
Azalea tengah menyiram bunga matahari di halaman. Senandung kecil keluar dari bibirnya. Wajahnya tampak sangat ceria dan bahagia. Hingga cahaya muncul di hadapannya. Dia menghentikan kegiatannya dan tersenyum.
“Ibunda!” Dia meletakkan selang yang dipegangnya dan menghampiri Ratu Aleena.
“Halo, Sayangku. Bagaimana keadaanmu?” tanya Ratu Aleena sambil mengelus kepala Azalea lembut.
“Aku baik-baik saja. Menjalani hari-hari seperti bisa.”
“Waktumu tinggal sebulan lagi, Azalea. Aku datang untuk mengingatkanmu sekaligus memberi tahumu soal florist baru yang akan menggantikanmu.”
“Siapa dia?” tanya Azalea sambil kembali bergerak menyiram tanaman.
“Besok dia akan datang ke tempat ini. Kalau kamu cocok dengannya, kamu bisa menunjuknya saat itu juga.”
“Baiklah. Ibu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengecewakan Ibu.”
“Aku tahu itu, Sayang. Kalau begitu, Ibu kembali dulu. Ibu akan menemuimu kembali ketika kamu tiba di rumah nanti.”
Azalea tersenyum hangat pada Ratu Aleena dan menatapnya hingga menghilang. Setelah itu, dia membereskan selangnya dan mulai membersihkan halaman. Hal itu bertepatan dengan kedatangan Alder dan Aren, serta kedua tamu lainnya, Melissa dan Rico.
* * *
Kling…
Azalea yang tengah merangkai bunga matahari menoleh dan tersenyum pada sekelompok remaja yang masuk. Ada 5 lima orang dengan 3 perempuan dan 2 laki-laki. Mereka tampak memandang kagum ke sekeliling toko hingga tatapan mereka berhenti padanya.
“Selamat siang. Namaku Azalea, florist di sini. Ada yang bisa kubantu?”
“Ah… Kami dari Kota Perchea, hanya kebetulan jalan-jalan. Briana yang pertama melihat tempat ini dan mengajak kami mampir,” ucap seorang gadis berwajah cantik. “Oh iya, namaku Cara.
“Aku Briana, lalu ini Elroy, Julian, dan Lena.,” ucap gadis yang berada di sebelah Cara memperkenalkan dirinya dan ketiga temannya yang lain.
Azalea mendekati mereka dan menyalami mereka satu per satu. Dia mengamati mereka dengan seksama dan diam-diam menyalurkan kekuatannya untuk melihat cahaya hati mereka.
“Apakah Anda
keberatan dengan kedatangan kami? Atau kami mengganggu Anda?” tanya Briana.
“Tidak. Aku hanya sedang memenuhi pesanan buket bunga,” sahut Azalea. “Panggil saja aku Azalea."
Azalea mempersilakan kelima tamunya untuk duduk, kemudian pergi ke dapur sejenak. Dia membuatkan satu teko penuh lemon tea dan menghidangkan sepiring chocolate cake. Kelima remaja itu tampak senang dan makan kue dengan lahap.
"Terima kasih banyak,” ucap Elroy.
"Sama-sama."
Setelah itu, Azalea kembali ke meja rangkai dan meneruskan pekerjaannya. Tanpa sepengetahuannya, Briana mengawasi dengan raut wajah penuh kekaguman. Dia sendiri sangat menyukai alam dan berharap bisa mendirikan toko bunga. Tapi, ibu tirinya tidak menyukai hal itu. Bahkan dengan sengaja merusak semua bunga yang ada di kamar, entah itu bunga asli atau sekadar hiasan dan miniatur.
“Azalea, kami…” ucapan Aren terhenti melihat kelima remaja itu.
Alder hanya menatap mereka sekilas dan langsung mendekati Azalea. Disodorkannya kantung kertas berukuran besar yang dibawanya pada Azalea, kemudian meletakkan tasnya di kursi.
“Siapa mereka?” tanya Alder.
“Mereka tamuku,” jawab Azalea kemudian memanggil Aren, “Kemari, Aren!”
“Kenapa?” tanya Aren.
“Aku butuh bunga iris, daffodil, dan mawar pink. Ketiganya ada di halaman belakang,” sahut Azalea sambil membaca daftar di tangannya.
“Siap. Akan aku potongkan untukmu,” ucap Aren.
“Lalu, Alder. Kamu kan tahu cara mengambil water lily. Aku butuh dua putih dan tiga pink.”
“Baiklah.”
“Aku mau kue dan teh juga, Azalea,” ucap Aren sebelum ditarik pergi oleh Alder.
Azalea menghela napas pelan. Rupanya Aren tadi memperhatikan teh dan kue yang ada di meja. Dia membuka kantung kertas yang dibawa Alder dan tersenyum melihat isinya. Dia kemudian membawanya ke dapur dan menatanya di atas piring. Ada banyak sekali, mulai dari daging asap, perkedel daging, pasta, chocolate cake, buah anggur, dan cream soup.
