Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 18 SYRINGA



Semua ini bermula ketika sihir masih berkuasa di bumi. Banyak sekali terjadi kericuhan demi membuktikan siapa yang paling kuat. Di suatu kerajaan kecil yang tenang dan jauh dari kericuhan, lahirlah tiga orang putri. Putri pertama bernama Mary, yang kedua Andara, dan ketiga Aleena. Kehidupan kerajaan itu sungguh tentram di bawah kepemimpinan Raja dan Ratu yang bijaksana.


Di kerajaan itu, semua sangat menghargai alam. Siapapun yang berani merusak alam, akan mendapatkan hukuman berat. Rupanya, Dewi Bulan jatuh hati pada kerajaan itu. Di suatu malam purnama, Dewi Bulan turun dan menemui Raja dan Ratu yang tengah bersantai di taman istana.


“Aku sungguh kagum dengan kalian berdua. Kalian sungguh menghargai alam yang ada di sekitar kalian. Malam ini, di bawah cahaya bulan purnama, aku datang untuk memberikan kalian hadiah,” ucap sang Dewi Bulan dengan lembut.


“Hadiah apakah itu, Dewi?” tanya Raja dengan suara sopan.


“Aku akan menganugerahi kedua putri kalian sihir untuk menjaga alam. Andara akan menjadi dark florist dan Aleena akan menjadi light florist,” jawab sang Dewi.


“Kenapa hanya Andara dan Aleena, Dewi?” tanya Ratu dengan heran.


“Aku tidak bisa menjelaskan alasannya pada kalian. Perlahan kalian akan tahu dengan sendirinya.”


“Terima kasih banyak atas pemberianmu, Dewi.”


Setelah itu, Dewi Bulan memberikan dua buah cahaya, satu gelap dan satunya terang. Cahaya itu kemudian terbang melayang masuk ke dalam kamar Andara dan Aleena. Andara, sang kakak, yang kala itu berusia 15 tahun, menerima cahaya gelap. Sementara Aleena, sang adik, menerima cahaya terang.


Kedua putri itu menjadi penguasa sihir alam yang hanya ada satu-satunya di dunia. Raja dan Ratu tidak mengetahui fakta bahwa Mary melihat semua kejadian malam itu. Mary sangat marah karena menganggap kedua orang tuanya tidak menyayanginya.


“Putri yang cantik. Kenapa kamu bersedih di tempat seperti ini?”


Mary mendongak dan bertatapan dengan seorang perempuan cantik.


“Aku marah dan sedih karena hanya kedua adikku yang memiliki kekuatan,” ucapnya dengan nada ketus.


“Apakah kamu juga menginginkan kekuatan seperti mereka?” tanya perempuan itu lagi.


“Iya! Bukan hanya itu, aku ingin menjadi satu-satunya penguasa sihir alam!” jawab Mary dengan nada penuh kemarahan.


“Di malam bulan purnama, datangnya ke pusat dark forest. Di sana kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau.”


“Blue moon? Itu kan besok malam.”


“Benar. Kutunggu kamu di sana. Jangan beri tahu siapa-siapa.”


“Baik. Aku pasti akan ke sana besok malam.”


Begitulah akhirnya, Mary diam-diam pergi ke dark forest. Gelapnya hutan membuatnya sedikit ngeri. Namun semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan keinginannya untuk memiliki kekuatan sihir. Hingga akhirnya dia tiba di sebuah padang dengan pohon aneh di tengahnya.


“Tidak kukira kamu benar-benar datang, Putri Mary. Aku akan memperkenalkan diriku di sini, namaku Anastasha, sang pelayan blood tree.”


“Blood tree?” ucap Mary dengan raut wajah kebingungan.


“Ada tiga pohon di dunia ini yang memiliki kekuatan sihir. Blood tree, judas tree, dan rhodocea. Yang paling kuat dan paling jahat adalah blood tree.”


“Kalau begitu, apakah kekuatan sihir jahat berasal dari blood tree?”


“Blood tree hanya membantu saja, tapi akan ada bayarannya,” jawab Anastasha sambil berdiri di samping Mary, kemudian menyodorkan sebuah pisau kecil. “Pilihan ada di tanganmu sendiri, Putri Mary. Selain itu, Blood tree sendiri yang akan memutuskan posisimu.”


Mary menerima pisau itu dan menatap ragu pada pohon di hadapannya. Dia merasakan hawa dingin dan energi yang memancar kuat. Dia menggores telapak tangan kanannya hingga mengeluarkan darah. Perlahan dia berjalan mendekati blood tree dan meneteskan darahnya yang bercampur jadi satu dengan cairan merah di kaki blood tree.


