
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Alder.
Saat ini, Alder, Aren, Poppy, dan Azalea tengah berada di pusat kota membantu persiapan perayaan ulang tahun Maple Willow. Bunga-bunga tampak bermekaran indah dimana-mana. Azalea sendiri sibuk dengan orang-orang yang bingung mengatur bunga. Hingga akhirnya istri wali kota, Madam Annura, menyuruhnya istirahat sejenak.
“Nanti malam, tepat pukul sebelas judas tree akan mekar. Sebenarnya ada satu cara agar aku bisa tetap memakai kekuatanku, hanya saja resikonya cukup besar,” ucapnya dengan nada pelan. Matanya memandang langit yang mulai memerah di Barat.
“Bagaimana caranya?” sahut Aren yang tiba-tiba muncul di belakang mereka bersama Poppy. Dia membawa baki berisi makanan dan minuman.
“Kalian ingat bunga lobelia yang muncul waktu itu?” tanyanya sambil meminum cokelat hangatnya.
“Kami ingat. Mau diapakan bunga itu? Kamu hanya sekadar menyentuhnya saja sudah terluka,” ucap Poppy dengan nada khawatir.
“Kalau kekuatanku bisa mengontrol bunga itu, aku bisa menyamarkan diriku. Judas tree akan mengunci semua kekuatan light florists, tapi tidak dengan dark florists dan blood florists.”
“Bagaimana kalau kita coba lakukan?” tanya Aren.
Alder memandang Azalea yang terdiam. Dia mendukung sepenuhnya apapun yang akan dilakukan oleh Azalea, begitu juga dengan Aren. Azalea memang tidak pernah memilih mereka berdua, justru mereka sendiri yang tahu kalau mereka dipanggil untuk menjadi knights-nya. Hal itu terjadi begitu saja sejak pertama kali bertemu dengan Azalea.
“Masalahnya adalah bunga lobelia itu harus dipasang di batang judas tree. Tidak ada yang tahu pasti letaknya dimana,” jawab Azalea sambil mengangkat bahunya.
“Mungkin buang lobelia itu bisa menunjukkannya pada kita,” sahut Alder asal-asalan.
“Benar juga,” tanggap Aren. “Kalau mau melakukannya lebih baik kita pergi sekarang sebelum hari keburu malam.”
“Baiklah, baiklah.”
Azalea berjalan diseret oleh Aren, sementara Alder mengikuti dengan langkah santai. Di paling belakang, Poppy tersenyum diam-diam. Dari tangannya, dia mengeluarkan sekuntum poppy merah yang langsung terbang melayang dan menghilang di langit. Setelah itu, dia berjalan menyusul Azalea, Alder, dan Aren.
Awalnya Madam Annura sedikit keberatan Azalea hendak pergi menemukan judas tree. Tapi melihat kesungguhan hati sang florist, Madam Annura akhirnya mengijinkan mereka pergi. Sebelum pergi, Azalea meraih tangan Madam Annura dan ditelapak tangannya muncul sekuntum azalea merah.
“Anda akan tahu kami baik-baik saja selama bunga ini terus bersinar.”
“Kamu memang florist yang berbeda dan luar biasa. Berhati-hatilah, Nak,” ucap Madam Annura lembut.
Azalea, Poppy, Alder, dan Aren masuk ke toko bunga. Alder menyalakan lampu karena hari sudah semakin gelap. Poppy mengambil botol kaca berisi bunga lobelia, sementara Aren mengambil peta yang sudah mereka gunakan sebelumnya. Keempatnya duduk melingkar di meja rangkai. Azalea membuat luka sayatan kecil di telapak tangannya dan menghela napas sejenak.
Azalea kemudian memegang tangkai bunga lobelia yang langsung terasa membakarnya. Dia mengabaikan rasa sakit itu dan berkonsentrasi. Perlahan rasa sakit itu berkurang dan warna lobelia yang awalnya violet berubah menjadi merah. Dia membuka mata begitu bunga itu telah menjadi merah sempurna.
“Judas tree,” ucapnya sambil meletakkan telapak tangannya di atas peta.
Perlahan sulur-sulur muncul dan berkumpul di salah satu daerah hutan sebelah Barat Maple Willow. Alder memperhatian daerah itu sejenak dan mempelajarinya. Dia mengenali daerah itu sebagai tempatnya menyelamatkan Azalea.
