
“Selamat pagi,” sapa Azalea melihat kelima remaja itu sudah bangun.
Dia sendiri tengah berada di dapur menyiapkan makanan dan minuman untuk sarapan. Alder dan Aren sendiri sudah pergi pagi-pagi sekali karena harus masuk sekolah. Mereka tidak bisa bolos karena sebentar lagi ujian kelulusan.
“Selama pagi, Azalea,” sapa Briana dan Lena serempak.
Keduanya segera bergerak membatu sang florist menyiapkan semuanya. Setelah itu, mereka sarapan dengan santai. Cara dan Elroy tampak bercerita tentang perjalanan mereka kemarin hingga sampai di Maple Willow. Yang lain menjadi pendengar sambil menikmati makanan yang tersaji.
Azalea hanya sesekali memberikan tanggapan. Perasaan sesak yang dulu dirasakannya kembali muncul, dan kali ini penyebabnya adalah Cara dan Elroy. Mereka hanya manusia biasa, tapi cahaya gelap milik mereka membuatnya sedikit tidak nyaman. Pancarannya sangat kuat. Dia punya firasat kalau kehadiran kedua remaja ini apsti telah diketahui oleh ketiga blood florist.
“Pukul kami akan diantar kembali ke Perchea?” tanya Bren sambil membereskan meja.
“Nanti siang. Alder dan Aren masih sekolah,” jawab Azalea.
“Kupikir kamu juga sekolah, Azalea.”
“Memang, tapi bukan di sini.”
Azalea tersenyum meisterius kemudian mendekati Briana. Setelah memastikan keempat teman gadis itu tidak berada di dekat dapur, dia memandang Briana. Sejenak, dia berusaha mmantapkan hatinya.
“Setelah ini, ikutlah denganku ke hutan belakang.”
“Bagaimana dengan keempat temanku?” tanya Briana dengan raut wajah bingung.
“Jangan khawatir. Aku akan membuat mereka sibuk.”
Setelah selesai beres-beres, Azalea dan Briana menemui Cara, Lena, Elroy, dan Julian yang sedang mengagumi keindahan bunga lanvender. Azalea memanggil keempatnya dan mengajak mereka semua masuk ke dalam toko.
“Setelah ini, aku memerlukan bantuan Briana untuk melihat suatu tanaman di hutan. Aku minta tolong pada kalian berempat untuk menyerahkan pesanan bunga. Biasanya, mereka akan mulai datang pukul tujuh.”
“Bagaimana cara kami memberikannya? Kami tidak begitu mamahami masalah bunga,” ucap Lena dengan nada sedikit takut.
“Jangan khawatir. Semalam aku sudah memisah-misahkannya dan memberinya nama,” sahut Azalea.
Elroy, Cara, Julia, dan Lena berkeliling memperhatikan buket bunga yang jumlahnya sangat banyak itu. Memang benar, semua sudah tersusun rapi dengan namanya masing-masing. Azalea memberi kesempatan pada keempat remaja itu untuk melihat semuanya.
“Apa ada yang ingin kalian tanyakan?” tanyanya. “Jangan khawatir. Mereka akan mengantri dengan rapi. Tanyakan nama mereka dan berikan pesanannya.”
“Baiklah kalau begitu. Kami akan melakukannya dengan baik,” ucap Elroy dengan nada bersemangat.
Setelah itu, Azalea mengajak Briana. Keduanya berjalan keluar toko dan pergi ke halaman belakang. Azalea menggunakan bunga dan tanaman untuk mengawasi sekitarnya. Termasuk kalau-kalau keempat teman Briana diam-diam mengikuti. Dia membawa Briana ke sebuah danau kecil tak jauh dari rumah.
“Indah sekali tempat ini,” ucap Briana dengan nada kagum.
“Nama tempat ini danau blueberry. Sesuai dengan semak-semak blueberry yang tumbuh mengelilinginya,” ucap Azalea sambil duduk di tepi danau.
“Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Briana ikut duduk di sampingnya.
“Tidak ada,” sahut Azalea kemudian mengatur posisinya mengahadap Briana. “Aku membawamu ke sini karena ada beberapa hal yang harus kuberi tahukan padamu.”
“Soal apa itu?”
“Aku ini bukan florist biasa, aku adalah florist dengan kekuatan sihir yang bertugas menjaga alam dan dunia florist. Aku telah mengetahui kedatanganmu ke tokoku. Ibundaku, Ratu Aleena, yang memberi tahuku. Pertanyaanku, apakah kamu mau menjadi sepertiku?”