Pohon itu mengeluarkan kabut hitam yang kemudian masuk ke dalam tubuh Mary. Matanya terpejam untuk beberapa saat. Ketika dia membuka mata kembali, seluruhnya berwarna hitam sejenak.


“Kamu akan menjadi blood florist, Mary. Ratu penguasa sihir jahat dari blood tree.”


“Apa yang harus kulakukan setelah ini?”


“Lakukan apapun yang kamu mau. Pergunakanlah kekuatanmu dengan baik. Dan kalau kamu bisa memusnahkan dark florist dan light florist, kamu akan menjadi penguasa shihir florist.”


“Terima kasih.”


Mary berbalik dan menatap Anastasha. Perempaun cantik itu membungkukkan badan memberi hormat padanya.


“Aku tidak membutuhkanmu untuk saat ini, Anastasha. Jadi, lanjutkanlah tugasmu sebagai pelayan blood tree.”


“Baik, Yang Mulia Ratu.”


Mary kemudian pergi meninggalkan kerajaan untuk membangun daerah kekuasaannya sendiri. Setahun berjalan, dia tertarik untuk mengangkat anak manusia menjadi putrinya. Dia tertarik dengan cahaya petunia, poppy, dan quacking grass. Ketiga tumbuhan dark flower.


“Pergilah dan carilah sosok bayi perempuan yang layak menjadi putriku,” ucapnya.


Kelahiran ketiga putrinya, Flora, Poppy, dan Sophia yang hanya berselisih usia satu tahun itu membuat Mary senang. Dia benar-benar memanjakan ketiganya dan mendidik mereka dengan segala ilmu sihir jahat blood tree. Begitu Sophia, sang putri ketiga menginjak usia 16 tahun, Mary melepaskan mereka untuk membasmi segala penguasa sihir baik.


Akhirnya, Azalea dan Rosetta lahir menjadi putri Aleena, sementara Asphodella adalah putri Andara. Walaupun sihir Andara adalah cahaya gelap, sihir itu tidak jahat. Hal itu akhirnya membuat Azalea, Asphodella, dan Rosetta tumbuh bersama dengan diasuh secara bergantian oleh mereka.


“Ibunda, kenapa Asphodella tidak tinggal bersama Azalea dan Rosetta di sini?” tanya Azalea di suatu sore ketika mereka berada di padang chrysanthemum.


“Kasihan Ibunda Andara kalau Asphodella berada di sini terus-menerus, Sayangku,” jawab Aleena lembut.


“Lalu kenapa kami tidak boleh bersentuhan, Ibunda?” tanya Rosetta


“Karena sihir kalian berbeda, Nak. Sentuhan itu hanya akan menyakiti kalian semua,” jawab Aleena sambil mengelus rambut Rosetta. “Kalian memang tidak akan memahaminya sekarang. Ketika waktunya sudah tiba nanti, kalian akan mengerti semuanya.”


“Iya, Ibunda.”


Tanpa mereka sadari, Andara dengan menggunakan kekuatan cahaya bulan mendatangi mereka. Senyumnya mengembang melihat ketiga sosok yang tengah duduk santai di padang chrysanthemum. Yang pertama menyadari kehadirannya adalah Rosetta yang memekik senang.


“Ada apa kamu kemari, Andara?” tanya Aleena dengan lembut pada sang kakak.


“Aku datang hanya untuk melihat kondisi kalian,” jawab Andara.


“Ibunda Andara, kenapa Asphodella tidak diajak ke sini?” tanya Azalea.


“Asphodella sudah tidur, Azalea,” jawab Andara sambil tersenyum.


“Dan ini waktunya kalian juga harus tidur,” sahut Aleena.


“Besok, Sayang. Lebih baik malam ini kamu tidur dulu supaya besok bisa seharian bermain dengan Asphodella.”


“Baiklah, Ibunda. Ayo, Rosetta,” ucap Azalea sambil menggandeng tangan sang adik.


Kedua gadis kecil itu mengecup pipi Aleena dan Andara dengan lembut. Setelah itu, mereka berjalan diiringi oleh pengasuh mereka. Rosetta terlihat berceloteh dengan riang pada sang kakak.


Andara dan Aleena tersenyum melihat kedua putri mereka yang tampak begitu polos. Mereka tahu, dalam beberapa tahun ke depan, kepolosan itu akan tergantikan dengan tanggung jawab besar yang harus dipikul. Mengingat itu semua, kedua Ibunda itu hanya bisa mendesah sedih.


“Aku datang karena merasa kalau blood florist mengetahui keberadaan Azalea, Asphodella, dan Rosetta,” ucap Andara.


