
“Kamu kenapa, Azalea?” tanya Poppy sambil menghampiri Azalea yang tampak terduduk sambil memegangi kepalanya.
“Tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit sakit, mungkin efek kelelahan,” jawab Azalea.
Poppy memeriksa suhu tubuh Azalea sekilas sebelum membantunya untuk duduk di sofa tamu. Azalea membiarkan Poppy membimbingnya karena kepalanya benar-benar sakit. Dia menerima gelas berisi air yang disodorkan Poppy sambil mengucapkan terima kasih.
“Beristirahatlah. Biar aku yang membersihkan toko. Lagi pula sebentar lagi Alder dan Aren datang.”
“Terima kasih, Poppy.”
Azalea tidak meminum air itu dan meletakkan gelas itu di atas meja. Dia kemudian membaringkan kepalanya di atas tangan dan memejamkan mata. Perlahan, rasa lelah yang dirasakannya, membuatnya jatuh tertidur. Entah sudah berapa lama dia tertidur.
Dia bermimpi terbangun di suatu hutan dan berjalan pelan menyusurinya. Dia mengenali suasana hutan yang tampak kelam dan dingin itu. Langkahnya kemudian terhenti di depan sebuah pohon yang berbeda dari sekitarnya.
Seluruh pohon itu ditutupi daun dan bunga berwarna violet. Perlahan, dia mendekat ke arah pohon itu dan menyentuhnya. Dia mengaduh pelan merasakan sengatan menyakitkan di tangannya. Tiba-tiba suasana di sekitarnya berubah.
Tampak berbagai macam orang berlarian. Dalam kebingungan, dia memperhatikan orang-orang itu, hingga menangkap sosok gadis berjalan mendekat. Sebelum sempat dia berhasil melihat wajahnya, gadis itu mengangkat tangannya. Dari tangan itu keluar angin kuat yang membuat dirinya terdorong menghantam pohon itu.
Azalea terbangun dari mimpi buruknya dan merintih merasakan sakit di kepalanya jadi jauh lebih kuat. Alder yang tengah menata pot-pot berisi benih bunga terkejut dan segera menghampiri Azalea. Dengan lembut dia memeluk dan mengusap kepala Azalea untuk menenangkannya.
“Shh… Hanya mimpi buruk,” ucapnya pelan.
Perlahan Azalea kembali jatuh tertidur. Dia mengangkat Azalea dan memindahkannya ke dalam kamar. Setelah itu, dia membuang air berwarna merah dalam gelas.
“Engghhhh…”
Azalea melenguh pelan sambil membuka matanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah langit-langit kamarnya yang dihiasi sulur-sulur bunga. Dia bangkit dan duduk di atas tempat tidur dengan raut wajah bingung. Seingatnya tadi dia sedang beristirahat di meja rangkai. Kenapa sekarang dia bisa berada di kamar?
Matanya memandang jendela yang tampak gelap. “Ternyata sudah malam. Pasti Alder, Poppy, dan Aren sudah pulang,” gumamnya sambil bangkit berdiri.
Dia berjalan pelan menuju ke dapur dan pendengarannya yang tajam mendengar suara dari arah ruang santai. Dia terkejut melihat Alder tidur di atas sofa dengan kondisi televisi masih menyala. Saat hendak mendekati pemuda itu, tiba-tiba saja lampu padam dan jendela terbuka perlahan.
Angin berhembus masuk diiringi alunan melodi aneh yang terdengar lembut menenangkan. Tanpa sadar, dia melangkah mengikuti alunan melodi yang seolah menariknya untuk mendekat. Alunan melodi itu seolah merasuk dalam dirinya.
“Jangan dengarkan suara itu…” Terdengar bisikan Alder yang memeluknya erat dari belakang. “Tenangkan dirimu, kosongkan pikiranmu dan lawan.”
Sambil menahan sakit di kepalanya, Azalea melakukan yang dikatakan Alder. Berhasil! Suara itu menghilang menghilang seolah ditarik kembali bersama angin. Jendela terbanting menutup dengan keras dan lampu kembali menyala. Sakit yang dirasakan Azalea juga perlahan berangsur memudar.
Azalea berbalik dan membalas pelukan Alder. Tanpa sadar air matanya jatuh. Ketakutan, kesakitan, dan perasaan sedih dari alunan melodi tadi bercampur aduk menjadi satu dalam kepalanya. Dia menangis terisak di bahu Alder yang terus memeluknya erat.
“Berjanjilah padaku kamu tidak akan mengikuti lagu itu, Azalea,” ucap Alder sambil merangkul bahu Azalea.
Mereka duduk berselimut berdua di depan televisi yang dibiarkan menyala. Azalea memegang cangkir berisi cokelat hangat yang dibuatkan Alder.