“Maksudmu, menjadi florist?”
“Benar. Tidak lama lagi, tugasku di sini sudah selesai dan aku harus kembali ke tempat tinggalku yang asli.”
“Wah! Aku mau!”
Azalea tersenyum mendengar suara Briana yang dengan mantap menyatakana kesediaannya.
“Kalau begitu, kamu siap tinggal jauh di keluargamu? Karena kamu akan menggantikan posisiku dengan waktu yang tidak bisa kutentukan.”
“Aku siap! Lagi pula, aku tidak tahan lagi tinggal di rumah. Ayahku selalu saja sibuk bekerja, sementara ibu tiri dan kakak tiriku setiap hari menyiksaku.”
“Kalau begitu, kita selesaikan dulu masalah itu,” ucap Azalea dengan lembut.
* * *
Alder menyetir mobil dengan santai. Beruntung cuaca terang. Kedua kalinya Azalea keluar Maple Willow, tidak tampak lagi kabut yang menghalangi jalan. Hal itu karena Azalea memang tidak memanggil mereka. Toh tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi untuk sekarang.
“Bagaimana cara kalian berjalan sejauh ini?” tanya Aren membuat suara.
“Well, sejujurnya kami berjalan tanpa sadar hingga ke Maple Willow,” sahut Cara.
Di antara kedua teman perempuannya, Cara memang yang paling luwes dalam hal berbicara. Belum lagi gayanya yang terkesan angkuh, centil dan sombong. Yang membuat Alder dan Aren kesal adalah sejak semalam Cara terus-terus saja mencari perhatian pada mereka.
Setelah perjalanan selama kurang lebih 3 jam, mereka sampai juga di Kota Perchea. Azalea menatap kagum ke luar jendela. Pemandangan Perchea sangat indah dengan berbagai macam pohon pinusnya. Benar! Apabila Maple Willow terkenal dengan keindangan pohon Maplenya, maka Perchea dengan pohon pinusnya.
“Indah sekali,” gumamnya.
Mereka langsung menuju ke rumah Briana karena yang lain akan pulang sendiri. Rumah mereka tidak jauh dari rumah Briana. Sampai di rumah, Ibu dan kakak tiri Briana menyambut mereka semua.
“Kami datang mengantarkan Briana dan keempat tamannya pulang,” ucap Alder dengan nada sopan.
“Dia bersama keempat temannya pergi ke Maple Willow. Beruntung sekali rumah pertama yang mereka datangi adalah Azalea, dia florist di sana,” sambung Alder.
“Terima kasih banyak, Nona Florist,” ucap Mrs. Yonna memandang Azalea. “Ayo kalian masuk dulu. Kalian pasti lelah, apalagi jarak Maple Willow dan Perchea sangat jauh.”
Azalea, Alder dan Aren masuk mengikuti langkah Mrs. Yonna yang memegang bahu Briana. Azalea bisa melihat bagaimana takutnya Briana terhadap ibu tirinya itu. Tapi, dia tidak bisa langsung menjadikan Briana florist tanpa menyelesaikan masalah keluarganya. Dia takut kalau diperjalanan Briana menjadi florist, mereka hadir dan membawa dampak buruk.
“Siapa mereka, Mom?” tanya gadis lain yang datang dari lantai 2.
“Mereka dari Maple Willow, mengantarkan Briana pulang,” sahut Mrs. Yonna. “Kenalkan, ini putri pertamaku, Amara.”
Azalea tahu kalau Amara menatap Alder dengan raut wajah tertarik. Dia tidak mempedulikan hal itu dan terkejut saat tangannya ditarik oleh Aren untuk duduk. Sambil menunggu Briana membersihkan diri, mereka duduk di ruang tamu ditemani oleh Amara. Mrs. Yonna sendiri masih di dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman.
Saat tengah mengobrol santai, lebih tepatnya mendengar Amara bertanya berbagai macam hal pada Alder, Azalea dan Aren mengobrol sendiri mengenai Asphodella. Hingga Mrs. Yonna datang membawakan mereka minuman dan berbagai macam makanan.
“Terima kasih, Ma’am,” ucap Azalea sopan.
Mrs. Yonna duduk dan memandang ketiganya sambil tersenyum. Lebih tepatnya meneliti wajah mereka satu per satu. Namun tatapannya pada Alder cukup lama, seperti menilai sosok pemuda itu.
