Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
[S02] PART 12 THE PRINCESSES



Tubuh Rosetta melayang di atas danau. Posisinya seperti orang tengah tertidur. Perlahan kedua matanya terbuka, menampakan irisnya yang berwarna merah darah. Simbol mahkota emas muncul di dahinya dan bersinar untuk beberapa saat. Perlahan, tubuhnya turun dan berdiri di atas danau.


Tak lama, muncul sebuah busur dan tiga buah anak panah yang semuanya terbuat dari kristal. Rosetta mengambil keempat benda itu dan memejamkan matanya. Keempat benda itu pun menghilang. Dress merah muda lembut yang dipakainya berkibar pelan terkena hembusan angin.


Senyum Rosetta merekah melihat sosok yang melayang turun. Dia berlari dan memeluk sang kakak.


“Azalea!” pekiknya.


“Halo, Rosie!” Azalea membalas pelukan Rosetta. “Aku senang karena kamu akhirnya mau membuka kekuatanmu secara penuh, terlebih lagi melakukannya sendiri.”


“Aku hanya takut kalau melakukan di dekatmu atau Asphodella, kalian akan terluka seperti dulu,” ucap Rosetta pelan.


“Rosie, ingat yang dikatakan oleh Ratu Krystal. Masa ini berbeda dari dulu. Kamu harus bisa menjadi sosok yang berani dan jangan pernah terpaku pada ketakutanmu akan peristiwa di masa lalu,” ucap Azalea lembut.


Rosetta terdiam sejenak dan tersenyum memandang Azalea. Dia memegang kedua tangan sang kakak, kemudian memejamkan matanya. Perlahan, tampak kuntum-kuntum mawar merah turun dan melingkupi tubuh Azalea. Dia membuka mata dan melepaskan pegangan tangannya, lalu menjauh sedikit.


Senyumnya mengembang ketika melihat penampilan Azalea begitu kuntum-kuntum mawarnya menghilang. Rok dan sweater yang dikenakan oleh Azalea berubah menjadi sebuah dress panjang berwarna merah lembut. Sebuah simbol mahkota emas terukir di dahinya. Mereka sama-sama bertelanjang kaki.


Dari kejauhan, Asphodella memandang kedua saudarinya dengan raut wajah sedih. Entah kenapa, dia merasa terasingkan karena berbeda. Dia yang seorang dark florist sering merasa tersisih ketika bersama Azalea dan Rosetta. Ada iri dan rasa sedih melihat Rosetta bisa begitu santai bersama Azalea, sementara dirinya tidak.


“Ibu, kenapa aku berbeda?” gumamnya sedih sambil menatap langit malam.


Tiba-tiba, terdengar alunan melodi dari tengah danau seiring cahaya yang muncul. Alunan lagu terdengar begitu menghipnotis. Keningnya berkerut melihat Briana dan Rhys berdiri diam terpaku menatap ke tengah danau. Sosok perempuan cantik bergaun kuning berjalan mendekat ke arahnya.


“Kamu tidak berbeda, Putri Asphodella,” ucap perempuan itu lembut. “Kalian terlahir dengan kemampuan masing-masing dan saling melengkapi. Ingat pesan Ratu Krystal, masa ini berbeda dari masa lalu, tapi akan menjadi penentu masa depan.”


“Carissa? Carissa Blythier?” Asphodella terhenyak ketika perempaun itu menganggukan kepala. “Aku tidak mengerti apa yang terjadi padamu.”


Carissa menggerakkan tangannya mengambil pedang yang berada bersama kunci kristal. Pedang itu melayang di antara Asphodella dan Carissa, kemudian mengeluarkan sinarnya. Perlahan, mata Asphodella tertutup seiring munculnya kuntum-kutum bunga asphodel dan judas tree flower.


“Sang Putri Cahaya-lah yang memanggilku untuk menjadi penjaga the song of the darkness. Lagu yang melindungi sekaligus menjadi kekuatanmu selama ini, Putri. Kini, kukembalikan kekuatan itu padamu, pemiliknya yang sah.”


Pedang itu melayang di atas tubuh Asphodella, sementara di bawahnya muncul sebuah tameng. Perlahan sinar muncul melingkupi seluruh tubuh Asphodela. Cahayanya meredut dan di dahinya muncul simbol mahkota emas. Tubuh Carissa pun perlahan memudah dan kembali ke danau.


“Katika waktunya tiba, kamu akan menjaga agar Azalea dan Rosetta tidak jatuh dalam kegelapan. Kamu akan menjadi cahaya dalam kegelapan.”


Asphodella membuka matanya menampakkan irisnya yang berwarna merah keemasan. Perlahan, dia bergumam, “Ia adalah pembimbing menuju cahaya.”


Perlahan, Asphodella turun dan menjejakkan kakinya yang telanjang ke atas tanah. Dress panjang berwarna abu-abu muda membalut tubuhnya dengan pas. Dia segera berlari pergi ke danau tempat Azalea dan Rosetta berada. Senyumnya merekah mendengar Rosetta berteriak riang melihat kedatangannya.


“Jadi, kamu sudah tau caranya membuka kekuatanmu?” tanya Azalea lembut.


“Selama ini, kekuatanku dititipkan pada Carissa Blythier,” sahut Asphodella. “Ia adalah pembimbing menuju cahaya. Kegelapan dalam kegelapan, yang akhirnya berubah menjadi cahaya ….”


