Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 7 GERANIUM (ROSE)



Tye memacu mobilnya dengan setengah melamun. Wajah pemuda berusia 18 tahun itu terlihat serius memikirkan sesuatu. Semalam, dia datang dan menyuruhnya pergi ke Maple Willow. Dan disinilah dia sekarang.


Untuk beberapa saat, dia mengemudikan mobilnya perlahan menikmati keindahan pohon maple di sepanjang jalan. Hingga dirinya sampai di sebuah rumah dengan halaman penuh bunga. Dia berhenti dan memarkir mobilnya di tepi jalan. Dibacanya papan nama yang terpasang di bagian depan pagar.


“Toko bunga Azalea,” gumamnya.


Hal yang membuatnya tertarik adalah dandelion besar yang tidak terbang walaupun tertiup angin. Dia akhirnya memutuskan keluar dari mobil untuk masuk ke toko bunga itu. Keningnya berkerut melihat bunga petunia di samping pintu. Sejenak dia menggerakkan tangannya diam-diam.


Azala yang tengah duduk di meja rangkai sambil memeriksa pesanan melihat sosok pemuda yang tengah mengamati kebun bunganya. Sekali lagi dia merasakan energi aneh, tapi memilih mengabaikannya. Dia membiarkan saja pemuda itu dan memilih menunggu di dalam toko.


Kling…


“Selamat datang. Aku Azalea, florist di toko bunga ini. Ada yang bisa kubantu?” sapa Azalea ramah dan tersenyum.


“Aku hanya kebetulan sedang jalan-jalan dan tertarik mampir ke tempat ini. Ah iya, namaku Tye.”


“Duduklah dulu akan kubuatkan minuman hangat.”


Tye duduk dengan tenang. Saat masuk ke toko bunga ini tadi, dia terkejut karena melihat sang florist masih begitu muda dan sangat cantik. Tapi mengingat dia juga masih sangat muda, keterkejutannya musnah. Dia mengamati keadaan dalam toko bunga yang rapi dan bersih.


“Terima kasih,” ucapnya ketika sang florist menyuguhkan lemon tea dan sepiring kue.


“Sama-sama,” jawab Azalea. “Apa yang membuatmu mampir ke toko bungaku? Sepertinya kamu sedang ada


masalah.”


“Sejujurnya aku sedang melarikan diri dari kekasih dan sahabat masa kecilku. Nama kekasihku Isabella, sementara sahabat masa kecilku bernama Kaia. Aku tidak tahu kalau selama ini Kaia menyukaiku dan sejujurnya aku juga menyukainya. Tapi masalahnya adalah saat ini aku sudah bersama Isabella dan aku juga mencintainya.” Tye terdiam sejenak untuk menyesap tehnya sebelum melanjutkan ceritanya. “Sekarang aku mulai meragukan kesetiaan kekasihku itu. Belum lagi Kaia selalu mengatakan kalau pacarku sering keluar dengan lelaki lain ketika aku sedang bekerja.”


“Hm. Ceritamu menarik juga,” komentar Azalea. “Aku tahu apa yang kamu butuhkan.”


Tye memandang bingung Azalea yang bergerak menuju ke salah satu rumpun bunga di sudut toko. Dia tidak memiliki keahlian dalam bunga. Jadi dia sama sekali tidak tahu bunga apa yang dipotong kemudian dirangkai oleh florist cantik itu. Namun, dia mengagumi keindahan bunga dengan warna perpaduan ungu, merah muda, dan merah itu.


“Bunga ini bernama rose geranium, artinya pilihan. Buket ini untukmu.”


Tye menerima buket bunga yang disodorkan padanya. “Berapa harus kubayar untuk buket bunga cantik ini?” tanyanya.


“Itu buket bunga spesial. Aku akan mengambil bayarannya ketika urusanmu telah selesai. Apapun pilihanmu dan sekali dibuat, kamu tidak bisa mengubahnya lagi. Karena itu pikirkanlah baik-baik. Kamu punya waktu tiga hari.”


“Bagaimana aku tahu kalau pilihanku sudah tepat?”


“Kamu akan tahu dengan sendirinya.”


“Baiklah kalau begitu. Selamat sore, nona florist.”


“Selamat sore. Hati-hati di jalan.”


