Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 5 EDELWEISS



Azalea yang tengah menyiram bunga terdiam sejenak. Energi asing jahat yang pernah dirasakannya minggu lalu kembali muncul. Tak lama, sudut matanya menangkap sosok Sophia yang berjalan mendahului Alder, Aren, dan Poppy.


"Selamat pagi, nona florist.”


“Selamat pagi, Sophia, Poppy, Aren, Alder,” sahutnya sambil tersenyum.


“Pagi, Azalea,” balas Sophia. “Kamu nggak usah repot-repot bawa bekal. Lihat, ibuku dan ibu Alder sudah membawakan bekal yang lebih dari cukup untuk kita berlima.”


Azalea melirik sekilas keranjang bekal berukuran besar yang dibawa oleh Aren dan Alder. Dia melihat Alder tengah menyentuh bunga lavender yang berada di dekatnya. Sophia sendiri tampak mengagumi keindahan bunga matahari. Sementara Poppy dan Aren tampak memperdebatkan tentang tempat piknik mereka.


“Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mengambil jaket dan mengunci pintu.”


Mareka berlima berjalan santai sambil menikmati keindahan musim panas di bukit Maple Willow. Mereka pergi ke arah barat mengikuti jalan setapan yang ada. Kicau burung terdengar bersahut-sahutan. Ada beberapa kelinci liar yang asik melompat-lompat mencari makan. Berbagai macam kupu-kupu terbang dari bunga satu ke bunga yang lain. Aroma harus bunga menebar kemana-mana. Benar-benar musim panas yang sangat indah.


“Apakah tempatnya jauh, Aren?” tanya Poppy yang berjalan di belakang pemuda itu.


“Letaknya setelah bukit bunga chocolate cosmos,” sahut Aren.


“Bunga langka dari Mexico. Bagaimana bisa tumbuh di Kota Maple Willow yang berada di New York?” sahut Azalea.


“Aku lupa kamu mengenal semua bunga,” ucap Aren sambil tertawa dan membantu Azalea melompati batang maple yang tumbang. “Daerah ini sudah masuk hutan yang dilindungi dan masuk area perbatasan. Tapi hutan ini diumumkan sebagai hutan tanpa tuan, bukan milik Mexico maupun New York. Maple Willow yang paling dekat diserahi tugas untuk menjaga dan merawatnya. Itulah kenapa tidak sembarang orang bisa masuk dan harus melalui ijin Wali Kota Maple Willow dulu.”


“Pantas saja binatang yang hidup di sini cukup jinak,” ucap Azalea yang lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.


Ternyata, tempat piknik yang dimaksud Arena berada di sebuah lembah dengan di kelilingi 3 bukit. Ada sebuah padang dengan danau di tengahnya. Beberapa pohon maple tumbuh, dan ada banyak semak serta perdu dengan bunga berwarna warni.


Tapi yang membuat Azalea diam terpaku adalah hamparan bunga edelweiss di sisi barat danau. Di tempat itu ada dua kelompok remaja lain yang juga sedang piknik sambil bermain di danau.


“Apakah kita bisa duduk di dekat bunga edelweiss?” tanya Azalea pada Alder.


“Kamu mau?" Alder justru balik bertanya.


Azalea menganggukkan kepala sebagai jawaban. Alder memberitahu Aren dan mereka kemudian akhirnya menggelar tikar di dekat bunga edelweiss.


Azalea membantu Poppy mengeluarkan bekal mereka dan menatanya di atas tikar. Jumlahnya memang sangat bangak. Azalea akhirnya mengambil sedikit-sedikit dari semua jenis makanan yang ada, sisanya disimpan untuk nanti sore. Matahari tepat berada di puncaknya, tapi udara tetap terasa sejuk dan nyaman di kulit. Mereka berlima menikmati bekal sambil duduk santai dan menikmati keindahan danau.


“Nona florist,” panggil Sophia pada Azalea yang tengah mengamati bunga edelweiss di dekatnya.


“Azalea,” ralat Azalea sambil tersenyum hangat.


“Iya, Azalea. Sepertinya kamu benar-benar takjub dangan bunga edelweiss itu?”


“Ini yang kedua kalinya aku melihat salah satu bunga yang menjadi lambang cinta sejati,” jawab Azalea dngan nada ringan. Tangannya menyentuh lembut kelopak bunga berwarna putih di dekatnya. “Di negara asalku, untuk melihatnya, kami harus mendaki gunung atau istilahnya hiking. Aku sendiri tidak begitu suka hiking. Kalau tidak salah ingat, bunga ini hanya ada di lima gunung yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalku.”


“Wah, susah juga ya kalau gitu,” komentar Aren.


“Ceritakan pada kami tentang kisah bunga edelweiss ini dong,” pinta Poppy dengan sorot mata memohon.


“Tentang apa?”


“Um… kisah cinta,” sahut Aren dengan kening berkerut.


