Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 26 SWEET PEA [1]



“Banyak juga pesanan bunga yang harus dipenuhi ya?” ucap Briana pada Azalea yang tengah mengatur buket bunga yang sudah jadi.


“Memang. Tapi kalau kamu benar-benar mencintai dunia tentang bunga dan segala macamnya, hal ini tidak akan lagi membebani hatimu,” sahut Azalea.


“Apakah kamu benar-benar harus pergi?”


Azalea menatap Briana yang tampak menunduk. Dia tersenyum ketika merasakan aura kesedihan dalam diri Briana. Kemudian dia menghela napas pelan. Pandangan matanya menatap ke seluruh penjuru toko. Tempat yang sudah menjadi rumahnya selama 2 tahun ini.


“Kalau boleh jujur, aku sebenarnya nggak rela pergi dari tempat ini, Bri. Tapi aku ke sini karena menggantikan hukuman temanku. Mau tidak mau aku harus kembali karena hukuman untuknya telah selesai.”


“Walaupun kamu memang aslinya adalah seorang florist?” tanya Aren yang masuk membawa beberapa tangkai bunga geranium.


“Iya,” jawab Azalea.


Dia bingung harus bersikap seperti apa pada ketiga orang yang tengah bersedih itu. Briana sibuk mengatur buket bunga. Aren dan Alder sibuk memotong bunga-bunga yang akan dirangkai. Dia menghela napas pelan, kemudian memejamkan matanya.


Alder, Aren, dan Briana terkejut ketika tampak kerlap-kerlip cahaya hati bunga di sekitar mereka. Begitu kerlap-kerlip cahaya itu menghilang, mereka tidak lagi berada di dalam toko. Mereka berada di sebuah padang kecil dengan air terjun. Banyak bunga krisan yang mekar berwarna-warni di padang itu.


“Ini…” ucap Alder dnegan suara tercekat.


“Benar, padang chrysanthemum,” sahut Azalea.


Azalea kemudian menggerakkan tangannya. Tampak sulur-sulur bergerak dan membentuk beberpaa buah benda, sebuah meja kecil dan 4 buah kursi. Dia mendekati salah satu kursi itu dan duduk. Alder, Aren, dan Briana mengikuti apa yang dilakukannya.


“Kenapa kamu membawa kita semua ke tempat ini?” tanya Aren.


“Karena kalian semua sedih terus,” ucap Azalea dengan nada kesal. “C’mon guys! Kita masih bisa bertemu dan akan bertemu lagi. Jadi, tolong antarkan kepergianku dengan senyum dan tawa.”


“Baiklah… Baiklah…” sahut Alder sambil tertawa kecil melihatnya ngambek.


“Well, padang ini masih sama seperti terakhir kali kulihat,” komentar Alder.


“Tidak ada yang kemari setelah peristiwa itu. Dua ratus lima puluh tahun taman ini kosong. Ratu Aleena dan Ratu Andara bahkan menolak datang ke tempat ini,” sambung Aren.


“Tentu saja. Ibu mana yang mau datang ke tempat penuh kenangan bersama anak-anaknya. Apalagi, anak-anaknya itu pergi dengan kondisi mengenaskan,” ucap Alder.


Untuk sejenak, mereka menikmati keindangan dan ketenangan di padang chrysanthemum. Deru lembut air terjun bagaikan alunan musik, atau seperti itulah yang didengar oleh Briana. Alder dan Aren asik memperhatikan ke sekeliling padang. Sebuah ingatan muncul. Ingatan tentang pertama kalinya mereka berdua bersama Rhys menemukan tempat ini tanpa sengaja.


Setelah bercakap-cakap sejenak, Azalea membawa mereka semua kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan di toko bunga. Belum lagi pesanan bunga yang menumpuk.


* * *


Azalea membuka mata dan terkejut melihat ke sekelilingnya. Salju putih menghiasi tempat itu. Namun uniknya, air terjun tetap mengalir seperti biasa. Keterkejutan semakin tampak di wajahnya melihat dua sosok lain di dekat tepi danau. Perlahan, dia berjalan mendekati keduanya.


