
“Aku akan menunggu dulu kabar dari Cercia. Setelah itu, aku akan menemui kalian di padang anyelir,” ucap Rhocya.
“Kalau begitu, kami pulang dulu ke rumah Rhys dan Briana,” ucap Azalea.
“Berhati-hatilah, Putri. Jangan percaya pada siapa pun selain Rhys dan Briana.”
“Tunggu sebentar!” cegah Azalea yang teringat sesuatu. “Soal Briana, kenapa ada dua orang?”
“Salah satunya adalah Putri Flora yang sedang menyamar. Bittersweet mengetahui kebenarannya.” Rhocya kemudian pergi menghilang.
Azalea menunggu sampai Rosetta tenang. Setelah itu, dia menarik kembali cahaya bunga penidur pada Rhys dan Briana. Dia bisa melihat keduanya tampak kebingungan. Tangannya melambai untuk memanggil Rhys dan Briana mendekat.
“Ada apa, Azalea? Apa yang baru saja terjadi?” tanya Rhys yang melihat Rosetta menangis.
“Ceritanya panjang. Kita pulang dulu. Nanti akan kuberi tahu semuanya di padang anyelir,” jawab Azalea.
Rhys dan Briana kemudian memegang bahu Rosetta. Tampak kuntum-kuntum bunga mawar melayang menyelubungi tubuh mereka. Rhys dan Briana kemudian menutup mata mereka. Membiarkan Rosetta membawa mereka semua kembali ke padang Anyelir.
Ketika membuka mata, mereka telah kembali berada di padang anyelir. Kuntum-kuntum mawar itu kemudian menghilang. Menyisakan mereka dalam keheningan. Untuk sejenak, Rhys dan Briana membiarkan Azalea dan Rosetta. Apa pun yang terjadi di padang tadi, telah menimbulkan kesedihan yang teramat dalam bagi kedua putri.
“Hari sudah beranjak sore. Kita masuk saja dan beristirahat di dalam rumh,” ucap Briana lembut.
“Kita masuk dulu ya, Rosetta. Sudah, jangan menangis lagi,” ucap Azalea membelai rambut Rosetta lembut.
“Aku mau nyari Della. Aku nggak mau kalau Della kenapa-napa di luar sana,” ucap Rosetta.
“Kita semua akan pergi mencari Della, tapi nanti. Kita harus menunggu kedatangan Rhocya dulu. Sekarang, ayo kita masuk ke dalam rumah dulu.”
Azalea merangkul pundak Rosetta dan membimbingnya. Briana berjalan di sebelah kanan Rosettea dan menggandeng lengannya. Rhys sendiri berjalan santai mengikuti Azalea, Rosetta, dan Briana. Pandangan matanya terarah pada Rosetta yang masih sedikit terisak. Tanpa sadar, kedua tangannya terkepal.
“Aku nggak akan biarin apa pun nyakitin Rosetta dan kedua kakaknya, termasuk kalian,” gumamnya pelan.
Paman Jake dan Bibi Lula tampak lega melihat kedatangan mereka berempat. Tanpa berkata apa-apa, Bibi Lula merangkul Rosetta dan membawanya ke kamar. Azalea mengikuti Bibi Lula dari belakang bersama Briana yang ikut ke dalam kamar. Dia terkejut melihat suasana kamar yang sama dengan kamarnya di Maple Willow.
“Aku baru sadar. Rumah ini sama persis dengan yang kutempati waktu di Ample Willow,” ucapnya.
“Seluruh rumah milik orang tua kandung ketiga putri saling terhubung,” sahut Bibi Lula.
“Benarkah?” tanya Rosetta.
“Benar putri. Tanpa mengetahui tempatnya pun, kalian bisa pergi dengan teleport. Caranya mudah saja kok. Ambil energi dari rumah ini dan pancarkan.”
“Terima kasih informasinya, Bi,” ucap Azalea.
“Hm... Aneh juga. Kenapa tngatan kalian tidak terbuka secara penuh? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.”
“Bibi florist juga?” tanya Rosetta lagi.
“Bibi ini ibu dari Rhocya. Selama Rhocya baik-baik saja, Bibi juga akan baik-baik saja.”
“Wahh… Pantas saja aku tadi merasa wajah Bibi mirip dengan Rhocya,” ucap Azalea.
“Ya sudah. Bibi tinggal untuk membuat malam dulu. Kalau ada apa-apa, panggil saja.”
“Terima kasih, Bi.”
Bibi Lula kemudian pergi meninggalkan Azalea, Rosetta dan Briana sendiri. Azalea menyuruh agar Rosetta segera membersihkan diri. Dia sendiri kemudian bercakap-cakap sambil menunggu Rosetta selesai. Setelah itu, Dia dan Briana bergantian membersihkan diri.
Rosetta sendiri mengamati kamar itu sambil menunggu Azalea dan Briana selesai. Dia berjalan mengitari tempat itu dan menyentuh tembok. Hal itu dilakukannya beberapa kali di titik tertentu. Begitu seriusnya dia melakukan hal itu, hingga tidak menyadari Rhys yang berdiri santai di pintu.
“Kamu ngapain?” tanya Rhys.
“Rhys!” Rosetta menatap Rhys kesal. “Kamu ngagetin aja.”
“Kamu serius banget sih,” sahut Rhys cuek. “Mana Azalea dan Briana?”
“Jadi, kamu habis ngapain?” tanya Rhys lagi.
“Ngambil ingatan tempat ini,” jawab Rosetta santai.
Azalea dan Briana keluar dari ruang ganti. Mereka bingung melihat Rosetta ngambek pada Rhys, sementara Rhys asik melemparkan bulatan-bulatan kertas padanya. Tak urung, hal itu membuahkan senyuman di wajah Azalea dan Briana.