“Akan kucoba melawannya,” ucap Azalea dengan suara lemah.
“Apakah kamu tidak bisa meletakkan sihir pelindung di sekitar rumahmu?”
“Entahlah. Aku belum pernah mencoba hal seperti itu. Tapi mungkin bisa dicoba.”
“Kita coba besok pagi. Sekarang kembalilah tidur, hari sudah larut malam. Besok tutup saja tokomu, katakan pada semua pelangganmu kalau kamu sakit.”
"Tidak bisa, Alder. Pesanan untuk besok sudah menumpuk. Lagi pula ada Poppy dan Aren juga akan membantu," tolak Azalea halus.
“Baiklah, baiklah. Besok aku juga akan membantumu. Beruntung sekolah libur dua minggu ini untuk persiapan perayaan ulang tahun Maple Willow.”
"Selamat malam, Alder."
"Selamat malam, Azalea."
Azalea langsung tertidur karena kelelahan di kamarnya, sementara Alder masih terjaga untuk beberapa saat sambil memandang kosong ke arah televisi. Ketakutan yang menguasainya tadi perlahan menguap. Kalau saja dia tadi tanpa sengaja tidak terjaga, Azalea sudah pasti menghilang sekarang.
Sebenarnya tadi dia tidur pulas karena lelah, hingga sebuah bisikan membangunkannya, "Bangun, Alder. Azalea dalam bahaya." Ini yang kedua kalinya dia mendengar bisikan yang mengatakan Azalea dalam bahaya. Dia merasa familiar dengan suaranya.
“Aku tidak akan pernah membiarkan apa pun terjadi padamu, Azalea. Kamu florist yang begitu berbeda dari yang lainnya. Aku juga merasa familiar sekali denganmu. Siapa kamu sebenarnya?” gumam Alder sambil menghela napas pelan.
Azalea terbangun dan mencari keberadaan Alder di ruang santai. Namun suara-suara yang terdengar dari arah dapur menarik perhatiannya. Perlahan dia berjalan menuju ke dapur. Senyumnya mengembang melihat Alder tengah bercengkeraman bersama Aren dan Poppy.
“Selamat pagi, Azalea. Bagaimana perasaanmu pagi ini?” sapa Aren dengan senyum lembut sekaligus khawatir melihat wajah Azalea yang tampak sedikit pucat.
“Selamat pagi, Aren dan Poppy. Aku baik-baik saja pagi ini,” jawab Azalea sambil duduk di antara Aren dan Alder.
“Terima kasih kalian semua sudah begitu baik padaku.”
“Jangan berkata seperti itu, Azalea. Tentu saja kami akan selalu ada di sini untuk melindungi dan menjagamu,” sahut Aren.
Mereka berempat sarapan sambil mengobrol santai. Aura gelap yang dirasakannya menghilang, seolah-olah ada yang menutupinya. Hal itu membuat keningnya berkerut. Orang pemilik aura gelap itu pasti berada di dekatnya, tapi siapa? Hanya ada Alder, Aren, dan Poppy.
“Alder menceritakan soal kejadian semalam, Azalea,” ucap Aren. “Mengingatkanku tentang peristiwa tiga tahun yang lalu.”
“Peristiwa apa memangnya?” tanya Azalea dengan raut wajah penasaran.
Sekilas dia melihat raut wajah Poppy menegang mendengar ucapan Aren. Tapi hanya sebentar karena kemudian kembali seperti biasa. Hatinya merasakan kalau firasatnya tentang Poppy selama ini benar. Dia kembali memfokuskan diri pada Aren.
“Peristiwa menghilangnya seorang florist. Di malam dia menghilang, angin berhembus cukup keras dan di seluruh daerah Maple Willow terdengar lagu itu. Begitu cuaca membaik keesokan harinya, kami menyadari kalau florist itu telah menghilang dan di sebuah bukit ada tanaman aneh di mana daun dan bunganya berwarna violet,” cerita Aren.
“Judas tree…” ucap Azalea sambil menghela napas pelan.
“Apa artinya itu?” tanya Alder.
“Judas tree adalah pohon unik yang tidak memiliki daun berwarna hijau. Tampilannya yang indah memang sangat memikat. Tapi judas tree menyimpan kekuatan magis yang cenderung bersifat gelap, tapi tidak jahat.”
Alder dan Aren banyak bertanya tentang judas tree. Azalea dengan senang hati menjelaskannya. Meskipun begitu, matanya diam-diam awas mengamati gerak-gerik Poppy yang hanya diam mendengarkan. Tak sekalipun kekasih Aren itu berniat ikut berbicara. Padahal biasanya dia yang paling cerewet.