Azalea memandang kepergian Tye dengan kening berkerut. Saat berbalik hendak masuk kembali, dia tersentak melihat selubung yang dipasang pada petunia musnah. Sambil menghela napas pelan, dia kembali memasang selubungnya.


“Apa yang sedang kamu lakukandi situ?”


Azalea terkejut dan menoleh pada Alder yang berjalan mendekat. Pemuda itu memegang sebuah kantung kertas berwarna cokelat. Dari kantung itu, keluar aroma wangi lembut roti yang masih hangat.


“Apa itu?” tanyanya.


“Roti buatan ibuku,” sahut Alder. “Ini untukmu.”


“Wah. Terima kasih.”


Azalea tersenyum senang dan pergi masuk ke dalam toko diikuti oleh Alder. Dia kemudian menghidangkan roti yang masih hangat itu di piring dan membuat satu teko rose tea untuk mereka. Seperti biasa, mereka makan bersama di meja rangkai yang dibersihkan oleh Alder saat dia di dapur tadi.


Mereka duduk berhadapan menikmati makanan dan minuman yang ada. Alder sendiri tampak memandang ke seluruh penjuru toko. Seolah-olah untuk memastikan tidak ada yang aneh dalam toko itu.


“Apakah kakimu masih sakit?” tanya Alder memecah keheningan.


“Sudah tidak masalah. Walaupun masih nyeri kalau dipakai mengangkat yang berat-berat. Beruntung aku langsung mengompresnya, jadi tidak bengkak,” jawab Azalea.


Alder diam memperhatikan Azalea dengan seksama. Florist cantik itu memang terlihat baik-baik saja. Hanya lengan kiri atasnya yang masih tampak membiru. Sepertinya butuh waktu lama sampai bekas itu menghilang.


“Siapa laki-laki tadi?”


“Namanya Tye, hanya seorang tamu spesial,” jawabnya dengan jujur.


Dia kemudian menceritakan tentang masalah yang dihadapi Tye hingga bisa berakhir di toko bunganya. Dia senang karena Alder mau mendengarkan apapun yang diceritakannya. Tak pernah sekalipun Alder memotong atau menganggap ceritanya tidak penting. Hal itulah yang membuatnya nyaman menceritakan berbagai macam hal pada Alder.


* * *


Tye duduk termenung di atas tempat tidur sambil memandang buket bunga yang diletakkannya di atas meja lampu tidur. Setelah kembali dari toko bunga, dia tidak lagi memberi tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Masalahnya sekarang adalah besok hari terakhirnya.


Tangannya meraih buket bunga itu dan mengelus kelopaknya. Yang membuatnya takjub adalah bunga itu tetap terlihat segar walaupun sudah lewat dua hari. Yah, mau bagaimana lagi, Azalea memang bukan florist sembarangan. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang pasti akan bersedia membantunya.


Keesokan harinya, Tye terbangun dan langsung bersiap-siap. Setelah itu, dia turun untuk sarapan bersama kedua orang tuanya dan pergi keluar rumah. Tangannya menggenggam erat buket rose geranium itu.


“Tye…”


Senyum Tye merekah melihat Isabella tengah berdiri dan menatapnya lembut. Dia segera memeluk wanita yang amat dicintainya itu dengan erat. Ah! Bagaimana mungkin dia sampai meragukan kesetiaan wanita seperti Isabella. Isabella bahkan sampai rela pagi-pagi datang ke rumahnya hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.


“Kamu kemana saja kemarin? Aku khawatir karena ponselmu tidak bisa dihubungi.”


“Aku baik-baik saja, Bella. Kemarin aku jalan-jalan sampai nyasar di Kota Maple Willow,” sahut Tye sambil mengelus pipi Isabella lembut. “Oh iya, ini bunga untukmu.”


“Wow. Cantik sekali bunganya. Di mana kamu membelinya?” Isabella memandang buket bunga di tangannya dengan raut wajah bahagia.


“Aku membelinya di toko bunga milik seorang florist cantik di Maple Willow.” Tye kemudian menggandeng pinggang Isabella dan mengajaknya pergi jalan-jalan ke taman dekat rumah. “Kata florist itu, bunga ini akan membantuku menentukan wanita pilihanku.”


“Benarkah?”


“Benar. Caranya adalah aku harus memberikannya pada wanita yang kucintai.”