Azalea diam-diam menggerakkan tanggan. Senyuman kembali terukir melihat tubuh Rhys dilingkupi cahaya putih. Benar, itu adalah sinar yang keluar dari cahaya hati Rhys. Dia agak bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Rhys, Alder, dan Aren. Kenapa mereka berbeda? Apa yang membuat mereka berbeda?
“Azalea…” Rosetta berlari mendekati Azalea dan memeluk sang kakak. “Rhys jahat banget! Dia ngejekin aku terus, yang gendutlah, kecil, bawel, cengeng.”
Azalea dan Briana berpandang-pandangan sejenak, kemudian kompak tertawa. “Hahahahaha.”
“Kalian ini lucu sekali sih,” ucap Briana di sela-sela tawanya. “Dari dulu selalu begini. Nggak pernah akur.”
Azalea menghentikan tawanya. “Maksud kamu apa, Bri?” tanyanya.
“Yang mana?” Briana terlihat kebingungan dengan pertanyaan Azalea.
“Kamu tadi bilang kalau Rosetta dan Rhys tidak bisa akur. Sejak dulu kapan?”
“Kamu nggak ingat? Kalian berdua nggak ingat?” Briana dan Rhys tampak bingung.
Briana meraih tangan Azalea dan Rosetta kemudian memejamkan matanya. Dia menggunakan kekuatan kristalnya untuk mencari tahu masalah ingatan Azalea dan Rosetta. Sesuai dugaannya, ada yang mengunci ingatan mereka. Dia berusaha mengancurkannya, tapi gagal.
“Ada yang menutup ingatan kalian berdua, termasuk Asphodella. Memang sudah terbuka, tapi itu hanya berupa celah-celah. Orang itu sepertinya sengaja melakukannya untuk mengaburkan semuanya.”
“Tapi, siapa yang manutup ingatan mereka, Bri?” tanya Rhys.
“Aku juga nggak tahu. Yang jelas semua tergantung pada kalian bertiga, apakah kalian mampu menghancurkannya
atau tidak,” ucap Briana.
“Apakah ada yang kalian ketahui di masa lalu?” tanya Rhys pada Azalea dan Rosetta.
Azalea diam dan memandang ke langit-langit kamar. Ada sesuatu yang samar-samar masuk ke dalam kepalanya. Hal yang berhubungan dengan three angel lights tree dan istana kristal. Dia menatap tangannya dan terkejut melihat kunci dari kristal.
“Lebih tepatnya…” Azalea memandang Rhys, Briana dan Rosetta bergantian. “Aku yang dengan sengaja menutup ingatan kami bertiga.”
“Tapi, untuk apa?” tanya Briana.
“Entahlah. Aku sendiri nggak tahu alasannya, atau tepatnya nggak ingat.”
Malam itu, mereka berempat menghabiskan waktu dengan bercerita bersama. Mereka baru tidur ketika Bibi Lula masuk dan mengomeli mereka. Azalea, Rosetta, dan Briana memutuskan tidur bersama di tempat tidur, sementara Rhys kembali ke kamarnya.
Diam-diam, Rhys memasang pelindung di kamar Azalea dan Rosetta. Dia tidak ingin Alder dan Aren berhasil menemukan keberadaan keduanya. Dia merasa, kabut hitam ini muncul untuk melindungi Azalea, Rosetta dan Asphodella. Masalahnya adalah energi jahat yang dirasakannya sejak kabut ini muncul.
Di kamar, Azalea merasa sedikit gelisah. Dia tidak bisa tidur walupun sudah mencoba memejamkan mata. Sambil menghela napas pelan, dia bangkit dan duduk di atas tempat tidur. Matanya memandang lembut wajah Rosetta yang tampak tidur pulas, begitu juga Briana.
“Aku janji, aku nggak akan biarin siapa pun ngelukain kamu atau Della. Aku akan ngelindungin kalian berdua,” ucapnya sambil mengelus pipi Rosetta lembut.
Dia kemudian bangkit dan pergi ke balkon kamar. Matanya memandang bulan yang bersinar di langit. Tak terasa, air matanya jatuh mengingat kenyataan menyedihkan soal kedua Ibundanya, Ratu Aleena dan Ratu Andara.
“Ibu…” ucapnya lirih. “Aku harus bagaimana, Ibunda? Di mana aku bisa menemukan cara membuka ingatan kami?”
Azalea mangis terisak di balkon kamar. Tiba-tiba, dia terkejut melihat sekuntum anggrek putih muncul di dekat tangannya. Tangisnya berhenti. Perlahan, tangannya terulur menyentuh kelopak bunga anggrek itu. Dia ingat pernah melihat bunga anggrek ini dulu, ketika masih berada di Maple Willow.
“Aku pikir yang mengirim bunga anggrek itu sang Dewi, ternyata Ibunda,” ucapnya lirih. “Terima kasih atas pengorbananmu, Ibunda. Aku akan melakukan yang kubisa untuk mengakhiri semuanya serta melindungi Rosetta dan Asphodella.”
Tiba-tiba, kuntum anggrek itu berubah menjadi kunci dari kristal. Hal itu sontak membuatnya terkejut. Ragu-ragu, dia menyentuh kunci kristal yang langsung bersinar begitu bersentuhan dengan tangannya. Sama seperti yang terjadi pada anak panah kristal milik Rosetta.
“Terima kasih atas bantuannya, Ibunda,” ucapnya sambil tersenyum senang, tapi kemudian senyum itu langsung menghilang. “Tapi, apa arti kunci ini?”