“Yeah, that’s you, Della,” ucap Azalea.


“AZALEA! ROSETTA! ASPHODELLA!” Terdengar teriakan Briana dan Rhys, diikuti sosok mereka yang muncul dari balik pepohonan.


Keduanya melihat siapa ketiga sosok yang tengah berdiri di depan mereka, segera berlutut memberi hormat. Azalea menyuruh mereka untuk mendekat. Azalea mengibaskan tangannya dan di atas danau muncul lima buah kursi kristal.


Giliran Rosetta dan Asphodella mengulurkan tangan mereka. Tampak kuntum-kuntum bunga asphodel putih dan mawar merah melayang melingkupi kunci kristal itu. Perlahan, tubuh mereka semua melayang dan tampak cahaya menyilaukan keluar dari kunci. Tak lama, tubuh mereka kembali turun.


“Di mana kita?” tanya Asphodella.


“Aku ingat padang ini. Aku melihatnya dalam ingatan Mama Lily,” sahut Rosetta.


“Ini adalah padang di mana semua berawal dan juga akan berakhir,” ucap Azalea, kemudian menoleh pada Briana dan Rhys. “Hanya di tempat ini, kalian bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada kalian dua ratus lima puluh tahun yang lalu.”


Briana menoleh pada three angel lights tree di tengah danau yang tidak terlalu luas. Dia dan Rhys berdiri tenang di tepi danau. Walaupun begitu, ini masih belum saatnya. Mereka masih harus menunggu hingga bulan mencapai singgasananya tepat tengah malam nanti. Itu artinya, setelah ini mereka akan berpisah dengan ketiga putri.


“Masih ada beberapa jam sampai tengah malam nanti. Kita bisa mengobrol kalau ada hal yang ingin kalian sampaikan,” ucap Azalea.


“Aku takut kegelapan itu akan menguasai kami,” ucap Rhys pelan.


“Itu pilihan kalian. Bagaimanapun juga, kalian tidak terikat pada kami. Kita bisa bersatu apabila aku, Della, dan Rosie berhasil membuka kekuatan crystal florist kami.”


“What if ….”


“Percayalah pada dirimu sendiri, Rhys,” potong Rosetta. “Di luar sana, Ratu Mary dan ketiga putrinya tengah mempersiapkan pasukan untuk berperang. Siapa pun yang menang, akan mengubah dunia.”


Semua terdiam mendengar ucapan Rosetta. Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan yang mengisi. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang mau kalau sampai dunia jatuh dalam kegelapan. Namun, untuk mengalahkan kegelapan jahat itu pun sungguh sulit, apalagi tanpa adanya kedua Ratu dan Ratu Kristal.


Tak ada lagi obrolan di antara mereka. Azalea diam mengawasi kedua adiknya yang bermain di tepi danau, sementara Briana dan Rhys yang awalnya diam ikut bergabung. Setelah beberapa saat, Azalea akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Jadilah mereka semua menghabiskan waktu dengan bermain dan bercanda bersama.


Setelah puas bermain, mereka duduk di tepi danau dan saling menceritakan kehidupan mereka ketika menjadi manusia biasa. Kehidupan yang jauh berbeda dari diri mereka dua ratus lima puluh tahun yang lalu. Sihir sudah musnah seiring ditutupnya portal sumber sihir. Kalaupun ada yang bisa menggunakan sihir, artinya mereka bukanlah manusia biasa.


Rosetta yang melihat cahaya bulan telah jatuh tepat di atas danau. Dia bangkit diikuti yang lainnya. Perlahan dia menggerakan tangannya, hingga muncul kristal es berbentuk bunga mawar melingkupi tubuh Briana. Three angel lights three dari tengah danau mengeluarkan sinarnya perlahan.


“Abcindera,” ucapnya pelan.


Dari telapak tangannya, muncul anak panah kristal mawar menghunus tepat ke dada Briana. Anak panah kristal itu menembus tubuh Briana dan menancap di three angel lights tree. Perlahan, tubuh Briana dilingkupi kerlap-kerlip


kristal dari ketiga kuntum bunga three angel lights tree.


Ketika kristal itu menghilang, di dahi Briana muncul simbol mahkota perak yang di belakangnya ada three angel lights tree. Gaun berwarna putih yang muncul menggantikan pakaian lamanya tampak bersinar keperakan.


“Kekuatanmu sekarang berdiri sendiri, Bri,” ucap Azalea. “Kamu bukan anak ataupun reinkarnasi Ratu Kristal, melainkan seorang putri yang dipilih oleh Ratu Kristal untuk menjadi putrinya.”


“Sumpahku akan berlaku sampai kapan pun,” ucap Briana sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Bahwa aku akan menjadi pelindung istana kristal bersama ketiga guardians.”


Rhys berdiri di belakang Briana dan keduanya berlutut satu kaki ke tanah. Mereka memberi hormat pada ketiga putri. Tak lama, tubuh keduanya menghilang dalam kerlap-kerlip cahaya menuju ke langit. Mereka berdua akan pergi menjemput kedua guardians yang lain, Alder dan Aren.


“Shall we open the pandora box now?” tanya Asphodella memandang Azalea.


“Memangnya kalian sudah siap?” Azalea balik bertanya memandang kedua adiknya.


“Kami siap!” jawab Asphodella dan Rosetta serempak.