“Asphodella? Rosetta?” ucapnya pelan.


Kedua sosok itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.


“AZALEA!” pekik Rosetta sambil berlari ke arahnya dan memeluknya erat.


“Apa? Bagaimana kalian bisa di sini? Dan Rosetta… kamu?” Azalea tampak kebingungan.


“Kamu yang memanggil kami ‘kan?”


“Aku? Seingatku, aku hanya mengirimkan pesan pada kalian,” sahut Azalea.


Ketiganya saling berpandang-pandangan dalam kebingungan. Tiba-tiba, air terjun tersibak dan muncul sosok perempuan bermahkotakan kaca. Perempuan itu berjalan pelan dan berhenti di tengah danau. Mereka berjalan mendekat dan berhenti di tepi danau.


“Aku yang memanggil kalian ke mari, Putri. Perkenalkan, namaku Krystal. Aku adalah penjaga tempat suci,” ucap perempuan itu dengan lembut.


“Kenapa Ratu memanggil kami ke sini?” tanya Azalea sopan.


“Kemarilah. Kita bicara sambil duduk,” ucap Ratu Krystal.


Air danau seketika membeku. Di tengah, muncul sebuah meja dan empat buah kursi. Azalea, Asphodella, dan Rosetta berjalan mendekat. Mereka duduk bersama di situ. Dalam hati, mereka mengagumi sosok Ratu Krystal yang sangat cantik.


“Aku memanggil kalian ke sini sekarang karena aku merasa waktuku tidak lama lagi,” ucap Ratu Krystal. “Aku tahu kalu semua ini terlalu cepat bagi kalian bertemu denganku. Tapi, entahlah… Aku merasa semua sudah berubah, tepatnya ada sesuatu yang berubah di sini.”


“Maksud, Ratu? Kami tidak mengerti,” ucap Asphodella.


“Sejak awal kelahiran Azalea, lalu Asphodella, dan terakhir Rosetta, aku merasakan aliran yang aneh. Seperti… gerbang yang dulu terkunci, kini telah terbuka. Entah bagaimana caranya,” ucap Ratu Krystal dengan sorot mata menerawang. “Azalea telah menggunakan kekuatan jauh melebihi batasnya. Asphodella mendapatkan ingatannya, dan Rosetta mendapatkan kekuatannya sebelum waktunya. Semua itu adalah petunjuk akan terjadi suatu perubahan besar dalam dunia florist.”


“Apakah hal itu berbahaya, Ratu?” tanya Azalea.


Azalea, Asphodella, dan Rosetta mengulurkan tangan kanan mereka. Ratu Krystal menggerakkan tangannya dan muncul tiga kuntum bunga. Ketiga kuntum bunga itu melayang di atas telapak tangan pemiliknya. Tidak lama, ketiganya jatuh dalam bentu seuntai kalung kristal.


“Kalung itu muncul dari api suci setelah kalian pergi dua ratus lima puluh tahun yang lalu. Pergunakanlah dengan baik pemberian itu. Aku yakin, itu adalah benda yang akan membantu kalian nantinya.”


“Terima kasih, Ratu,” ucap Rosetta yang langsung memakainya.


Azalea dan Asphodella mengikuti tindakan Rosetta. Setelah itu, ketiganya kembali memandang Ratu Krystal yang tersenyum lembut.


“Aku percaya kalian akan memutuskan semuanya dengan bijak,” ucap Ratu Krystal.


Setelah itu, tubuh Ratu Krystal menghilang menjadi kepingan-kepingan salju. Meninggalkan Azalea, Rosetta, dan Asphodella sendiri. Untuk sejenak, mereka duduk dalam keheningan.


“Aku akan menemuimu ketika aku kembali nanti, Rosetta,” ucap Azalea.


“Lalu, bagaimana denganku?” protes Asphodella.


“Aku dan Azalea akan menemuimu,” sahut Rosetta.