Isabella tertawa mendengar ucapan Tye. Keduanya mengobrol santai sambil berjalan menuju ke taman. Sesekali berhenti untuk membeli makanan, buah, dan minuman di dekat taman kota. Mereka kemudian duduk santai di salah satu bangku taman sambil bercerita. Isabella dengan senang hati mendengarkan cerita kekasihnya tentang keindahan Kota Maple Willow dan kecantikan florist yang ditemuinya.


Mereka tidak menyadari Kaia yang mengikutinya sejak tadi. Tadi pagi dia pergi ke rumah Tye untuk mengajak pemuda itu jalan-jalan pagi. Sayangnya langkahnya terhenti karena melihat Tye menyerahkan buket bunga pada Isabella. Buket bunga yang seharusnya menjadi miliknya! Kalau saja dia lebih cepat datang, tentu dirinya yang akan menerima buket itu.


“Tye…” panggilnya sambil berjalan mendekati kedua sejoli itu.


“Kaia.” Berbeda dengan Tye yang terkejut, Isabella tampak senang melihat kedatangan Kaia.


“Aku mau bicara denganmu, Tye,” ucap Kaia mengabaikan Isabella.


“Katakan saja apa yang mau kamu bicarakan, Kaia. Kita bicara di sini karena aku tidak mau meninggalkan, Isabella,” sahut Tye dengan suara tegas.


“Hal yang ingin kukatakan adalah aku mencintaimu, Tye!” ucap Kaia dengan nada keras. “Selama ini aku mencintaimu dan hatiku sakit saat tahu ternyata kamu lebih memilih Isabella. Apa kekuranganku, Tye?”


“Kamu tidak kurang apa-apa, Kaia. Tapi aku memang tidak pernah menganggapmu lebih dari seorang sahabat. Maafkan aku yang telah menyakiti hatimu.”


Kaia tampak marah dan hendak memukul Isabella, tapi gerakannya seolah ditahan oleh kuntum-kuntum bunga rose geranium. Baik Kaia maupun Tye dan Isabella tampak terkejut melihat hal itu. Tye meletakkan tubuhnya di depan Isabella guna melindungi kekasihnya.


“Lepaskan aku!” jerit Kaia sambil berusaha menghalau kuntum-kuntum itu.


“Kamu cantik. Tapi sayang hatimu dipenuhi oleh kedengkian.”


Sontak ketiganya menoleh untuk melihat siapa pemilik suara itu. Tye terkejut melihat florist kemarin muncul di hadapannya dan berjalan mendekat dengan santai. Isabella memandang Tye dan gadis cantik itu bergantian dengan wajah bingung. Sementara Kaia terlihat menyipitkan matanya dan memadang dengan raut wajah penuh amarah.


Azalea memandang tenang pada Kaia, kemudian menggerakkan tangannya. Kuntum-kuntum bunga itu mengeluarkan cahaya dan membentuk pusaran mengelilingi Kaia. Tak lama, kuntum-kuntum bunga itu seolah meledak dan melayang jatuh ke tanah.


“Dia baik-baik saja. Tak lama dia akan bangun,” ucap Azalea menenangkan Tye dan Isabella.


Kedua sejoli itu tampak panik melihat Kaia terbaring di atas rumput tak sadarkan diri. Setelah itu, tubuh Azalea ditutupi oleh bunga yang beterbangan dan perlahan melayang menjauh dari ketiga sosok itu.


“Kuambil rose geranium atas ingatanmu tentang aku sebagai bayaran. Semoga kalian hidup bahagia,” ucapnya.


Tye dan Isabella berdiri diam sambil mengerjapkan mata. Keduanya kemudian berusaha menyadarkan Kaia. Mereka bertiga kemudian berdiri berhadapan dengan raut wajah bingung. Setelah itu, mereka memutuskan pulang ke rumah karena setelah ini harus berangkat ke kampus. Di sepanjang perjalanan, Kaia tersenyum meliat bagaimana Tye dan Isabella bercengkerama.


“Keduanya tampak serasi. Kenapa aku dulu mau berbuat jahat merusak hubungan mereka ya?” gumamnya pada diri sendiri.


Dari jauh, sosok berjubah hitam dengan tudung menutupi setengah wajahnya tersenyum kecil. Perlahan, kuntum-kuntum bunga petunia muncul dan terbang memutari tubuhnya. “Kerja bagus, Tye,” gumam sosok misterius itu sebelum menghilang.