke ruang rahasia perpustakaan dan mencuri sebuah buku penting. Namun dia tidak bisa membaca isinya karena dia bukanlah salah satu dari three angel lights.”


“Apa arti ketiga buku itu?” potong Alder.


“Ketiga buku itu menyimpan rahasia dari three angel lights. Dan yang dicuri oleh florist itu adalah buku ketiga,” jawab Romeylda.


“Buku ketiga?” tanya Aren.


“Iya, buku milik putri ketiga, Rosetta.” Romeylda menganggukan kepala, kemudian melanjutkan ceritanya, “Apa yang selama ini terlihat oleh mata, belum tentu itulah kebenarannya. Selalu ada hal yang tersembunyi. Di balik kegelapan pekat pun pasti ada setitik cahaya kecil. Pohon judas tree berbahaya bagi florist dengan cahaya hati terang, tapi sumber kekuatan dari cahaya kegelapan. Di kedua pohon itu ada blood tree, sumber mara bahaya sesungguhnya.”


“Ada satu hal yang tidak kumengerti, Nona Romeylda,” ucap Azalea.


“Panggil aku Romeylda, nona florist,” potong Romeylda.


“Baiklah,” ucap Azalea tersenyum. “Kenapa dari ceritamu florist itu memang mau berkhianat, padahal ucapan Flora…”


Azalea tiba-tiba terdiam. Semua memandangnya dengan raut wajah bingung. Mereka diam menunggu Azalea kembali melanjutkan ucapannya. Azalea sendiri tampak sedang memikirkan sesuatu. Setelah diam beberapa saat, dia mengetukkan jari telunjuknya di atas pelan.


Tampak cahaya berkumpul dan membentuk sekuntum bunga azalea. Bunga itu melayang di atas kepala mereka selama beberapa saat kemudian menghilang dalam kerlap kerlip cahaya. Azalea terdiam sejenak kemudian menatap Romeylda.


“Terima kasih atas informasimu, Romeylda. Aku harus pergi mengambil kembali buku itu,” ucap Azalea sambil tersenyum.


“Tidak, Nona. Kamu tidak bisa merebut buku itu sendiri. Hal itu hanya akan membahayakan nyawamu dan nyawa Rosetta.”


“Tapi…” Azalea hendak protes tapi dipotong oleh Romeylda.


“Jawabanku tetap tidak!” ucap Romeylda tegas. “Kembalilah ke Maple Willow. Keberadaanmu di Auburn hanya akan membahayakan nyawamu sendiri! Apalagi besok judas tree akan mekar, dan selama tiga hari ke depan kekuatanmu akan terkunci.”


“Banyak hal yang masih belum kumengerti, Romeylda,” ucap Azalea dengan suara pelan.


“Perlahan kamu akan mengerti posisimu sebagai florist, nona. Kamu harus bisa menjaga semuanya sampai kedua adikmu datang. Tunggulah sampai waktunya sudah tiba.”


“Baiklah. Terima kasih banyak, Romeylda.”


“Jangan bersedih, kebenaran akan segera terungkap,” ucap Romeylda dengan lembut. “Kalian berdua, tiga dari knights three angel lights, harus bisa membantu membantu dan menjaga Azalea. Itulah tugas kalian saat ini.”


“Baik,” jawab Aren, sementara Alder hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.


Perjalanan pulang agak sedikit lambat karena begitu keluar Auburn, hujan deras menghadang. Azalea duduk memandang keluar jendela mobil. Alder tampak berkonsentrasi melihat jalanan dibantu oleh Aren. Suasana hening mobil dihasi oleh derasnya hujan yang bahkan mengaburkan deru mesin mobil.


Hingga mata Azalea terpaku pada sesuatu atau bisa di bilang sosok berjubah. Sosok itu berdiri di tepi jalan dan derasnya hujan mengaburkan sosoknya. Entah kenapa kemarahan menguasai Azalea. Amarah yang sudah sejak kecil dirasakannya pada beberapa hal yang sebelumnya tidak dia mengerti.