
“Apa yang membuatmu sedih, Sophia?” tanya Azalea ketika melihat gadis manis ceria itu hanya duduk dengan raut wajah muram memainkan bunga lavender di dekatnya.
Lama tidak ada jawaban, dia akhirnya berinisiatif membuatkan lemon tea dan menyuguhkan sepiring kue strawberry. Dia tahu kue itu akan membuat Sophia jauh lebih baik. Hal itu karena Sophia sangat menyukai buah berwarna merah dengan rasa manis asam.
“Apa ini, Azalea?” tanya Sophia yang mencium aroma harum kue.
“Strawberry soft cake. Aku membuatnya sendiri tadi pagi,” jawab Azalea. “Makanlah. Selagi masih hangat.”
“Hmm… enak,” ucap Sophia begitu menelan gigitan pertama.
“Sekarang, ceritakan apa yang membuatmu sedih?”
“Aku tidak hanya sedih, tapi juga merasa bersalah,” ucap Sophia sambil menunduk memandang kue di tangannya. “Waktu itu…”
Sophia mendapatkan hukuman untuk membersihkan ruang klub lukis karena lupa membawa tugasnya. Dan di sinilah dia sekarang, sambil bersungut-sungut mulai membereskan peralatan melukis yang bertebaran di mana-mana. Perasaan kesalnya sedikit terobat melihat hasil lukisan yang terpajang rapi, baik di dinding maupun di easel. Semuanya disusun dengan rapi hingga ruangan tampak nyaman. Saat tengah memanjat tangga untuk mengambil kuas yang dijemur di tempat khusus dekat jendela, dia sedikit limbung dan… BRUAK!
“Aduh…” rintihnya pelan sambil memegangi kaki dan kepalanya. “Matilah aku,” gumamnya dengan raut wajah ngeri melihat satu kaleng cat tumpah. Hal yang membuatnya ngeri adalah tumpahan kaleng itu mengenai salah satu lukisan tentang bunga di dekatnya.
“Suara apa itu tadi?” tanya seorang guru yang masuk diikuti beberapa murid. “Sophia, kamu kenapa?”
“Aku jatuh dari tangga, Mr. Jill,” jawab Sophia dengan suara tercekat.
“Apa yang sakit?” tanya Mr. Jill sambil duduk di sampingnya.
“Kaki kiriku sakit sekali,” jawab Sophia yang memang memegangi kaki
kirinya.
“Hm…” Mr. Jill memeriksa dengan teliti pergelangan kaki Sophia. “Sepertinya kakimu terkilir. Ayo kita ke ruang kesehatan dulu biar diobati.”
Sophia dalam gendongan Mr. Jill melihat sekilas seorang murid laki-laki memandang sedih lukisan yang terkena tumpahan cat. Dia kembali ke kelas dibantu beberapa temannya sambil tertatih-tatih. Dia masih memikirkan ekspresi sedih anak laki-laki yang sepertinya adalah pemilik lukisan itu. Kalau saja tadi sempat melihat wajahnya, sudah pasti dia akan datang untuk minta maaf.
“Kasihan ya, Liam,” ucap seorang cewek yang bergerombol di dekatnya. “Katanya lukisan itu untuk kompetisi dan sekarang dia harus mengerjakannya lagi dari awal.”
“Jadi nama anak itu Liam,” gumamnya pelan, kemudian bertanya pada cewek yang sepertinya dari kelas sebelah, “Kapan batas akhir kompetisinya?”
“Nggak tahu juga sih. Tapi kata temenku yang juga anak klub lukis, sekitar tiga minggu lagi,” jawab cewek itu dengan nada cuek.
Sophia berniat minta maaf, tapi keberaniannya menguap melihat Liam di ruang lukis. Wajahnya tampak serius mengerjakan ulang lukisannya yang rusak. Dia terus melakukan itu selama tiga hari dan kadang diam-diam meletakkan makanan serta minuman sebelum Liam datang. Hal itu untuk menebus perasaan bersalahnya.
“Begitulah, aku masih terus merasa bersalah. Tapi aku takut untuk meminta maaf padanya.”
Azalea tersenyum kecil melihat wajah sedih Sophia. Dia ingin sekali membantu Sophia, tapi ada satu masalah di sini. Sophia pernah dibantunya dan dia tidak ingin menarik dua bayaran dari orang yang sama. Dia diam sejenak sambil mengamati bunga di dalam tokonya. Senyumnya mengembang ketika melihat rumpun bunga hyacinth ungu. Bunganya yang cantik tumbuh seperti bunga lavender.