Azalea tertawa kecil sejenak. “Baiklah. Akan kuceritakan kisah tentang bunga edelweiss. Kisah ini tentang temanku yang rela melakukan apapun demi laki-laki yang disukainya. Bahkan dia rela menghancurkan persahabatan kami yang sudah terjalin selama tiga tahun."


Azalea diam sejenak mengingat kisah cinta salah satu sahabatnya yang berkaitan dengan bunga edelweiss. Kisah cinta sepihak yang berakhir tragis. Setelah itu, sahabatnya itu tidak pernah muncul lagi di sekolah. Seolah menghilang begitu saja.


“Dulu aku punya sahabat, namanya Agnesia. Kami udah bersahabat dari SMP dan dia menyukai seorang cowok,” ucap Azalea membuka ceritanya.


Hari itu adalah hari pertama menjalani masa orientasi sekolah. Azalea sendiri dengan cueknya memakai seragam SMP dan membiarkan rambut cokelat kemerahannya tergerai bebas. Hal itu karena saat pembekalan minggu lalu tidak diberitahu apa-apa soal pakaian, sepatu, rambut. Jadi ya dia berpenampilan seperti biasa.


“Kakak kelas yang itu ganteng ya, Lea,” ucap Agnes sambil menyenggol lengan Azalea.


Azalea menoleh mengikuti arah yang ditunjuk oleh Agnes. Seorang cowok kelas 3 tampak tengah berdiri berhadapan dengan dua orang cowok lainnya. Dia mengakui kalau cowok itu memang tampan, tapi dia tidak terlalu menyukai senyumnya. Terkesan dingin dan angkuh.


“Hm.”


Azalea tahu kalau Agnes kesal dengan tanggapannya yang terkesan tidak peduli. Mau bagaimana lagi, dia terlanjur langsung tidak menyukai senyumnya. Lagi pula dia juga jauh lebih senang mengamati teman-teman barunya dari pada melirik kakak kelas. Dia memandang dengan sorot mata geli pada seorang cewek pendiam yang tekesan malu-malu melirik salah satu cowok di sebelahnya.


Azalea dan Agnes yang menjadi teman sekelas juga langsung menjadi teman sebangku. Azalea yang menyukai alam tergabung di klub pecinta alam. Agnes sendiri gabung karena kakak kelas incarannya juga di klub itu. Azalea hanya bisa menghela napas melihat tingkah sahabatnya yang tidak pernah berubah sejak dulu.


“Kalian suka banget ya ngamatin bunga.”


Azalea yang tengah mengamati rumpun bunga primrose menoleh dan bertatapan dengan Kak Gilang, cowok incaran Agnes. Azalea melirik sahabatnya yang tampak tersenyum malu-malu. Dia memilih kembali pada kesibukannya mengamati bunga itu. Membiarkan Agnes mengobrol dengan Kak Gilang, dengan menguping diam-diam.


“Nggak tahu ya, Kak. Aku ijin orang tuaku dulu,” jawab Azalea dengan nada sopan.


“Ayo dong, Lea. Ikut ya, please… Nanti aku yang bawain makanan buat kamu deh.”


Azalea menghela napas melihat raut wajah memelas Agnes. “Baiklah, baiklah. Tapi aku pegang janjimu bawain makanan buat kita berdua.”


“Siap.”


Azalea yang tidak terlalu menyukai kegiatan hiking hanya bisa mengenyitkan dahi melihat hutan di hadapannya. Membayangkan akan mendaki hutan lebat dan gelap itu membuat bulu kuduknya meremang. Apalagi gunung ini terkenal angker dan harus benar-benar menjaga sopan santun. Tapi karena sudah berada di sini, mau bagaimana lagi.


Di sepanjang jalan, Azalea sedikit risih dengan sikap Agnes yang benar-benar mencari perhatian pada Kak Gilang. Tapi dirinya tidak menyadari kalau Kak Gilang justru memberikan perhatian padanya.


Begitu sampai di puncak, yang cowok sibuk mendirikan tenda. Azalea sendiri tengah berdiri dan menatap kagum hamparan bunga edelweiss yang membentang luas.


“Kamu suka bunga itu, Lea?” tanya Kak Gilang yang tiba-tiba sudah berada di dekatku.


“Ini pertama kalinya aku lihat bunga edelweiss yang asli, Kak,” jawab Azalea.


“Kalau gitu, kamu petik aja satu buat dibawa pulang.”


“Nggak boleh metik bunga sembarangan, nanti penjaganya marah.”


Kak Gilang hanya tertawa kecil mendengar ucapannya. Kak Gilang bahkan menemaninya melihat-lihat bunga lain di daerah situ. Menjelang sore, mereka menikmati senja sambil minum cokelat panas yang dibuatkan oleh Kak Rani. Azalea memegang gelasnya yang mengepulkan uap sambil memandang indahnya matahari senja. Hingga tiba-tiba tangannya ditarik oleh Agnes.