Setelah sarapan mereka pergi ke toko bunga dan duduk melingkar di meja rangkai. Azalea duduk diam sambil memandang keluar kaca toko. Alder, Aren, dan Poppy menunggu dengan sabar hal yang ingin disampaikan oleh Azalea.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Alder.
“Sebelum Nenek Louisa dan florist yang menghilang itu, siapa yang menjadi pemilik toko bunga ini?”
“Entahlah. Tapi kita bisa melihat daftar florist di perpustakaan. Ada buku yang memang khusus untuk mendaftar seluruh florist yang ada di Maple Willow,” sahut Aren.
Azalea mendongak memandang Alder dan Aren dengan seksama. Setiap manusia paling banyak memiliki tiga cahaya hati bunga. Cahaya hati bunga yang paling kuat menjadi pelindung adalah snowdrop. Bunga kecil berwarna seputih salju itu mampu menolak segala macam sihir.
“Aku butuh darahmu, Alder,” ucapnya dengan nada pelan.
Alder tidak bertanya untuk apa dan mengeluarkan pisau lipat kecil yang memang selalu dibawanya. Azalea menyodorkan tangannya untuk menadah tetesan darah Alder. Perlahan, Alder menggoreskan pisau hingga darah mengalir dan menetes ke telapak tangan Azalea. Tapi sebeum menyentuh tangan Azalea, tetesan darah itu berubah menjadi bunga snowdrop.
Hingga total ada empat tangkai bunga snowdrop melayang di atas telapak tangan Azalea. Keempat bunga itu kemudian jatuh ke tangannya. Azalea diam dan memejamkan matanya sejenak.
“Akan kamu apakan bunga itu?” tanya Aren yang takjub melihat kekuatan Azalea untuk pertama kalinya.
“Sesuatu yang akan melindungi kalian.”
Azalea meletakkan satu bunga di atas meja. Yang tiga lainnya digenggam lembut olehnya yang kemudian memejamkan mata sejenak. Dia menyalurkan cahaya hati miliknya untuk membuat pendant pelindung. Seharusnya dia tidak boleh melakukan hal itu karena akan mengambil sihirnya.
Setelah itu, dia bergerak menuju ke lemari dan mengambil tiga rantai perak dan memasangkan pendant tadi. Disodorkannya ketiga kalung itu pada Alder, Poppy, dan Aren yang memandangnya penuh tanya.
“Pakailah. Pendant ini akan melindungi kalian.”
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada satu tangkai yang tersisa?” tanya Alder sambil memakai miliknya.
“Aku akan memberikannya pada seseorang untuk berjaga-jaga.”
Sepanjang hari itu, wajah Poppy tampak gelisah dan tidak nyaman. Aren terlihat mengkhawatirkan kekasihnya. Tapi Azalea menghalanginya menemani Poppy yang pamit pulang duluan dengan alasan tidak enak badan. Walaupun bingung, Aren tidak marah soal itu.
“Maafkan aku, Aren,” ucap Azalea ketika mereka bertiga istirahat. “Aku tidak bermaksud menghalangimu mengantar Poppy pulang. Hanya saja…”
“Tidak apa-apa, Azalea,” potong Aren lembut. “Aku tahu kamu pasti punya alasan.”
“Alasan yang membuatmu terlihat gelisah sejak pertama kali bertemu dengan Poppy,” sahut Alder.
“Dan apapun alasanmu, aku tetap akan menemanimu. Selain mengkhawatirkanmu, bunga aneh di depan pintu toko membuatku gelisah.”
Azalea tersenyum melihat bagaimana kedua sahabat itu saling mendukung satu sama lain. Dia bisa merasakan ikatan kuat antara Alder dan Aren. Dia juga tahu kalau ada seseorang yang hendak memutus ikatan itu, tapi tidak berhasil. Hal itu membuatnya lega.
“Bunga itu namanya petunia, masuk dalam daftar dark flower. Aku tidak bisa menyentuhnya karena akan melukaiku,” jawabnya.
Malamnya, Aren dan Alder memutuskan menginap di rumah Azalea. Mereka tidur di sofa ruang santai. Walaupun berkali-kali Poppy minta agar Aren pulang, pemuda itu memilih bersama sahabatnya. Aren sendiri tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu pada Poppy yang notabene adalah kekasihnya. Dia hanya mengikuti kata hatinya.
Setelah memastikan Alder dan Aren benar-benar tidur, Azalea pergi ke hamparan bunga tulip dengan membawa snowdrop terakhir. Ada ketakutan dan kegelisahan dalam hatinya. Dia takut kalau dugaannya selama ini benar. Kalau iya, apa yang harus dilakukannya? Dia tidak memiliki siapapun yang membantunya untuk melawan dua florist florist jahat, Poppy dan Sophia.