“Aku akan membantumu, Sophia. Tapi kamu harus janji kalau kamu benar-benar akan menemuinya dan minta maaf.”
“Aku janji, Azalea. Aku tidak mau terus merasa bersalah padanya.”
“Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar.”
Sophia memakan kuenya sambil memperhatikan Azalea mendekati rumpun bunga berwarna ungu. Sejenak kedua netranya berubah warna menjadi hitam kelam. Namun begitu sang florist berbalik, semua kembali normal. Diam-diam dia memasukkan sekuntum petunia ke dalam cangkir lemon tea milik Azalea.
“Bunga apa ini?” tanyanya sambil memandang buket bunga dari Azalea.
“Bunga ini namanya hyacinth ungu, artinya maafkan aku,” jawab Azalea.
“Terima kasih, Azalea. Aku akan menemuinya besok sepulang sekolah.”
“Iya, sama-sama. Sekarang pulanglah.”
“Okay. Sampai jumpa besok.”
Azalea membalas lambaian tangan Sophia. Dia hendak berbalik masuk ketika melihat Edgar lari tergesa-gesa ke arahnya.
“Edgar? Ada apa?”
“Anu, aku datang untuk mengantarkan ini padamu, nona florist,” ucap Edgar dengan napas terengah-engah sambil menyerahkan sebuah bungkusan.
“Aku tidak ingat memesan roti darimu atau ibumu,” ucap Azalea dengan nada bingung. Walaupun begitu, dia tetap menerima bungkusan yang disodorkan padanya.
“Memang tidak. Ini dari Alder yang tadi mampir ke tokoku.”
“Alder ya?” gumamnya pelan. “Lalu di mana Alder sekarang?”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak, Edgar. Maaf merepotkanmu.”
“Ah, tidak apa-apa, nona florist. Sampai jumpa.”
Senyumnya mengembang seiring kepergian Edgar. Dalam hati dia sudah bertanya-tanya kemana perginya Alder karena tidak muncul di toko hari ini. Tapi dia juga tidak pernah meminta Alder untuk memberitahunya apapun. Bagaimanapun juga, mereka hanya berteman tanpa hubungan istimewa.
Dia hendak meminum kembali sisa lemon tea di cangkirnya, ketika seekor ulat muncul. Refleks dia menjatuhkan cangkir itu. Saat memeriksanya kembali, tidak nampak ulat, tapi sekuntum petunia. Dengan hati gelisah, segera dibereskannya pecahan gelas itu.
Keesokan harinya, Sophia memenuhi janjinya pada Azalea. Sepulang sekolah, dia pergi ke ruang klub lukis dengan jantung berdegub kencang. Tangannya memegang buket bunga hyacinth ungu dengan erat. Perlahan, dia mengintip Liam yang dengan serius mengerjakan lukisannya. Dia terus saja bertahan di posisinya, hingga sebuah suara mengejutkannya.
“Masuklah. Aku bosan melihatmu hanya diam mengintip dari balik pintu.”
Sophia diam terkejut, kemudian melangkah mendekati Liam perlahan. Dia menyembunyikan buket bunga yang dibawanya di balik punggung. Dia berdiri di samping Liam yang sibuk menyampur beberapa warna.
“Duduklah, Sophia,” ucap Liam sambil memandang Sophia yang menunduk.
“Aku-aku minta maaf, Liam.” Dengan segenap keberaniannya, Sophia akhirnya bisa juga bersuara. “Aku minta maaf gara-gara aku ceroboh lukisanmu jadi rusak. Ini buket bunga dariku sebagai permintaan maafku.”
Liam tertawa pelan melihat tingkah Sophia. “Aku tidak marah padamu kok. Tapi terima kasih buket bunganya,” ucapnya sambil menerima buket itu.
“Boleh aku di sini menemanimu melukis?” tany Sophia dengan senyum malu.
“Tentu saja boleh. Aku senang kalau kamu mau menemaniku,” sahut Liam. “Oh iya, bagaimana kakimu? Apakah sudah sembuh?”
“Kakiku sudah sembuh.”