Di dalam toko, Briana diam-diam bergerak ke meja rangkai. Dengan hati-hati, dia berusaha merangkai bunga matahari itu dengan rapi. Dia tidak mengacuhkan sindiran dari Cara dan larangan dari Alroy. Senyumnya mengembang melihat sebuah buket bunga matahari berhasil dibuatnya dengan rapi. Setelah itu, dia kembali duduk di sofa.
Saat kembali, Azala tersenyum melihat buket bunga matahari di atas mejang rangkai. Dia memegang buket itu dan memejamkan matanya sejenak. Perlahan, keluar semacam debu yang berkerlap-kerlip dan menuju ke tempat Briana. Dia meletakkan bunga itu secara terpisah merangkai bunga yang lainnya.
“Apakah kamu butuh bantuan?” tanya Briana yang tiba-tiba berada di dekatnya.
“Tidak apa-apa. Kamu duduk saja bersama teman-temanmu,” sahut Azalea.
“Ah, itu. Aku…”
Azalea tersenyum melihat kesenduan di kedua mata Briana.
“Aku bukannya melarangmu, Briana. Tapi aku adalah seorang florist istimewa. Selain itu, keistimewaan bunga-bunga ini akan musnah kalau dirangkai oleh orang lain.”
“Maafkan aku. Kalau begitu, apakah aku boleh duduk di sini menemanimu?”
“Tentu saja. Aku akan senang kalau kamu mau.”
Azalea menahan kelima remaja itu dan meminta mereka untuk menginap di rumah. Walaupun heran, Alder dan Aren tidak mempertanyakan keputusannya itu. Sekitar pukul 6 sore, mereka pamit pulang sebentar ke rumah untuk berganti pakaian dan makan malam bersama keluarga mereka.
* * *
“Terima kasih. Makanannya enak sekali,” ucap Cara sambil memasukkan sesuai pasta ke dalam mulutnya.
“Tidak masalah. Besok kalian bisa kembali ke Perchea diantar oleh Alder dan Aren.”
Selesai makan malam, Azalea membereskan meja. Dia menerima tawaran Briana yang mau membantunya. Diam-daim, dia mengamati segala gerak-gerik Briana dengan seksama. Hatinya mengatakan kalau calon florist baru yang dikatakan oleh sang Ibunda adalah Briana.
Azalea membiarkan kelima remaja itu bersantai menonton televisi. Dia keluar dan berjalan-jalan di hamparan bunga yang mekar dengan indah. Senyumnya merekah melihat kedatangan Alder dan Aren. Dia membiarkan Aren merangkul bahunya dan menariknya masuk ke dalam toko meninggalkan Alder.
“Kenapa kamu membiarkan mereka bermalam di sini? Kamu tidak takut mereka akan membahayakan dirimu? Bagaimana kalau mereka anak buah Ratu Mary?” cecar Alder.
“Yang dikatakan Alder benar. Bagaimana kalau ternyata mereka orang jahat?” tanya Aren mendukung Alder.
“Memang cahaya hati Cara dan Elroy cenderung gelap. Tapi Julian, Lena dan Briana bersih. Lagi pula, salah satu dari mereka akan menjadi florist menggantikanku.”
“Pasti Briana,” tebak Aren.
“Benar. Kemarin Ibunda mengatakan padaku kalau calon florist baru akan menemuiku hari ini. Ibu tirinya sosok yang kejam dan jahat. Dia sering disiksa dan dihina oleh ibu tirinya itu.”
“Bagaimana caramu tahu semua itu?” tanya Aren lagi.
“Kamu lupa kalau dia tahu segalanya, Aren?” Alder memandang Aren dengan sebelah alis terangkat.
“Ah iya. Aku lupa.”
Azalea tersenyum kecil. Dia membiarkan kedua pemuda itu mengobrol. Sementara dirinya sendiri tengah memeriksa buket-buket bunganya.
Tak lama, Aren memilih untuk masuk ke rumah. Dia sengaja meninggalkan Alder dan Azalea berdua. Hal itu agar mereka memiliki cukup waktu berdua sebelum Azalea kembali ke tempat tinggalnya.
“Setelah kembali nanti, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Alder memecah keheningan.
“Menceritakan semuanya pada Mama dan Papa serta kedua kakakku. Setelah itu, aku akan pergi mencari petunjuk untuk mengakhiri semuanya.”
“Terlalu berbahaya kalau kamu pergi sendiri,” ucap Alder sambil bangkit berdiri.
Dia berjalan mengikuti Azalea keluar toko. Mereka jalan-jalan sejenak di bawah langit malam. Bulan tampak sempurna di langit. Mereka naik ke bukit kecil di antara hamparan bunga lavender, matahri, dan tulip. Mereka duduk berdampingan memandang langit.