“Bagaimana kalau kalian istirahat sebentar di sini? Kami berniat mengundang kalian makan malam. Benar kan, Mom?” ucap Amara yang disahut anggukan kepala oleh Mrs. Yonna.
"Kami bukannya menolak, tapi Azalea memiliki banyak pekerjaan untuk besok,” sahut Alder dengan nada sopan.
“Bagimana menurutmu, Azalea?” tanya Aren.
“Menginap semalam di sini juga tidak masalah. Itupun kalau Anda mengijinkan,” sahut Azalea.
“Boleh. Aku akan meminta Briana menyiapkan kamar untuk kalian.”
Mrs. Yonna kemudian pergi meninggalkan mereka kembali. Azalea memilih menutup mata dan telinganya. Hal itu dilakukannya daripada kesal melihat Amara yang berpindah tempat duduk di samping Alder dan bersikap manja. Hingga dirasakannya pandangannya sedikit berputar.
“Kenapa?” tanya Aren dengan nada khawatir.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing,” jawab Azalea.
* * *
Makan malam berlangsung cukup menyenangkan. Orang tua Briana memperlakukan mereka dengan sangat baik. Amara masih terus saja mencoba mendekati Alder. Sementara Briana makan dalam diam.
Azalea melihat kesedihan dalam kedua bola mata Briana walaupun bibirnya selalu menyunggingkan senyum. Diam-diam, dia menggunakan kekuatannya. Hatinya sedih melihat pantulan cahaya hati Briana saat ini. Tampak pantulan bunga xeranthemum di dalam kedua bola matanya.
“Kamu mau kemana?” tanya Alder sambil mencekal pergelangan tangan Azalea.
“Tidak kemana-mana. Hanya menghirup udara segar sejenak,” jawab Azalea.
“Aku ikut denganmu,” ucap Alder.
“Tidak. Kembalilah ke dalam. Aku membutuhkanmu dan Aren untuk mengawasi Briana dan keluarganya. Lagi pula, aku hanya pergi sebentar,” ucap Azalea lembut.
Azalea berhenti di depan semak blueberry. Dia mengambil beberapa buah dan memejamkan matanya sejenak.
“Maafkan aku, Briana. Tapi aku harus melakukannya demi hidupmu,” gumamnya.
Sampai di rumah, dia menemui Briana dan memberikan buah itu padanya. Setelah itu, dia menghabiskan waktunya bersama Briana bercerita berbagai macam hal. Dia menjelaskan beberpaa tugas Briana ketika menjadi florist nanti. Dia senang karen Briana benar-benar menunjukkan keseriusannya.
“Terima kasih banyak atas semuanya,” ucap Alder dengan nada sopan.
“Kami pamit pulang dulu,” sambung Aren.
“Kami yang berterima kasih pada kalian. Sampai bertemu lagi,” ucap Mrs. Yonna sambil tersenyum hangat.
“Apakah aku bisa mengunjungimu di Maple Willow, Alder?” tanya Amara dengan sikap manja.
“Terserah kamu saja,” sahut Alder cuek.
“Sampai jumpa lagi, Azalea,” ucap Briana.
“Kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat ini. Persiapkan dirimu baik-baik,” ucap Azalea saat membalas pelukan Brena.
Azalea, Alder dan Aren masuk ke dalam mobil. Azalea yang duduk di kursi penumpang belakang, membuka jendela dan menggerakkan tangannya. Tak lama, di dalam telapak tangannya ada setangkai xeranthemum. Dia memusnahkan bunga cahaya hati itu karena Briana tidak akan membutuhkannya.
“Aku tahu ada yang kamu sembunyikan,” ucap Alder sambil tetap fokus mengemudi.
“Kenapa kami memusnahkan bunga itu? Biasanya kamu menyimpannya?” tanya Aren.
“Briana akan menggantikanku menjadi florist. Dia tidak akan membutuhkan xeranthemum itu. Mulai sekarang, dia akan menjadi sosok yang lebih tegas, mandiri, dan berani,” jawab Azalea.
“Seperti dirimu…” sahut Alder dengan suara pelan.
Walaupun begitu, baik Azalea maupun Aren masih mampu mendengarnya. Aren kemudian menceritakan berbagai macam hal yang dikatakan oleh Mrs. Yonna. Dia juga mengungkapkan kekesalannya karena sikap centil dan manja Amara pada Alder.
Azalea hanya tertawa mendengar hal itu. Dia tidak pernah merasa khawatir ketika Alder didekati oleh perempuan lain. Hal itu karena dia tahu kalau Alder benar-benar mencintainya.