Sophia tertawa ketika Liam menyeritakan tentang temannya yang sampai panik gara-gara lukisan untuk lomba rusak. Bahkan dia juga hendak memarahi Sophia, tapi dicegah oleh Liam karena tahu kalau Sophia sendiri terluka. Bahkan sampai ijin tidak masuk dua hari. Liam sendiri sebenarnya ingin menjenguk Sophia, tapi karena tidak tahu rumahnya, akhirnya hanya bisa menunggu sampai Sophia masuk sekolah.
“Hm…”
Azalea tersenyum melihat kedua remaja yang asik bercengkerama itu. Dia sebenarnya datang untuk memeriksa Sophia. Kalau-kalau Sophia membutuhkan bantuannya. Tapi Sophia ternyata bisa melakukannya dengan keberaniannya sendiri. Untuk beberapa saat, dia diam dan mendengarkan obrolan mereka.
“Kuambil rasa bersalahmu lewat Liam, Sophia. Semoga kamu dan Liam bisa berteman baik.”
Setelah itu, dia pergi sambil membawa sekuntum bunga hyacinth ungu dari cahaya hati Liam. Di sepanjang jalan, dia tersenyum ramah membalas sapaan yang dilemparkan orang-orang padanya. Dia juga dengan senang hati meladeni anak-anak kecil yang mengajaknya bermain di taman kota.
Sampai di blok rumah Alder dan Poppy, Azalea sedikit ragu untuk melangkah. Dia takut akan bertemu dengan Alder, walaupun sejujurnya dia merindukan kehadiran pemuda itu. Tapi ternyata Alder belum pulang. Hal itu karena dilihatnya lampu kamar Alder di lantai 2 belum menyala.
Azalea duduk di dekat jendela memandang langit malam. Bintang tampak berkerlap-kerlip di langit. Angin lembut yang membelai wajahnya membuat hatinya terasa tenang. Tiba-tiba sekuntum bunga bunga berwarna putih melayang dan jatuh di sebelah tangannya yang dia gunakan menopang dagu.
“Bunga asphodel,” gumamnya. “Kamu cantik, tapi sayang aku tidak bisa menyentuhmu. Sampaikan saja salamku pada pemilikmu.”
Dia memejamkan mata dan membiarkan butiran cahaya dari bunga asphodel itu terbang ke langit. Setelah diam beberapa saat, dia kemudian menutup jendela dan beranjak tidur karena hari sudah larut. Tubuhnya juga sudah terasa lelah sekali.
Kling…
Azalea yang tengah memilah bunga mawar kuning menoleh dan tersenyum melihat seorang wanita cantik masuk. Dia tersenyum ramah dan menyapa wanita itu.
“Selamat datang. Aku Azalea, florist di sini. Ada yang bisa kubantu?”
Wanita itu hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia tampak berjalan mengitari toko memperhatikan bunga satu per satu.
Azalea membiarkan saja dan memilih untuk mengambilkan minuman serta kue. Sambil menunggu wanita itu, dia kembali melanjutkan aktivitasnya menyiapkan pesanan mawar kuning. Dia terlalu fokus pada kegiatannya hingga tidak menyadari kalau wanita tadi diam-diam mengamatinya dengan seksama. Sorot matanya tampak lembut dan hangat.
“Aku tahu kalau aku seharusnya membuat pesanan,” ucapnya sambil mendekati Azalea. “Tapi, bisakah aku mendapatkan satu buket bunga iris untukku sendiri?”
“Tentu saja bisa. Silakan duduk dulu,” jawab Azalea dengan ramah.
Azalea diam bingung karena wanita itu tidak memerlukan bantuannya. Akhirnya, dia memilih mengambilkan setiap warna dari bunga itu beberapa tangkai. Kemudian menyusunnya dengan rapi di meja rangkai. Untuk mempermanis buket itu, dia memasangkan pita berwarna putih. Dia kemudian berjalan mendekati wanita yang duduk tenang sambil meminum rose tea.
“Silakan…” Dia menyodorkannya dengan sopan. “Aku tidak tahu warna apa yang Anda inginkan. Jadi kuambilkan semua warna.”
“Tak apa. Aku memang menyukai bunga iris. Jadi, warna apapun tak masalah untukku.”
“Kalau begitu, aku senang mendengarnya.”
“Aku pulang dulu. Terima kasih atas kue dan tehnya. Ini bayaran untuk buket bunga ini.”
“Terima kasih kembali, Nyonya.”