“Sudah, jangan bertengkar. Lebih baik, kita segera kembali. Persiapkan diri kalian baik-baik. Aku merasa kalau hal yang akan terjadi setelah ini, sangat berbahaya.”


“Baik,” sahut Rosetta.


“Siap,” sahut Asphodella.


Azalea tersenyum melihat kepergian kedua adiknya. Dia sendiri memandang ke arah air terjun dan memejamkan matanya. Tubuhnya berubah menjadi kuntum-kuntum bunga azalea dan melayang ke langit.


* * *


Azalea membuka matanya dan duduk di atas tempat tidurnya. Tangannya menyentuh liontin kristal yang tergantung di lehernya. Dia menghela napas pelan. Itu artinya, kejadian tadi bukan sekadar mimpi.


Hari masih gelap, tapi dia memutuskan pergi ke Swan Lake. Matanya memandang three angel lights yang berkerlap-kerlip di tengah danau. Suasana tenang dan sunyi membuatnya nyaman. Senyumnya mengembang merasakan aliran cahaya hati Alder tak jauh dari tempatnya.


“Alder?” panggilnya tanpa menoleh.


Alder yang diam di sebuah pohon terkejut mendengar panggilan Azalea. Dia melangkah mendekati sang florist dengan ragu, dan duduk di sebelah kanan Azalea.


“Aku nggak bisa tidur dan ngelihat kamu keluar.”


“Aku kebangun karena mimpi bertemu Ratu Krystal,” ucap Azalea.


“Ratu Krystal ya? Apakah dia baik-baik saja?”


“Pertanyaanmu itu seolah kamu mengenalnya,” ucap Azalea sambil memandang Alder.


“Ceritanya panjang, Azalea. Aku akan menceritakan semuanya nanti ketika kamu, Asphodella, dan Rosetta sudah berkumpul. Lagi pula, aku dan Aren harus mencari tahu keberadaan Rhys.”


“Aku tahu kalau kamu memiliki suatu hal yang tidak kamu ceritakan padaku. Apapun itu, aku percaya sepenuhnya padamu.”


Alder terenyuh mendengar ucapan Azalea. Hatinya menghangat mengetahui Azalea percaya padanya. Tidak terlihat sedikitpun keraguan dalam kedua bola mata Azalea. Tangannya merengkuh bahu Azalea dan membiarkan Azalea bersandar di bahunya.


“Apakah kamu melihat sesuatu yang lain dari ketiga angel lights itu, Alder?”


“Apa yang aneh memangnya?”


Azalea tersenyum dan menggerakkan tangannya. Ketiga kuntum angel lights itu memancarkan sinarnya. Lembut dan tidak menyilaukan mata.


“Itu…?”


“Benar. Di dalam azalea terdapat snowdrop, di dalam asphodel terhadapat gladiolus, dan di dalam mawar ada oak leaf. Hanya saja, oak leaf di dalam mawar belum bersinar.”


“Kenapa begitu?”


“Karena kamu dan Aren belum menemukan keberadaan Rhys. Kekuatan kalian terbuka begitu saling bertemu. Kamu dan Aren sudah bertemu sejak kecil, karena itulah kalian langsung bisa menggunakannya begitu berumur enam belas tahun.”


“Lalu, yang waktu itu kamu lakukan dan Asphodella pada kami?”


“Aku dan Della hanya merebutnya lebih dulu daripada Flora dan Sophia,” sahut Azalea kemudia menambahkan ucapannya, “Maafkan aku soal itu, Alder. Tapi aku benar-benar menyayangimu. Aku mohon padamu untuk percaya kalau perasaanku tulus padamu.”


Azalea memandang Alder dengan sorot mata sendu ketika pemuda itu diam saja. Dia memang bersalah karena merebut cahaya hati Alder dan mengikatnya tanpa ijin. Dia takut kalau Alder dan Aren memihak pada blood florist. Lebih tepatnya, Alder, Aren, dan Rhys bisa dengan sesuka hati meninggalkan ketiga florist dari angel lights itu dan mengikuti ketiga blood florist. Hal itu jelas akan membawa kehancuran bagi para three angel lights.