“Letaknya tidak terlalu jauh dari tebing yang dulu kamu hendak dijatuhkan,” ucap Alder. “Kita berangkat sekarang?”
“Aku ambil senter atau lentera dulu,” ucap Aren yang dihentikan oleh Azalea.
“Tidak perlu. Pejamkan mata kalian dan kerahkan energi kalian pada pendant itu.”
Aren dan Alder mengikuti apa yang diucapkan oleh Azalea. Benar saja, pendant yang mereka pakai mengeluarkan cahaya yang cukup terang. Alder dan Aren memindahkan pendant itu menjadi sebuah gelang di pergelangan tangan kiri mereka.
Poppy sendiri tampak diam berusaha menutupi kegugupannya. Dia beruntung Azalea tengah sibuk mengobati luka sayatannya tadi. Kalau tidak, pasti akan ketahuan dia tidak memakai pendant pelindungnya.
Mereka berempat berjalan tanpa suara lewat belakang rumah penduduk. Saat hendak memasuki hutan, dua kuntum bunga yang bercahaya terbang melayang. Azalea menangkap keduanya. Monkshood dan azalea merah. Azalea merah itu kembali melayang dan menuntun langkah mereka.
“Ada apa?” tanya Poppy yang merasakan Azalea berhenti.
“Ada yang mengikuti kita,” jawab Azalea. Dia menyentuh salah satu batang pohon didekatnya dan memejamkan mata. Samar-samar dia merasakan energi gelap tapi tidak jahat yang mendekat. “Dark florist.”
Setelah hampir dua jam berjalan melintasi gelapnya hutan. Mereka sampai di sebuah padang kecil. Di sekitar padang itu tampak tumbuh bunga berwarna putih nan cantik. Azalea mengenalinya sebagai bunga asphodel.
Cahaya yang dikeluarkan bunga itu seolah menjadi pagar pelindung dari judas tree. Azalea tahu, kalau dia sampai melangkah masuk dalam lingkaran cahaya itu, dia akan terluka. Hanya dark florist yang bisa memasuki pagar cahaya itu.
“Bunga apa itu, Azalea? Sepertinya banyak sekali bunga yang tidak ada di toko,” ucap Aren.
“Asphodel, termasuk dalam dark flower. Bacalah buku yang ada di toko,” jelas Azalea.
Alder memandang judas tree yang perlahan tertutup oleh kabut hita. “Bagaimana cara kita mendekati judas tree?” tanyanya.
“Hebat juga kamu berhasil menemukan tempat ini, Azalea.”
“Tentu saja aku bisa menemukan judas tree, Asphodella.”
Sosok yang dipanggil Asphodella itu membuka tudungnya. Wajah cantiknya dihiasi senyum dingin. Tapi senyum itu ditujukan pada Poppy yang tampak salah tingkah di samping Azalea.
“Aku di sini menjaga judas tree. Tidak boleh ada orang yang sembarangan mendekatinya,” ucap Asphodella. “Satu jam lagi, kekuatanmu akan terkunci, Azalea. Kalau kamu tetap berada di sini, kamu bisa terluka.”
“Aku tahu. Aku butuh bantuan judas tree agar kekuatanku tidak terkunci.”
“Baiklah. Aku tidak mungkin membiarkan kakakku mati dibunuh oleh ular licik ‘kan?”
Alder dan Aren diam bingung sekaligus tegang mendengar ucapan Asphodella. Mereka berdua sudah mengambil ancang-ancang untuk menghadapi serangan. Tiba-tiba saja Asphodella sudah berdiri tepat di hadapan Azalea.
“Dia…”
“Salah satu knights-ku, Della. Cepatlah. Waktuku tidak banyak,” potong Azalea.
Asphodella tahu kalau Azalea tidak mau dia membuka mulut perihal Poppy. Dia kemudian membuat sayatan di telapak tangannya dan meneteskannya di tangan sang florist yang dipanggilnya kakak. Sekuntum bunga asphodel muncul dari tetesan darahnya.
“Sudah. Sekarang tinggal menanamkan lobelia ini,” ucapnya. “Tapi kalau kamu sampai melewati pagar cahaya ini, kamu bisa mati.”
“Biar aku saja,” ucap Aren.
“Perempuan,” sahut Asphodella.