“Ketika waktunya tiba nanti, kita semua akan menghadapi mereka, Andara,” sahut Aleena.


Beberapa tahun berlalu. Azalea sang kakak tertua lebih dulu pergi mengemban tugasnya menjadi florist, disusul Asphodella, dan terakhir Rosetta. Walaupun terkadang pergi sendiri-sendiri, mereka tetap bekerja sama membereskan ulah dari ketiga blood florist. Berkali-kali mereka saling berhadapan dan adu kekuatan.


Blood florist memang jauh lebih kuat, ditambah lagi usia mereka yang jauh lebih tua. Anehnya, setiap three angel lights nyaris berhasil dikalahkan, akan muncul sosok yang melindungi mereka. Sosok-sosok itu juga yang berhasil menghalau ketiga blood florist.


Awalnya, Andara dan Aleen sama-sama penasaran akan ketiga sosok itu. Hingga suatu saat, Aleena melihat seorang pemuda tengah memperhatikan Azalea di padang chrysanthemum. Yang paling diingatnya adalah sepasang netranya yang berhiaskan warna abu-abu kebiruan. Kedua netranya memandang lembut pada Azalea.


“Ada apa, Ibunda?” tanya Azalea ketika Aleena memanggilnya ke perpustakaan istana.


“Ibunda tidak tahu apakah kamu tertarik untuk membahas hal ini atau tidak, Sayangku. Tapi ada sosok pemuda yang selalu mengawasimu ketika berada di padang chrysanthemum. Ibunda juga merasakan energi aneh dari tubuhnya. Sihir, tidak jahat, tapi begitu menenangkan.”


“Siapa dia, Ibunda? Kenapa baru sekarang Ibunda memberitahuku?”


“Karena Ibunda sendiri juga baru saja mengetahuinya, Nak.”


“Apakah dia salah satu dari sosok berjubah yang berkali-kali menolong kami dari ketiga blood florist?”


“Ibunda juga tidak tahu. Walapun begitu, berhati-hatilah. Karena cahaya hatinya berwarna abu-abu, bukan gelap, tapi juga bukan terang.”


“Baiklah, Ibunda. Aku juga akan memperingatkan Asphodella dan Rosetta.”


Ratusan tahun berlalu dengan diisi pertempuran-pertempuran kecil. Hingga hari itu tiba, malam di mana bulan purnama berwarna merah, semerah dara segar. Ketenangan padang keabadian terusik oleh Ratu Mary dan ketiga putrinya. Mereka memporak-porandakan padang itu. Aleenda dan Andara terkejut mengetahui kalau kakak tertua mereka adalah dalang dari semua kekacauan yang terjadi selama ini.


Pertempuran tidak terelakkan. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Rosetta mengeluarkan kekuatan three angel lightsnya dan berhasil menghalau para blood florist. Tapi mantra yang digunakannya ternyata mengunci kekuatan mereka semua. Malam itu, mereka berhasil mengalahkan Ratu Mary dan ketiga putrinya, dengan nyawa mereka sebagai imbalannya.


Tiga sosok berjubah muncul dan mendekati tanaman three angel lights. Mereka sama-sama meneteskan darah mereka pada tanaman itu dan mengeluarkan sebuah mantra. Mantra itu akan menghidupkan kembali mereka semua ketika waktunya tiba.


Aleena dan Andara terbangun dalam ketakutan serta kebingungan. Keduanya menangis pilu melihat ketiga tubuh putri mereka.


“Mereka akan baik-baik saja. Tunggulah sampai waktunya tiba, mereka akan hidup kembali. Begitu juga dengan para blood florists,” ucap salah satu sosok berjubah itu.


Aleena dan Andara terkejut menatap ketiga sosok laki-laki yang tengah menatap mereka. Sebelum sempat bertanya, ketiga sosok laki-laki itu menghilang dalam kerlap-kerlip cahaya yang terbang ke langit. Di belakang mereka, Ratu Mary yang melihat hal itu kemudian berteriak keras penuh kemarahan.


“AKU PASTI AKAN MEMBALAS SEMUA PERBUATAN KALIAN!” ucap Ratu Mary sebelum dia ikut menghilang dalam kabut hitam.


Aleena dan Andara kemudian kembali ke istana mereka masing-masing. Ratusan tahun mereka menanti dalam kesedihan mendalam. Menunggu dengan sabar sampai ketiga putri mereka terlahir kembali. Tidak ada niatan dalam hati untuk mencari putri lain. Karena bagi mereka, hanya Azalea, Asphodella, dan Rosetta-lah putri mereka.