“Mau ke mana, Nes?”


“Anterin metik bunga edelweiss, Lea. Mau aku kasih ke Kak Gilang buat nyatain perasaanku.”


“Gimana kalau kamu nyatain perasaanmu di samping bunga edelweiss. Kasihan bunganya kalau kamu petik.”


“Kamu bawel banget sih, Lea.”


Azalea diam melihat Agnes dengan kasar memetik bunga edelweiss. Dirinya yang diliputi oleh perasaan kesal hanya menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan tempat itu. Agnes diam-diam tersenyum sinis padanya. Dia kesal karena Kak Gilang lebih memperhatikan Azalea sejak awal berangkat.


“Ini balesannya kamu berani dekat-dekat sama Kak Gilang,” ucapnya dengan senyum kemenangan karena berhasil membuat Azalea kesal.


Azalea kembali ke tenda dan melihat hasil foto-foto di ponselnya. Semua itu hasil jepretan Kak Gilang, tentu saja dengan sedikit paksaan karena dirinya tidak begitu suka bergaya. Hampir sejam dia di tenda dan asik melihat foto-fotonya.


“Kamu kenapa, Lea?” tanya Kak Rani yang tiba-tiba masuk.


“Nggak apa-apa kok, kak. Kenapa emangnya?”


Belum sempat Kak Rani menjawab, seikat bunga edelweiss yang sudah rusak menghantam wajah Azalea. Pelakunya adalah Agnes yang menatapnya penuh amarah. Agnes bahkan kemudian meremas-remas hingga hancur bunga berkelopak putih itu dan kembali melemparnya pada Azalea.


“Kamu kenapa sih, Nes? Salahku apa?” tanya Azalea sambil berdiri berhadapan di luar tenda.


“Kamu tu yang apa-apaan?!” sentak Agnes sambil mendorong bahunya kasar. “Kamu udah tahu aku suka sama Kak Gilang, kenapa kamu deketin dia terus?!”


“Jaga bicaramu, Nes. Aku nggak pernah deketin Kak Gilang.”


“Cukup!” ucap Kak Rani dengan nada tegas. “Ingat! Ini gunung sakral. Jangan bertengkar apalagi mengucapkan kata kasar.”


Agnes pergi dengan menghentakkan kaki. Azalea dibantu Kak Rani membersihkan tendanya. Dia menaburkan bunga itu kembali di padang rumahnya. Hal itu membuat hatinya tenang dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Sejenak dia memandang bunga putih lambang cinta sejati itu. Tangannya kemudian memetik satu tangkai.


“Aku nggak tahu kalau ternyata selama ini Kak Gilang sukanya sama aku, Nes.” Azalea duduk di samping Agnes yang mengacuhkannya. “Aku minta maaf kalau gara-gara aku kamu nggak bisa jadian sama Kak Gilang. Sebagai permintaan maafku, ini untukmu. Aku ingin bilang kalau kamu tetap sahabat terbaikku. Bawalah pulang. Aku harap suatu saat nanti kamu bisa memberikannya untuk sosok laki-laki yang memang benar-benar menjadi cinta sejatimu.”


Setelah itu, esoknya mereka pulang ke rumah masing-masing. Anehnya, Agnes tidak pernah lagi muncul di sekolah. Dua minggu kemudian, Azalea memutuskan pergi ke rumah Ages. Tapi ternyata rumah itu kosong. Menurut tetangganya, orang tua Agnes pindah ke luar kota. Tapi, dia tidak tahu apakah Agnes ikut atau tidak. Karena saat pindahan, Agnes sama sekali tidak terlihat.


“Cewek kayak gitu sih pantesnya emang musnah dari muka bumi,” komentar Sophia.


“Ke mana perginya Agnes?” tanya Poppy dengan raut wajah penasaran.


“Entah. Kabar terakhir yang kudengar mengenai orang tuanya hanyalah ibunya masuk rumah sakit jiwa.”


Semua terdiam mendengar ucapannya. Di balik keindahan sesuatu pasti ada kisah menyedihkan di dalamnya. Alder duduk diam menikmati keindahan lembah yang menjadi tempat piknik mereka itu. Sesekali matanya mencuri pandang pada Azalea yang tengah ditanyai oleh Poppy tentang bunga di sekitar tempat mereka duduk.


Senyuman kecil terukir ketika melihat Azalea berdebat dengan Poppy tentang pohon maple. Tiba-tiba, sekuntum bunga feverfew jatuh tepat di tangannya. Dia mengangkat bunga itu dengan kening berkerut. Kemudian mengedarkan pandangan matanya.


“Dari mana asal bunga ini,” gumamnya. Ini bukan yang pertama. Sebelumnya dia juga mendapatkan bunga kecil berwarna putih itu di malam ketika mengantar Azalea pulang.