“Baiklah. Aku akan pergi,” ucap Poppy.
Poppy menerima bunga lobelia itu dan memberanikan diri melangkah melintasi lingkaran cahaya. Tubuhnya terasa seperti ditusuki oleh jarum, yang perlahan menghilang saat cahaya bunga asphodel menyelimuti tubuhnya Langkahnya teras pelan dijalan setapak yang buat oleh Asphodella. Sampai di dekat judas tree, dia menempelkan lobelia di batangnya.
Begitu tangannya menyentuh judas tree itu, daun-daun pohon oak muncul dan menyelimuti tubuhnya. Matanya terpejam dan merasakan daun-daun itu membawa tubuhnya. Namun begitu membuka mata, dia telah kembali berada di dekat Azalea.
“Tidak ada florist yang berani memasuki Auburn. Tapi mungkin ada ramuan yang bisa menyamarkannya,” ucap Asphadella. “Panggil aku kalau kamu memerlukan bantuan. Bagaimanapun juga, aku ini salah satu adikmu. Jangan pilih kasih.”
Perlahan kuntum-kuntum bunga asphodel melayang dan melingkupi tubuh Asphodella. Judas tree tidak tampak lagi karena dilingkupi kabut hitam seiring perginya sang penjaga. Azalea menghela napas pelan mendengar ucapan bernada merajuk dari Asphodella.
Alder dan Aren berlutut di dekat Azalea. Tangan Azalea menangkap setangkai oak leaf yang jatuh perlahan. Dia meletakkan oak leaf itu di tangan Poppy dan memejamkan matanya. Oak leaf itu tampak menghilang menjadi cahaya yang perlahan memasuki tubuh Poppy.
“Apa itu?” tanya Poppy.
“Salah satu cahaya hatimu adalah oak tree. Cahaya yang cantik, sayangnya ditutupi oleh kegelapan,” sahut Azalea sambil tersenyum.
Poppy terdiam mendengar ucapan Azalea. Perasaan kesal merasuki hatinya Dia sudah lelah berakting kalau dia gadis yang baik dan polos. Tapi dia sama sekali belum menginjinkannya menyudahi sandiwara ini. Padahal jelas-jelas Azalea tahu sosok Poppy yang sebenarnya.
Perlahan, tampak kuntum-kuntum azalea di sekitar tubuh mereka. Saat kuntum-kuntum itu menghilang, mereka sudah berada di tepi hutan. Alder dan Aren mulai paham cara kerja kekuatan teleport Azalea. Ketika sudah tahu pasti letak suatu tempat, Azalea terkadang bisa menggunakan kekuatannya itu. Tapi kalau masih belum jelas, Azalea harus mengandalkan peta dan kekuatan locater-nya.
“Kenapa aku baru tahu soal Asphodella?” tanya Aren.
Mereka bertiga berkumpul di dapur Azalea sambil menggelar makanan yang tadi diantar oleh Madam Annura. Edgar yang bertugas mengantarkan makanan itu setia menunggu mereka sampai kembali. Iya hanya bertiga, karena Poppy mengeluh pusing dan pamit pulang ke rumah.
“Panjang ceritanya, Aren. Semuanya saling berkaitan,” jawab Azalea.
“Maukah kamu menceritakannya pada kami, Azalea?” pinta Alder dengan nada lembut.
“Kalian belum merasa lelah atau mengantuk untuk mendengar cerita?” tanya Azalea sambil tersenyum.
“Belum kok,” jawab Aren yang entah kenapa bersemangat mendengar cerita tentang Asphodella, sang dark florist. Ada kehangatan aneh yang mengalir di dadanya saat menatap iris violet Asphodella.
“Baiklah, tapi aku hanya akan menceritakan intinya saja.”
Azalea mengajak mereka pergi ke ruang santai agar lebih nyaman. Alder dan Aren masing-masing duduk di sofa panjang sebelah kanan dan kiri Azalea. Mereka berdua duduk tenang untuk mendengar cerita sang florist. Cerita yang sebenarnya berhubungan dengan hidup mereka.
Tapi seperti yang dikatakan guardian tree. Mereka semua lahir menjadi sosok baru tanpa mengingat jati diri mereka di masa lalu. Hanya alam bawah sadar yang membuat mereka tetap bisa merasakan semuanya. Juga kerinduan yang tercipta dari kenangan di dalamnya.