“Aku tahu soal itu. Hanya saja, apakah aku ada pilihan lain? Aku hanya ingin mencari tahu cara mengakhiri semuanya. Aku yang dulu hanya seorang remaja biasa. Tiba-tiba kini memiliki kekuatan sihir tanaman dan ternyata aku adalah putri dari Ratu Aleena."
Setelah berkata seperti itu, Azalea merebahkan tubuhnya di atas rumput. Memandang kerlap-kerlip bintang yang menghiasi langit. Pemandangan yang sangat indah dan menyenangkan.
Alder melirik Azalea sejenak sebelum mengikuti tindakannya. Jadilah mereka sekarang berbaring berdampingan di atas rumput. Sama-sama memandang dan mengagumi keindahan langit malam.
“Azalea…” panggil Alder pelan.
“Hmm…?” jawab Azalea.
“Bolehkah aku mencintaimu?”
Azalea terdiam mendengar ucapan Alder. Hatinya menghangat. Dia menolehkan kepala memandang wajah tampak pemuda di sampingnya yang masih memandang langit.
“Sejak ratusan tahun yang lalu, kamu selalu ada di dekatku. Kamu diam-diam menjaga dan melindungiku. Aku bisa merasakan keberadaanmu dan selalu bertanya-tanya. Apakah aku bisa bersamamu suatu saat nanti? Hingga malam itu kamu datang. Entah kenapa, aku yang baru sekali itu bertemu denganmu, bisa merasakan kerinduan yang sangat dalam.”
Alder menoleh dan membalas tatapan Azalea. Dia diam menunggu ucapan Azalea selanjutnya. Sejujurnya, sebelum kedatangan Azalea, dia memiliki banyak ingatan tentang masa lalunya.
“Aku hanya takut, kalau semua akan berakhir sama seperti dua ratus lima puluh tahun yang lalu.”
“Tidak akan. Kamu, Della, dan Rosetta pasti akan menemukan jalan keluarnya. Aku yakin soal itu!”
“Hal lain yang membuatku takut adalah hatimu abu-abu, Alder. Aku takut kalau suatu saat nanti kamu berbalik dan memilih bersama Flora.”
“Sejujurnya, aku mengingat semua masa laluku, Aren, dan Rhys.”
“Bagaimana mungkin?”
“Sebelum kedatanganmu, aku dan Aren sedang berada di taman kota. Kami duduk di dalam kabut dan muncul cahaya yang masuk dalam diri kami. Dari situlah, akhirnya kami mengetahui tentang kehidupan kami ratusan tahun yang lalu. Lagi pula, kami sudah berusia delapan belas tahun. Selain itu,… aku mengingat hal lain.”
“Apa itu?”
“Kami ini dulu manusia biasa yang kemudian berubah menjadi semacam makhluk abadi. Kami menjaga sebuah tempat, semacam istana kristal. Kami tanpa sengaja melihat kalian di padang chrysanthemum saat sedang berjalan-jalan karena bosan.”
“Istana kristal? Di mana tempat itu?”
“Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak mengingat letaknya.”
“Mungkin tempat itu memiliki sesuatu untuk mengakhiri semua ini.”
“Kalau kamu melakukannya, kita semua akan mati, Azalea. Dan akhirnya kita akan hidup kembali, bereinkarnasi, menjadi manusia biasa seutuhnya.”
“*S*o, like see you in the next life, I guess?”
“Dimanapun kamu berada, aku pasti akan pergi mencari dan menemukanmu,” ucap Alder menyentuh pipi Azalea lembut.
Tiba-tiba, dari langit muncul sekuntum bunga berwarna merah jambu. Keduanya memperhatikan bunga itu. Bunga itu tidak jatuh, tapi melayang di atas mereka kemudian jatuh dalam bentuk kalung berliontin batu permata berwarna merah. Liontin itu berbentuk hati, simbol dari cinta.
“Apa itu?” tanya Alder yang kemudian bangkit.
Tangannya meraih kalung itu dan mengamatinya. Di dalam liontin berbentuk hati itu, ada kuntum dari bunga yang tadi melayang turun.
“Woodbine flower, artinya cinta tanpa syarat.”
Alder tersenyum dan memakai kalung itu. Azalea menyentuh lembut liontin yang tergantung manis di dada Alder. Dia tersenyum lembut dan memeluk Alder. Keduanya berpelukan erat, menyalurkan isi hati masing-masing.
Diam-diam, Aren yang sejak tadi mengamati dari balik jendela tersenyum. Dia senang karena Alder dan Azalea bisa bersatu. Dia sendiri berharap bisa memiliki akhir kisah yang bahagianya nantinya, entah bersama Asphodella ataupun Poppy. Sejujurnya, ada kebimbangan dalam hatinya.